
Ravel terus menatap lama kalung berbentuk tabung di tangannya. Setelah Ara menjelaskan di telpon tadi, ia buru-buru mencari kalung itu. Untung kalung itu langsung ditemukan. Ia masih tidak menyangka keberadaan kalung yang terlihat lusuh dan tidak berharga ini sudah membuat banyak orang mengincar adiknya.
"Jadi, karena kalung ini hidup Ara dalam bahaya?" Tristan bertanya. Ia dan Karrel yang masih setia ada di rumah itu juga terus menatap benda yang sama, yang ada di tangan Ravel saat ini. Kalau kalung itu memiliki nyawa, Karrel yakin ia sudah menghabisinya.
"Sebaiknya kau simpan benda itu baik-baik. Pria yang diceritakan Ara itu bisa dipercayakan?" giliran Karrel yang bertanya. Ia tidak mau mereka percaya begitu saja pada orang yang sama sekali belum pernah mereka temui. Setidaknya mereka harus membuat persiapan dan terus berhati-hati.
"Kita lihat nanti. Sekitar jam empat sore aku akan menemui pria itu. Kalian berdua ikut aku diam-diam seperti yang sudah kita atur tadi. Kalian ingat kode yang kita atur tadi kan?"
Tristan dan Karrel saling berpandangan lalu menatap Ravel lagi dan mengangguk.
"Kalau ada yang salah, langsung lapor polisi." kata Ravel lagi.
Karrel sendiri sudah tidak sabar bertemu dengan Ara. Ia ingin melihat gadis itu baik-baik saja atau tidak. Tapi ia masih harus menahan diri. Ketika Ara menelpon ulang tadi ke Ravel dan menjelaskan rencana baru yang dia buat, kekasihnya itu sempat bilang ia akan diantar besok ke rumahnya. Jadi, Karrel berusaha menahan diri sampai besok. Ia berharap laki-laki yang bersama Ara itu adalah pria baik-baik. Ia memang tidak suka ada pria lain disamping Ara. Tapi kalau sedang dalam kondisi terdesak seperti ini dan tidak ada dia disamping Ara, terpaksa dirinya harus rela.
***
Sekitar jam tiga lewat seperempat menit, Ravel mulai siap-siap keluar rumah. Tempat yang akan dia datangi untuk bertemu dengan pria yang Ara katakan itu berada di lokasi cukup terpencil. Ia tidak tahu di mana tempat itu. Dirinya hanya mengikuti peta yang Ara kirim. Ravel tahu pertemuan itu harus sangat dirahasiakan, jadi dia menurut saja. Apalagi dia aktor yang dikenal orang banyak. Kalau seandainya mereka bertemu di restoran ataubtempat umum lainnya, itu akan mengundang banyak perhatian. Pria itu bahkan keluar rumah dengan sangat berhati-hati agar tidak diikuti paparazi. Karrel dan Tristan mengikutinya dari belakang dalam mobil yang sama.
__ADS_1
Di rumah Moses, Ara terus memperhatikan pria itu yang sibuk menyiapkan apa saja yang akan dibawanya. Gadis itu meringis pelan ketika melihat Moses mengangkat sebuah benda yang paling ia takuti, dan menyisipkannya dibagian terdalam saku jaketnya.
"I..itu pistol beneran?" tanya Ara tergagap. Moses menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap gadis itu.
"Menurutmu?" ia masih cukup kesal mengingat gadis itu bertindak semaunya tadi. Bikin kesulitannya bertambah. Ia terpaksa harus menelpon orang-orang yang akan terlibat dalam pertemuan itu dan mengganti jadwal pertemuan. Gadis itu tidak tahu apa itu orang-orang penting. Untung dirinya kenal baik dengan salah satu dari mereka jadi orang itu bisa membantunya.
"Te.. terus.., k...bkenapa bawa pistol? Katanya kamu tidak akan melukai kakakku."
Moses menghela nafas. Dia sudah terbiasa membawa pistol selama dirinya pergi kemana saja. Tentu saja untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan musuh. Siapa yang tahu suatu saat nanti dia terluka. Gadis itu yang terlalu khawatir.
"Dengar, jangan sekali-sekali bertindak gegabah lagi. Seperti tadi. Aku pergi dulu. Ada yang mau kau sampaikan pada kakakmu?" gumamnya pelan. Ara tertunduk sebentar kemudian menggeleng. Ia memang sangat rindu pada keluarganya. Tapi ia akan katakan sendiri kalau bertemu nanti. Tidak lama lagi akan besok. Dan besok, dirinya akan segera bertemu kakaknya, Karrel, papanya...
Sesaat Ia ragu kalau sang papa juga menunggu kepulangannya di rumah itu. Alangkah baiknya kalau laki-laki tua itu menunggunya. Tapi dirinya tidak mau terlalu berharap.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu." gumam Moses lagi, memegang kepala Ara sebentar, kemudian beranjak keluar kamar. Ia sempat memberi perintah pada dua pengawal yang berdiri didepan kamar itu untuk menjaga Ara dengan ketat selama dirinya pergi.
Sudut mata Moses bisa melihat ada seseorang lain yang berdiri dibalik tembok tak jauh dari situ. Ia tahu itu adalah mata-mata ayahnya. Pasti. Tapi pria itu sudah membuat banyak persiapan. Dirinya tahu jelas sifat orangtua itu bagaimana. Pria itu tertawa pelan, lalu berjalan dengan santainya melewati setiap pelayan dengan gaya kerennya seperti biasa.
__ADS_1
Mata-mata ayahnya yang bersembunyi dibalik tembok tadi tidak lagi mengikutinya. Pasti sekarang sedang melapor ke pria tua itu. Moses malah menyeringai. Ia yakin tidak akan diikuti oleh anak buah ayahnya.
Didalam mobil, pria itu menghubungi seseorang sebelum pergi. Setelah selesai bicara dengan orang itu di telpon, pria itu langsung meluncur menuju tempat pertemuannya dengan kakak Ara.
Moses sengaja memilih lokasi yang cukup jauh. Di sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai lagi. Jadi kalau ada apa-apa nanti, nanti dia harus benar-benar menggunakan pistolnya untuk menembak, tidak akan ada orang tidak bersalah yang akan terluka. Sambil fokus menyetir, matanya berpindah-pindah ke segala arah, mencari-cari kalau-kalau ada yang mengikutinya. Untung saja sejauh ini tidak. Kira-kira tiga puluh menir perjalanan, pria itu akhirnya sampai. Ia melihat ada mobil putih yang sudah terparkir didepan gedung tua itu.
Moses lalu keluar dari mobil dengan sikap was-was. Kira-kira siapa pemilik mobil itu? Tak lama setelah dirinya keluar dari mobil, orang dalam mobil itu ikut keluar. Mereka saling berpandangan dari jarak kira-kira empat meter.
"Moses? tanya pria yang keluar dari mobil itu. Moses langsung mengenali pria itu. Itu memang kakaknya Ara. Ia pernah melihatnya beberapa kali di TV. Pria itu mengangguk. Ravel yang berdiri didepannya nampak lega. Moses kembali melirik kanan-kiri. Ia sudah menelpon orang-orang dari kejaksaan tadi. Entah dimana mereka sekarang. Moses pikir kalau menghancurkan barang itu sendiri, tidak akan ada gunanya. Orang-orang jahat itu pasti tidak akan percaya dan akan terus mengejar Ara. Jadi lebih menyerahkannya langsung ke pihak yang berwajib agar barang itu disita dan disimpan sebagai aset negara. Dengan begitu, Ara juga bisa hidup bebas tanpa beban. Memang baru tiga hari Moses bersama Ara, tapi keinginannya untuk melindungi gadis itu sangat tinggi. Sayangnya Ara sudah punya pacar. Kalau tidak...
Moses menggeleng-geleng kepala. Ya ampun, apa yang dia pikirkan. Sekarang fokus dulu ke rencana awal.
Ia menatap pria didepannya lagi
"Ikut aku." katanya sambil melangkah masuk ke dalam. Ravel menurut saja. Dari jarak kira-kira tiga puluh meter dari situ, Tristan dan Karrel bersembunyi dibalik semak-semak.
Karrel terus fokus pada Moses. Walau dirinya tidak kalah tampan, tapi ia merasa pria itu punya aura yang sangat kuat. Karrel jadi merasa tersaingi. Apa Ara bersama pria itu terus?
__ADS_1