ARAKA

ARAKA
Bab 65


__ADS_3

Bintang, Devin dan beberapa teman Ara baru ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Mereka penasaran mau lihat keadaan Ara juga Ravel. Ketika berjalan memasuki gedung besar itu, ada banyak wartawan yang berdiri didepan sana. Para wartawan itu tidak bisa masuk ke dalam karena dilarang oleh pihak rumah sakit. Apalagi ini adalah tempatnya orang-orang sakit. Keberadaan mereka tentulah sangat mengganggu. Karena itu wartawan-wartawan itu hanya menunggu di luar.


Setelah sampai di depan pintu ruang rawar Ara, tubuh Bintang dan Karrel bertubrukan. Bintang kaget. Ia memandangi Karrel heran. Wajah sahabatnya itu terlihat sangat marah. Ada apa ini? Devin, Manda dan Clara dibelakang Bintang juga merasa heran.


"Rel," mereka semua memandang ke dalam. Suara yang terdengar dari dalam itu terdengar masih lemah. Manda dan Clara cepat-cepat masuk ke dalam.


"Ara, kamu baik-baik ajakan?" seru Manda. Ara mengangguk sambil tersenyum namun matanya terus menatap kedepan pintu. Ia khawatir Karrel akan melakukan sesuatu yang nekat. Ara bisa merasakannya hanya dengan melihat tatapan mata pacarnya. Mata itu berubah gelap dan amat menakutkan ketika ia bilang tentang perbuatan Sion tadi.


"Mau kemana?" tanya Bintang. Ia dan Devin sendiri sudah berhati-hati. Seperti Ara, mereka tahu suasana hati Karrel dari tatapan matanya. Tatapan mata itu terlihat jelas seperti mau membunuh seseorang. Mereka sudah tahu kejadian yang sebenarnya dari cerita Manda tadi sampai penusukan itu terjadi. Pasti Karrel juga sudah tahu dan mau mencari Sion sekarang. Tentu Devin dan Bintang harus waspada.


"Minggir, aku bersumpah sih brengsek itu akan mati di tanganku sekarang juga!" nada bicara itu amat menakutkan. Manda dan Clara yang mendengar dari dalam sampai merinding. Karrel berusaha melewati Bintang dan Devin yang menghadang jalannya namun suara Ara menghentikannya.


"Kalau kamu berani bertindak sembarangan, aku tidak akan pernah bicara denganmu lagi!" nada Ara terdengar tegas. Manda dan Clara saling berpandangan. Baru kali ini mereka melihat Ara yang begitu serius dan tegas seperti itu. Perkataannya seperti tidak ada yang bisa membantah.


Dan perkataan itu berhasil membuat langkah Karrel terhenti. Ia berbalik dan melangkah masuk. Mendekati Ara lagi. Ia tentu tidak bisa kalau Ara mengancam tidak mau bicara dengannya lagi. Tapi mengingat gadisnya itu dihina oleh cowok sialan itu, ia benar-benar marah.


Manda dan Clara menjauh sedikit dari ranjang Ara. Memberikan ruang buat pasangan itu berbicara. Bintang dan Devin yang masih didepan ruangan itu ikut masuk.

__ADS_1


"Tapi dia sudah berani menghina kamu seperti itu sayang." ucap Karrel. Tatapan marahnya tadi kini berubah menjadi keberatan. Ia menggenggam tangan Ara kuat.


"Aku tahu, tapi kita bisa mikirin cara lain. Dia sudah nusuk kakak aku didepan umum, kita bisa laporin dia ke polisi." balas Ara.


"Gimana dengan ciuman dan tamparan itu?" Karrel masih merasa keberatan. Tangannya berpindah memegangi bekas tamparan di pipi Ara. Kini ia tahu kenapa pipi itu sangat merah dan sudut bibirnya berdarah. Ia kembali emosi.


"Kau bisa melaporkannya dengan tuduhan pelecahan dan kekerasan." itu suara Bintang. Mereka sudah berdiri didekat Karrel. Devin ikut memperhatikan wajah merah Ara dan sengaja meringis.


"Laki-laki itu memang brengsek." katanya. Seharusnya perempuan itu diperlakukan dengan lembut. Pantas saja Karrel semarah itu. Apalagi itu terjadi pada gadis yang sangat dia sayangi.


"Tidak bisa, aku harus menghabisinya sebelum sih brengsek itu dilap.." ucapan Karrel terhenti karena melihat tatapan maut Ara. Devin menertawai cowok itu. Ia merasa lucu melihat Karrel yang sangat keras dan teguh pendiriannya itu tidak bisa berbuat apa-apa didepan pacarnya.


Berbeda dengan Karrel yang tidak suka dengan kemunculan Tristan, Manda dan Clara malah senang setengah mati. Mereka menjerit pelan. Tristan melewati mereka dengan tampang kerennya itu. Padahal biasanya manajer artis jarang sekali punya banyak penggemar, tapi Tristan beda. Penggemarnya juga banyak. Termasuk Manda dan Clara juga. Mereka iri pada Ara. Teman mereka itu ternyata menyembunyikan hal besar dari mereka. Pokoknya mereka akan membuat perhitungan dengan Ara nanti.


"Kak Tristan, kak Ravel gimana?" tanya Ara melirik Tristan.


"Dia belum sadar tapi kata dokter keadaannya baik-baik saja." sahut Tristan. Pandangannya beralih ke Karrel dan dua cowok lainnya yang berdiri didekat situ, lalu menatap Ara lagi. Ia menggertakan giginya kuat saat melihat wajah merah Ara namun tetap berusaha tenang.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu?" tanyanya.


"Aku baik. Aku mau lihat kak Ravel sekarang. Kak Tristan bawa aku yah." kata Ara lagi.


"Aku aja." balas Karrel langsung memegangi Ara. Membantunya turun dari ranjang. Ia merasa tidak mau Tristan bersentuhan dengan pacarnya. Mengingat dulu pria itu pernah menggendong Ara didepan rumahnya, ia merasa cemburu. Ara malah merasa tidak enak pada Tristan karena sikap kekanak-kanakan sang pacar.


Melihat Ara dan Karrel yang mulai menjauh, pandangan Tristan beralih ke teman-teman Ara didalam ruangan itu.


"Kalian kenal siswa yang menusuk Ravel tadi?" tanya Tristan menghentikan pandangannya ke Devin.


"Namanya Sion. Memang berandalan sekolah." jelas Devin. Tristan mengangguk-angguk mengerti.


"Karena tindakan yang dia lakukan termasuk kekerasan serius, pihak kami akan melaporkannya ke polisi. Aku berharap kalian bisa membantu kami." ucapnya.


Bintang dan Devin mengangguk. Sion memang adalah salah satu murid yang meresahkan banyak murid lainnya. Memang pantas di hukum.


"A..aku bisa jadi saksi kak." ujar Manda dari belakang sambil mengangkat tangan dengan malu-malu. Ia yang paling tahu awal mulanya terjadi perkelahian itu. Tristan membalikan badan lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Terimakasih." ucapnya singkat. Manda tersenyum malu. Ya ampun, seorang Tristan bicara padanya? Ia tidak akan bisa tidur semalaman memikirkan hari ini.


__ADS_2