
Ravel menghembuskan nafas panjang. Mamanya pernah cerita tentang orangtua kandung Ara. Mama Ara memang sudah meninggal dalam kecelakaan. Mereka bersahabat dekat, karena itu mamanya memutuskan mengangkat Ara sebagai anak. Tapi sebenarnya, Ara juga adalah anak yang disembunyikan dari keluarganya. Mama kandungnya kabur dari suaminya dan diam-diam membawa lari Ara. Mungkin sampai sekarang papa kandung Ara masih mencari gadis itu. Ravel tidak tahu siapa papa kandung Ara, tapi mamanya pernah berpesan jangan sampai ada yang tahu tentang Ara. Keberadaannya harus dirahasiakan.
Mamanya bilang, Ara lahir bukan dari sembarang keluarga. Dia adalah seorang pewaris dari keluarga berpengaruh. Yang keberadaannya bisa mengancam para musuh. Gadis itu juga bisa dibunuh kapan saja oleh mereka yang tidak menginginkan keberadaanya. Kelahiran Ara sangat istimewa. Karena itu tidak ada yang boleh tahu tentang keberadaannya. Bahkan ayah kandungnya sekalipun. Demi keselamatannya.
Ravel tidak tahu apa maksud mamanya ketika menceritakan tentang latar belakang Ara. Keluarga seperti apa itu, dan dimana keberadaan keluarga itu dirinya juga tidak tahu. Yang ia tahu adalah, ia harus melindungi Ara. Bukan hanya karena permintaan mamanya, tapi karena ia sangat menyayangi gadis itu. Ravel menatap Ara lekat.
"Kata mama, mama kandung kamu kamu meninggal dalam kecelakaan." ujar Ravel. Ara mengernyitkan dahi. Ada rasa sedih, tapi tidak sebesar kesedihan saat ia kehilangan seorang ibu yang membesarkannya.
"Bagaimana dengan papa kandung aku?" tanya Ara ingin tahu. Ia merasa ia harus tahu. Ravel menggeleng.
"Tidak tahu. Waktu itu mama kandung kamu melarikan diri dari keluarganya, ia juga berpesan sama mama kita untuk merahasiakan keberadaan kamu dari papa kandung kamu karena kamu bisa ada dalam bahaya, nyawa kamu bisa terancam." jelas Ravel. Ia rasa Ara memang harus tahu. Ia tidak mau menutupi hal penting lagi dari gadis itu. Ara makin bingung. Kenapa mama kandungnya melarikan diri? Kenapa papanya kandungnya tidak boleh tahu tentang keberadaannya? Kenapa juga nyawanya harus terancam? Sebenarnya ia lahir dari keluarga yang seperti apa? Astaga, kenapa kisah hidupnya tiba-tiba berubah menjadi penuh misteri seperti ini sih? Kayak di film-film saja.
"Apalagi yang mama bilang sama kakak?" tanyanya semakin merasa penasaran. Ravel menggeleng.
"Hanya itu." pria itu menaikan wajahnya menatap Ara.
"Aku dengar kau tinggal di apartemen Karrel?" tanya Ravel mengalihkan pembicaraan. Ia mendengarnya dari Karrel sendiri. Kemarin Karrel menemuinya. Mereka berbincang banyak. Sebenarnya Ravel tidak suka Ara menginap di rumah cowok itu, tapi dibandingkan dengan tempat tinggal sebelumnya yang di tempati gadis itu, apartemen Karrel jauh lebih baik. Karena Ravel sudah memutuskan memperlakukan Ara sebagai adik kandungnya sendiri, ia berusaha membuang jauh-jauh keinginannya untuk memiliki Ara. Sebaliknya, ia akan menjaga Ara sebagai seorang kakak. Seperti yang diinginkan sang mama. Dari awal papa dan mamanya membesarkan Ara sebagai anak kandung, ia juga harus menerima kenyataan itu. Karena itu, Ravel perlahan menerima kehadiran Karrel disisi Ara.
__ADS_1
Ravel tahu Karrel adalah pria yang baik. Ara juga terlihat bahagia di samping Karrel. Tapi tetap saja tinggal di apartemen Karrel tidak baik bagi Ara. Ia juga tidak bisa memastikan keselamatan adiknya. Karena itu ia akan berusaha membuat Ara kembali ke rumah.
"Kakak tahu darimana?" tanya Ara.
"Kemarin dia menemuiku. Meminta ijin." Ravel menjelaskan.
"Oh," ternyata Karrel tidak sembarangan membawanya ke apartemen cowok itu. Masih tahu minta ijin juga pacarnya itu.
"Aku selalu penasaran, sebenarnya apa hubungan kakak sama Karrel?" Ara selalu ingin menanyakan hal itu pada kakaknya, tapi baru sekarang ia ada kesempatan. Ravel diam, terlihat berpikir.
"Kami dulu sahabatan. Tapi ada semacam masalah, yang membuat hubungan kami renggang." sahutnya pelan.
Ravel tidak ada perasaan sama sekali pada Indah, karena pria itu selalu menyimpan perasaannya pada Ara. Itu sebabnya ia tidak pernah membuka hatinya pada perempuan lain. Namun Indah tidak pernah peduli dan selalu mengejarnya tanpa lelah. Gadis itu bahkan mulai mengganggu kehidupan pribadi Ravel.
Ravel yang merasa terganggu mulai mengambil tindakan tegas dan terkadang akan bersifat kasar. Bahkan tak akan segan-segan membentak Indah karena merasa sangat terganggu dengan Indah yang makin terobsesi padanya. Tentu saja Karrel yang melihat Ravel bersikap kasar pada sepupunya merasa marah. Karrel memang tidak memaksa Ravel menerima cinta Indah, hanya meminta sahabatnya itu bersikap lembut pada sepupunya. Sayangnya Ravel tidak setuju. Indah sendiri yang sudah terobsesi berlebihan pada Ravel akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena depresi berat. Entah ia bunuh diri karena cintanya yang tak terbalas, atau apa itu Ravel tidak tahu. Yang jelas, sejak saat itu Karrel tidak pernah lagi bicara padanya. Ravel sendiri memilih keluar dari sekolah dan memutuskan untuk homeschooling.
Keputusannya masuk ke dunia entertainment adalah alasan lainnya ia tidak bisa sekolah di sekolah umum. Dan waktu itu, ia juga merasa galau dengan rasa sukanya yang kian bertambah pada Ara. Akhirnya dia juga memutuskan untuk bersikap dingin pada adiknya untuk menutupi perasaannya dan fokus dengan pekerjaan. Sayangnya semua itu sia-sia belaka. Ia baru menyadarinya beberapa waktu ini. Tak ada hasil apapun dari sikap tidak dewasanya itu, malah membuat Ara jadi sangat kecewa padanya.
__ADS_1
Mengenai hubungannya dengan Karrel, mereka baru berbicara dengan serius kemarin. Karena masalah Ara. Tentang hubungan persahabatan mereka dulu, keduanya masih sama-sama merasa canggung. Ravel juga belum tahu bagaimana caranya meminta maaf pada Karrel atas sikapnya yang secara tidak langsung menyebabkan Indah pergi selama-lamanya.
Ara menatap kakaknya lama. Tapi tidak mau bertanya lebih jauh. Ia adalah masalah mereka. Ia tidak bisa ikut campur karena ia tahu mereka bisa menyelesaikan masalah itu sendiri. Pantas saja kak Ravel tidak suka waktu tahu dia dekat dengan Karrel.
"Ara, bagaimana kalau kamu balik ke rumah? Kita bisa memperbaiki hubungan kita. Aku janji akan menjadi kakak yang baik buat kamu, hm?" pinta Ravel. Ara menatapnya ragu.
"Bagaimana dengan papa?" ia tahu pria tua itu masih menyalahkannya atas kepergian sang mama.
"Bukannya dia tidak pernah mengusirmu dari rumah?"
Iya juga sih. Ara memang tidak pernah di usir. Dia pergi karena merasa sakit hati.
"Sekarang orang-orang sedang mencari tahu tentang hubungan kita. Kau mungkin tidak bisa keluar sembarangan." kata Ravel lagi. Ara melotot. Ia baru ingat. Benar, tadi Manda dan Clara bilang banyak wartawan di luar rumah sakit.
"Jadi maksud kakak, aku juga tidak bisa bekerja sembarangan di cafe?" ia langsung teringat pekerjaannya.
"Cafe? Kamu kerja?" giliran Ravel yang melotot. Ia tidak tahu Ara bekerja. Ia harus membuat perhitungan dengan Karrel. Bukannya lelaki itu bilang akan menjaga Ara dan mencegahnya melakukan hal-hal seperti... Ravel menggeram kesal. Bisa-bisanya Karrel tidak cerita tentang adiknya yang bekerja. Apa Tristan juga tahu?
__ADS_1
"Sejak kap..." saat itu juga pintu terbuka. Sutradara Juan muncul bersama asistennya, membuat perkataan Ravel terputus.