ARAKA

ARAKA
Bab 39


__ADS_3

Vivy mengulurkan tangan kanannya, sengaja menarik kemeja seragam Ara kuat-kuat. kemeja itu lalu tercabik, robek dalam helaian lebar, dan memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. Ara terkesiap.


Buru-buru dia tegakkan helai kain yang terkulai itu. Tapi sedetik yang tersembunyi itu terpampang, kontan membuat mulut para cowok mengeluarkan siulan keras.


"Gila, seksi abis, maaan!" seseorang bahkan sampai menyerukan komentar.


Karrel yang sampai tak lama kemudian terperangah. Kedua matanya sontak berkilat penuh amarah saat mendapati kondisi Ara. Cowok itu menyeruakkan tubuh tingginya di antara Vivi dan Ara, membuat Vivi terdorong mundur beberapa langkah.


Sebisa mungkin ditutupinya Ara dari pandangan para penonton yang


Terus bersiul-siul. Kesepuluh jarinya melepas kancing-kancing kemejanya dengan cepat. Tapi tetap kurang cepat untuk situasi yang sudah genting itu.


Ara kini tidak lagi hanya tertunduk dan pucat pasi. Selapis air bening mulai menggenangi kedua matanya. 


Karrel mengatupkan kedua gerahamnya kuat-kuat. Menekan kemarahannya yang mulai menggelegak. Dilihatnya lapisan bening di kedua mata Ara mulai


bergetar.


Akhirnya Karrel membuka kemejanya dengan paksa. Tiga buah kancing yang masih terkait terenggut keras. Dua diantaranya melejit ke lantai, sementara satu sisanya tergantung-gantung pada untaian benang.


Ia segera memakaikan Ara dengan kemejanya itu dan ditutupinya bagian depan tubuh gadis itu rapat-rapat. Ibu jarinya kemudian dengan cepat menghapus air mata Ara yang masih menggenangi pelupuk mata, belum mengalir turun.


Seketika itu juga Karrel membungkukkan tubuhnya dan berbisik lirih,


"Jangan nangis di sini. Mereka semua nggak pantes liat wajah cantik kamu yang lagi nangis,"


Dengan paksa Ara menelan tangisnya. Ia mengerjapkan kedua matanya.


Karrel menghapus habis butiran-butiran bening itu lalu menegakkan tubuh. Dia menoleh. Pada Okan, cowok yang memberitahunya tentang kejadian yang menimpa Ara tadi.


"Okan, tolong anterin dia ke ruang osis. Bilangin Bintang jagain dia bentar. Gue masih ada urusan di sini." ucap Karrel. Hanya Bintang yang terpikir di otaknya sekarang yang bisa ia percayakan menjaga Ara. Devin tidak masuk, sementara teman-teman Ara... kalau Ara sampai datang ke Area kelas dua belas pasti teman-temannya lagi tidak bersamanya. Karrel tahu itu karena Ara terus-terusan bercerita tentang para sahabatnya yang sangat tergila-gila dengan Ravel. Sampai bela-belain tidak makan di jam istirahat hanya karena mau nonton doi syuting.

__ADS_1


"Oke." Okan mengangguk. Dihampirinya Ara. Diulurkannya tangan kirinya lalu dirangkulnya bahu cewek itu dan segera dibawanya pergi.


Ara terus diam. Diikutinya langkah Okan dengan kepala tertunduk. Sampai di depan ruangan osis, mereka berhenti.


"Tunggu sebentar gue panggilin Bintang."


Ara mengangguk. Tak lama setelah Okan masuk ke dalam ruangan itu, ia keluar lagi bersama Bintang.


Bintang sendiri masih kaget melihat penampilan Ara. Okan sudah menjelaskannya di dalam tadi. Tapi saat melihat langsung Ara, ia ingin sekali memeluk gadis itu. Untuk memberinya kekuatan.


Namun Bintang sadar disini adalah area sekolah. Banyak mata memandang mereka. Ia tidak mau orang-orang jadi salah paham. Dirinya murni menganggap Ara sebagai seorang adik. Karrel tahu itu, tapi orang lain tidak tahu. Jadi ia lebih menghindari gosip miring orang-orang.


"Makasih ya Kan, udah anterin dia." kata Bintang pada Okan.


"Sip bro, kalo gitu gue balik yah." Okan melirik Ara sebentar, menepuk bahunya pelan kemudian berbalik pergi.


Sepeninggalannya Okan, Bintang mengajak Ara masuk. Diruangan itu hanya ada empat orang anak OSIS. Dua diantaranya perempuan. Tapi bukan Wulan. Mereka jauh lebih ramah dari Wulan. Entah di mana keberadaan Wulan sekarang.


"Ganti baju dulu yah," gumam Bintang pelan ke Ara.


"Di mana?" Ara memandang sekeliling. Bintang lalu menunjuk pintu sebelah kiri. Yang ditunjuknya itu adalah toilet yang biasa dipakai para osis.


Ara lalu memasuki toilet itu dan buru-buru melepas baju seragamnya yang robek besar itu. Gantinya, ia memakai kemeja seragam Karrel yang sudah pasti terlalu besar untuk tubuhnya.


Beberapa saat kemudian dia keluar, Bintang dan anggota osis yang lain tidak bisa menahan tawa mereka, membuat Ara cemberut. Pasti karena bajunya kebesaran.


                                  ***


Begitu Okan membawa Ara pergi, perhatian Karrel langsung terarah penuh pada Vivi. Dengan mengenakan kaus putih sebagai dalaman, postur tubuh Ari yang tinggi menjulang makin membuatnya terlihat keren. Cowok itu melirik jam tangannya sekilas.


Enam menit lagi bel masuk akan

__ADS_1


berbunyi. Tidak ada waktu lagi untuk memindahkan masalah ini ke dalam zona pribadi. Terpaksa dia harus menuntaskan cewek ini di depan seluruh mata yang ada. Yang menyesaki koridor itu dari ujung ke ujung.


Siswa paling berkuasa di sekolah berhadapan dengan siswi yang juga punya status yang hampir sama. Jelas tontonan yang seru banget!


Tenang dan tanpa sedikit pun membuka mulut, Karrel menatap Vivi.


Vivi memang tidak pernah mencari gara-gara dengan Karrel karena tahu Karrel jauh lebih kuat darinya di sekolah itu. Tapi karena Wulan sengaja memanas-manasinya sejak kemarin, Vivi jadi emosi dan makin ingin melabrak adik kelas bernama Ara itu.


Vivi sendiri pernah dengar dari anak-anak kelas dua belas lainnya, kalau Karrel dekat dengan adik kelas bernama Ara itu. Tapi ia tidak tahu bahwa Karrel sepeduli itu pada adik kelas mereka. Saat melihatnya langsung, Vivi bisa lihat mata cowok itu yang begitu khawatir dan marah karena ulahnya membully gadis itu.


Seandainya Vivi tahu hubungan Karrel dan cewek itu bukan sekedar dekat biasa, ia pasti tidak akan termakan emosi oleh perkataan Wulan. Sialan. Sekarang ia malah berhadapan dengan Karrel. Entah apa yang akan di lakukan cowok itu padanya. Ia akan berusaha menentangnya saja biar tidak keliatan takut pada cowok itu. Apalagi banyak orang yang menontonnya sekarang.


"Kenapa? Ini daerah kekuasaan gue, gue berhak lakuin apa saja sama mereka yang lewat seenak jidatnya." kata Vivi merasa dirinya benar.


"Ini jalan umum. Siapa aja boleh


lewat." balas Karrel dingin.


"Tapi terlarang buat anak kelas sepuluh!" tandas Vivi.


"Ini daerah kelas dua belas. Kalo lo mau tuh cewek nggak gue colek, bikinin aja tangga khusus buat dia.


Langsung ke kelas lo. Jangan lewat tangga yang udah ada. Karena itu bukan buat anak kelas sepuluh."


Karrel menarik napas lalu mengembuskannya kuat-kuat. Tanpa aba-aba ia mendorong Vivi hingga membentur tembok dan menonjok tembok itu berulang kali sampai tangannya basah oleh darah. Vivi langsung menelan ludah dan berkeringat dingin karena takut. Takut Karrel mungkin akan nekat melukainya.


Kalau Vivi cowok, Karrel pasti sudah menghabisinya sekarang juga. Dia selamat karena dia cewek.


"Sekali lagi lo ganggu Ara, gue nggak bakal segan-segan sama lo. Sekalipun lo cewek." ancam cowok itu. Sesaat kemudian bel masuk berbunyi. Semua siswa mau tak mau langsung berhamburan ke dalam kelas.


Karrel sendiri meninggalkan Vivi yang masih tampak syok itu dan berlari ke ruangan osis. Ia sudah tidak berniat masuk kelas. Sekarang yang ia pedulikan hanya Ara. Ia berharap gadis itu akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2