ARAKA

ARAKA
Bab 44


__ADS_3

Saat memasuki rumahnya, Ara sudah ditunggu oleh dua orang pria di ruang tamu. Tentu saja mereka adalah Ravel dan Tristan. Keduanya langsung pulang ke rumah itu. Mereka pikir Ara sudah berada di rumah, namun ketika sampai gadis itu tidak ada sama sekali.


Tristan memeriksa kamar Ara dan tempat-tempat lain di sudut rumah yang biasa di datangi gadis itu. Namun tetap tidak menemukan keberadaan Ara. Ravel lalu menelpon Ara. Ia yakin sekali adiknya itu pasti sedang bersama Karrel. Karena itu ketika Ara mengangkat telpon, ia langsung memerintahkan gadis itu pulang dan menutup telpon.


"Kau tidak dengar perintahku kemarin? Sudah kubilang jangan bergaul dengan pria itu lagi!" tukas Ravel marah. Padahal Ara baru saja mencapai ruang tamu itu. Mata Ara berpindah-pindah dari kakaknya dan Tristan. Mereka kenapa? Jelas sekali dimatanya kalau kakaknya terlihat sangat emosi sementara Tristan menatapnya dengan raut wajah khawatir.


Juga, kenapa sih kak Ravel harus semarah ini padanya. Dia mau bergaul dengan siapapun itu haknya. Bukannya pria yang memiliki hubungan darah dengannya itu tidak pernah peduli padanya? Kenapa di saat dirinya dekat dengan seseorang yang sangat perhatian padanya sih artis beken yang juga merupakan kakak kandungnya ini malah jadi mengatur-atur hidupnya?


"Katakan alasannya, kenapa aku tidak boleh bergaul dengan Karrel padahal dia sangat baik dan perhatian padaku?" sembur Ara menatap Ravel dengan berani.


"Karena aku tidak suka padanya!"


Ara mendengus keras. Alasan itu terlalu umum. Ia tidak bisa menerimanya. Ia ingin bicara melawan kakaknya yang sok mengatur itu tapi entah sejak kapan Tristan sudah berdiri didepannya. Ara menatap manajer sekaligus sahabat kakaknya itu dengan raut wajah penuh tanda tanya.


Tristan berbalik sebentar melirik Ravel,


"Kau masuk dulu, aku akan bicara dengannya." ucap Tristan. Ia tahu Ravel khawatir pada Ara. Pria itu marah karena adiknya tidak ada di rumah ketika mereka sampai, ia juga marah karena Ara diantar oleh temannya yang bernama Karrel itu. Mereka melihatnya tadi dari balik jendela. Ketika Ara sampai didepan rumah.


Namun karena hubungan Ravel dan Ara yang dingin beberapa waktu ini, Ravel mungkin tidak bisa menegur adiknya secara baik-baik. Namun teguran kerasnya pada Ara menurut Tristan akan membuat hubungan keduanya makin jauh.


Sebelum pergi masuk, Ravel memandang Ara lagi yang balas menatapnya dengan berani. Seolah menantangnya berkelahi.


"Lihat saja kalau sampai kau benar-benar pacaran dengan dengan laki-laki sialan itu!"

__ADS_1


"Kalau iya kenapa? Aku tidak butuh ijin darimu!" balas Ara.


"Kau!"


"Ravel, masuklah." ucap Tristan tegas. Ia melirik Ravel sementara kedua tangannya memegang bahu Ara. Astaga, kedua kakaknya beradik ini membuat kepalanya pusing. Dua-duanya tidak ada yang mau mengalah. Mereka tidak sadar apa masih ada orang lain yang tinggal di rumah ini yang bisa mendengar pertengkaran mereka. Para pembantu itu memang tampaknya tidak peduli, tapi Tristan yakin sekali mereka akan bercerita dibelakang.


Tristan membimbing Ara ke sofa setelah Ravel pergi. Ara sendiri masih berusaha mengatur nafasnya dan meredakan emosi karena sang kakak.


"Tadi siang kamu kenapa?" pertanyaan itu membuat Ara mendongak menatap pria entah berapa tahun lebih tua darinya. Ia mengernyitkan mata tidak begitu paham.


"Maksud kak Tristan?"


"Ada yang jahatin kamu di sekolah?" Tristan mengganti pertanyaannya. Kali ini Ara tertunduk diam. Ia lupa kalau mereka juga sedang syuting di sekolahnya.


Ara yakin mereka pasti sibuk syuting. Tidak ada waktu untuk mencari tahu hal-hal apa saja yang terjadi di sekolah. Karena itu dia penasaran kak Tristan tahu dari mana.


"Anak-anak di sekolah kamu. Aku tidak sengaja dengar mereka bergosip." jawab Tristan. Ara mengangguk mengerti. Pantas. Ternyata cepat sekali berita tentang tersebar di sekolah.


"Kamu diapain sama mereka?" Tristan sungguh ingin tahu. Ia ingin sekali memberikan pelajaran pada orang-orang yang berani menyakiti Ara.


"Cuman dicegat doang kak, tapi untungnya Karrel cepet datang jadi mereka gak bisa apa-apain aku." sahut Ara tidak berani bilang kalau seragamnya di robek.


Tristan kembali memegang bahu Ara, menatap gadis itu serius. Ia tahu Ara belum bercerita semua padanya namun ia tidak mau memaksa. Setidaknya sekarang gadis itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Ara, mengenai kakak kamu," Tristan mengantung ucapannya. Ara sendiri bernafas lelah.


"Kata-katanya jangan terlalu kamu masukan ke dalam hati, Ravel hanya khawatir terjadi sesuatu padamu." sambung Tristan. Dahi Ara berkerut.


"Khawatir? Kak Ravel khawatir padaku?" gadis itu malah tertawa, tidak mempercayai apa yang di dengarnya. Mana ada coba orang khawatir tapi malah marah-marah dan melarangnya macam-macam. Bahkan menatapnya dengan sangat dingin. Apalagi selama ini kak Ravel tidak pernah peduli dan selalu mengancamnya. Bagaimana dia bisa percaya coba.


"Kamu mungkin tidak percaya, tapi Ravel betul-betul khawatir. Kakakmu tidak fokus berakting tadi, semua itu karena ia dengar kamu di bully. Alasannya dia marah, karena dia tidak melihatmu ketika sampai rumah. Aku tidak akan membohongimu." jelas Tristan panjang lebar.


Ara tertegun. Benarkah? Tapi, selama ini kakaknya selalu bersikap dingin. Ia malah mengira kak Ravel masih menyalahkannya atas kepergian mama mereka dan sangat membencinya.


"Bukannya kak Ravel benci aku?" tanpa sadar ia menyuarakan isi hatinya. Tristan tersenyum tipis memegangi kepalanya.


"Gadis bodoh, kalau kakak kamu benci kamu, sudah lama dia pergi dari rumah ini. Alasan dia bertahan tinggal di rumah ini itu karena kamu. Ravel juga bersikap dingin karena dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap padamu seperti dulu. Ia masih merasa canggung."


"Kak Ravel bilang begitu?" tanya Ara ingin memastikan. Tristan menggeleng.


"Aku hanya tahu. Kau tahu aku pandai mengamati bukan?" kali ini Tristan berbisik pelan ditelinga Ara. Gadis itu tertawa pelan. Meski masih antara percaya tidak percaya, ia cukup senang dengan apa yang dia dengar. Kalau kak Ravel tidak membencinya, apa papanya juga sama? Ia lalu mendesah berat. Sepertinya dirinya yang terlalu berharap.


"Ya sudah, balik ke kamar sekarang. Kamu pasti capek." kata Tristan kemudian. Ara mengangguk lalu bangkit dari sofa.


"Aku masuk ya kak, selamat tidur." ucap gadis itu melambai ke Tristan dengan sebelah tangannya. Tangan yang lain memegang ransel.


Tristan tertawa pelan menatap kepergian Ara sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Sesaat kemudian senyum diwajahnya hilang.

__ADS_1


Dalam hati pria itu bertanya-apa apakah Ara dan sih Karrel itu sungguh-sungguh pacaran? Ia ingin bertanya pada Ara tadi, tapi ia tahu itu bukan waktu yang tepat dan dia tidak punya hak. Tristan menghela nafas, menyandarkan kepalanya di sofa sambil memijit pelipisnya. Tampaknya hari ini adalah hari berat baginya.


__ADS_2