ARAKA

ARAKA
Bab 57


__ADS_3

Ara turun dari taksi di depan sebuah gedung apartemen tua. Ia melihat-lihat apartemen di internet dan menemukan apartemen yang terbilang cukup murah itu. Ketika melihat gambarnya dari internet sih, gedung apartemen itu belum setua yang dia lihat secara langsung ini. Pantas saja murah. Gedungnya ternyata sudah lusuh begini. Seperti tidak terurus.


Tapi tidak mengapa. Ara sudah memutuskan untuk hidup mandiri, ia tidak berhak memilih-milih, tidak boleh mengeluh, jalani saja hidup barunya yang sederhana. Ia sudah bertanya pada kak Kevan untuk memberinya gaji didepan, setidaknya cukup untuk satu bulan ke depan. Untung kak Kevan tidak bertanya-tanya kenapa ia meminta gaji didepan. Setidaknya ia tidak perlu berbohong untuk menjawab.


Tas yang di bawah gadis itu hanya sebuah tas sedang yang berisi beberapa potong baju. Tampaknya ia harus membeli beberapa baju murah untuk dipakai sehari-hari. Ara mendesah berat, baru kali ini ia merasa ternyata hidup mandiri itu susah. Tapi ia akan berusaha untuk menikmatinya.


Dengan langkah tegap Ara memasuki gedung itu. Sebenarnya kalau dilihat-lihat lagi apartemen itu cukup bagus, sayangnya tidak terurus jadinya sedikit tidak enak dalam pandangan.


Ara memasuki apartemen nomor tiga puluh dua di lantai dua. Apartemen ini memiliki cukup banyak kamar, meski tidak terlalu besar seperti kamarnya namun masih layak di tempati. Suasana saat ia masuk tadi terasa begitu mencekam saking sepinya. Tapi kata penjaga apartemen, ada cukup banyak orang yang menyewa apartemen itu. Ara jadi merasa sedikit terhibur.


Gadis itu duduk di kasur sambil menepuk mukanya.


"Cerialah Ara, kau harus semangat!" gumamnya pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin terus menerus berlarut-larut dalam kesedihan. Semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu. Perlahan, ia pasti bisa melupakan semua mimpi buruk itu.


Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah sekitar jam sepuluh pagi. Tidak ada harapan lagi baginya untuk pergi ke sekolah. Percuma saja karena dia sudah sangat terlambat. Matanya berpindah ke ponsel. Ara sontak merasa heran karena ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari kemarin. Dua hari ini dirinya memang tidak pernah fokus melihat hp, pastinya tidak akan tahu kalau ada panggilan-panggilan seperti itu.


Ara menggeser-geser layar touch screen di hpnya, ternyata yang paling banyak menelpon adalah Karrel. Pasti karena kemarin dirinya tidak angkat-angkat telpon. Setelah Karrel... Ara tertegun, kak Ravel...


Kak Ravel menelponnya berkali-kali sampai beberapa menit yang lalu. Ia langsung memutuskan untuk tidak peduli. Ada juga beberapa panggilan dan pesan masuk dari para sahabatnya. Ara tertawa kecil. Sahabat-sahabatnya ini sudah heboh saja, padahal dia izin dua hari. Baru sehari doang dia absen tapi mereka sudah pada heboh begini.


Lagi, ada panggilan telpon yang masuk. Ara menatap layar ponselnya, rupanya Karrel. Gadis itu menempelkan ponsel di telinganya.

__ADS_1


"Kau dimana?" tanya Karrel diseberang sana, bahkan sebelum Ara angkat bicara.


"Rumah," bohong Ara. Ia masih tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Karrel. Biar dia memikirkan cara dulu.


"Tidak ke sekolah?" tanya Karrel lagi.


"Mm, aku masih capek. Besok saja sekalian." ucapnya.


"Ya sudah, istirahatlah. Nanti aku telpon lagi." kata Karrel lagi. Ara mengangguk. Setelah itu telpon terputus.


"Hufft," Ara menghembuskan nafas panjang. Sampai kapan ia membohongi Karrel kalau dirinya pergi dari rumah?


                                   ***


"Katanya masih capek," ujar Karrel sesuai dengan sesuai dengan apa yang Ara sampaikan tadi. Ia terlihat berpikir. Devin terkekeh.


"Kenapa? Belum sampai sehari tidak melihatnya dan kau sudah galau?" ledek cowok itu. Karrel menatapnya dongkol. Siapa yang galau? Memangnya dia sosok yang tidak bisa hidup kalau tidak bisa melihat gadis yang dia sukai sehari saja? Menurutnya itu terlalu berlebihan. Kecuali Ara tidak ada kabar sama sekali, beda cerita.


Karrel hanya sedang berpikir, apakah kondisi Ara sudah membaik? Atau gadis itu hanya pura-pura tidak ada apa-apa ketika bicara dengannya tadi. Pikiran Karrel teralihkan dengan dua siswi yang mereka kenal berjalan mendekati mereka.


"Karrel," Karrel dan Devin sama-sama mendongak pada Clara dan Manda yang kini berdiri didepan mereka. Kedua gadis itu menunjukkan senyuman termanis mereka pada kedua cowok itu.

__ADS_1


"Kau tahu kenapa Ara tidak masuk hari ini? Surat izinnya hanya dua hari, tapi hari ini dia masih tidak masuk." tanya Manda.


"Mm, kami juga sudah menelponnya berkali-kali tapi tidak di angkat. Sekarang ini kau yang lebih dekat dengan Ara, kau tahu kenapa dia tidak masuk?" timpal Clara.


"Masih capek katanya, barusan mereka telponan." sahut Devin mewakili Karrel. Karrel tentu tidak perlu menjawab lagi karena sudah di jawab oleh Devin.


Manda dan Clara saling menatap.


"Dasar anak itu, tidak mengangkat telpon kita giliran telpon Karrel malah di angkat." Clara merasa tidak adil. Ara pilih kasih, mentang-mentang Karrel dekat dengannya sekarang.


"Udah-udah, yang penting sekarang kalian udah tahu kan sahabat kalian itu baik-baik aja, nggak kenapa-napa." imbuh Devin lagi.


"Oh ya, kak Bintang mana? Kayak udah jarang keliatan bareng kalian deh." Manda mengalihkan pembicaraan. Akhir-akhir ini dirinya memang jarang melihat Bintang bergabung dengan mereka. Padahal kan kalau ketiganya bareng, rasanya tuh indah banget di pandangan. Kumpulan cowok ganteng bersama berasa asik banget dilihat.


"Biasalah, anak OSIS. Banyak kerjaannya. Kan nggak lama lagi bakal ada pensi." jelas Devin. Manda manggut-manggut, pantesan.


"Ya udah deh kalo gitu, kita berdua balik kelas dulu yah." Keduanya lalu berbalik pergi sambil melambai-lambai. Devin ikut berdiri. Sudah waktunya masuk kelas.


"Kau tidak masuk?" ia menatap Karrel sebelum pergi. Karrel berdiri dari lantai lapangan. Pandangannya tanpa sengaja berpapasan dengan Ravel di ujung sana. Seperti wajahnya yang lukanya hampir tidak kelihatan lagi, luka Ravel juga terlihat sudah pulih. Atau mungkin ditutupi dengan make up. Pria itu kan aktor, bukan tidak mungkin ia pakai make up.


Karrel selalu ingin mencari waktu bicara berdua dengan pria itu, secara serius. Tapi selalu saja ia belum mendapatkan waktu yang tepat. Karrel mengernyitkan mata, entah kenapa ia melihat Ravel tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat murung.

__ADS_1


Memang Ravel selalu berwajah kaku, tapi Ravel bisa lihat ada aura murung dibalik wajah datarnya. Mata tidak bisa berbohong. Apa dia ada masalah dengan Ara? Kemarin juga Ara sangat murung dan begitu sedih. Karrel jadi penasaran ada masalah apa dengan kakak beradik itu.


"Rel," panggil Devin. Ia menunggu Karrel sejak tadi. Karrel lalu mengikutinya dari belakang, masih dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya.


__ADS_2