ARAKA

ARAKA
Bab 71


__ADS_3

Ara tersenyum melihat pria di hadapannya. Karrel menyodorkan semangkuk es krim vanilla cokelat. Mereka memang sedang berada di toko ice cream sekarang. Berdua saja. Toko ice cream itu terletak tidak jauh dari apartemen Karrel. Jadi Karrel mengajak Ara mampir dulu ke situ sebelum lanjut ke apartemennya.


Sebenarnya Ara memang sudah setuju pulang ke rumahnya. Tapi ia meminta waktu dua hari karena dirinya masih suka menempati kamar Karrel yang nyaman itu.


"Kenapa mengajakku ke sini?" tanya Ara sambil menikmati ice creamnya. Padahal Karrel bisa mengajaknya ke tempat makan yang lain supaya lelaki itu bisa ikut makan juga. Lihat buktinya. Sekarang yang menikmati ice cream itu hanya Ara. Karrel sendiri hanya menopang dagu sambil terus menatap Ara yang menikmati ice cream pembeliannya itu. Karrel tidak terlalu menyukai makanan yang manis-manis. Itu sebabnya dirinya tidak memesan. Ia hanya senang membelikan untuk pacarnya.


"Jadi, kamu benar-benar mau pulang?" tanya cowok itu. Bukannya tidak senang Ara tidak akan tinggal di apartemennya lagi, ia hanya tidak berpikir kalau gadis itu pulang, mereka tidak akan punya banyak waktu lagi untuk bertemu di malam hari. Kalau masih apartemennya kan ia bisa datang semaunya untuk menemui sang pacar. Tapi mau bagaimana lagi, Ara memang lebih baik tinggal dengan keluarganya. Bukannya itu baik? Karrel sekarang tidak perlu khawatir Ara akan sedih karena kecewa pada keluarga yang membesarkannya itu. Ia sudah bisa menerima kenyataan. Gadis itu cerita, Ravel tidak pernah membencinya. Mengenai papanya, Ara akan berusaha keras membuat kemarahan dan kebencian pria tua itu padanya perlahan memudar. Meski perjalanannya mungkin akan panjang.


"Kenapa, kamu nggak rela?" goda Ara. Karrel tersenyum lebar mendengar ucapan gadis itu. Tangannya terangkat mengacak-acak rambut Ara.


"Udah bisa godain aku sekarang, hm?" gumam cowok itu kalo ini mencium pipi tembem Ara. Keduanya saling menatap saling tersenyum menikmati waktu berdua mereka.

__ADS_1


Ketika Ara menatap ke samping, ia seperti menangkap seseorang tengah mengamatinya. Entah hanya perasaannya atau tidak, tapi pikirannya mengatakan benar. Sudah dua kali ini ia merasakan ada yang sedang mengamatinya. Pertama tadi pagi ketika dirinya sedang berdiri di gerbang sekolah, dan sekarang di tempat ini. Orang itu juga cepat-cepat menunduk ketika menyadari Ara melihatnya.


Apa itu paparazi? Tapi disinikan tidak ada kakaknya. Masa iya paparazi sampai segitunya mau mengikutinya. Pakaiannya juga serba hitam dan tertupi dengan topi, masker dan jaket tebal. Dia tidak salah gaya? Siang hari begini dengan penampilan begitu memangnya orang itu tidak merasa sesak atau kepanasan?


"Lihat apa?" Karrel mengikuti arah pandang sang pacar. Ara mengalihkan pandangannya dan mencondongkan badannya berbisik ke telinga Karrel.


"Kamu lihat laki-laki serba hitam itu, kayaknya dia lagi ngincar aku." bisik gadis itu. Karrel kembali memandangi pria yang di tunjuk Ara, namun sesaat kemudian pria itu berdiri dan keluar. Karrel masih bingung apa maksud Ara dengan perkataannya itu.


"Karena aku Ara. Kamu tahu, ternyata ada banyak sekali rahasia dengan latarbelakang aku yang sebenarnya. Kak Ravel cerita, mama berpesan tidak boleh ada yang tahu tentang keberadaan aku karena banyak yang sedang mengincarku. Bisa saja kan pria tadi adalah salah satu orang yang di antara banyak orang lainnya sedang mengincarku. Tiba-tiba aku merasa seperti di film-film." cerita Ara antusias. Karrel malah makin bingung.


"Memangnya latarbelakangmu yang sebenarnya seperti apa? Kenapa mereka sampai ngincar kamu?"

__ADS_1


Ara mengangkat bahu. Mana dia tahu tentang latarbelakangnya. Kak Ravel saja tidak tahu.


"Aku nggak tahu. Pokoknya kak Ravel bilang latarbelakang aku istimewa." katanya kembali memasukkan ice cream kedalam mulutnya.


Karrel kembali memutar otaknya. Ia harus bicara dengan Ravel. Kalau memang ada yang mengincar pacarnya, itu adalah masalah serius. Ia perlu tahu agar bisa lebih menjaga Ara. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Pria itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan menengok ke segala arah. Mencari-cari kalau masih ada orang yang memperhatikan pacarnya itu di sudut-sudut yang tidak terlihat. Setelah mendengar perkataan Ara, ia langsung merasa waspada. Lalu ia berdiri dan menarik tangan Ara keluar dari tempat itu.


"Ayo pulang." katanya. Ara terpaksa harus meninggalkan ice creamnya yang tersisa karena Karrel terus menariknya dengan paksa meski tidak kasar.


"Kenapa kamu jadi serius banget gitu sih? Aku tadi hanya mengira-ngira saja. Mana ada yang mau mengincar gadis biasa-biasa saja seperti aku." ujar Ara karena merasa respon Karrel terlalu berlebihan. Tak Karrel berhenti sebentar, memegangi bahunya dan menatapnya dengan serius.


"Kamu bukan gadis biasa di mata aku Ara. Aku takut perkataan kamu tadi itu benar. Karena itu kita harus tetap waspada sekarang. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau mengerti?" ucap Karrel tegas. Ara mau tak mau mengangguk mengerti. Salahkan dirinya yang membuat cowok itu khawatir. Ia kembali merasakan Karrel menggenggam tangannya berjalan pergi dari situ.

__ADS_1


__ADS_2