
...♥️♥️♥️♥️♥️...
Aisyah POV
Aku makin tidak karuan saat ini, apalagi mereka justru mengajak aku untuk makan bersama mereka di kantin.
Ya ampun, tau nama kalian aja aku enggak. Apalagi aku harus makan bareng sama kalian, yang ada aku bakal jadi patung di kantin nanti! Haish, ini benar-benar merepotkan dan tidak enak seperti yang aku bayangkan selama ini.
"Kania? Yah dia malah diem lagi!" ujarnya.
"Kamu sebenarnya kenapa sih?" tanyanya.
"Eee gapapa kok," jawabku gugup. "Aku duluan ya? Ada kelas soalnya, maaf gak bisa makan bareng sama kalian!" sambung ku.
Aku akhirnya memilih untuk pergi menjauh dari mereka, ya tentu agar aku bisa terhindar dari mereka dan tidak perlu bingung lagi harus mengatakan apa karena aku tak mengenali mereka itu siapa.
Bruuukkk..
Naas bagiku, ya karena aku terlalu fokus melihat ke belakang, alhasil aku pun menubruk tubuh seseorang yang sangat kekar dan aku terhuyung ke belakang hingga terjatuh ke lantai.
"Kamu gapapa?" ujarnya terdengar cemas.
Aku pun coba bangkit dan mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang aku tabrak tadi, dan aku sangat syok saat mengetahui dia adalah salah seorang pria yang ku kenal sejak lama.
"Kamu...??" ucapku kaget.
Kulihat dia menyunggingkan senyum dan tangannya masih terus diulurkan ke arahku, langsung saja aku meraih tangannya lalu bangkit dan berdiri menatap wajah pria itu. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, dan aku juga bingung harus berbicara apa lagi di hadapan dia untuk menghilangkan kegugupan di hatiku.
"Kania, kamu kenapa jalannya gak lihat-lihat begitu tadi? Untung aja yang kamu tabrak itu aku, bukan orang lain," ujarnya.
__ADS_1
"Niel, kamu—"
Aku menghentikan ucapanku, tepat setelah Daniel menangkup wajahku dan mendekat. Aku tak tahu apa yang ingin dia lakukan, tetapi entah kenapa rasanya jantungku seperti berdebar-debar. Apakah Daniel ingin mencium ku?
"Tadi aku lihat, kamu kayak menghindar gitu dari teman-teman kamu. Ada apa sih Kania? Kamu lagi punya masalah?" tanya Daniel padaku.
Aku sontak menggeleng dan mengatakan kalau itu tidak benar, ya karena aku menghindar dari orang-orang tadi lantaran aku tidak mengetahui siapa mereka. Seandainya Kania memberikan aku list nama teman-temannya, mungkin saja aku tidak perlu bingung dan ketakutan seperti sekarang.
"Yaudah, kalau ke kantinnya sama aku mau gak? Aku yang traktir deh, itung-itung balas kebaikan kamu," tawar Daniel.
"Eh gausah, aku lagi gak lapar. Sorry ya Niel, aku harus pergi!" ucapku menolak.
Aku melepaskan diri dari genggaman Daniel, lalu berniat menjauh dan pergi agar penyamaran ku sebagai Kania tidak diketahui olehnya. Ya jujur saja, aku merasa khawatir jika Daniel akan bisa tahu kalau yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Kania, melainkan aku, Aisyah.
"Tunggu Syah!" Daniel berteriak ke arahku, oh Tuhan ternyata dugaan ku sedari tadi benar! Daniel memang sudah mengetahui semuanya.
Aku pun terdiam, sedangkan Daniel tampak melangkah maju menghampiriku. Perasaan ku campur aduk saat ini, heran sekaligus bingung bagaimana caranya aku bisa menjelaskan ini semua kepada pria itu. Aku juga heran, mengapa Daniel bisa mengetahui jika aku ini Aisyah?
"Ahaha, iya sorry sorry. Aku sampai kelupaan, maksud aku Kania. Maaf banget ya, soalnya wajah kalian mirip sih!" jawabnya sambil tertawa.
"Huh syukurlah!"
Ya aku benar-benar lega kali ini, karena ternyata Daniel hanya salah menyebut nama. Tadinya aku kira dia memang sudah tahu bahwa aku bukanlah Kania, tapi untung saja semua itu tidak terjadi dan Daniel masih mengira aku Kania. Kali ini aku akan terus berhati-hati, aku tidak mau tentunya jika sampai Daniel atau yang lain mengetahui siapa diriku.
•
•
Kini setelah menyelesaikan kuliah sebagai Kania, aku pun bergegas pulang bersama supir yang menjemput ku. Tanpa diduga, aku sampai bersamaan dengan Kania yang juga baru pulang dari kampusku. Ya satu hari sudah kami menjalankan pertukaran ini, entah sampai kapan semuanya akan terus begini. Tapi, yang pasti aku cukup bahagia hidup tanpa cemoohan dari orang-orang.
__ADS_1
"Aisyah, kamu udah pulang? Gimana kuliah jadi aku, enak gak?" tanya Kania padaku.
Tentu saja aku menjawab dengan antusias, "Enak, pake banget malah! Aku jadi gak perlu sedih lagi dengerin cemoohan orang-orang, malahan banyak yang mikir aku."
"Syukurlah, aku senang kalau kamu senang Syah! Semoga kamu gak sedih lagi ya!" ucap Kania.
Kania pun mendekat ke arahku, lalu merangkul pundak ku dan mengusap perlahan rambutku seperti seorang kakak. Padahal disini akulah kakaknya, tapi entah kenapa justru selama ini Kania lah yang selalu bersikap dewasa dan mau mengalah denganku. Sungguh aku kagum padanya, aku tidak ingin kehilangan saudara sebaik Kania.
Disaat kami hendak melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba suara motor terdengar berhenti tepat di depan gerbang rumah kami. Tentu saja aku dan Kania kompak menoleh, betapa terkejutnya kami begitu menyadari Darwin lah yang datang kali ini. Sontak Kania panik, dia khawatir karena sebelumnya Darwin menemuinya di kampus dalam wujud Aisyah.
"Duh, itu kan Darwin. Ini gimana ya Syah? Dia tadi sempat ketemu sama aku di kampus, dia pasti curiga kalau aku bilang aku Kania," ujar Kania.
"Sssttt, kamu tenang aja Kania! Kamu bersikap kalau diri kamu itu aku, biar Darwin gak curiga!" ucapku.
"Oh iya iya, berarti kamu juga tetap berakting jadi aku ya? Sekarang ayo kita samperin dia, jangan sampai dia curiga!" ucap Kania.
Aku mengangguk saja menyetujui ucapan Kania, lalu kami berdua pun melangkah mendekati Darwin. Tampak pria itu juga telah turun dari motornya dan menatap ke arah kami, aku tahu dia pastinya masih menduga aku adalah Kania dan begitu juga sebaliknya. Ya terbukti dari tatapannya yang lebih dulu menjurus ke arah Kania, karena dia mengira Kania adalah aku.
"Hai Aisyah! Maaf ya, aku ngikutin kamu daritadi. Soalnya aku pengen ajak kamu pergi lunch bareng," ucap Darwin sambil tersenyum.
"Cie, kalian ternyata udah semakin dekat ya? Sampe mau diajak lunch bareng tuh," aku sengaja menggoda mereka, dan terlihat Kania langsung mencubit lenganku karena malu.
"Apa sih Kania? Kamu gausah ngaco deh, kita biasa aja kok gak terlalu dekat!" ucap Kania menampik semua ucapanku tadi.
"Ah kamu mah pake malu-malu, udah deh kamu terima aja tuh ajakan Darwin buat makan bareng! Tapi, jangan lupa bungkusin buat aku sekalian ya!" ucapku disertai senyuman tipis.
Kania menggeleng saja dibuatnya, sedangkan Darwin terlihat tertawa akibat perkataan ku tadi. Akhirnya mau tidak mau Kania pun terpaksa mengiyakan ajakan Darwin, lagipula menurutku enak juga bisa mendapat makan siang gratis dari pria itu. Mereka berdua pun pergi dengan motor milik Darwin, sedangkan aku ditinggal seorang diri.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...