Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Usaha Darwin Daniel


__ADS_3

Pagi harinya, terlihat Damar bangun dari tidurnya dan tampak cukup bahagia setelah semalaman penuh ia merasa puas dengan kenikmatan yang diberikan oleh tubuh Aura. Pria itu menoleh ke samping, nampak kini Aura masih tertidur pulas dengan kondisi polos dan hanya tertutupi selimut. Ya semalam Damar memang menghajar habis-habisan tunangannya itu, padahal tadi malam adalah yang pertama kali bagi Aura.


Damar sangat beruntung karena berhasil mendapatkan kesucian Aura semalam, itulah yang ia nanti-nantikan sejak lama. Setelah ini, Damar pastikan kalau Aura akan menjadi miliknya dan wanita itu tidak bisa menghindar lagi darinya. Damar amat mencintai Aura, itulah sebabnya Damar terpaksa meniduri Aura dan meminta Aura untuk menyerahkan tubuhnya sebagai jaminan kalau Aura akan selalu ada di sisinya sampai mereka menikah.


Kini Damar kembali mendekat ke arah tubuh Aura, ia dekap dengan erat sembari mengecup seluruh area wajah wanita yang baru ia renggut kesuciannya itu. Ada rasa kasihan sebenarnya di dalam diri Damar, mengingat semalam Aura sangat kesakitan dengan permainan kasar yang ia lakukan. Namun, Damar merasa puas karena berhasil membuat Aura banjir akan kenikmatan pada akhirnya. Bahkan, ia juga menumpahkan benihnya di dalam rahim Aura.


"Eengghh...."


Wanita itu melenguh di dalam tidurnya saat merasakan sentuhan dari pria di sampingnya, Aura membuka mata lalu terkejut ketika menyadari Damar sudah memeluknya dan mengecupinya. Apalagi, keduanya masih dalam kondisi polos tanpa sehelai benangpun. Seketika Aura teringat pada kejadian malam tadi, dimana akhirnya Aura pasrah dan menyerahkan tubuhnya pada lelaki itu.


"Loh pak, ini kita masih di hotel?" Aura terkejut bukan main dan spontan hendak bangkit, namun Damar menahan tubuh wanita itu dengan lebih kuat.


"Mau kemana sih emang? Hari ini kita habiskan waktu disini, karena aku gak bisa lepas dari kamu Aura. Semalam itu luar biasa sekali, kamu mau kan kalau kita mengulanginya lagi?" goda Damar.


Aura menggeleng perlahan, "Gak pak, saya masih capek. Rasanya milik saya juga sakit banget, apalagi semalam bapak kasar mainnya!" ucapnya menolak.


"Hey, kamu lupa ya sama permintaan aku semalam? Jangan panggil aku pak lagi mulai sekarang, kamu itu kan udah jadi tunangan aku loh! Panggil aku mas, lagian aku juga masih muda!" sentak Damar.


"Iya mas, tapi tetap saya gak bisa main lagi. Tolong kasih saya waktu istirahat!" ucap Aura.


"No problem, ayo kita mandi aja dulu! Siapa tahu setelah itu, kamu jadi lebih membaik. Kita mandi bareng aja biar lebih cepat, okay!" pinta Damar.


Kali ini Aura mengangguk setuju, dengan perlahan dan berhati-hati Damar memapah tubuh wanita itu dan membawanya menuju kamar mandi secara perlahan-lahan. Damar tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada calon istrinya itu, karena ia masih menginginkan kenikmatan yang lainnya dan lebih daripada yang semalam mereka lakukan.


Di kamar mandi, Damar segera menyalakan keran dan mengisi air ke dalam bathtub. Sembari menunggu, Damar menekan tubuh Aura ke dinding serta mengapit tubuhnya dari jarak dekat. Damar memandangi seluruh tubuh wanita itu yang dipenuhi bercak merah buatannya, ia merasa bangga karena kini Aura telah resmi menjadi miliknya.


"Aura, kamu cantik sekali!" Damar memujinya, lalu segera melahap bibir mungil wanitanya dengan sangat ganas dan bergairah.


Aura hanya bisa pasrah menerima semuanya, ia tidak dapat menolak keinginan bosnya itu. Akhirnya, terpaksa Aura menikmati saja apa yang dilakukan Damar saat ini. Lagipun, ia juga merasa nikmat saat pria itu menyentuh tubuhnya seperti ini. Ya bukan hanya bibir yang saling memagut, tetapi kedua tangan Damar juga terus menjelajahi tubuhnya.




Kania yang sudah rapih dan bersiap pergi ke kampus justru harus berhadapan kembali dengan Daniel yang datang ke rumahnya. Pria itu muncul bersama Darwin dengan dua motor berbeda, lalu keduanya pun sama-sama menyapa gadis tersebut. Kania hanya diam dan tidak tahu harus mengatakan apa, wajahnya pun terlihat bingung saat ini.


Sementara Daniel langsung mendekat ke arah gadis itu, matanya tidak bisa berhenti memandang wajah dari wanita yang ia cintai itu karena kecantikannya yang amat mempesona. Bagi Daniel, tak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Kania karena gadis itu benar-benar istimewa di matanya. Hanya Kania lah yang bisa membuatnya tersenyum, walaupun hingga kini belum ada kejelasan mengenai hubungan mereka karena Kania selalu menolaknya.


"Ah Nia, good morning! Kamu pasti mau ke kampus kan? Yuk bareng aku aja, kebetulan aku juga bawa helm dua nih pas buat kamu!" ajak Daniel.


Kania hanya diam dan tidak mau menatap wajah pria di hadapannya itu, ia lipat kedua tangannya lalu berusaha menghela nafas untuk tenang karena tak ingin terjadi keributan. Meski Kania tidak suka dengan kehadiran Daniel disana, tetapi ia tetap saja tak ingin membuat pria itu merasa sedih atau malah kesal karena sikap buruknya nanti.


"Yah elah Niel, pake basa-basi segala lu! Padahal kan lu emang sengaja bawa helm dua tadi pas dari rumah, dasar cowok!" cibir Darwin.

__ADS_1


"Sssttt, lu diem dulu bro! Biarin gue bicara sama Kania berdua, mending lu cari Aisyah sana terus jangan gangguin gue sama Kania!" pinta Daniel tampak kesal.


"Hahaha, kalem lah gue mah santai! Aisyah juga bentar lagi nongol buat temuin gue," ujar Darwin.


Benar saja apa yang dikatakan Darwin tadi, tak lama kemudian Aisyah pun muncul dari dalam rumahnya dan merasa syok melihat kehadiran dua pria itu di depan rumahnya. Aisyah turut berdiri di dekat adiknya, memandang ke arah Darwin serta Daniel secara bergantian dengan wajah penasaran seolah heran mengapa mereka ada disana.


"Tuh kan bro, bidadari gue pasti muncul. Sebentar lagi dia bakal deketin gue deh," kekeh Darwin.


Daniel menggeleng saja dibuatnya, ia mencoba tetap fokus pada Kania dan berharap agar gadis itu mau pergi bersamanya. Daniel tidak ingin menyerah sampai disitu, tetapi tiba-tiba Aisyah menghadangnya dan tak memperbolehkan Daniel untuk mendekati Kania. Pria itu pun tampak heran, pasalnya tidak biasa Aisyah melakukan itu.


"Heh! Kalian ini mau ngapain sih datang ke rumah gue? Diantara kita tuh gak ada hubungan apa-apa, jadi kalian mending pergi deh dari sini sebelum gue minta satpam buat usir kalian!" sentak Aisyah.


"Loh, kok lu bicaranya gitu sih Syah? Bukannya semalam lu dukung gue ya buat lamar Kania?" tanya Daniel keheranan.


Aisyah terdiam saat itu juga, sedangkan Kania tampak terkejut dan tak mengerti begitu mendengar perkataan Daniel mengenai keterlibatan Aisyah dalam urusan lamaran semalam. Kania pun menatap wajah saudarinya itu, seolah-olah ia menantikan jawaban dari Aisyah tentang apa yang dikatakan Daniel tadi.


"Syah, benar kamu dukung Daniel? Kamu kok gitu sih Aisyah? Aku aja gak pernah ikut campur urusan asmara kamu loh," kesal Kania.


"Eee dengerin dulu Nia, ini semua gak seperti yang kamu kira! Aku emang dukung Daniel buat lamar kamu, tapi sisanya ya terserah kamu mau terima dia atau enggak!" gugup Aisyah.


"Ah tetap aja kamu keterlaluan, harusnya kamu kan gak begitu! Masa kamu malah dukung Daniel buat lamar aku sih?" sentak Kania.


"Tapi Nia—"


Aisyah menurut, ia membiarkan saja Daniel mengejar Kania dan berharap gadis itu tidak terus marah padanya. Kini Aisyah hanya tinggal berdua dengan Darwin, ya sontak Darwin memanfaatkan hal itu untuk lebih dekat dengan Aisyah dan mencoba supaya Aisyah mau menerimanya. Hingga kini, Darwin memang belum bisa melupakan Aisyah atau menghilangkan rasa cintanya.




"Kania tunggu!"


Daniel berteriak keras sembari mengejar Kania dan berusaha menahannya, Daniel pun mempercepat langkah kakinya untuk dapat menggapai tubuh belakang gadis itu. Akhirnya, Daniel kini berhasil mencekal lengan Kania dari belakang serta membuat gadis itu tidak dapat pergi kemana-mana karena terkena cengkeramannya.


Kania mencoba melepaskan diri dan melawan Daniel saat ini, akan tetapi usahanya sia-sia lantaran tenaga Daniel jauh di atasnya. Daniel juga berhasil membawa Kania ke pinggir, lalu meminta Kania untuk berbicara sejenak dengannya. Tak ada pilihan lain bagi Kania, karena gadis itu juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut saja padanya.


"Lo mau apa lagi sih, Niel? Gue udah bilang, gue gak mau bicara sama lu. Gue juga gak suka sama lu, jadi lu jangan harap kalau gue akan terima lamaran lu!" ucap Kania dengan tegas.


Daniel tersenyum saja dibuatnya, ia pandangi wajah gadis di depannya itu dengan serius sampai membuat Kania akhirnya tersipu. Kania tak mengerti apa yang dilakukan Daniel saat ini, dan mengapa pria itu tidak mengalihkan pandangan darinya. Apalagi, tangan mereka saat ini masih saling menyatu di dalam genggaman pria tersebut.


"Gue cinta sama lu Kania, mau apapun yang lu bicarakan ke gue itu gak akan pernah merubah rasa cinta gue ke lu. Camkan itu Nia!" ucap Daniel.


Kania paham betul dengan apa yang dibicarakan Daniel saat ini, ia tahu kalau pria itu memang amat menyukainya dan tidak akan mudah baginya untuk bisa membuat Daniel menjauh darinya apalagi menghilangkan rasa cinta itu. Namun, Kania sendiri tetap pada keputusannya bahwa ia tidak akan pernah mau menerima Daniel sampai kapanpun.

__ADS_1


Kini Daniel coba membujuk Kania untuk ikut dengannya pergi ke kampus bersama, satu tangannya juga masih menggenggam kuat telapak tangan Kania seolah tak ingin melepasnya. Kania terus memalingkan wajahnya, sejujurnya ia tidak mau mengikuti permintaan pria itu dan ingin kabur saja dari sana saat ini.


Akan tetapi, pada akhirnya Kania tak memiliki pilihan lain untuk saat ini. Kania pun mengiyakan saja permintaan pria itu dan mau ikut bersamanya, walau di dalam hatinya ia sangat membenci Daniel karena terus saja memaksanya. Daniel tersenyum mendengar itu, pria itu tak perduli meski Kania menerimanya karena terpaksa.


"Terimakasih Nia, aku senang banget rasanya! Kalo gitu ayo kita kembali ke rumah kamu sekarang, motor aku kan ada disana!" ucap Daniel antusias.


Kania mengangguk saja tanpa berkata apapun, ekspresinya juga menunjukkan kalau ia sebenarnya tidak mau dan sangat malas untuk ikut bersama Daniel ke kampus. Apalagi ia tahu, bahwa Daniel sangat mencintainya dan berharap ia akan mau menerima pria itu serta membalas cintanya.


Mereka pun melangkah sama-sama menuju rumah gadis itu, tentunya sepanjang jalan Daniel terus menggenggam tangan Kania karena tak ingin gadis itu kabur kembali. Sesekali juga Daniel tampak melirik ke arahnya, ia tersenyum saat melihat wajah jutek Kania yang menurutnya masih terlihat manis.


Sesampainya di rumah itu, Kania dan juga Daniel tampak terkejut setelah melihat kondisi disana begitu sepi tanpa ada siapapun. Kania terlihat bingung, ia heran kemana perginya Aisyah maupun Darwin saat ini. Padahal, sebelumnya jelas-jelas ia lihat kalau Aisyah dan Darwin ada disana.


"Kemana ya Aisyah? Apa dia udah pergi ke kampus?" gumam Kania bertanya-tanya.




Rupanya benar dugaan Kania tadi, Aisyah saat ini telah bersama Darwin dan mereka pun terlihat mendatangi sebuah warung kopi yang sebetulnya tak jauh dari rumah Aisyah tadi. Darwin menghentikan motornya, kemudian membantu Aisyah melepas helmnya dan berjalan memasuki warung kopi tersebut untuk menikmati sarapan.


Aisyah sebenarnya tidak ingin pergi kesana, apalagi tadi ia sudah sempat sarapan di rumahnya. Akan tetapi, paksaan dari Darwin membuat Aisyah tidak dapat berbuat apa-apa dan terpaksa mengikuti saja apa yang diinginkan pria itu. Sehingga, kini keduanya sama-sama terduduk di kursi warung tersebut dan bersiap memesan sesuatu.


"Syah, kita ngobrol disini aja ya? Sekalian kalau kamu mau pesan makan atau minum, pesan aja!" ucap Darwin sambil tersenyum.


"Hm, sebenarnya gue udah kenyang sih. Ya tapi gapapa deh, gue hargain tawaran lu yang mau traktir gue sekarang. Jadi, gue pengen pesan kopi susu aja!" ucap Aisyah.


"Makasih ya Aisyah, aku senang deh kamu mau hargai aku!" ucap Darwin.


Aisyah mengangguk saja dengan perlahan, lalu Darwin bangkit dan mengatakan pesanannya pada pelayan disana. Aisyah pun hanya mengamati dari tempatnya terduduk saat ini, entah mengapa tanpa disadari ia malah merasa kagum pada sosok Darwin yang sekarang tengah berdiri dan berbicara pada pelayan tersebut.


Setelah mengatakan pesanannya, Darwin kembali ke tempat duduk dan melanjutkan obrolannya bersama Aisyah disana yang sempat tertunda. Darwin pun tampak tersenyum menatap wajah gadis itu, sedangkan Aisyah langsung memalingkan wajahnya karena malu setelah tak sengaja dipergoki oleh Darwin saat sedang memandanginya.


Pria itu terkekeh saja melihat reaksi Aisyah saat ini, ia benar-benar gemas dan tidak bisa berhenti memandangi wajah Aisyah yang luar biasa cantik itu. Bukan hanya wajahnya, tetapi juga hatinya yang memang dikenal baik dan ramah pada setiap orang. Meski, sebenarnya Aisyah juga selalu bersikap ketus padanya sejak peristiwa dulu.


"Cie cie, daritadi kamu pasti ngeliatin aku ya? Aku gak nyangka loh Syah, ternyata kamu itu orangnya diam-diam perhatian juga ya sama aku?" goda Darwin.


Aisyah mengernyitkan dahi dan terkekeh mendengar ucapan Darwin barusan, gadis itu coba mengelak dan tidak mau mengakui tuduhan Darwin barusan. Tentu saja Aisyah merasa malu jika harus mengaku di hadapan Darwin, apalagi ia memang sedari tadi memandangi tubuh pria itu yang tentunya tanpa kesadaran dari dirinya sendiri.


"Yaudah, aku udah pesenin semua yang kamu mau. Sambil nunggu pesanannya datang, kita ngobrol lagi yuk!" usul Darwin.


Tak ada jawaban dari mulut Aisyah saat ini, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti kemauan Darwin tanpa menolak atau mengatakan apapun. Setelahnya, Darwin dengan berani bergeser sedikit lebih dekat ke arah Aisyah lalu coba berbicara padanya mengenai perasaan yang selama ini selalu tertanam di lubuk hatinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2