
Kania telah keluar dari minimarket itu dan meminum minumannya sampai sisa setengah, ia benar-benar haus karena tadi sempat berselisih paham dengan Nazla yang sangat dibenci olehnya. Gadis itu kini terus melangkah di tepi jalan, entah kenapa ia masih membenci sekali Nazla dan ingin segera memberi pelajaran pada wanita itu.
Namun tiba-tiba, ia malah bertabrakan dengan seseorang di depannya karena ia tidak fokus menatap ke depan. Botol di tangannya pun terjatuh dan tumpah karena ia belum sempat menutupnya, Kania benar-benar terkejut dan bergegas menoleh untuk melihat siapa yang ia tabrak tadi.
"Duh, ma-maaf aku gak sengaja!" ucap Kania tampak gugup dan merasa bersalah.
Lelaki di hadapannya itu berbalik dengan posisi tangan memegang ponsel dan sepertinya tengah menghubungi seseorang, tatapan dingin terlihat di wajah pria itu saat menoleh ke arah Kania. Sungguh saat ini Kania benar-benar ketakutan, ia khawatir lelaki itu akan memaki-maki dirinya dan meminta ganti rugi darinya.
"Oh ya, gapapa. Saya juga yang salah karena terima telpon di pinggir jalan begini, kamu gak kenapa-napa kan?" ujar lelaki itu.
"Eee...."
Kania tak habis pikir dengan itu, ia sangat kaget melihat respon dari si pria. Tadinya ia mengira pria itu akan memarahinya, tapi ternyata sekarang justru pria itu menanyakan kondisinya dan tidak terlihat sedang marah sama sekali. Kania pun sampai bingung dan tak tahu harus berbicara apa, ia juga syok dengan ketampanan yang ditunjukkan pria itu.
"Hey, halo! Kamu sakit ya, atau jangan-jangan kepala kamu sakit tadi gara-gara kebentur badan saya? Saya minta maaf ya, kalau memang benar begitu mari saya antar kamu ke rumah sakit!" ucap lelaki itu terlihat mencemaskan kondisi Kania.
"Hah? A-aku gapapa kok, aku justru yang harusnya minta maaf. Aku tadi jalan gak lihat-lihat dulu, maafin aku ya!" gugup Kania.
Pria itu mengembangkan senyumnya, "It's okay, saya maafkan kamu. Kita sama-sama saling memaafkan aja, ya?" ucapnya memberi usul.
Kania manggut-manggut perlahan, membuat si pria terkekeh karena ekspresi gadis itu. Kali ini Kania memang terlihat menggemaskan, itulah sebabnya si pria lebih memilih mendekati Kania dan memutus sejenak telponnya serta meletakkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Saya Pasya," lelaki itu tiba-tiba menyodorkan tangannya ke arah Kania sembari mengenalkan diri, sehingga Kania benar-benar terkejut.
"Oh, eee maksudnya?" Kania sangat gugup dan menatap heran wajah pria di depannya itu.
Lelaki bernama Pasya itu pun tersenyum dibuatnya, ia senang karena bertemu dengan gadis polos seperti Kania yang sangat menggemaskan. Lalu, Pasya pun kembali mendekati gadis itu untuk menjelaskan maksudnya.
"Pasya itu nama saya, masa kamu gak paham sih? Kalau kamu namanya siapa?" ujar Pasya.
"Oh gitu, iya aku paham kok. Maksudnya, kenapa kamu tiba-tiba kasih tahu nama kamu ke aku? Kan aku bingung tau," ucap Kania.
Pasya kembali terkekeh kali ini, "Hahaha, ya gapapa sih. Saya cuma mau ajak kamu kenalan aja, emang gak boleh ya?" ucapnya.
"Bo-boleh kok, kalo gitu salam kenal ya Pasya! Eh maksudnya kak Pasya," ucap Kania gugup.
"Panggil Pasya aja! Gini-gini saya masih muda kok, paling juga gak terlalu beda jauh sama kamu. Terus, nama kamu siapa?" ucap Pasya.
"Oh okay, nama aku Kania." dengan gugupnya gadis itu turut mengenalkan diri di hadapan si lelaki.
Seketika Pasya tersenyum lebar mendengarnya, ia amat senang karena telah mengetahui nama dari gadis di hadapannya itu. Selain cantik, Kania memang menggemaskan dan juga memiliki wajah yang manis. Terlebih saat gadis itu tersenyum, langsung menambah kekaguman Pasya pada Kania meski baru pertama kali bertemu.
"Kania, cantik ya nama kamu? Pantas aja kamu juga secantik ini, saya sampai gak bisa berpaling dari kamu. Eee oh ya, tadi minuman kamu tumpah ya? Yuk deh saya beliin yang baru!" ucap Pasya.
Kania terkejut saat itu juga, "Hah? Gausah Pasya, aku udah gak haus lagi kok. Aku mau pulang aja, permisi!" ucapnya menolak.
"Pulang? Mau saya antar?" tanya Pasya.
Kania terbelalak kaget seolah tak menyangka dengan tawaran pria itu, ia baru saja mengenalnya tetapi sekarang pria itu sudah menawarkan diri untuk mengantarnya. Tentu saja Kania merasa sedikit cemas, ia khawatir pria itu memiliki rencana buruk untuk dirinya dan ia tak mau itu terjadi.
Kania pun menggeleng dengan cepat, "Gausah, aku bisa pulang sendiri," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Iya deh, gapapa kok. Kamu hati-hati aja ya Kania! Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu!" ucap Pasya disertai senyum manisnya.
Entah Kania harus mengaminkan ucapan itu atau tidak, jujur saja ia cukup tertarik dengan pria di hadapannya tersebut karena dia memang tampan dan berbeda dari pria lainnya. Namun, Kania juga ragu kalau Pasya adalah orang baik. Dari tatapan serta ucapannya saja, Kania menaruh curiga bahwa Pasya bukan tipe lelaki yang baik untuknya.
Akhirnya Kania memutuskan pergi dari sana, ia menjauh dari Pasya sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah pria itu mengejarnya atau tidak. Rupanya Pasya hanya berdiam diri di tempatnya, memandang ke arahnya sambil tersenyum lebar.
•
•
Sementara itu, Damar baru tiba di lokasi yang sudah diberikan oleh anak buah Aura kepadanya mengenai tempat keberadaan Ivar. Saat ini ia datang bersama Aura, yang merupakan asisten pribadi sekaligus wanita yang ia sukai. Namun meski begitu, sampai sekarang juga Damar belum berani mengungkapkan perasaannya kepada wanita itu.
Sesampainya disana, mereka langsung turun dari mobil dan bergegas menghampiri tempat itu. Damar sudah tidak sabar lagi ingin segera menemui pelaku yang sudah mengedit video Aisyah itu, akan tetapi Aura tiba-tiba mencekal lengannya dan menahan Damar yang hendak melangkah ke depan.
"Tunggu dulu pak!" ucap Aura meminta Damar untuk sabar dan tidak gegabah.
Damar sontak terkejut dibuatnya, ia menoleh ke arah Aura dengan bingung sembari memberikan tatapan herannya. Damar juga melirik ke bawah, tepatnya ketika tangan Aura menyentuh lengannya. Tentu saja Aura sadar bahwa tindakannya sangat ceroboh, gadis itu pun langsung menarik tangannya dan melepaskan lengan pria itu.
"Ma-maaf pak, saya gak bermaksud—"
"Kenapa dilepas? Saya suka kok dipegang sama kamu kayak gitu, malahan saya pengennya emang begitu terus. Udah sini, pegang lagi aja!" Damar menyela dan malah menarik tangan Aura untuk kembali menggenggam lengannya.
Aura terdiam saja mengikuti kemauan bosnya, meski ia sangat heran mengapa Damar melakukan itu disaat ia sudah melepaskan tangan pria itu.
"Lau, kenapa kamu halangi saya tadi? Kamu gak suka kalau saya ringkus penjahat itu?" tanya Damar.
"Bu-bukan begitu pak, saya cuma khawatir di dalam sana Ivar gak sendiri. Soalnya waktu itu anak buah saya sempat melihat Ivar sedang bersama beberapa lelaki di tempat ini," jelas Aura.
Aura terbelalak dan menelan saliva nya begitu mendengar ajakan Damar, ia tak tahu jika Damar akan mengajaknya turut serta masuk ke dalam sana. Tentu saja Aura merasa takut, bagaimanapun ia tak memiliki keahlian beladiri apapun itu dan ia bingung harus bagaimana nantinya. Namun, Aura berusaha tetap tenang demi bisa membantu bosnya.
"Kenapa Aura? Kamu takut dan gak mau bantu saya, hm?" tanya Damar menggodanya.
Wanita itu menundukkan wajahnya dengan bingung, sedangkan Damar tampak semakin tergoda melihat kecantikan sang asisten. Dengan berani, Damar pun menarik wajah Aura dan menatapnya secara intens sambil tersenyum. Sesaat kemudian, ia kecup bibir mungil gadis itu secara singkat sampai membuat sang empu melotot tak karuan.
Cup
"Gausah takut, ada saya kok. Ayo kita masuk ke dalam sekarang! Ivar harus ditangkap dan dijebloskan ke penjara, supaya dia bisa bertanggung jawab atas segala perbuatannya!" ucap Damar.
"I-i-iya pak," Aura terlihat gugup dan masih tak mempercayai apa yang terjadi barusan.
Ciuman pertamanya didapat dari sang bos, ada rasa senang sekaligus bingung yang tertanam di dalam hatinya saat ini. Memang itu hanya sebuah kecupan biasa, tetapi sebelumnya Aura tak pernah melakukan itu meski dengan pacarnya sekalipun. Dan barusan, Damar malah seenak jidat mengecup bibirnya dan tak merasa bersalah setelah melakukannya.
Akhirnya mereka sama-sama masuk ke dalam sana dengan tangan Damar yang setia menggenggam telapak tangan gadis itu, tak ada penolakan dari Aura karena dia pun juga tidak mungkin bisa melawan atau membantah kemauan bosnya yang selama ini menggajinya. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin Damar akan memecatnya.
Saat di dalam, Damar berhasil menemukan keberadaan Ivar yang sedang terduduk santai bersama dua orang temannya disana. Damar menggeleng perlahan melihat kelakuan Ivar saat ini, ia sungguh tak percaya pria itu masih dapat berlaku santai dan menikmati minuman dikala Aisyah terus saja mendapatkan bullyan dari orang-orang.
"Sialan! Enak banget hidup lu bisa sesantai ini, sedangkan adik gue menderita di luar sana karena banyak orang yang bully dia!" geram Damar.
Ivar beserta kedua temannya itu sontak bangkit dan terkejut begitu melihat Damar datang, mereka tak percaya sekaligus heran mengapa Damar bisa berada di tempat itu. Padahal Ivar sudah memilih tempat yang paling bagus dan aman untuk ia bersembunyi, tetapi kini Damar malah berhasil menemukannya dan tentu akan menangkapnya.
"Hah? Gimana bisa lu ada disini, darimana lu tahu lokasi persembunyian gue?" ujar Ivar panik.
__ADS_1
"Itu urusan gue, sekarang ini mendingan lu nyerah dan gausah ngelawan! Gue bakal bawa lu ke kantor polisi untuk ditahan!" sentak Damar.
Ivar tergelak, "Hahaha, lu mau tangkap gue? Lihat Mar, disini gue gak sendiri. Gue punya teman-teman yang bakal bantu gue kapanpun!" ucapnya.
"Gue gak takut, gue bisa hadapi kalian bertiga sekaligus sekarang dan seret kalian semua ke penjara! Gue gak akan biarin kalian hidup tenang, karena kalian juga terlibat dalam penyembunyian tersangka!" ancam Damar.
"Ah banyak omong lu, ayo serang!" titah Ivar.
Ketiga pria itu langsung bergerak maju menyerang Damar, sementara Aura diminta untuk mundur dan tidak mendekat selagi Damar menghadapi ketiga pria tersebut. Aura pun tampak ketakutan melihatnya, ia sangat khawatir pada kondisi bosnya yang tengah dikeroyok saat ini.
•
•
Kania telah sampai di rumahnya, namun entah kenapa gadis itu masih saja memikirkan mengenai kejadian saat di jalan tadi dimana ia bertemu dengan seorang lelaki taman bernama Pasya. Jujur saja, Kania sangat terpesona pada sosok lelaki itu dan ia begitu penasaran ingin mengenal lebih dekat sosok Pasya itu.
Jika saja sikapnya tak terlalu takut seperti tadi saat sedang berdua dengan lelaki, maka pasti Kania akan mengiyakan ajakan Pasya untuk mengantarnya. Ya Kania memang belum bisa menghilangkan rasa gugupnya ketika bersama dengan pria asing, itu sebabnya ia sulit sekali mendapat pengganti Alex di dalam hidupnya.
"Kania!!" suara panggilan itu mengejutkan Kania, ia pun reflek menoleh dan melihat Aisyah yang keluar dari rumahnya dengan wajah bingung.
Dengan cepat Kania mengusap wajahnya yang tadi sempat terlihat cemas, ia tidak ingin membuat Aisyah banyak bertanya mengenai apa yang menimpa dirinya. Kania pun melangkah ke dekat kakaknya itu, lalu tersenyum lebar agar Aisyah tidak curiga padanya.
"Hai Syah!" sapa Kania sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis.
"Hm, lu darimana aja sih Nia? Bukannya harusnya lu udah pulang daritadi ya, ini kok jam segini baru pulang? Sumpah gue cemas banget loh, gue takut lu diapa-apain lagi sama Alex!" ujar Aisyah.
"Maaf Syah, aku gak maksud bikin kamu cemas! Aku tadi mampir ke minimarket dulu beli minum, terus.." Kania tak sanggup menyelesaikan kata-katanya.
"Terus apa?" sela Aisyah bertanya penasaran.
"I-itu, aku tuh gak sengaja ketemu sama Nazla tadi pas di minimarket. Terus dia ngira aku itu kamu, yaudah deh kita debat disana," jelas Kania.
"Hah? Duh Nia, lu ngapain masih ngaku-ngaku jadi gue sih? Dengar ya, gue gak mau lu kenapa-napa gara-gara gue tahu! Udah deh cukup, lain kali lu jangan ngelakuin itu lagi!" sentak Aisyah.
"Ish, tapi kan aku cuma pengen bantu kamu. Aku yakin kalau Nazla pelakunya!" tegas Kania.
"Kenapa lu bisa yakin banget kayak gitu, emang lu punya bukti kalau Nazla pelakunya?" tanya Aisyah dengan serius.
Kania pun menundukkan wajahnya saat itu juga, ia berpikir keras dan tak tahu harus menjawab apa. Hingga kini memang ia masih belum mendapat bukti apa-apa mengenai keterlibatan Nazla dalam video viral itu, namun entah mengapa ia yakin sekali Nazla lah pelaku utamanya.
"Gak ada kan, Nia? Lu itu gak bisa asal tuduh tanpa bukti, jadi lain kali lu mending stop deh nyamar begitu!" ucap Aisyah kesal.
"I-i-iya Syah, aku minta maaf banget sama kamu!" ucap Kania gugup.
Baru saja Aisyah hendak bicara kembali, tiba-tiba ponselnya lebih dulu berbunyi dan membuat Aisyah mengurungkan niatnya. Ia mengambil ponselnya, melihat nama Damar terlampir di layar ponsel itu dan langsung terlihat cemas.
📞"Halo kak Damar! Gimana kak, ada perkembangan apa?" tanya Aisyah melalui telpon.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1