
Besoknya, Kania dibuat terkejut saat tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang dari belakang dan dibawa secara paksa dari depan kamarnya. Padahal ia baru saja keluar kamar dan hendak pergi ke kampus, tetapi sekarang malah ia dibawa oleh orang yang entah siapa dan ia tak tahu akan dibawa kemana saat ini. Kania berusaha berontak, namun usahanya sia-sia karena tenaga si lelaki jauh lebih besar daripada dirinya.
"Mmpphh mmpphh..."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya, bekapan tangan dari pria di belakangnya benar-benar kuat dan membuat kepala Kania perlahan mulai terasa pusing. Kania juga tidak bisa berbuat apa-apa, matanya membulat ketika ia sadar bahwa ia dibawa menuju gudang di rumahnya.
Kini mulutnya telah dilepas oleh si pria, dan tubuhnya didorong begitu saja sampai terhempas dan nyaris tersungkur ke lantai. Gadis itu langsung mengambil nafas dalam-dalam, ia sungguh kesal karena nafasnya hampir hilang akibat bekapan tadi. Ia pun menoleh untuk memastikan siapa orang yang tadi membekapnya, dan ternyata itu adalah Damar.
"Hah? Kak Damar??" Kania terkejut, lalu sontak bangkit mendekati pria tersebut.
"Ish, kakak ngapain sih? Tahu gak tadi aku hampir sesak nafas gara-gara kakak? Emang ya kakak itu sepupu yang gak bener!" sentak Kania.
Damar terkekeh dibuatnya, "Hahaha, maaf Nia cantik. Udah ah jangan kesel gitu terus!" godanya.
"Gimana aku gak kesel? Kakak tadi bikin aku takut tahu, aku kira ada maling atau penjahat gitu yang mau apa-apain aku disini! Eh ternyata penjahatnya malah kakak sepupu aku sendiri," kesal Kania.
"Hehe, iya iya aku minta maaf. Aku itu sebenarnya cuma mau ajak kamu ngobrol berdua, tanpa diketahui sama Aisyah," ucap Damar berbisik.
"Hah? Emang kakak mau bicara soal apa? Terus kenapa Aisyah gak boleh tahu, sepenting itu ya kak?" tanya Kania dengan wajah penasarannya.
Damar mengangguk, kemudian mengajak Kania bersandar ke tembok yang ada di dekat gudang itu. Tak lupa Damar juga merangkul gadis itu, sekali lagi ia memberitahu pada Kania untuk tidak berisik supaya Aisyah tak mengetahui keberadaan mereka di bawah sana.
"Aku mau bahas soal si Ivar yang semalam itu," ucap Damar tepat di telinga Kania.
Kania sontak mengernyitkan keningnya penuh heran, "Kalau begitu, kenapa Aisyah gak boleh tahu? Ini kan menyangkut dia, nanti dia mar—mmpph!!"
Dengan cepat Damar membungkam mulut Kania kembali menggunakan telapak tangannya, ya ia rasa gadis itu terlalu keras bersuara tadi dan ia khawatir Aisyah akan mendengarnya nanti. Damar pun memperingatkan Kania untuk menurut, dan kali ini Kania hanya bisa mengangguk sekaligus berharap Damar mau melepaskan mulutnya.
"Awas ya kalau kamu gak nurut lagi, aku bekap beneran nih mulut kamu pake lakban!" ancam Damar.
"Ih kak, jahat banget sih! Nanti kak Morgan marah loh di atas sana!" ucap Kania.
"Eee ya jangan bawa-bawa Morgan dong, Nia! Yaudah, sekarang kamu mau dengerin kabar dari aku gak nih?" ucap Damar.
Kania manggut-manggut pertanda ia ingin mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh Damar kepadanya kali ini, ya karena memang ia sendiri amat penasaran bagaimana kelanjutan kabar mengenai kasus video panas Aisyah itu.
"Kalo gitu kamu diam, dengerin aja sampai aku selesai bicara!" perintah Damar.
Lagi-lagi Kania mengangguk, kemudian Damar pun menarik Kania ke arah tempat duduk yang tersedia dan sama-sama terduduk disana dengan tangan Damar yang terus menggenggam telapak tangan gadis itu. Kania hanya diam menurut, karena ia juga takut Damar akan memarahinya atau malah membekap mulutnya kembali.
Setelah itu, Damar pun mulai menjelaskan semua informasi yang ia dapatkan mengenai Ivar kepada Kania. Sontak Kania terkejut, rupanya selama ini Damar memang melakukan penyelidikan terkait kasus yang menimpa Aisyah dan pria itu juga hampir berhasil mendapatkan Ivar semalam. Hanya saja, Ivar berhasil lolos darinya.
"Waduh, sayang banget dong kak kalo si Ivar nya itu berhasil lolos! Terus sekarang gimana kak, kakak mau ngapain lagi?" ujar Kania.
Damar menggeleng pelan, "Gak tahu deh, aku juga bingung nih sayang. Makanya aku kesini mau minta bantuan dari kamu, soalnya kamu itu kan suka pintar nih!" ucapnya.
"Ish, giliran yang beginian aja minta bantuan aku. Gak ah kak, aku gak mau ikut-ikutan. Aku takut kalo udah berurusan sama buronan," tolak Kania.
__ADS_1
"Hah? Jadi, kamu gak mau nih bantuin aku buat selesaikan masalahnya Aisyah? Dia itu saudara kembar kamu loh, jahat banget sih kamu!" ucap Damar geleng-geleng kepala.
"Bukan gitu kakak, aku tuh takut aja kalau nanti aku yang jadi korbannya tau," ucap Kania menjelaskan.
Damar tersenyum, lalu merangkul pundak Kania serta mendekapnya erat seraya mengusap puncak kepala gadis itu. Damar mencoba menenangkan sepupunya itu, sebab ia tak mau Kania terlalu cemas dan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Selain itu, Damar juga berharap Kania masih mau membantunya untuk menangkap Ivar.
"Tenang aja Kania, kan ada aku yang bakal lindungi kamu nantinya!" ucap Damar membujuknya.
"Iya deh, tapi aku gak tahu juga kak mesti gimana. Mending kakak tanya yang lain aja, atau coba kakak tanya ke Aisyah!" ucap Kania.
Damar pun dibuat kesal dengan perkataan Kania, langsung saja ia mencengkram kuat rahang gadis itu dan mengusap-usap kasar rambutnya sampai berantakan. Kania sontak berteriak, suara teriakan itu pun terdengar sampai ke telinga Aisyah dan membuat Aisyah penasaran lalu bergegas mencari tahu darimana asal teriakan tersebut.
"Nia, kamu kenapa Kania? Kania!!" ya Aisyah langsung menuruni tangga, mencari keberadaan adiknya di sekitar sana.
Mendengar suara Aisyah, kini Damar pun reflek membekap mulut Kania agar gadis itu tidak lagi berteriak. Tentu Damar tak mau Aisyah salah paham, apalagi teriakan Kania seolah-olah menunjukkan kalau dirinya sedang dalam bahaya. Tak lupa Damar juga mengintimidasi Kania, ia meminta Kania untuk jangan berisik lagi.
"Kania!" tiba-tiba saja, Aisyah telah muncul di gudang dan ia begitu syok saat melihat adiknya tengah dibekap oleh Damar.
"Hah Aisyah?" Damar ikut terkejut melihatnya, ia tak menyangka Aisyah akan datang secepat itu.
Aisyah pun melangkah menghampiri mereka, sedangkan Damar serta Kania kompak berdiri dan juga pria itu telah melepaskan mulut serta tangan Kania dari dekapannya. Sehingga Kania bisa langsung berlari ke arah Aisyah, ya karena Kania takut jika Damar akan kembali memarahinya.
"Kak Damar, ini ada apa sih? Kenapa kamu kayak gitu sama Kania tadi? Terus sejak kapan juga kak Damar datang kesini coba, kok aku gak tahu ya?" tanya Aisyah terheran-heran.
"Eee itu anu...."
•
•
Disaat ia tengah asyik senyum-senyum sendiri di sepanjang jalan, tanpa diduga Daniel muncul dan berhenti tepat di hadapannya. Nyaris saja Kania menabrak tubuh lelaki itu, jika ia tidak berhenti tepat waktu dan tersadar dari lamunannya. Ya Kania amat terkejut kali ini, sebab Daniel memang muncul secara tiba-tiba. Padahal tadinya Kania sama sekali tak melihat keberadaan pria itu di sekitarnya.
"Daniel, kamu tuh ngapain nongol tiba-tiba kayak gitu di depan aku? Kalau aku tabrak tadi gimana?" tanya Kania tampak kesal.
"Hehe, ya gapapa justru bagus dong kalau kamu tabrak aku. Malahan aku kepengennya emang ditabrak sama kamu Nia, biar aku bisa sekalian peluk dan cium wangi tubuh kamu," kekeh Daniel.
"Ish, dasar modus! Aku gak terima ya kalau kamu berani peluk-peluk aku sembarangan kayak gitu, aku laporin loh kamu nanti!" ancam Kania.
Daniel terkekeh mendengarnya, "Iya iya Kania, aku minta maaf deh kalau aku salah. Oh ya, aku mau tanya dong soal kasus kakak kamu itu. Gimana kelanjutannya sekarang, si pelaku yang nyebarin video itu udah ketangkap belum?" ucapnya.
Kania menggeleng sebagai jawaban, gadis itu mengatakan pada Daniel bahwa kasus yang menimpa Aisyah masih belum terselesaikan dan orang yang menjadi pelaku utama penyebaran sekaligus pengeditan video itu belum diketahui keberadaannya saat ini. Hanya saja, Kania mengatakan kalau orang yang menyuruh si pelaku itu sudah berhasil diketahui oleh sepupunya.
"Terus, siapa tuh orang yang udah nyuruh dia ngedit video kakak kamu itu?" tanya Daniel penasaran.
"Umm, kak Damar sih belum bilang ya. Nanti aku coba tanya lagi deh ke dia, kalau aku udah tahu baru aku kasih tahu ke kamu juga nanti. Udah ya aku mau masuk kelas dulu?" ucap Kania.
"Tunggu Kania!" Daniel spontan meraih tangan Kania dan menggenggamnya dari belakang.
__ADS_1
"Apa lagi sih, hm?" tanya Kania agak kesal.
Daniel tersenyum, kemudian dengan berani ia mencuri satu kecupan di pipi Kania yang membuat sang empu terkejut bukan main. Tentunya Kania tak menyangka dengan kelakuan Daniel barusan, gadis itu terus saja memegangi pipinya dan mulut terbuka menatap wajah Daniel dengan tampang syok.
"Daniel ih! Kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu main cium-cium pipi aku kayak gitu, ha? Udah mulai berani ya kamu, awas loh aku laporin ke kak Damar nanti biar kamu dihajar sama dia!" geram Kania.
"Maaf Nia, abisnya kamu lucu sih bikin gemes. Kalau gak dicium, nanti pipinya gak bisa merah kayak gini dong," goda Daniel.
"Daniel!!" sentak Kania dengan lantang dan tegas.
Kania yang kesal pun menghentak tangannya secara kasar, lalu berlari pergi begitu saja dari hadapan Daniel dengan perasaan malu disertai pipinya yang memerah akibat kecupan pria itu tadi. Tak dapat diduga oleh Kania, ternyata Daniel sangat berani dan sampai bisa mencium pipinya.
Sementara Daniel kini masih berdiam di tempatnya memandangi punggung Kania yang perlahan menjauh, pria itu puas karena telah berhasil membuat Kania tersipu malu. Meskipun ia masih belum dapat memiliki Kania seutuhnya, ya karena gadis itu berkata sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun.
•
•
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kania kini berniat pulang ke rumah dan menunggu taksi online yang ia pesan itu di depan kampusnya. Gadis itu sudah menghindar dari Daniel dan tidak ingin bertemu lagi dengannya, sebab apa yang dilakukan Daniel tadi kepadanya sungguh membuatnya jengkel. Ya meski Kania tidak bisa membenci pria itu, karena Daniel sudah beberapa kali membantunya selama ini.
Gadis itu terus memandangi layar ponselnya sembari menatap ke sekeliling, ia berharap taksi yang ia pesan dapat segera muncul sebelum Daniel kembali datang dan mengacaukan semuanya. Namun, entah mengapa hingga kini taksi itu belum muncul juga di depannya. Kania pun terlihat panik serta kesal, ia tak mau jika Daniel justru lebih dulu datang dan mengganggunya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya dengan kaca depan yang terbuka. Sontak Kania terkejut, karena ia merasa bahwa bukan itu mobil taksi yang ia pesan. Dan benar saja, mobil itu ternyata merupakan mobil milik Alex dan dikendarai langsung oleh pria itu. Bahkan, saat ini Alex turun lalu menemuinya dengan senyuman tipis.
"Hai Kania cantik! Kamu makin cantik aja deh, aku benar-benar kagum sama kamu sayang!" ucap Alex memuji serta menggoda gadis itu.
"Lex, ngapain kamu kesini?" tanya Kania ketus.
Alex tersenyum dan berdiri tepat di dekat gadis itu, tak lupa Alex juga hendak merangkul Kania dengan satu tangannya. Hanya saja kali ini Kania berhasil menghindar, sebab tentunya Kania tak mau tubuhnya disentuh oleh sembarangan orang. Apalagi orang itu adalah Alex, mantannya yang sudah pernah menyakiti dirinya dahulu.
"Kamu kok tanyanya begitu sih sayang? Jelas lah aku kesini mau jemput kamu, yuk aku antar kamu pulang!" ucap Alex seraya hendak meraih tangan Kania untuk digenggam.
Namun, lagi-lagi Kania menghindar dan menepis tangan lelaki itu lebih dulu.
"Cukup ya Alex, aku gak mau bareng sama kamu! Aku juga udah pesan taksi kok, jadi kamu gak perlu repot-repot untuk anterin aku!" tegas Kania.
"Kania, ayolah aku mohon! Aku cuma mau antar kamu sampai ke rumah kok, habis itu aku janji gak akan dekati kamu lagi. Kamu jangan kayak gini lah, kamu lupa ya kalau dulu kita itu saling mencintai dan menyayangi satu sama lain loh!" bujuk Alex.
"Itu dulu Alex, sekarang semuanya udah beda. Kamu gak bisa mengungkit-ungkit masa lalu kita yang udah lewat, kamu itu harusnya melihat ke depan dong!" ucap Kania.
"Aku ngerti, tapi gak tahu kenapa aku gak bisa lupain kamu sayang. Mungkin aku ini terlalu sayang sama kamu, sampai aku selalu mikirin kamu dan sulit buat melupakan kenangan indah kita berdua!" ucap Alex.
Kania reflek membuang muka dengan tangan dilipat di depan, tapi saat itu juga Alex langsung menarik tangannya dan berhasil menggenggamnya. Ya Kania tentu terkejut dengan tindakan tiba-tiba Alex, langsung saja gadis itu protes dan berusaha melepaskan diri walau sulit karena tenaganya tak sebanding dengan tenaga milik Alex.
"Ikut sama aku, Kania!" paksa Alex.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...