
Damar kembali mendatangi rumah sepupunya untuk bertemu dengan Aisyah disana, tampak Aisyah tengah bersantai di ruang keluarga dan terduduk pada sofa empuk yang tersedia. Gadis itu juga terlihat menikmati tontonan di tv sembari menyantap cemilannya, sehingga dia tak tahu jika Damar sudah berada di dekatnya saat ini.
Damar pun menyapa Aisyah seraya menepuk pundaknya, membuat sang empu terkejut lalu spontan melirik ke arahnya. Aisyah tersenyum, meminta Damar untuk duduk dan sedikit bergeser agar Damar mendapat tempat yang luas. Pria itu menurut, ia duduk di sebelah Aisyah sambil tersenyum lalu merangkul gadis itu dengan erat.
"Syah, kamu mau tahu gak aku ada kabar apa sekarang ini?" ucap Damar.
Sontak Aisyah mengernyitkan dahinya, ia menatap wajah pria di sebelahnya itu dengan bingung dan amat penasaran. Bagaimana tidak, baru datang saja Damar sudah mengatakan bahwa dia memiliki kabar yang hendak diberitahukan padanya. Tentu saja Aisyah amat penasaran, ia ingin sekali mengetahui apa sebenarnya kabar tersebut.
"Emangnya kamu punya kabar apa sih, kak? Jangan bikin aku penasaran deh, kasih tahu sekarang aja biar cepat!" pinta Aisyah.
"Hahaha, kepo ya kamu? Oke deh, jadi aku itu berhasil dapetin orang yang udah sebar video kamu ke sosial media. Dan sekarang orangnya lagi dalam pengejaran polisi, kamu doain aja supaya polisi bisa tangkap tuh orangnya!" ucap Damar.
"Beneran nih kak? Kamu gak lagi bohongin aku, atau cuma mau bikin aku senang kan?" tanya Aisyah.
Damar menganggukkan kepalanya, "Iya sayang, buat apa coba aku bohong? Barusan aja aku dapat kabar ini dari polisi, mereka bilang kalau pelakunya sedang dalam pengejaran," jawabnya santai.
"Syukurlah, aku harap semoga orang itu bisa cepat ketangkap dan kasus ini segera terungkap! Aku gak mau kak, nama baik aku jadi buruk!" ucap Aisyah.
Damar tersenyum dan langsung mendekap erat gadis itu sembari mengusap tubuhnya lembut, sepertinya Damar amat menyayangi sepupunya itu dan tidak ingin jika Aisyah terus bersedih. Maka dari itu, Damar bertekad untuk bisa menemukan pelaku yang sudah menyebarkan video tidak benar itu ke media sosial.
Disaat mereka sedang berpelukan, ponsel milik Damar tiba-tiba berbunyi dan membuatnya harus melepaskan sejenak tubuh Aisyah. Damar tampak melihat layar ponselnya, sebelum mengangkat telpon itu tetap di sebelah Aisyah berada. Ya rupanya telpon itu berasal dari salah seorang suruhannya, yang saat ini tengah membantu pihak kepolisian untuk mengejar pelaku tersebut.
📞"Halo Amar! Gimana, kamu punya informasi bagus gak soal pengejaran itu?" tanya Damar dengan nada dingin.
📞"Belum bos, tapi ini kami masih sedang mengejar pelaku utamanya. Sedangkan satu orang lagi, yang diduga juga membantu si pelaku sekarang sudah berhasil kami amankan," jawab Amar.
📞"Oh ya? Bagus bagus, bawa dia ke tempat biasa karena saya ingin banyak bertanya pada orang itu!" titah Damar.
📞"Baik bos!" ucap Amar patuh.
Tut Tut Tut....
Damar langsung menutup telponnya, beralih menatap Aisyah yang sepertinya sudah sangat penasaran siapa yang baru saja menghubungi Damar dan apa yang disampaikan oleh seseorang di telpon tersebut pada Damar.
"Kak, siapa yang telpon barusan? Terus ada info apa soal pengejaran pelaku itu?" tanya Aisyah tampak menanti-nanti jawaban dari sepupunya tersebut.
"Sabar sayang, iya barusan si Amar bilang kalau dia berhasil dapet satu orang yang diduga kerjasama sama si pelaku ini. Aku udah suruh dia bawa orang itu ke tempat biasa," jawab Damar.
"Oh, yaudah ayo kak kita kesana sekarang! Aku penasaran banget, siapa sih orang yang udah edit dan sebarin video itu!" ajak Aisyah.
"Sssttt, tahan dulu Aisyah! Kamu gausah buru-buru gitu, sana kamu siap-siap dulu sebelum kita jalan!" suruh Damar.
"Ih kelamaan, aku maunya sekarang. Aku udah gak sabar tahu pengen ketemu orangnya, ayo ah kak kita jalan sekarang aja!" ucap Aisyah memaksa.
"Haish, kenapa susah banget sih disuruhnya? Tinggal ganti baju, terus dandan singkat masa gak bisa?" ujar Damar.
Aisyah tampak merengut, menekuk wajahnya tanda bahwa ia tak suka dengan perkataan Damar. Namun, mau tidak mau Aisyah terpaksa menurut karena itu adalah perintah dari seorang kakak. Akhirnya Aisyah beranjak dari sofa, kemudian bergegas pergi ke kamar untuk bersiap-siap sesuai perintah Damar.
__ADS_1
Sementara Damar hanya diam menunggu di sofa, sesekali ia terkekeh melihat ekspresi Aisyah yang menggemaskan. Rasanya ia sudah tidak tega jika melihat Aisyah harus dibully oleh banyak orang, untuk itu Damar berjanji akan mengungkap semuanya secepat mungkin.
•
•
Kini Kania telah tiba di kampusnya bersama Daniel, tanpa banyak basa-basi gadis itu langsung turun dari motor dan melepas helmnya. Kania tampak mengucap terimakasih, lalu hendak pergi lebih dulu karena sebenarnya ia juga tidak bisa terlalu lama bersama Daniel. Biar gimanapun, Kania tetap lah Kania dan ia selalu gugup saat berdekatan dengan lelaki manapun itu termasuk Daniel.
Akan tetapi, usaha Kania itu digagalkan oleh Daniel yang dengan cepat berhasil menahan tangannya. Akibatnya, Kania pun terpaksa menghentikan langkah dan kembali menatap Daniel dengan gugup. Ya Kania mencoba berontak, tetapi tenaga Daniel jauh lebih kuat dan berhasil membuat Kania pasrah alias tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
"Kania, tunggu! Kamu itu mau kemana sih buru-buru banget? Kita barengan aja masuknya, kebetulan ada yang mau aku bicarain sama kamu!" ucap Daniel.
"Gak bisa Niel, aku buru-buru ada kelas. Lain kali aja kita ketemu terus ngobrol, sekarang kamu lepasin tangan aku ya! Lagian aku gak mau ada orang yang lihat terus salah paham nanti," ucap Kania.
"Biarin aja, aku malah senang kalau ada orang yang ngira kita pacaran. Jadinya orang-orang gak akan ada yang berani deketin kamu lagi," ucap Daniel.
"Maksudnya apa sih, Niel?" tanya Kania bingung.
Daniel tersenyum dan mendekatkan dirinya ke arah Kania, tak lupa ia juga menggenggam dua tangan gadis itu sampai membuat Kania tidak bisa berkata-kata. Gadis itu hanya diam mengamati tindakan yang dilakukan Daniel, melawan pun percuma karena pasti Kania akan kalah jika dibanding dengan Daniel yang seorang lelaki itu.
"Aku itu cinta sama kamu, Kania. Sebenarnya kemarin aku udah pengen ungkapin ini waktu kita ketemu di taman kampus, tapi aku belum berani aja," ucap Daniel dengan serius.
"Hah? Ka-kamu bicara apa sih, Niel? Aku beneran gak ngerti deh, cinta apa coba?" heran Kania.
"Ayolah Kania, aku yakin kamu ngerti apa yang aku bicarakan tadi! Aku jatuh cinta sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku!" jelas Daniel.
Kania terkejut bukan main, pengakuan yang diungkapkan Daniel membuatnya bingung dan tak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana bisa Kania menjalin hubungan dengan seorang pria kali ini, sedangkan kakaknya saja sedang mengalami masalah yang masih belum selesai.
Kini Kania malah menghentak tangannya, hingga ia berhasil melepaskan diri dari genggaman pria itu. Kania juga meminta pada Daniel untuk membiarkan dirinya pergi, karena saat ini ia harus mengikuti kelas dan tidak bisa terlalu lama berada disana berbincang bersama Daniel. Namun, tampak Daniel tak terima dan terus menghalangi langkah Kania.
Daniel memang sungguh mencintai Kania, bahkan itu dimulai sejak pertama kali ia melihat gadis itu. Meski ia kalah langkah dibanding Alex, tetapi ia masih terus berharap dapat memiliki Kania kali ini. Terlebih gadis itu kini telah berpisah dari Alex dan ini merupakan kesempatan baginya untuk menyatakan cinta pada Kania, walau reaksi gadis itu tampak begitu terkejut dan tidak suka padanya.
"Nia, kamu belum jawab pertanyaan aku. Aku ini serius loh sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku Kania!" ucap Daniel sedikit memaksa.
"Maaf Niel, aku belum mau pacaran untuk sekarang ini. Aku pengen cari tahu dulu soal video Aisyah yang kesebar di sosmed itu, karena aku yakin bukan Aisyah pelakunya!" ucap Kania tegas.
Daniel menghela nafasnya dan sedikit menggeleng, ia paham situasi yang tengah dihadapi oleh Kania saat ini. Akan tetapi, Daniel juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan rasa cintanya kepada Kania yang amat sangat itu. Bagi Daniel, memiliki Kania adalah sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya.
"Okay, kalo gitu aku akan bantu kamu untuk menyelidiki ini semua. Tapi sebelum itu, aku minta kamu berjanji sama aku!" ucap Daniel.
"Aku gak butuh bantuan kamu, jadi aku juga gak perlu berjanji apa-apa ke kamu!" kekeuh Kania.
"Yaudah deh, kamu gak perlu janji sama aku. Aku akan bantu kamu sebisa aku, jadi kamu gausah khawatir ya Kania!" ucap Daniel.
"Terserah kamu." Kania tampak jengah dan pergi begitu saja meninggalkan Daniel disana.
Namun, Daniel tak berdiam begitu saja karena ia akan terus berjuang demi bisa mendapatkan hati Kania yang sulit ditaklukkan itu. Ia pun mengejar gadis itu secara diam-diam, bagaimanapun Daniel harus bisa berjaga-jaga dan tidak terlalu terburu-buru untuk memaksa Kania menjadi miliknya.
__ADS_1
•
•
Damar dan Aisyah tiba di lokasi yang sudah ditentukan, mereka sama-sama turun dari mobil lalu memasuki tempat yang sepi dan sedikit kotor itu untuk menemui seseorang di dalam sana. Ya Damar memang sudah membuat janji sebelumnya dengan Amar alias sang asisten, disana juga telah berada sosok orang yang diduga sebagai pembantu dari pelaku utama dalam menyebarkan video itu.
Tanpa banyak basa-basi, mereka berdua kini langsung berhadapan dengan sosok tersebut. Nampak disana juga telah bersiaga tiga orang anak buah Damar, yang tentunya diminta untuk berjaga agar orang itu tidak bisa melarikan diri. Dalam kondisi yang terikat di atas tempat duduk dan wajah yang sedikit lebam, orang itu terlihat berontak mencoba melepaskan dirinya.
"Bos, ini dia orangnya bos. Namanya Iyan, dan dia juga lagi diburu polisi!" jelas Amar.
Damar mengangguk paham, kemudian tanpa aba-aba Aisyah langsung bergerak mendekati sosok bernama Iyan itu dengan penuh amarah. Ya Aisyah tentu sangat emosi, sebab apa yang dilakukan Iyan bersama temannya telah membuat nama baiknya menjadi buruk di mata orang-orang.
"Heh! Sekarang juga lu kasih tahu ke gue, siapa yang udah suruh lu sama temen lu itu buat sebar video gak bener itu ke media sosial ha! Jawab!" sentak Aisyah hampir saja menampar wajah pria itu.
"Syah, tahan Syah! Kamu jangan emosi kayak gini, kita tanyakan baik-baik ke Iyan supaya dia bisa jawab pertanyaan kamu!" ucap Damar.
"Tapi kak, gimana bisa aku gak emosi sama orang yang udah bikin nama baik aku tercemar? Aku mau kasih pelajaran ke dia kak, dia ini pantasnya dipukul terus dijadiin perkedel!" geram Aisyah.
"Hahaha, gemes banget sih kamu. Udah kamu mending duduk aja, biar aku yang urus semuanya ya!" ucap Damar terkekeh.
"Ta-tapi kak—"
Damar terlihat memberi kode pada Aisyah untuk menurut, ya tentu Aisyah tak bisa melawan perintah kakak sepupunya itu dan memilih mengalah lalu terduduk di tempat yang tersedia untuk menenangkan dirinya. Meski sebenarnya Aisyah masih tidak bisa menahan diri, karena melihat pelaku yang sudah menyebarkan video dirinya ke media sosial ada di depan mata.
Lalu, Damar pun tampak mendekat ke arah Iyan dan tersenyum tipis. Iyan sedikit ketakutan, mencoba berontak dari tempat duduknya karena khawatir akan dihajar oleh Damar kali ini. Padahal Damar hanya ingin bertanya padanya, dan kini pun Damar berhenti tepat di dekat Iyan untuk mulai mengajukan banyak pertanyaan kepada pria tersebut.
"Hey Iyan, kamu mending sekarang jawab deh pertanyaan yang diajukan sama Aisyah tadi! Siapa orang yang udah suruh kamu untuk menyebarkan video gak bener itu, hm?" ujar Damar.
"Bro, gue beneran gak tahu. Gue cuma bantuin si Ivar dan gue dibayar sama dia, soal siapa yang suruh dia itu gue gak tahu," elak Iyan.
"Jangan bohong! Lebih baik kamu jujur, daripada nanti kamu akan hidup dalam penderitaan!" ucap Damar mengancam.
"Gue gak bohong, kalau lu mau tahu lebih lanjut ya lu temuin si Ivar dan tanya langsung ke dia siapa yang udah suruh dia! Setahu gue, dia emang pernah bilang kalau dia disuruh seseorang buat ngedit video itu dan sebarin ke medsos. Beberapa kali juga dia sempat telpon orang itu, tapi gue gak tahu apa-apa soal siapa dia!" jelas Iyan.
Aisyah beranjak dari duduknya, "Lo beneran gak bohong kan? Awas ya kalau lu ternyata sembunyikan sesuatu dari kita!" ucapnya.
"Iya Aisyah, gue jujur kok. Gue juga gak pernah komunikasi sama orang yang nyuruh Ivar, lu bisa pegang kata-kata gue!" ucap Iyan dengan tegas.
"Okay, kita percaya sama kamu. Tapi, kamu harus mau jadi saksi di depan publik kalau video yang kamu sebar itu video palsu dan bukan Aisyah yang ada di video itu!" ucap Damar.
"I-i-iya, gue siap kok jadi saksi. Asalkan kalian mau janji buat lepasin gue dari sini," ucap Iyan.
"Kita akan lepasin lu kok, tapi abis itu lu harus masuk penjara untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang udah lu lakuin itu!" ucap Damar.
"Hah apa??" Iyan tersentak mendengarnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...