
Kini Kania dan Damar juga tiba di depan gedung kosong tersebut, keduanya tampak sangat khawatir dengan kondisi Aisyah yang saat ini sudah berada di dalam sana. Ya sebelumnya Kania tak sengaja mendengar Aisyah dan Nazla berbicara di dalam telpon, ia tahu ketika Aisyah hendak pergi menemui Nazla di suatu tempat dan ia sangat khawatir.
Maka dari itu, Kania meminta bantuan pada Damar untuk mengikuti kemana Aisyah pergi. Benar saja dugaannya, sebab saat ini Aisyah sedang dijebak oleh Nazla dan para anak buahnya yang berjumlah tiga orang itu. Kania pun sangat mengkhawatirkan kakaknya, ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Aisyah di dalam sana.
"Kak, ayo kak kita cepat masuk kesana! Aku gak mau Aisyah sampai diapa-apain sama mereka, aku takut banget Aisyah kenapa-napa!" ucap Kania.
"I-i-iya Kania, kamu tunggu disini ya! Biar aku aja yang masuk dan selamatin Aisyah, aku gak mau mereka malah beralih mengincar kamu kalau ngeliat kamu ada di sana!" ucap Damar.
"Tapi kak, aku juga pengen bebasin Aisyah. Aku bisa jaga diri kok!" ucap Kania memaksa.
Damar menggeleng kuat, "Gak Nia, aku bilang kamu tetap disini ya disini aja! Kalau kamu ngeyel, nanti aku marah nih!" ucapnya tegas.
"Iya deh aku ngalah, tapi kakak hati-hati ya!" ucap Kania pasrah.
Pria itu menganggukkan kepalanya dan menarik tengkuk Kania untuk mengecup keningnya, lalu setelah itu barulah Damar turun dari mobilnya meninggalkan Kania untuk memasuki gedung tersebut. Sedangkan Kania tampak anteng menunggu di dalam mobil, meski hatinya masih terus merasa cemas.
"Duh, semoga kak Damar bisa bebasin Aisyah deh dari dalam sana!" gumam Kania.
Disaat Kania sedang merasa cemas mengenai kondisi saudara kembarnya, tiba-tiba ia melihat sebuah motor berhenti tepat di belakang mobilnya dan terlihat juga seorang lelaki turun dari motor itu sembari melepas helmnya. Kania menatap penuh heran, karena ternyata lelaki itu adalah Daniel.
"Daniel? Ngapain coba dia disini?" ujar Kania.
TOK TOK TOK...
Lalu, Daniel tampak mengetuk kaca mobil tersebut dan membuat Kania kebingungan. Akhirnya Kania perlahan membuka kaca mobilnya, menemui sosok Daniel yang berdiri tepat di sebelahnya. Daniel pun tersenyum begitu melihat Kania saat ini, ia benar-benar senang karena bisa bertemu gadis itu.
"Kania, kamu turun dong sebentar! Aku mau bicara sama kamu cantik!" pinta Daniel.
"Hm, bicara apa sih?" tanya Kania keheranan.
"Udah turun aja dulu yuk!" ajak Daniel.
Kania pun terpaksa mengikuti kemauan Daniel untuk turun dari mobil, ia langsung menatap wajah pria itu dengan serius sembari mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar bingung apa yang hendak dibicarakan Daniel padanya, sebab tampaknya pria itu saat ini begitu serius untuk bicaranya padanya.
"Ada apa?" tanya Kania dengan nada ketus.
Daniel tersenyum, kemudian menarik tubuh Kania dan membawanya tepat ke depan gedung kosong tersebut. Kania tampak bingung melihat ekspresi Daniel saat ini, ia tak mengerti apa sebenarnya yang hendak diberitahu oleh pria itu padanya.
"Apaan sih? Ngapain kamu ngajak aku ke depan gedung ini, ha? Emangnya kamu gak tahu kalau Aisyah ada di dalam sana?" heran Kania.
"Justru itu, aku ajak kamu kesini buat bebasin Aisyah di dalam sana. Emang kamu mau cuma diam aja disini nungguin kak Damar? Aku bisa bantu kamu dan kak Damar kok," ucap Daniel.
"Oh gitu, iya aku mau. Apa rencana kamu Daniel?" tanya Kania penasaran.
Daniel tersenyum, kemudian membisikkan rencananya tepat di telinga Kania sembari meminta gadis itu untuk menurutinya. Kania langsung ikut tersenyum begitu mendengar rencana yang dibicarakan Daniel, ia bahkan tidak sabar ingin segera membantu kakaknya disana.
•
•
Aisyah sudah dalam kondisi terikat dengan pakaian yang terlepas dan kini tubuhnya setengah telanjang, ketiga lelaki kekar itu juga masih ada disana memandanginya dengan tatapan liar. Aisyah benar-benar ketakutan, ia tentu tidak mau jika mereka melecehkannya di hadapan Nazla apalagi dengan direkam menggunakan kamera.
Nazla terus tertawa puas seolah mengejek Aisyah di depan sana, Nazla sudah tidak sabar ingin segera memulai permainannya itu. Ia kini telah menyiapkan beberapa kamera di ruangan tersebut, termasuk juga satu kamera yang ada di tangannya. Ia mengarahkan kamera itu ke tubuh Aisyah, hingga tentunya Aisyah meronta-ronta minta dilepaskan.
__ADS_1
"Cukup Nazla, berhenti! Gue mohon jangan lakuin ini ke gue, gue beneran gak mau Naz!" rengek Aisyah.
"Hahaha, gue gak akan berhenti Aisyah. Gue bakal bikin lu semakin menderita sekarang, biar lu rasain apa yang gue rasain!" ucap Nazla.
"Enggak Naz, gue beneran gak mau balikan lagi sama Marvel. Lo gak perlu khawatir soal itu, gue akan paksa Marvel buat terima lu kok asalkan lu lepasin gue sekarang!" ucap Aisyah memohon.
"Gue gak butuh bantuan lu, yang gue perlukan sekarang cuma penderitaan lu Aisyah! Gue mau lihat lu makin terpuruk setelah ini!" ujar Nazla.
"Naz, gue mohon sama lu lepasin gue! Jangan kayak gini lah Nazla, lu malah akan semakin berat dapat hukuman nantinya!" ucap Aisyah.
"Gue gak takut sama hukuman apapun itu, Aisyah. Gue udah gak perduli juga sama kehidupan gue ini, karena yang terpenting gue bisa balas dendam dan bikin lu menderita!" ucap Nazla.
Aisyah sampai melotot dibuatnya, ia begitu ketakutan saat Nazla memerintahkan ketiga pria itu untuk memulai aksinya. Ia terus memberontak, mencoba melepaskan diri dari ikatan pada kedua tangannya itu. Namun, usahanya sia-sia saja karena semakin ia bergerak malah tali itu semakin kuat mengikatnya dan membuat ia sulit bergerak.
Nazla semakin puas melihat ketakutan di wajah Aisyah, ia sengaja menyorot raut wajah gadis itu sambil diiringi tawa kepuasan yang membuat Aisyah merinding seketika. Tubuh Aisyah hanya ditutupi penutup bagian intinya saja, sehingga gadis itu benar-benar merasa ketakutan.
Kini ketiga pria itu sudah sama-sama terduduk mengitari tubuh Aisyah, mereka bersiap-siap melepas kain terakhir yang menutupi tubuh wanita itu sambil tersenyum penuh hasrat. Ya gairah mereka sudah berada diujung tentunya, karena melihat tubuh Aisyah yang begitu seksi meski masih ada kain yang menutupi bagian intinya.
"Ja-jangan, jangan sentuh gue! Gue bisa laporin kalian semuanya, kalau sampai kalian mau macam-macam sama gue!" sentak Aisyah.
Bukannya takut, ketiga pria itu malah tertawa terbahak-bahak seolah meremehkan Aisyah. Mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa takut setelah mendengar perkataan Aisyah tadi, karena tentu ada Nazla yang siap melindungi mereka dan juga kini yang terpenting bagi mereka adalah kepuasan.
"Kalian semua gausah takut, cewek ini gak mungkin bisa berbuat apa-apa selagi dia masih ada dalam cengkraman gue! Sekarang mending kalian cepat deh telanjangi dia sepenuhnya!" titah Nazla.
"Siap bos!" ucap ketiganya dengan semangat.
Tanpa basa-basi lagi, mereka bertiga mulai merayap mendekati tubuh Aisyah dan coba melepaskan pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya. Aisyah berontak dengan semakin kuat untuk coba menghindar dari sentuhan ketiga pria besar itu, akan tetapi lagi-lagi usahanya itu sia-sia saja.
"Tu-tunggu, ja-jangan!!"
Namun, ketiganya tidak perduli dengan perkataan Aisyah barusan itu. Mereka semakin liar dan melepaskan penutup bagian atas tubuh Aisyah, sehingga Nazla yang merekamnya tampak tertawa puas dan terus menyorot bagian indah milik Aisyah untuk dibagikan pada para netizen nantinya.
"HEY STOP! LEPASKAN AISYAH!!"
Suara teriakan itu menggelegar di dalam gedung, membuat mereka semua menoleh secara bersamaan ke asal suara dan kompak terkejut. Ya disana sudah berdiri sosok Damar, yang memang tentu saja ingin menyelamatkan Aisyah selaku adik sepupunya.
"Kak Damar? Kak, tolong aku kak! Aku gak mau diperkosa sama mereka!" rengek Aisyah.
•
•
Darwin sedang terduduk sendirian di sebuah warung kopi langganannya, ia tampak melamun dan tengah memikirkan Aisyah yang merupakan wanita tercintanya. Darwin sangat mencintai Aisyah, sampai saat ini pun lelaki itu juga belum bisa melupakan rasa cintanya kepada Aisyah yang amat besar.
Entah mengapa, Darwin selalu saja sulit untuk menghilangkan wajah Aisyah dari pikirannya. Rasa cintanya pada wanita itu terlalu besar dan memang tidak bisa semudah itu untuk dihilangkan, Darwin pun ingin memiliki Aisyah seutuhnya setelan sempat gagal beberapa waktu lalu dikarenakan Aisyah yang lebih memilih Marvel dibanding dirinya.
"Syah, kapan sih kamu bisa terima aku? Kamu gak sadar apa kalau aku ini cinta dan sayang banget sama kamu? Aku ini sakit hati tahu, aku mau kamu jadi pacar aku!" racau Darwin.
Pria itu benar-benar sakit hati saat ini, karena berkali-kali perasaannya itu selalu saja ditolak oleh Aisyah dengan alasan yang tidak jelas. Padahal Darwin sudah cukup lama menunggu untuk bisa memiliki Aisyah sepenuhnya, bahkan ia juga rela membiarkan Aisyah bersama Marvel saat itu.
Namun, Aisyah malah justru disakiti oleh Marvel yang membatalkan pernikahan mereka. Dan dikala Aisyah tengah depresi berat akibat gagal menikah, Darwin lah yang selalu ada disisi gadis itu. Tapi sepertinya, Aisyah memang tidak menganggap kehadiran Darwin itu penting dan selalu memandang sebelah mata begitu saja.
Tak lama kemudian, sebuah motor tiba dan berhenti di warung yang sama. Darwin sedikit penasaran melihat siapa pemotor tersebut, ia menoleh lalu terperangah ketika mengetahui Alex lah yang datang dan baru turun dari motornya. Kini Alex juga melangkah ke dekatnya, dan duduk tepat di sampingnya sambil memesan satu gelas kopi.
__ADS_1
"Heh! Ngapain lu kesini coba? Lo itu kan anak orang kaya, minimal kalau mau ngopi ya di cafe-cafe mewah dan mahal dong!" tegur Darwin.
Alex menoleh ke arahnya dan tersenyum dengan lebar.
"Ahaha, emang salah ya kalau gue ngopi disini? Dulu kan tempat ini juga sering jadi tempat ngumpul gue sama anak-anak yang lain, lu gausah baper deh jadi orang!" cibir Alex.
"Sialan banget ya lu! Gue kira lu udah berubah sejak kenal Kania, eh ternyata lu malah makin ngeselin!" ucap Darwin.
"Maksud lu?" tanya Alex terheran-heran.
"Cih, pake pura-pura segala lagi lu! Gue udah tahu kok, lu pernah fitnah Daniel kan waktu itu demi bisa tidurin Kania? Dasar cowok mesum!" jawab Darwin.
Alex terdiam saat itu juga, ia memalingkan wajahnya dan terlihat kebingungan karena Darwin bisa mengetahui kabar itu. Sepertinya memang Daniel telah bercerita kepada Darwin mengenai kejadian itu, sehingga tentunya Darwin kini tampak sangat emosi kepada Alex.
"Ya itu kan udah berlalu Win, gue juga udah minta maaf kok. Malahan gue udah dihukum sama kakak sepupunya Kania," ucap Alex.
"Tetep aja lu salah, kenapa sih lu tega ngelakuin itu sama Kania dan Daniel? Lo katanya udah janji mau berubah, tapi lu malah masih kayak gitu. Kasihan tahu si Kania!" ucap Darwin.
"Iya iya, gue itu cuma mau deketin Kania aja. Gue masih cinta sama dia, dan gue pengen Kania balikan sama gue!" ucap Alex tegas.
"Gausah ngarep deh lu Lex!" cibir Darwin.
"Kenapa lu bisa ngomong gitu? Emangnya salah ya kalau gue berharap sama Kania?" heran Alex.
"Jelas lah, Kania itu bakal milih Daniel sohib gue!" ucap Darwin dengan bangga.
Deg
•
•
Daniel dan Kania yang hendak menolong Aisyah dari jeratan Nazla itu, malah terjebak di dalam sebuah ruangan yang kotor dan entah apa fungsinya itu. Kania kini tampak terus menutupi hidungnya, karena kondisi ruangan itu benar-benar kotor dan bau serta dipenuhi juga oleh binatang liar seperti kecoak.
Kania pun mulai ketakutan dan merasa risih, jika terus berada disana maka pasti Kania bisa pingsan atau bahkan meninggal di tempat. Ia memang paling tidak bisa berada di ruangan yang kotor dan menjijikan seperti itu, apalagi ada semacam binatang seperti kecoak yang memenuhi tempat itu.
"Niel, kamu gimana sih? Rencana kamu ternyata buruk, aku gak suka tahu ada di tempat ini. Aku tuh pengen ketemu sama Aisyah, ayo bawa aku kesana!" ucap Kania kesal.
"Iya iya Nia, sabar dong jangan marah-marah gitu! Ini kita kan juga lagi mau usaha buat bebasin Aisyah, tapi emang belum berhasil!" ucap Daniel.
"Ish, ini mah namanya bukan belum berhasil tapi emang gak akan berhasil tau! Kamu mah emang gak bener banget jadi cowok, aku kira rencana kamu tuh bagus eh ternyata malah kayak gini!" kesal Kania.
"Hey cantik, jangan marah-marah mulu ah! Aku kan emang sengaja bawa kamu kesini, supaya kamu bisa bantu aku tangkap kecoak kecoak itu! Kan kamu setuju tadi kalau kita mau kasih perhitungan ke si Nazla itu," ucap Daniel.
"Ya iya aku setuju, tapi kamu kenapa gak bilang kalau mau kasih kecoak ke Nazla? Aku kan jijik banget tahu sama binatang itu!" ucap Kania.
"Gapapa, nanti juga kamu terbiasa. Ayo aku bantu deh biar kamu gak ketakutan lagi!" ucap Daniel.
Kania menggeleng menolaknya, ia menutup mulut sembari berusaha kabur dari dalam ruangan itu dan hendak meninggalkan Daniel. Namun, dengan cekatan Daniel mencekal lengannya sampai membuat Kania tidak bisa bergerak. Daniel tersenyum lebar, lalu sengaja menggoda Kania agar tidak terus memaksa untuk pergi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1