
Kania dan Daniel akhirnya memilih kembali ke luar gedung, karena Kania yang mendadak tidak ingin mengikuti rencana pria itu untuk mengambil kecoak dari dalam gudang. Kini keduanya pun bingung dan tak tahu harus apa, terutama Kania yang sangat mencemaskan kondisi kakaknya di dalam sana.
"Haish, sekarang gimana nih? Aku takut banget terjadi sesuatu sama Aisyah sekarang, apalagi ada kak Damar di dalam sana!" ujar Kania cemas.
Daniel menggaruk-garuk kepalanya turut berpikir bagaimana cara untuk bisa menyelamatkan Aisyah maupun Damar, pria itu kini juga bingung harus melakukan apa demi Kania. Ia pun terlihat menoleh kesana dan kemari sambil berpikir keras, sebab belum ada ide yang ia dapatkan sampai saat ini.
Namun, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan memperlihatkan Aura alias asisten Damar turun dari mobil itu. Setelahnya, di mobil lain pun tampak beberapa lelaki bertubuh besar yang tidak lain adalah anak buahnya. Sontak Kania menatap dengan tajam, ia tersenyum lega saat melihat kedatangan Aura disana.
"Aura, ah syukurlah kamu datang kesini! Cepat bantu kak Damar sama Aisyah di dalam, mereka sekarang lagi bertarung dengan orang suruhan Nazla!" ucap Kania panik.
"Ya Kania, kamu tenang dan tetap disini aja ya! Biar aku sama anak buah aku yang masuk," ucap Aura.
"Jangan Aura! Itu terlalu bahaya untuk wanita seperti kamu, lebih baik aku saja yang masuk ke dalam bersama anak buah kamu itu!" sela Daniel.
"Baiklah, aku percayakan mereka sama kamu! Kalo gitu hati-hati lah!" ucap Aura.
Daniel mengangguk dan bersiap memasuki gedung itu bersama para anak buah Aura, tak lupa ia menitipkan Kania kepada wanita itu selagi ia menyelamatkan Damar serta Aisyah. Awalnya Kania menolak untuk tetap disana, tetapi ia terpaksa menuruti perkataan Daniel karena tidak ada pilihan lain untuk saat ini.
Setelah Daniel pergi, Kania pun tinggal berdua dengan Aura di depan gedung tersebut sembari berharap-harap cemas. Kania sangat khawatir pada kondisi kakaknya disana, apalagi sekarang Daniel juga sedang masuk kesana berusaha untuk menyelamatkan mereka.
Aura sendiri juga merasakan kecemasan yang amat sangat pada bosnya itu, selama ini ia dan Damar sudah sangat dekat sehingga jika Damar berada dalam bahaya maka pasti Aura akan cemas dan berdoa untuk keselamatannya. Aura tentu tak ingin Damar kenapa-napa, sebetulnya ia pun juga memilik rasa yang sama kepada pria itu.
"Kania, kita duduk dulu yuk! Kamu kelihatannya cemas sekali, aku bawa minuman kok buat kamu!" ajak Aura.
Kania menggeleng menolak tawaran Aura barusan, ia memilih untuk tetap berdiri disana sambil menatap ke arah gedung dan menggigit jarinya serta berdoa pada yang maha kuasa. Kania tidak bisa duduk tenang untuk saat ini, sampai ia berhasil mendapatkan kabar baik mengenai kakaknya.
__ADS_1
"Aku gak bisa duduk-duduk untuk sekarang, aku itu cemas banget sama kakak aku!" ucap Kania.
"Iya Kania, aku paham kok. Tapi, minimal kamu minum dulu ya!" paksa Aura.
Akhirnya Kania mau menerima tawaran dari wanita itu, ia pun mengambil botol minuman yang disodorkan Aura kepadanya itu dan langsung meminumnya sampai sisa setengah. Tampak sekali bahwa Kania memang haus, karena sedari tadi ia sangat mencemaskan kondisi kedua kakaknya yang masih berada di dalam gedung itu.
Kini pun Kania belum juga bisa tenang, lantaran Damar serta Aisyah masih ada disana bersama Nazla dan juga anak buahnya. Kania pun khawatir jika mereka tidak bisa mengalahkan Nazla dan pasukannya, karena pasti Nazla memiliki rencana licik untuk bisa menaklukkan Aisyah.
•
•
Braakkk....
Nazla yang melihat itu sontak dibuat kesal dengan kekalahan dari para anak buahnya, ia bahkan membanting kameranya ke lantai untuk melampiaskan emosinya. Nazla kini beralih mencari cara agar bisa pergi dari sana dan menghindar dari tangkapan Damar, karena pastinya ia tahu bahwa Damar akan membawanya ke kantor polisi.
"Lo udah kalah sekarang Nazla, jadi sebaiknya lu menyerah dan jangan melawan lagi! Gue gak mungkin melakukan kekerasan sama perempuan kayak lu," ucap Damar dengan tegas.
Nazla terdiam saja sembari memalingkan wajahnya, ia benar-benar bingung harus pergi melalui jalan mana untuk bisa menghindar dari Damar. Namun, ia tentu tetap tidak akan mau menyerah kepada Damar apalagi Aisyah. Tak mungkin juga Nazla ingin mendekam di penjara, karena itu adalah hal yang paling ditakuti oleh seluruh orang.
Disaat Nazla hendak berlari, tiba-tiba saja Daniel bersama rombongannya muncul disana. Sontak Nazla tambah terkejut, wanita itu melotot lebar melihat kemunculan banyak orang saat ini. Sekarang posisinya sudah terjepit, ia dikepung oleh banyak orang dan tidak mungkin bisa melarikan diri lagi dari sana. Damar pun juga sudah bersiap untuk menangkapnya, lalu membawanya ke penjara.
"Nazla, lu lihat kan sekarang siapa yang datang? Orang-orang gue ini bakal segera bawa lu polsek terdekat untuk ditangani!" geram Damar.
"Ja-jangan! Gue mohon ampuni gue, gue gak bakal ganggu Aisyah lagi kok! Tolong jangan bawa gue ke kantor polisi, please!" rengek Nazla.
__ADS_1
"Hahaha, lu pikir semudah itu gue bakal ampuni lu? Gak Nazla, gue disini tahu kalau lu orang yang sangat jahat dan gak mungkin gue bisa maafin lu!" ucap Damar tegas.
"Bang, apa kita langsung tangkap aja si cewek jahat ini?" tanya Daniel dengan berbisik.
Damar hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Daniel yang mengerti langsung bergerak bersama para anak buahnya untuk menangkap Nazla. Kini Daniel mulai memerintahkan orang-orang itu untuk meringkus Nazla beserta ketiga anak buahnya, ia lalu membawa Nazla dan yang lain pergi dari gedung tersebut serta membawanya keluar.
Sementara Damar menetap disana dan beralih mendekati Aisyah yang masih terikat dengan kondisi nyaris telanjang, ia pun membantu melepaskan ikatan itu lalu membuat Aisyah terbebas. Tanpa basa-basi lagi, Aisyah langsung spontan memeluk erat tubuh kakaknya sambil menangis deras.
"Kak, makasih banyak ya udah tolongin aku! Aku benar-benar gak tahu tadi bakal gimana kalau gak ada kak Damar, hiks hiks aku sedih banget kak!" ucap Aisyah menangis histeris.
Damar tersenyum seraya mengusap punggung adiknya yang tak tertutupi itu, ia paham kesedihan Aisyah dan mencoba menenangkannya kali ini. Meski sekarang ia cukup tegang lantaran memeluk Aisyah dalam kondisi setengah polos, ya walau ia sadar Aisyah adalah saudaranya.
"Iya iya udah Aisyah, kamu gausah nangis terus kayak gitu! Mending sekarang pakai lagi tuh baju kamu biar gak kedinginan ya, abis itu kita keluar bareng karena Kania udah nunggu disana!" ujar Damar melepaskan pelukannya.
"I-i-iya kak, sekali lagi terimakasih ya! Aku jadi malu karena langsung meluk kamu tadi," gugup Aisyah.
"Ah gapapa sayang," singkat Damar.
Akhirnya Aisyah memakai kembali pakaiannya dengan bantuan Damar, lalu ia juga bangkit dan pergi dari gedung tersebut bersama Damar untuk menyelamatkan diri.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...HORE SELAMAT🥳🥳...
__ADS_1