Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Obrolan penting


__ADS_3

Rupanya benar dugaan Kania tadi, Aisyah saat ini telah bersama Darwin dan mereka pun terlihat mendatangi sebuah warung kopi yang sebetulnya tak jauh dari rumah Aisyah tadi. Darwin menghentikan motornya, kemudian membantu Aisyah melepas helmnya dan berjalan memasuki warung kopi tersebut untuk menikmati sarapan.


Aisyah sebenarnya tidak ingin pergi kesana, apalagi tadi ia sudah sempat sarapan di rumahnya. Akan tetapi, paksaan dari Darwin membuat Aisyah tidak dapat berbuat apa-apa dan terpaksa mengikuti saja apa yang diinginkan pria itu. Sehingga, kini keduanya sama-sama terduduk di kursi warung tersebut dan bersiap memesan sesuatu.


"Syah, kita ngobrol disini aja ya? Sekalian kalau kamu mau pesan makan atau minum, pesan aja!" ucap Darwin sambil tersenyum.


"Hm, sebenarnya gue udah kenyang sih. Ya tapi gapapa deh, gue hargain tawaran lu yang mau traktir gue sekarang. Jadi, gue pengen pesan kopi susu aja!" ucap Aisyah.


"Makasih ya Aisyah, aku senang deh kamu mau hargai aku!" ucap Darwin.


Aisyah mengangguk saja dengan perlahan, lalu Darwin bangkit dan mengatakan pesanannya pada pelayan disana. Aisyah pun hanya mengamati dari tempatnya terduduk saat ini, entah mengapa tanpa disadari ia malah merasa kagum pada sosok Darwin yang sekarang tengah berdiri dan berbicara pada pelayan tersebut.


Setelah mengatakan pesanannya, Darwin kembali ke tempat duduk dan melanjutkan obrolannya bersama Aisyah disana yang sempat tertunda. Darwin pun tampak tersenyum menatap wajah gadis itu, sedangkan Aisyah langsung memalingkan wajahnya karena malu setelah tak sengaja dipergoki oleh Darwin saat sedang memandanginya.


Pria itu terkekeh saja melihat reaksi Aisyah saat ini, ia benar-benar gemas dan tidak bisa berhenti memandangi wajah Aisyah yang luar biasa cantik itu. Bukan hanya wajahnya, tetapi juga hatinya yang memang dikenal baik dan ramah pada setiap orang. Meski, sebenarnya Aisyah juga selalu bersikap ketus padanya sejak peristiwa dulu.


"Cie cie, daritadi kamu pasti ngeliatin aku ya? Aku gak nyangka loh Syah, ternyata kamu itu orangnya diam-diam perhatian juga ya sama aku?" goda Darwin.


Aisyah mengernyitkan dahi dan terkekeh mendengar ucapan Darwin barusan, gadis itu coba mengelak dan tidak mau mengakui tuduhan Darwin barusan. Tentu saja Aisyah merasa malu jika harus mengaku di hadapan Darwin, apalagi ia memang sedari tadi memandangi tubuh pria itu yang tentunya tanpa kesadaran dari dirinya sendiri.


"Yaudah, aku udah pesenin semua yang kamu mau. Sambil nunggu pesanannya datang, kita ngobrol lagi yuk!" usul Darwin.


Tak ada jawaban dari mulut Aisyah saat ini, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti kemauan Darwin tanpa menolak atau mengatakan apapun. Setelahnya, Darwin dengan berani bergeser sedikit lebih dekat ke arah Aisyah lalu coba berbicara padanya mengenai perasaan yang selama ini selalu tertanam di lubuk hatinya.


Baru saja Darwin hendak mengatakan kalimat untuk membuka obrolan diantara mereka, tetapi tanpa diduga si pelayan itu datang membawakan pesanan keduanya dan membuat Darwin mengusap wajah karena menahan rasa kesal. Setelahnya, pelayan itu langsung pergi dan tidak lagi mengganggu Darwin maupun Aisyah disana.


"Eee Syah, kamu suka ya sama kopi susu? Kenapa gak mau coba cappucino atau yang lainnya, bukannya cewek-cewek lebih banyak suka itu ya?" tanya Darwin.


"Pertanyaan lu gak ada yang berbobot dikit apa? Gak jelas banget sih!" cibir Aisyah.


Darwin menghela nafas sembari memikirkan topik yang tepat agar Aisyah tidak cemberut, akhirnya ia menemukannya dan dengan cepat kembali menatap wajah Aisyah lalu tersenyum dengan lebar sambil berharap Aisyah akan menyukainya.


"Ah begini, di dunia kan ada banyak teori-teori nih dari berbagai pihak. Kira-kira kenapa ya teori itu gak disatukan aja biar gampang gitu?" ucap Darwin.


"Hah? Iya iya, gue emang suka kopi susu. Gue lebih senang minum kopi susu daripada cappucino, puas kan?" ucap Aisyah.


Darwin melongok lebar, kemudian tersenyum dengan sikap Aisyah saat ini.




Sementara itu, Damar baru menyelesaikan aktivitas panasnya yang kesekian kali bersama Aura di hotel tempat mereka singgah itu. Damar begitu puas dan seolah tidak ingin berhenti menggagahi tubuh wanita itu, bagi Damar hanya Aura lah yang berhasil membuatnya merasa puas. Bahkan, gerakan erotis Aura sampai membuat pria itu tercandu-candu.


Aura pun tampak sangat lelah saat ini, wanita itu terus terbaring di atas ranjangnya dalam keadaan terlentang disertai keringat yang membasahi tubuhnya. Damar tak henti-hentinya menggempur tubuh wanita itu, meski Aura berulang kali meminta berhenti dan mengatakan pada Damar kalau tubuhnya sudah lelah.


Damar kini memberikan segelas air putih untuk calon istrinya itu, ia membantu Aura bangkit dan meminumkan air itu ke mulutnya. Damar sangat prihatin melihat kondisi Aura saat ini, meskipun semua yang terjadi pada Aura itu karena ulahnya. Ya Damar lah yang membuat Aura begitu, karena Damar selalu tidak mau mendengarkan wanita itu.


"Sayang, maafin aku ya? Aku gak bermaksud bikin sampe jadi lemas banget kayak gini, aku cuma gak tahan aja sama kenikmatan tubuh kamu!" ucap Damar merasa bersalah.


Aura mengangguk perlahan, ia menghabiskan minuman di gelas itu dan menaruhnya kembali ke atas nakas. Lalu, Aura berusaha beranjak dari ranjang itu untuk menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang lengket itu. Ya sebenarnya Aura sudah berulang kali pergi ke kamar mandi, tetapi Damar juga tak henti-hentinya meminta jatah darinya.


"Hey, kamu mau kemana sih? Jangan banyak gerak dulu kalo masih sakit, nanti kamu malah kenapa-napa loh! Kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja sama aku!" ucap Damar khawatir.


"Mas, aku cuma pengen ke toilet. Rasanya tubuh aku lengket semua," ucap Aura.

__ADS_1


"Oh gitu, kamu mau mandi? Ayo deh aku antar ya, kita mandi sekali lagi sambil berendam di bak!" ucap Damar coba memapah tubuh wanita itu.


Aura menolak ajakan kekasihnya itu, pasalnya ia khawatir kalau Damar justru meminta jatah kembali di dalam kamar mandi nanti. Bukan apa-apa, hanya saja Aura tidak bisa memberikan jatah lagi pada Damar dengan kondisi tubuhnya yang seperti ini. Ya Aura sudah sangat lelah, apalagi Damar terus-terusan menggempurnya tanpa henti.


"Kamu tenang aja, aku gak akan minta jatah lagi kok ke kamu! Percaya deh sama aku, aku cuma pengen antar kamu biar gak kenapa-napa!" bujuk Damar.


"Umm, aku bisa sendiri kok. Kamu gak perlu khawatir sama aku," ucap Aura dengan kekeuh.


Namun, bukan Damar namanya jika langsung menurut begitu saja pada apa yang dikatakan wanita itu. Damar malah memaksa Aura dan menggendong tubuh Aura begitu saja, lalu membawa Aura ke dalam kamar mandi tanpa meminta persetujuan dari wanita itu lebih dulu. Damar pun tersenyum lebar, sebab ia berhasil menaklukan sosok Aura yang merupakan wanita tercintanya.


Di dalam sana, mereka pun mulai berendam dengan air hangat yang telah disiapkan sebelumnya. Aura hanya bisa memalingkan wajahnya dan menghindar dari tatapan pria itu, karena hingga kini Aura masih belum dapat menerima semuanya. Ya wanita itu hanya tak menyangka, jika bosnya itu sebentar lagi akan menjadi suaminya dan mereka bahkan sudah saling mencicipi tubuh satu sama lain.


"Sayang, kenapa kamu malah diam aja? Tadi katanya mau mandi, giliran udah di kamar mandi kok malah ngelamun sih?" tegur Damar.


Aura menoleh ke arah lelaki itu dan sedikit terkejut, sedari tadi ia memang melamun memikirkan apa yang semalam terjadi diantara dirinya dan juga Damar. Sungguh Aura tak menyangka jika semua itu akan terjadi, mengingat sebelumnya hubungan mereka hanyalah sepasang karyawan dan bos yang tidak saling mencinta.


"Kamu mikirin apa sih? Aku bingung deh sama kamu, cerita coba sama aku!" pinta Damar.


"Eee aku itu masih gak nyangka aja sama semua ini, kita kan biasanya cuma kerja bareng. Eh tapi sekarang malah udah sampe tidur bareng," ucap Aura merasa gugup.


"Hahaha...."


Damar tertawa lepas sembari merangkul pundak wanita itu dan mendekapnya erat, Damar merasa gemas dengan sikap Aura saat ini. Jika saja Aura tidak sedang sakit, maka pasti Damar sudah kembali melakukan permainan panasnya bersama wanita itu di dalam bak mandi.




Sepulang dari kampus, Kania kembali bertemu dengan Daniel yang memang sengaja ingin menghampiri gadis itu. Daniel pun menyapanya sambil tersenyum, lalu berdiri tepat di samping Kania dan terus merapihkan rambutnya. Daniel ingin Kania mau pergi bersamanya saat ini, sebab pria itu masih berusaha mengejarnya.


"Hai Nia! Kamu udah selesai kan kuliahnya, kita langsung pulang aja yuk! Motor aku ada di parkiran, kamu mau ya!" ajak Daniel.


"Huft, kamu itu kenapa sih Daniel? Kok kamu selalu aja paksa aku buat dekat sama kamu? Padahal, aku kan udah tolak kamu dan minta ke kamu supaya jangan pernah dekati aku lagi!" sentak Kania.


"Maaf Kania, tapi aku emang gak bisa jauh dari kamu. Sejak kita ketemu pertama kali, aku itu udah mulai jatuh hati sama kamu!" ucap Daniel tegas.


Kania menghela nafasnya, kemudian ia memilih melangkah lebih dulu meninggalkan Daniel disana. Namun, dengan cekatan Daniel berhasil menahan tangan Kania dan meminta gadis itu untuk tetap disana bersamanya. Tak ada yang bisa dilakukan Kania selain menurut, karena gadis itu juga tak bisa pergi kemana-mana sekarang.


"Apaan lagi sih Niel? Aku tuh banyak tugas ini, aku harus kerjain semua tugas aku sekarang. Kalau kamu masih mau ganggu aku, sorry ya untuk kali ini gak bisa!" kesal Kania.


Tentu saja Daniel tidak setuju dengan apa yang dikatakan Kania, pria itu semakin erat mencengkram lengan Kania dan tidak ingin melepasnya. Akhirnya tanpa bisa berbuat apa-apa, Kania membiarkan saja Daniel melakukan apa yang dia inginkan. Kini Daniel meraih satu tangan Kania yang lain, lalu dia genggam dengan kuat seperti sebelumnya.


"A-aku bisa temenin kamu kerjain tugas itu, malah aku juga bisa bantu kamu kok!" ucap Daniel.


"Hm, emang kamu ngerti?" tanya Kania heran.


Daniel mengangguk sambil tersenyum, ia memang pria yang pandai dan tak seperti sosok sahabatnya alias Darwin. Ya jika hanya mengerjakan tugas milik Kania, maka bukan suatu masalah besar bagi Daniel. Bahkan, Daniel rela jika nanti Kania mau meminta padanya untuk membuatkan skripsi tanpa dibayar sama sekali.


"Yaudah, kalo gitu kita cari cafe dekat sini supaya aku bisa kerjain tugas aku ini sampai selesai semuanya!" ucap Kania.


"Eh kok cafe? Tugas kamu kan banyak, pasti gak akan bisa kelar sejam dua jam. Gak enak lah kalau di cafe, kenapa gak di kostan aku aja? Disana kan kita bisa sambil istirahat," usul Daniel.


"Hah? Kamu gila ya? Kamu pikir aku bisa kena tipu daya kamu gitu? Enggak ya, ogah!" tolak Kania.


"Kamu tuh mikir apa sih Kania? Aku ajak kamu ke kostan aku, supaya kamu gak capek duduk terus di cafe. Disana kan kita bisa rebahan, terus makan minum apapun sesuka hati. Kamu jangan mikir ngeres dulu Kania!" bujuk Daniel.

__ADS_1


"Huft, terserah kamu deh. Tapi awas ya kalau kamu berani macam-macam, aku bakal hajar kamu di tempat!" ancam Kania.


"Iya iya, aku janji gak akan apa-apain kamu. Kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Daniel.


Kania hanya memutar bola matanya sembari menghela nafas singkat, jujur sebenarnya ia ragu untuk menerima ajakan pria itu tetapi ia juga tidak bisa jika harus mengerjakan semua tugas kuliah itu sendirian tanpa bantuan dari orang lain. Untungnya Daniel secara sukarela mau membantunya, ya walau ia harus pergi ke tempat kost pria itu.


Akhirnya Kania dibawa menuju tempat parkir dimana motor Daniel berada, mereka pun sama-sama naik ke atas motor dan mulai melaju dengan kecepatan sedang. Daniel meminta Kania memeluknya agar tidak jatuh, saat itu Kania menurut karena tidak ingin berdebat. Ya Kania pun melingkarkan dua tangannya di pinggang Daniel, yang sampai membuat Daniel tidak fokus dan merasa gugup.




Setibanya di tempat kost, Daniel langsung mempersilahkan Kania masuk ke dalam dan duduk bersamaan di atas ranjangnya. Ya ranjang itulah yang menjadi saksi bisu permainan panas mereka beberapa waktu lalu, meski tentu Kania berada dalam pengaruh obat panas yang diberikan Alex sampai membuatnya tak sadarkan diri.


Kania pun meletakkan tasnya di atas meja, lalu menatap sekeliling dan teringat pada momen panas saat itu bersama Daniel disana. Kania berusaha menghilangkan jauh-jauh pikiran buruk itu, karena sekarang ia dan Daniel tidak memiliki niatan untuk mengulangi hal itu. Apalagi, Daniel sudah berjanji bahwa pria itu hanya akan membantunya mengerjakan semua tugas sampai selesai.


"Niel, panas nih. Kamu nyalain kipasnya dong, masa ada tamu malah dibiarin kegerahan kayak gini!" ucap Kania yang mulai merasa gerah.


"Ah iya iya..."


Daniel menuruti kemauan gadisnya itu, ia pun mulai menyalakan kipas angin yang ia punya dan mendekatkannya pada tubuh Kania agar gadis itu tidak kepanasan. Sedangkan Daniel sendiri sudah terbiasa dengan kondisi yang ada disana, sehingga dia tak perlu memakai kipas angin untuk menyegarkan tubuhnya.


"Ih masih panas deh, apa gara-gara pintunya dibuka?" keluh Kania.


Daniel mengernyit heran, pasalnya Kania masih saja merasa kegerahan padahal kipas angin sudah ia nyalakan dan setel ke volume paling tinggi. Daniel tentu tidak setuju jika Kania ingin menutup pintu, karena khawatir akan terjadi hal yang tidak-tidak nantinya. Apalagi di kost itu ia tidak hanya sendiri, melainkan banyak teman-temannya juga.


"Apa ditutup aja ya pintunya biar gak gerah? Soalnya panas banget ini tahu, aku gak biasa kepanasan kayak gini. Kamu kok kuat banget sih Niel?" protes Kania.


"Umm, ya aku kan emang udah biasa tinggal disini. Kamu itu mungkin karena terbiasa di kamar ber-AC, jadinya begitu kesini jadi kepanasan," ucap Daniel.


"Iya kali, yaudah tutup aja ya pintunya?" Kania langsung berdiri dan hendak menutup pintu.


"Eh jangan! Kalo ditutup nanti yang lain pada curiga, bisa-bisa kita dituduh berbuat mesum. Biarin aja kebuka kayak gini, lagian kan biar ada angin juga dari luar!" larang Daniel.


"Tapi Niel, hawanya malah makin panas. Di luar kan kena sinar matahari tuh," ucap Kania.


Pria itu benar-benar bingung saat ini, ia berpikir keras dan kemudian melirik ke arah cardigan yang dikenakan Kania. Sontak Daniel memiliki ide agar Kania tidak merasa panas lagi, ya tentu saja dengan cara melepaskan cardigan miliknya. Mungkin dengan begitu, maka Kania tidak akan kepanasan seperti sekarang.


"Nah Nia, kamu lepas aja cardigan kamu itu! Pasti itu yang bikin kamu kepanasan deh, siapa tahu setelahnya kamu jadi gak gerah lagi," usul Daniel.


"Umm...."


Kania menundukkan wajahnya dan berpikir sesaat, ia ragu untuk mengikuti saran Daniel karena jika cardigan itu dibuka maka Kania hanya mengenakan kaos lengan pendek yang juga menampakkan bagian perutnya. Tentu saja Kania akan merasa malu, tapi jika itu tidak dilakukan maka pasti Kania akan terus merasa kegerahan seperti ini.


"Yaudah deh, usul kamu boleh juga. Lagian aku gak tahan sama panasnya," ucap Kania menurut.


Ya setelahnya, Kania pun membuka cardigan itu tepat di hadapan Daniel dan meletakkannya di atas ranjang. Seketika Daniel melongok lebar menatap ke arah tubuh Kania, pria itu tak menyangka jika ia dapat melihat tubuh mulus Kania lagi untuk yang kedua kalinya. Daniel sampai kesulitan menelan saliva nya, matanya bahkan tidak dapat berkedip dari tubuh indah sang gadis.


"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu? Ingat ya Niel, jangan punya pikiran macam-macam! Kamu udah janji loh!" ucap Kania mengingatkan.


"I-i-iya Kania, aku tadi cuma kaget aja lihat kamu tampilannya begini," gugup Daniel.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2