
Kania pun tiba di kampusnya, tentu ia datang kali ini bersama Daniel yang memang mengantarnya tadi dan tidak membiarkan gadis itu sendirian. Mereka sama-sama turun dari motor, Daniel pun juga membantu Kania melepas helmnya dan merapihkan rambut gadis itu. Kania merasa malu dibuatnya, ia sampai harus memalingkan wajahnya karena tak biasa dengan perlakuan manis Daniel padanya.
Daniel tersenyum lebar melihat ekspresi Kania saat ini, ia bangga karena berhasil membuat Kania tersipu dengan perlakuannya. Bahkan kini Kania sampai tak berani bertatap mata dengannya, tampaknya gadis itu benar-benar malu karena berada cukup dekat dengan Daniel. Tak biasanya memang Kania begitu, karena selama ini dia jarang sekali bertatapan secara langsung dengan seorang lelaki, terlebih lelaki itu adalah Daniel.
Untuk memecah keheningan diantara mereka, akhirnya Daniel mengajak Kania masuk ke dalam kampus bersama-sama. Dengan berani, Daniel juga meraih satu tangan Kania dan menggenggamnya erat sebelum melangkah ke dalam sana. Kania tak punya keberanian untuk menolak, gadis itu diam saja dan membiarkan Daniel memegang tangannya. Meski, saat ini kondisi jantungnya sangat buruk.
"Aku bisa rasain kegugupan itu, sesuatu yang jarang aku dapetin tiap kali berdekatan dengan seorang wanita. Cuma kamu yang begini Kania, aku beruntung bisa dekat sama kamu!" ucap Daniel.
Kania sempat melirik ke arah Daniel karena ucapan itu, tapi kemudian ia kembali memalingkan wajahnya dan benar-benar merasa gugup. Bahkan, Kania menarik lepas tangannya dari genggaman lelaki itu dan menggeser posisinya menjauh dari Daniel saat ini. Daniel terkekeh dibuatnya, tingkah gadis itu memang sungguh menggemaskan.
"Kamu lucu ya? Aku aja udah lihat semua isi tubuh kamu, tapi kenapa kamu masih malu begitu deketan sama aku?" goda Daniel.
"Daniel ih!" bentak Kania.
Pukulan diberikan Kania tepat pada bahu si pria, ia benar-benar malu saat Daniel membahas kejadian itu. Sungguh Kania tak mau Daniel melakukannya lagi, karena jika begitu maka pasti Kania akan sangat malu nantinya.
"Kamu jangan bahas-bahas itu lagi dong! Please, aku gak mau ya kamu kayak gitu! Anggap aja kejadian kemarin itu khilaf, jadi kamu jangan harap bisa begitu lagi!" ucap Kania tegas.
Daniel tersenyum kali ini, "Iya Nia, aku juga bukan lelaki seperti itu kok. Aku aja nyesel udah ngelakuin itu kemarin, beneran deh!" ucapnya.
"Yaudah, awas loh kalau kamu masih ingat-ingat atau bahas soal kemarin! Aku bakal menjauh dari kamu selamanya, dan gak mau kenal lagi sama kamu!" ucap Kania mengancam.
"I-i-iya Kania, buset ancaman kamu gak main-main ya ternyata? Serem banget!" ujar Daniel.
"Ya iya, makanya kamu nurut!"
Daniel mengangguk saja seraya memberi gerakan hormat pada Kania, gadis itu pun geleng-geleng kepala melihat kelakuan Daniel saat ini. Lalu, mereka kembali melangkah tentunya dengan jarak yang tak berdekatan dan tangan mereka yang tidak saling bersentuhan. Meski Daniel ingin sekali menyentuh telapak tangan gadis itu, tetapi ia tak mau memaksa jika memang Kania tidak mengizinkannya.
"Eh Nia, kita ke kantin dulu gimana? Aku haus nih, enak kayaknya minum yang segar-segar," ujar Daniel.
"Terserah kamu, aku mah mau ke kelas aja!" ketus Kania.
Kania mempercepat langkahnya menuju kelas, ia berharap bisa segera menjauh dari Daniel dan hidup dengan bebas. Namun, Daniel sepertinya tak ingin menyerah sampai disitu saja dan malah terus mengejar Kania serta mengikuti gadis itu. Ya Kania pun terlihat cemas, tetapi ia tetap berusaha melangkah lebih cepat agar Daniel tak sanggup mengejarnya.
•
•
Disisi lain, Damar datang ke suatu tempat yang mana disana telah berada sosok Aura alias asisten pribadinya. Damar pun turun dari mobilnya dengan segera, lalu menghampiri wanita itu disertai senyuman di wajahnya. Tanpa diduga, pria itu menarik tubuh Aura dan memberikan kecupan lembut pada kening gadis itu.
Aura diam saja memandangi wajah bosnya, memang ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Damar tanpa tahu yang sebenarnya bahwa Damar memang memiliki perasaan padanya. Aura menganggap apa yang dilakukan Damar itu hanya sebuah perhatian biasa, tapi meski begitu tetap saja Aura merasa tidak enak tiap kali Damar begitu.
"Gimana Aura, kamu udah berhasil dapetin informasi tentang dimana Ivar berada sekarang?" tanya Damar seraya memeluk asistennya itu.
"Eee iya pak, baru saja saya mendapatkan kabar dari salah seorang anak buah saya. Katanya dia melihat kalau Ivar sekarang sedang berada di tempat persembunyiannya, sepertinya Ivar juga sangat ketakutan pak," jawab Aura.
"Baguslah, kalau begitu dimana dia sekarang? Bisa kan kita langsung kesana temui dia?" tanya Damar.
Aura mengangguk perlahan, "Bisa kok pak, mari biar saya antar bapak ketemu dengan anak buah saya! Kebetulan dia lah yang tahu dimana Ivar sekarang pak," jawabnya.
__ADS_1
"Yaudah, kamu naik mobil saya aja! Nanti sekalian kita pergi berdua temuin si Ivar itu, karena saya butuh kamu!" ucap Damar tersenyum.
Aura pun dibuat tersipu oleh perkataan pria itu, ia memalingkan wajahnya karena malu saat bertatapan langsung dengan sang bos. Sedangkan Damar terkekeh melihatnya, lalu mengajak Aura masuk ke dalam mobil dan terduduk berdua dengannya di kursi depan.
Entah kenapa sulit sekali bagi Damar untuk mengalihkan pandangannya dari Aura, sepertinya rasa sukanya kepada wanita itu sudah lebih dari sekedar mengagumi. Ya Damar jatuh cinta pada asistennya, sehingga ia selalu ingin berada di dekat wanita itu dan tidak bisa berpaling darinya walau hanya beberapa menit.
Mereka pun mulai melaju untuk menemui lokasi anak buah Aura berada, wanita itu terus mengarahkan jalan sampai mereka tiba disana. Barulah Damar menghentikan mobilnya, menatap sekitar dan cukup heran melihat area itu yang sangat sepi dan asing baginya.
"Ini tempatnya, Aura? Kok sepi begini sih, dimana anak buah kamu coba?" tanya Damar kebingungan.
"Benar kok pak, disini tempat anak buah saya kalau kumpul dan memberikan informasi ke saya. Yaudah, ayo pak kita turun aja biar bisa langsung bicara sama mereka!" ucap Aura.
Damar mengangguk saja, lalu ikut turun dari mobil bersama Aura dan mulai melangkah menyusuri tempat tersebut. Damar benar-benar bingung, ia terus melihat ke sekelilingnya dan memang suasana disana cukup sepi. Kini Aura mengajak Damar menuju sebuah bangunan yang tak jauh dari sana, Damar cukup terkejut karena tiba-tiba muncul empat orang pria yang keluar dari dalam bangunan itu.
"Nah, mereka anak buah saya pak. Mereka yang saya tugaskan memantau dan mencari keberadaan Ivar," ucap Aura menunjuk keempat pria itu.
"Oh waw, hebat juga kamu mencari anak buah ya Aura! Bagus deh, saya suka!" ucap Damar memberi pujian pada asistennya.
"Terimakasih pak," lirih Aura merasa tersipu.
Setelahnya, mereka berdua tampak mendekati keempat pria itu dan berhadapan dengannya. Aura pun mengenalkan Damar sebagai bosnya, lalu ia meminta pada keempat anak buahnya itu untuk berkata jujur dan memberikan informasi mengenai keberadaan Ivar kepada mereka.
•
•
Aisyah masih terduduk di taman kampus sembari melamun memikirkan Marvel yang terus saja mengganggu hidupnya, entah mengapa ia juga merasakan jika cintanya pada pria itu masih ada dan belum benar-benar hilang. Aisyah memang belum bisa melupakan kenangannya bersama Marvel, wajar saja karena dulu mereka sangat dekat dan bahkan nyaris menikah.
"Syah, kamu lagi ngapain duduk disini sendirian begitu? Kelihatannya juga kamu kayak lagi mikirin sesuatu, ada masalah ya? Kalau boleh tahu, kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Darwin penasaran.
Aisyah menoleh sekilas ke arah pria itu, namun kemudian ia dengan cepat memalingkan wajahnya dan menunduk bingung. Aisyah tak mungkin mengaku pada Darwin saat ini, bahwa ia tengah memikirkan Marvel dan perasaannya kepada pria itu yang masih belum dapat dihilangkan.
"Ya siapa tahu kamu bisa lebih tenang kalau cerita ke aku, tapi aku gak maksa kok," bujuk Darwin.
"Umm, gue cuma lagi mikirin sesuatu. Lu gak perlu tahu soal itu, lu itu kan bukan siapa-siapa gue loh," ucap Aisyah ketus.
"Ups, iya deh iya aku minta maaf. Aku emang bukan siapa-siapa kamu Aisyah," ucap Darwin terkekeh.
"Nah baguslah nyadar, terus sekarang ngapain lu masih disini? Mending lu pergi deh sana, gue gak mau jadi bahan gosip orang-orang di kampus ini!" ucap Aisyah.
"Tenang aja, sekarang kan kabar mengenai video kamu itu udah terselesaikan. Banyak orang juga udah minta maaf sama kamu kan?" ucap Darwin.
Aisyah menghela nafasnya singkat, kemudian beranjak dari kursinya dan berniat pergi. Namun, dengan cepat Darwin juga ikut berdiri lalu mencekal lengan gadis itu dari samping seolah tak mengizinkan dia untuk pergi.
"Tunggu Syah! Kamu mau kemana sih? Kan aku udah bilang tadi, orang-orang sekarang kebanyakan malah pada dukung kamu loh!" ucap Darwin.
"Iya gue tahu, terus kenapa? Apa dengan begitu, artinya lu bisa bebas deketin gue gitu? Enggak Win, gue tetep gak mau dekat sama cowok dulu untuk sekarang. Tolong lu ngertiin gue ya!" ujar Aisyah.
"Bukan begitu Syah, tapi seenggaknya aku tuh mau bisa bicara berdua sama kamu. Karena tiap kali ada di dekat kamu, aku merasa nyaman!" ucap Darwin.
__ADS_1
"Tapi gue enggak, Win."
Darwin sedikit merasa kaget ketika mendengar ucapan gadis itu, hatinya benar-benar terasa seperti ditusuk bertubi-tubi akibat perkataan Aisyah barusan yang tidak difilter lebih dulu. Namun, Darwin berusaha kuat dan mencoba untuk tidak kesal atau terlihat sedih di hadapan Aisyah sekarang.
"Itu sih wajar Syah, mana mungkin kamu bisa nyaman sama aku. Secara aku kan dulu udah nyakitin kamu dan gak percaya sama kamu," ucap Darwin lirih.
"Bagus deh kalau lu masih ingat, seenggaknya gue gak perlu jelasin kesalahan lu lagi," ketus Aisyah.
Darwin mengangguk paham, "Iya Syah, aku ingat betul soal itu. Kan sejak saat itu juga hubungan kita jadi memburuk," ucapnya menyesal.
"Okay."
Aisyah hanya mengucapkan kata singkat itu, dan kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Darwin dengan perasaan bingungnya. Kali ini Darwin tak menghalanginya, karena pria itu tak mau dianggap terlalu memaksa Aisyah.
•
•
Sementara itu, Kania baru saja pergi dari kampusnya dan memilih mampir sejenak ke sebuah minimarket yang ada di dekatnya untuk membeli minuman. Gadis itu sengaja pergi lebih cepat, karena ia tak mau Daniel mengetahuinya dan memaksanya untuk kembali mengantarnya pulang.
Disaat ia sedang memilih minuman yang cocok untuknya, tiba-tiba tanpa disengaja ia malah bertemu dan bersenggolan dengan Nazla yang kebetulan juga berada di minimarket itu. Karena wajahnya yang mirip, Nazla pun mengira bahwa Kania adalah Aisyah. Sehingga, kini Nazla tampak geram begitu melihat Kania ada disana.
"Hadeh, lagi-lagi gue harus ketemu sama cewek murahan kayak lu disini! Lu masih berani aja ya keluar rumah? Padahal semua orang juga udah tahu kelakuan busuk lu itu di belakang Marvel, gue heran deh sama lu!" cibir Nazla.
Kania menggeleng pelan seraya memicingkan matanya, "Apa urusannya sama lu? Suka-suka gue dong mau ngapain kek," ucapnya menyindir.
Nazla dibuat semakin emosi mendengar perkataan Kania, ya memang Kania sengaja menyamar sebagai Aisyah saat ini untuk mengetahui apakah benar Nazla lah yang sudah melakukan semuanya. Jujur saja Kania masih menaruh curiga pada Nazla sampai saat ini, ia yakin sekali gadis itu pasti terlibat di dalam masalah ini.
"Susah emang ngomong sama cewek gak tahu diri kayak lu, untung aja Marvel masih waras dan gak jadi nikahin lu! Kalau sampai itu terjadi, gak tahu lagi deh bakal gimana," cibir Nazla.
"Ya ya ya, bilang aja kalau lu iri kan sama gue dan lu gak pengen gue bahagia sama Marvel!" ujar Kania.
"Cih, ngapain gue iri sama cewek murahan kayak lu? Sorry ya, kita mah gak level dan gue ini cewek berkelas!" ucap Nazla.
"Cewek berkelas? Ah masa sih? Gak salah tuh gue denger lu ngomong kayak gitu?" cibir Kania.
Nazla semakin naik pitam dibuatnya, dua tangannya bahkan terkepal kuat seolah hendak meraih dan menjambak rambut Kania saat itu juga. Namun, Kania sama sekali tak takut dengan ancaman gadis itu dan malah terus berdiri tegak seolah menantang untuk berkelahi.
"Orang-orang sekarang udah tahu semuanya, kalau video itu tuh cuma editan. Gue juga tahu banget, pasti lu orang yang udah nyuruh Iyan sama si Ivar itu buat edit videonya kan!" ucap Kania.
"Hahaha, sembarangan aja lu kalo ngomong! Lu punya bukti apa emangnya, ha?" ucap Nazla.
"Untuk sekarang emang gue belum ada bukti, tapi gue bakal terus cari tahu dan bongkar semuanya nanti. Perbuatan busuk lu ini, akan diketahui sama seluruh orang di kota ini. Termasuk juga Marvel, dia pasti bakal benci sama lu!" tegas Kania.
Deg
Nazla tersentak mendengar perkataan Kania yang seolah-olah menekannya, ia sampai dibuat cemas dan khawatir jika benar-benar memang sampai Kania akan mendapatkan semua bukti yang menyatakan bahwa dirinya bersalah. Pastinya Marvel akan sangat membencinya, dan semua rencana yang ia susun akan gagal.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...