Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Digoda


__ADS_3

Darwin pun mengantarkan Aisyah kembali ke rumahnya setelah puas berkeliling selama setengah hari ini, Darwin cukup senang meski tidak terlalu karena sikap Aisyah yang masih saja cuek dan dingin padanya. Memang ada beberapa momen dimana Aisyah mau tersenyum ke arahnya, tetapi itu juga bisa dihitung oleh jari.


Aisyah langsung turun dari motor lelaki itu dan melepas helm di kepalanya, ia merapihkan rambut seraya menyerahkan helm tersebut kepada Darwin. Entah karena apa, Aisyah selalu saja ingin cepat masuk ke dalam rumah dan tidak mau terlalu lama bersama Darwin disana. Padahal, Darwin memang masih ingin berduaan dengan Aisyah saat ini.


"Eh eh, mau kemana sih kamu Syah? Tunggu dulu dong, aku itu kan belum puas ngeliat wajah cantik kamu! Jangan masuk dulu ya please, kita ngobrol disini sebentar!" cegah Darwin.


"Haish, lu gak ada puasnya ya? Kita udah lama loh tadi jalan-jalan, masa belum cukup juga? Gue capek tahu, gue pengen istirahat di dalam!" keluh Aisyah.


"Sebentar aja Aisyah, please!" bujuk Darwin.


Akhirnya Aisyah tidak memiliki pilihan lain, gadis itu menghela nafasnya dan terpaksa mengikuti kemauan Darwin untuk tetap disana. Walau begitu, tampak jelas ekspresi Aisyah yang amat kesal dan serasa ingin memukul Darwin saat itu juga. Aisyah memang tipe wanita yang tidak enakan, itulah sebabnya mengapa Aisyah selalu menurut.


"Okay, gue mau bicara sama lu sebentar. Sekarang emangnya lu mau ngomong apa, ha? Penting atau enggak?" ucap Aisyah ketus.


Darwin agak ragu untuk memulai berbicara, entah karena apa tapi yang pasti dirinya khawatir Aisyah akan bertambah marah atau malah mengusirnya jika ia nekat mengatakan itu. Ya Darwin sebenarnya ingin melamar Aisyah dan meminta gadis itu menjadi pendamping hidupnya, sebab sampai saat ini Aisyah adalah wanita yang sangat ia cintai.


"A-aku cuma mau bilang soal perasaan aku ke kamu, Aisyah. Aku yakin kamu udah tahu itu, makanya sekarang aku pengen banget kamu jadian sama aku!" ucap Darwin gugup.


"Hah? Apa lu bilang tadi? Lo pengen kita jadian? Gue, sama lu jadian?" kaget Aisyah.


Darwin menganggukkan kepalanya, "Iyalah Aisyah, kan kamu tahu sendiri kalau aku sayang dan cinta sama kamu," ucapnya sambil tersenyum.


"Win, jangan ngada-ngada deh! Gue sama lu gak mungkin pacaran!" tegas Aisyah.


"Kenapa gak mungkin Aisyah? Toh aku kan suka sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku. Emang salah ya kalau aku berharap begitu? Malahan, aku juga maunya kamu nikah sama aku!" ucap Darwin.


Deg


Betapa syoknya Aisyah mendengar apa yang dikatakan Darwin barusan, ia tak menyangka jika Darwin akan berkata nekat seperti itu. Kini dirinya pun diambang kebingungan, seolah tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Aisyah pun berpaling dari wajah pria itu, lalu terlihat menggigit jarinya sendiri sembari berpikir keras.


Tak lama kemudian, sebuah mobil muncul di dekat mereka dan berhenti begitu saja. Sontak Aisyah serta Darwin sama-sama menatap ke arah mobil itu dengan bingung sekaligus penasaran, dan dari mobil itu tampak Kania bersama Damar turun menemui mereka. Ya sepertinya Kania baru selesai melaksanakan kuliahnya, gadis itu terlihat heran melihat Aisyah bersama Darwin.


"Ah cie cie, kalian jadi makin lengket gini sih!" ucap Kania menggoda keduanya.


Aisyah terkejut dengan ucapan adiknya itu, reflek ia menjauh dari Darwin dan berusaha meyakinkan Kania kalau ia dan Darwin tidak ada hubungan apa-apa. Namun semua terlambat, ya karena Kania sudah melihat jelas bagaimana Darwin memegang tangan Aisyah tadi. Akibatnya, Kania pun terus terkekeh seolah-olah menggoda saudaranya itu.


"Apaan sih kamu? Aku gak sengaja aja ketemu Darwin tadi di jalan, terus dia tawarin tumpangan buat aku. Kamu jangan mikir yang enggak-enggak deh!" ucap Kania kesal.


"Masa sih? Gak percaya ah!" kekeh Kania.


Damar yang berada disana pun ikut tertawa mendengar ejekan dari Kania kepada Aisyah, pria itu kini mendekat ke arah Aisyah serta Darwin dan menatap mereka secara bergantian sambil tersenyum menggoda. Seperti apa yang dikatakan Kania tadi, Damar pun juga merasa kalau terjadi sesuatu diantara Aisyah dan Darwin saat ini.


"Iya bener tuh, ini mah kayaknya mereka sengaja deh janjian buat jalan berdua. Benar begitu kan Aisyah?" ucap Damar terkekeh kecil.


"Ish, gak gitu loh kak! Beneran aku sama Darwin ini gak sengaja ketemu, kalau kamu gak percaya tanya aja tuh sama orangnya langsung! Lagian buat apa juga aku janjian sama dia?" kesal Aisyah.


"Halah ngelak mulu kamu, kalau emang beneran kalian janjian juga gapapa kok!" goda Damar.


"Apa sih kak Damar? Tau ah aku males deh sama kalian berdua, padahal emang bener aku gak janjian sama dia kok!" sentak Aisyah.


Karena kesal terus-menerus diledek oleh kedua saudaranya itu, Aisyah pun memilih berbalik dan hendak pergi ke dalam rumahnya meninggalkan mereka. Akan tetapi, Damar dengan cekatan mencekal lengan gadis itu dan menahan Aisyah agar tetap disana. Begitu juga dengan Kania, ya ia pun tak mau Aisyah masuk ke rumahnya.


"Aisyah, mau kemana sih? Masa pacarnya ditinggal gitu aja nih? Kasihan loh!" ucap Damar.


Aisyah melirik ke arah Darwin yang hanya terdiam di sebelahnya tanpa berbicara apapun, Aisyah juga tampak kesal kepada Darwin karena pria itu tidak sama sekali berniat membantunya menghadapi godaan dari Damar maupun Kania. Ya sepertinya Darwin malah senang dengan semua itu, secara dengan begitu artinya Darwin mendapat restu dari kedua saudara Aisyah saat ini.


"Cie cie, tuh buktinya dilihatin mulu kak Darwin nya. Kamu udah deh gausah malu-malu kayak gitu Aisyah, ngaku aja kali sama aku dan kak Damar sekarang!" ucap Kania.


"Nia, kamu jangan bikin aku emosi deh! Lama-lama aku hajar juga nih kamu!" ancam Aisyah.


"Eits eits, kok emosi sih? Udah jangan dibawa emosi gitu, mending Darwin nya kamu ajak masuk aja ke dalam terus buatin minum!" ucap Damar.


"Hah? Tapi kak—"

__ADS_1


"Syah, kasihan loh anak orang disuruh berdiri terus disini! Kamu tega banget sama pacar sendiri, udah ayo kita semua masuk yuk!" sela Damar.


"Iya tuh, ayo kak Darwin masuk juga terus lanjut bicara di dalam sama Aisyah!" sahut Kania.


"Eee iya Kania, makasih. Tapi, emangnya Aisyah bolehin aku buat ikut masuk ke dalam?" ucap Darwin mencoba memastikan.


Aisyah terdiam bingung saat Darwin menatapnya dengan senyuman lebar, ia tak tahu harus menjawab apa saat Darwin bertanya padanya karena gadis itu pun bingung saat ini. kemudian, Damar malah menyelanya lebih dulu dan mengatakan kalau Aisyah pasti mau membiarkan Darwin masuk ke dalam untuk bicara berdua dengannya.




Sementara itu, Marvel menghentikan mobilnya tepat di halaman depan kost milik Marsha. Pria itu kini menatap ke samping dimana Marsha berada, ia tersenyum lalu mengatakan kalau mereka telah sampai di tempat tinggal gadis itu. Ya mereka memang sudah puas berkeliling menikmati waktu berdua, sehingga saat ini akhirnya Marvel mengantar Marsha pulang ke kostnya karena sudah malam.


Sebenarnya Marvel tidak rela berpisah dengan Marsha saat ini, pria itu masih ingin memiliki waktu lebih banyak untuk bisa bersama Marsha. Belum pernah Marvel sebahagia ini saat pergi dengan seorang wanita, semenjak ia putus dengan Aisyah saat mereka sudah hampir menikah. Mungkin saja Marsha adalah pengganti yang tepat bagi Marvel, agar pria itu bisa melupakan Aisyah seutuhnya.


"Vel, makasih ya udah anterin aku. Makasih juga atas traktirannya tadi, aku sampe kenyang banget nih gara-gara kamu!" ucap Marsha lirih.


Marvel tersenyum lebar dan mendekatkan dirinya ke arah Marsha, ia belai rambut Marsha dengan lembut sambil sesekali mengedipkan matanya seolah menggoda gadis itu. Marsha terdiam saja, belum pernah Marsha mendapat perlakuan manis seperti itu dari seorang pria sebelumnya. Selain itu, hanya Marvel lah yang berhasil membuatnya tergoda.


"Iya sama-sama, kalo gitu aku sekalian antar kamu sampai ke kamar yuk! Buat mastiin aja kalau kamu aman gak kenapa-napa," ucap Marvel.


"Okay, ayo aja aku mah! Lagian di kostan ini bebas kok, ya asal tak berbuat macam-macam aja," ucap Marsha sambil tersenyum.


"Gak mungkin lah aku macam-macam sama kamu, Marsha. Percaya aja sama aku ya!" ucap Marvel.


Gadis itu menganggukkan kepalanya disertai senyuman lebar, lalu mereka sama-sama keluar dari mobil tersebut dan melangkah memasuki area kost yang luas itu. Keduanya terus berjalan menyusuri halaman itu, cukup banyak gadis-gadis disana yang mereka temui dan beberapa darinya bahkan memberi siulan penggoda kepada Marsha.


Setibanya di depan kamar kost Marsha, mereka pun menghentikan langkahnya dan saling menatap satu sama lain. Marvel benar-benar tak sanggup jika terus seperti ini, gairah pria itu mencuat deras dan ingin rasanya mengecupi pipi mungil Marsha saat ini. Bahkan jika diizinkan, maka Marvel juga ingin mencium bibir gadis itu.


"Yaudah, aku antar sampai sini aja. Terimakasih ya atas waktu kamu tadi, aku bahagia banget bisa pergi berdua sama wanita cantik seperti kamu!" ucap Marvel sembari mengusap wajah gadisnya.


"I-i-iya Vel, aku juga bahagia kok. Kamu itu orang yang baik dan asyik banget," ucap Marsha.


"Kamu cantik banget sih Marsha, aku kayaknya bakal gak bisa tidur deh malam ini!" puji Marvel.


"Umm, Vel jangan kayak gini ah! Gak enak tahu sama tetangga aku, nanti mereka mikir yang enggak-enggak. Aku takut diusir!" lirih Marsha.


Marvel menyunggingkan senyumnya, "Santai aja kali Marsha, gausah tegang begitu!" ucapnya terkekeh.


Marsha terlihat sangat panik dan terus melirik ke kanan serta kirinya untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihat kejadian itu, lalu tiba-tiba Marsha menggenggam tangan Marvel dan menariknya masuk ke dalam kamarnya. Marvel cukup terkejut dengan tindakan Marsha, tapi belum sempat Marvel bicara Marsha sudah lebih dulu mengunci pintunya.




Saat ini berganti Marsha lah yang mengungkung Marvel di dalam kamarnya, ia letakkan dua tangannya di dekat tubuh lelaki itu dan menatapnya dengan serius serta penuh kesal. Marvel hanya tersenyum melihatnya, pria itu senang dengan sikap Marsha yang seperti ini karena menurutnya Marsha terlihat lebih cantik di matanya.


"Vel, kamu tuh emang sengaja ya tadi mau bikin aku dicap buruk di depan mata teman-teman kost aku? Dasar nyebelin kamu mah, gak tahu tempat banget sih!" ucap Marsha cemberut.


"Ups, maaf ya Marsha! Tapi aku tadi kan cuma pengen bicara sama kamu, lah ini kamu malah bawa aku ke kamar kamu dan bertindak kayak gini. Apa itu gak menimbulkan rasa curiga ke teman-teman kost kamu?" ucap Marvel terkekeh.


"Ih a-aku kan cuma—"


Marsha terkejut ketika tiba-tiba Marvel meraih dua tangannya dan ia cengkram dengan kuat, Marsha pun tidak bisa melanjutkan ucapannya dan kini menatap heran ke wajah pria di depannya. Marvel menggenggam erat telapak tangan Marsha, lalu mendekap kuat sembari menatap tajam ke arahnya dan memberikan godaan pada gadis itu.


"Vel, kamu mau ngapain? Tadi bilangnya gak pengen macam-macam," tanya Marsha gugup.


Marvel hanya diam tak menjawab, ia terus tatap wajah gadis di dekapannya dengan senyuman yang terukir. Jantung Marsha berdegup kencang saat ini, belum pernah Marsha berhadapan sedekat itu dengan seorang lelaki. Terlebih, Marvel adalah lelaki yang baru dikenal olehnya tetapi saat ini Marvel sudah berani melakukan itu.


"Kalau aku mau macam-macam sama kamu, daritadi aku udah lakuin itu kali Marsha. Aku ini cuma mau bikin kamu gugup aja," kekeh Marvel.


"Ish, kamu ngeselin banget sih!" Marsha terlihat kesal dan langsung mendorong tubuh lelaki itu.

__ADS_1


Marvel terkejut dan sampai terhuyung ke belakang dibuatnya, punggungnya membentur pintu akibat dorongan dari Marsha meskipun tidak terlalu keras. Sedangkan Marsha sendiri tampak berbalik serta melipat kedua tangannya, gadis itu benar-benar malu atas tindakan Marvel tadi yang membuatnya tersipu dan gugup sendiri.


"Marsha, aku minta maaf ya! Kamu jangan marah gitu dong, nanti manisnya berkurang loh! Udah bagus-bagus kamu begini, kalau keseringan marah nanti malah gak manis lagi!" cibir Marvel.


"Huft, udah udah cukup! Kamu duduk dulu gih, aku buatin minuman ya!" ucap Marsha kesal.


"Wah boleh tuh, bikin minumannya yang manis dan segar ya! Kalau bisa sih yang ada esnya, soalnya seret nih tenggorokan," ucap Marvel.


"Hm, iya deh iya." Marsha mendengus pasrah.


Marvel pun sudah terduduk di sofa dan bersandar dengan kedua tangan ia rentangkan, pria itu juga menaruh satu kaki di atas kaki lainnya sambil tersenyum menatap Marsha. Kemudian, Marsha berbalik dan pergi ke belakang untuk membuatkan minuman itu.


Tak lama kemudian, Marsha kembali menemui Marvel dengan membawakan segelas minuman sesuai pesanan pria itu. Sontak Marvel tersenyum ke arahnya, ia benar-benar senang dengan sikap Marsha yang begitu baik padanya. Marsha pun meletakkan gelas minuman itu di atas meja, lalu mempersilahkan Marvel meminumnya.


"Nih kamu minum dulu! Sebentar ya, aku mau ke kamar mandi sekalian ganti baju? Gak enak juga begini terus," ucap Marsha.


"Okay." Marvel mengangguk setuju dan membiarkan Marsha pergi begitu saja.




Di lain tempat, Damar muncul di kantornya menemui Aura yang masih setia bekerja mengurus semuanya disana. Damar pun masuk ke dalam ruangan gadis itu, lalu mengunci pintu dan memastikan semua aman-aman saja. Setelahnya, Damar bergegas menghampiri Aura dan menggodanya dengan cara membelai wajah serta rambut wanita itu.


Aura yang tengah fokus mengutak-atik laptopnya dibuat terkejut dengan kehadiran sang bos disana, sontak ia menoleh ke arahnya lalu terlihat heran karena Damar malah mendekatinya. Kini Damar berada tepat di dekatnya, meletakkan satu tangannya untuk mengurung wanita itu dan mengecup wajahnya dari posisi bungkuk.


"Hai sayang! Kamu malam-malam begini kok masih kerja aja sih? Kita pulang yuk ke apartemen aku, kebetulan aku ada sesuatu yang mau dikasih lihat ke kamu!" ucap Damar membujuknya.


"Umm, iya mas soalnya ini nanggung kok. Aku harus selesaikan semuanya sebelum besok," ucap Aura.


"Sssttt, kamu gausah mikirin itu! Kamu kan calon istri aku sayang, jadi kamu sebentar lagi juga bakal jadi bos disini!" ucap Damar.


"Ta-tapi mas—"


Belum sempat Aura selesai bicara, Damar sudah lebih dulu merangkulnya dan mematikan laptop milik wanita itu serta memintanya berdiri lalu ikut bersamanya. Aura tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah, apalagi tubuhnya didekap erat saat ini oleh lelaki itu sehingga tidak ada yang bisa Aura lakukan karena tindakan Damar.


"Mas, sebentar mas! Aku harus beresin barang-barang aku dulu sebelum pulang, kamu tunggu aja di luar ya!" pinta Aura.


"Gak perlu keluar, saya tunggu disini deh. Lagian saya kangen banget sama kamu, saya gak bisa jauh-jauh dari kamu! Saya pengen selalu ada di dekat kamu," ucap Damar menggodanya.


Aura tersipu dan memalingkan wajahnya, ia sungguh gugup setiap kali Damar memujinya atau berusaha merayunya. Aura pun mengambil tas serta merapihkan barang-barangnya yang tertinggal di atas meja, termasuk ponsel miliknya. Sedangkan Damar setia menunggu di dekatnya dan terus memandangi wajah wanita itu, sepertinya Damar memang sangat mengagumi calon istrinya.


"Udah beres kan? Ayo sayang kita pulang, aku udah gak sabar nih!" ucap Damar.


Aura menoleh ke arah kekasihnya dan mengangguk kecil sebagai jawaban, ia lalu menghampiri Damar disana dan bersiap untuk pulang. Tanpa berpikir panjang lagi, Damar langsung merangkul serta melangkah bersama keluar dari ruangan itu. Pria itu sudah tidak sabar ingin berdua bersama Aura di apartemennya nanti dan mengulang malam itu.


Singkat cerita, mereka telah berada di dalam mobil dan tengah menuju apartemen milik Damar yang sudah menjadi tempat tinggal keduanya. Namun, tiba-tiba saja Damar menghentikan mobilnya di sebuah jalan yang gelap dan sepi. Sontak Aura merasa terkejut, apalagi di sekitar sana sama sekali tidak ada kendaraan atau siapapun.


"Mas, kenapa kita berhenti disini? A-aku takut mas, kalau ada begal atau orang jahat yang lain gimana?" tanya Aura gugup.


"Tenang sayang, aku udah gak tahan nih! Kita main cepat dulu ya disini!" jawab Damar.


"Apa??" Aura tersentak mendengarnya, ia tampak bingung dan tak tahu harus apa begitu Damar melepas pakaiannya dan meraih tangannya.


Tubuh Aura pun diletakkan di atas pangkuan lelaki itu, mereka lalu saling melahap bibir satu sama lain dengan penuh gairah. Kedua tangan Damar bergerak melepas pakaian milik wanitanya, sampai Aura benar-benar polos tanpa tertutupi apapun. Tidak ada yang bisa dilakukan Aura saat ini, karena Damar tak mengizinkan dirinya bergerak terlalu banyak.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...


...Siapa yang suka main di mobil?😋...

__ADS_1


__ADS_2