Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Cemburu


__ADS_3

Aku benar-benar bingung saat ini, apakah aku harus menjelaskan semuanya pada kak Damar kalau sekarang aku dan Kania sedang bertukar peran? Jujur saja aku tak ingin kak Damar tahu, karena pasti dia tidak setuju dengan rencana Kania ini dan dia akan memaksa kami untuk menyudahi semuanya lalu kembali menjadi diri masing-masing.


"Kamu pasti masih bertukar peran kan sama adik kembar kamu itu?" tiba-tiba, kak Damar menyela ucapanku dan menebak seperti itu.


Tentu saja aku terkejut mendengarnya, "Darimana kakak tahu kalau aku dan Kania bertukar peran?" tanyaku padanya.


"Hahaha, kamu gausah kaget gitu Aisyah. Kania udah ceritain semuanya ke aku dari lama, jadi ya aku pasti tahu dong apa yang terjadi sama kalian berdua," ucapnya disertai kekehan kecil.


"Tapi kak, kenapa kakak gak larang Kania kalau kakak udah tahu soal itu?" tanyaku heran.


Kulihat kak Damar tersenyum menatapku, lalu dia beranjak dari kursi dan menghampiriku yang masih bersandar kali ini. Dia tepat berada di dekatku, satu tanganku bahkan sudah digenggam olehnya dan diusap dengan lembut. Aku tak mengerti, apa sebenarnya yang dimaksud oleh kakak sepupuku ini dan mengapa dia malah begini padaku?


"Kakak ngapain sih?" langsung saja aku bertanya padanya, ya tentu karena aku penasaran.


"Kamu itu gimana sih, Syah? Kania bilang ke aku kalau dia ngelakuin ini demi kebaikan kamu, jadi ya aku mana bisa larang dia?" ucapnya santai.


"Ya seenggaknya kan kakak bisa nasehatin dia, biar dia gak ngelakuin itu," ucapku.


"Itu sudah keputusan dia, Aisyah. Aku bisa apa? Lagipula, kamu sendiri kenapa setuju dengan usul Kania?" ujarnya membalikkan pertanyaanku.


"Umm i-itu..."


"Udah, kita gausah bahas soal itu dulu! Aku kesini itu mau bicara sesuatu sama kamu, ini tentang karir kamu sebagai model iklan di management aku," ucap kak Damar menyela.


"Hah? Karir aku? Bukannya karir aku udah selesai ya kak sejak aku dibully se-Indonesia?" tanyaku heran.


"Itu memang benar, tapi sekarang kamu kan udah jadi Kania, bukan Aisyah. Jadi, kamu masih tetap ada di management aku," jawabnya.


Deg

__ADS_1


Aku terkejut, ya siapa yang tidak terkejut jika kak Damar berkata seperti itu padaku saat ini? Aku sendiri tak menyangka dengan pola pikir kak Damar, apakah maksudnya dia ingin menjadikan aku model dengan nama Kania? Oh tentu ini tidak benar, bagaimana bisa aku membiarkan Kania menjadi populer padahal akulah yang bekerja keras.


"Maksud kakak apa sih? Kakak mau suruh aku jadi model, tapi pakai nama Kania gitu?" tanyaku.


"Ya iya Aisyah, apa kamu gak mau pakai saran dari aku itu? Ini semua demi kelangsungan karir kamu loh Aisyah, please mau ya!" jawabnya sambil mencoba membujukku.


Aku menggeleng dengan cepat, "Enggak kak, itu bukan untuk karir aku. Tapi, untuk kebaikan management kakak sendiri. Ya kan?" ucapku.


"Itu juga termasuk, Aisyah. Tapi aku lebih mentingin kamu kok, karena kamu dan Kania itu kan titipan dari almarhum Morgan. Disini aku coba untuk jadi pengganti Morgan bagi kalian berdua," ucapnya.


"Tetep aku gak mau, kak. Orang-orang nanti jadi lebih kenal sama Kania dong dibanding aku, padahal aku yang usaha loh!" ucapku kekeuh.


"Jadi kamu gak mau nama Kania terkenal karena kerja keras kamu? Sayang banget, aku kira kamu udah berubah loh Aisyah. Kamu lupa ya kalau Kania rela korbanin dirinya dibully sama orang-orang, semua demi kamu," ucap kak Damar.


Deg


Air mata pun tiba-tiba menetes membasahi wajahku, aku menyesal telah berbicara seperti tadi di hadapan kak Damar. Sebagai seorang kakak, harusnya aku tak perlu cemburu seperti itu pada Kania. Lagipula, Kania sekarang sudah dengan sesuka hatinya mau membantuku untuk menghindar dari bully-an orang-orang yang mengetahui video skandal ku itu.


"I-i-iya kak, aku minta maaf kalau tadi aku salah bicara. Kamu benar, harusnya aku gak perlu ngerasa iri kalau Kania jadi terkenal karena kerja keras aku. Justru ini harus aku jadikan sebagai balas budi ke dia yang selalu tolong aku," ucapku mantap.


"Nah itu benar Aisyah, pemikiran kamu tuh harus begini supaya aku percaya kalau kamu memang kakaknya Kania!" ucap kak Damar.


Aku mengangguk-angguk paham, "Iya kak, kalo gitu aku mau deh terima tawaran kakak. Aku akan jadi model dengan memakai nama Kania, tapi kiranya kapan itu akan dimulai kak?" ucapku lirih.


"Nanti aku akan kabari lebih lanjut, dan satu lagi yang ingin aku beritahu ke kamu. Aku sudah dapat pasangan untuk kamu, jadi nanti kamu akan foto berdua dengan dia," ucap kak Damar.


"Hah? Siapa kak orangnya? Laki-laki ya?" tanyaku sangat penasaran.


"Iya dong, kan pasangan. Nanti begitu ada pihak yang ingin memakai jasa kalian, aku pasti kabari kamu dengan cepat Aisyah!" jawab kak Damar.

__ADS_1


"Oke deh, aku manut aja sama kakak. Eh ya omong-omong, kakak mau minum apa?" ucapku.


Dia menggeleng kali ini, "Gausah, udah terlambat juga kamu tawarin nya. Daritadi malah kamu diam aja, sekarang mah aku udah mau pulang," ucapnya disertai tawa kecil.


"Yah maaf ya kak? Lagian kenapa buru-buru sih? Kania juga belum pulang kan," ucapku.


"Gapapa, aku kan maunya ketemu kamu aja. Nanti kapan-kapan baru deh aku kesini lagi, terus kita bisa ngobrol bertiga," ucapnya sambil tersenyum.


"Okay." aku mengangguk saja dibuatnya.


Lalu setelah itu, kak Damar pun beranjak dari sofa dan berniat pergi. Aku juga memutuskan ikut mengantar kakak sepupuku itu sampai ke depan, meski saat ini aku sedang bersantai menikmati cemilan dan tontonan ku. Ya kami berdua melangkah menuju pintu, tapi tanpa diduga Marvel malah berada disana kali ini begitu aku membuka pintu bersama kak Damar.


"Marvel??" lirihku. Aku benar-benar tak menyangka, untuk apa Marvel datang ke rumahku?


Bahkan bukan hanya diriku, melainkan juga kak Damar yang ikut terkejut saat melihat keberadaan Marvel disana. Dia pun tampak tak menyukai kehadiran Marvel, karena yang dia tahu Marvel sudah sangat menyakiti perasaanku. Apalagi pernikahan kami sudah di depan mata, namun tiba-tiba saja Marvel membatalkan semuanya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku yang amat hancur.


"Mau apa lagi kamu datang kesini? Belum cukup semua yang udah kamu lakuin ke aku, ha? Kamu udah nyakitin aku, Marvel!" ucapku dengan ketus.


"Syah, dengerin aku dulu! Aku kesini gak ada niatan untuk nyakitin kamu lagi kok," ucap Marvel.


"Cukup ya Marvel, apapun itu alasan kamu tetap aja aku gak mau lihat muka kamu lagi di depan aku!" ucapku tegas.


Marvel terdiam, sedangkan tanpa diduga kak Damar justru melangkah maju mendekati Marvel kali ini. Aku pun tampak kebingungan melihat tatapan kak Damar yang menjurus ke arah Marvel, entah kenapa perasaanku kini merasa was-was dan khawatir kalau kak Damar akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Marvel.


"Heh! Lo tuh gak tahu malu banget ya jadi cowok?" ucap kak Damar sembari menunjuk wajah Marvel menggunakan telunjuknya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2