
Kania dan Aisyah telah tiba di rumah mereka setelah menyelesaikan konflik dengan Daniel di kostnya tadi. Kedua gadis itu langsung masuk ke dalam, dan kini duduk bersamaan di sofa ruang tamu sambil saling memandang. Kania diam saja kali ini, seolah merasa bersalah karena sudah berbuat hal yang tidak benar bersama Daniel tadi.
Kania juga telah menceritakan semuanya pada Aisyah, ia mengaku dan jujur bahwa ia dan Daniel tadi sempat melakukan hal yang tak sepantasnya mereka lakukan. Namun, Kania juga mengatakan kalau dirinya dan Daniel berhasil menahan diri untuk tidak sampai pada tahap pencelupan. Sehingga Kania tentunya masih perawan, dan itu dimaklumi oleh Aisyah yang memahami kejadian tersebut.
"Syah, aku minta maaf ya? Aku gak bisa jaga diri aku sendiri dari Alex, sampai-sampai dia dengan mudah jebak aku tadi," ucap Kania lirih.
"Gapapa, lu gausah minta maaf. Ini bukan salah lu tahu, tenang aja ya!" ucap Aisyah.
"Tapi Syah, aku sekarang udah kotor. Aku ini wanita kotor, aku gak suci lagi! Kalau kak Morgan masih hidup, pasti dia kecewa banget karena adiknya gak bisa jaga diri!" ucap Kania.
Aisyah menggeleng perlahan, "Gak Nia, lu gak boleh bicara begitu! Tubuh lu mungkin udah di jamah sama Daniel, tapi lu masih suci kok. Lagipun, semua itu terjadi juga bukan karena keinginan lu. Udah ya lu jangan sedih terus!" bujuknya.
"Gimana aku gak sedih, aku tuh yakin banget di atas sana kak Morgan pasti benci banget sama aku!" ucap Kania terisak.
Aisyah merasa kasihan pada adiknya itu, sontak saja ia langsung mendekap tubuh Kania dengan erat dan mengusapnya lembut bermaksud menenangkan gadis itu. Aisyah tentu tak tega melihat Kania terus bersedih, biar bagaimanapun Kania adalah saudara kembarnya yang sangat ia sayangi dan ia tidak mau Kania terus-terusan mengalami masalah.
"Sabar ya Nia! Lu mungkin bisa buka hati lu buat Daniel, supaya lu gak merasa kotor. Dia kan cowok pertama yang sentuh tubuh lu, jadi lu kasih aja dia kesempatan buat milikin lu! Gimana, lu setuju gak sama usul gue?" ucap Aisyah.
"Umm, Daniel sih waktu itu juga sempat tembak aku Syah. Ya tapi sampai sekarang aku itu cuma anggap dia teman, gak lebih. Gimana bisa aku jadian sama dia coba?" ucap Kania.
"Ih ya gampang aja dong Kania, lu perlahan coba buka hati lu buat dia! Lu deketin terus tuh dia, tempel aja jangan kasih kendor! Gue yakin, lambat laun lu bisa jatuh cinta sama dia! Itu yang dulu Marvel lakuin ke gue," saran Aisyah.
"Ohh, cie cie kamu masih suka ya sama kak Marvel! Namanya disebut-sebut mulu," goda Kania.
"Haish, mulai deh. Lu gausah kayak gitu deh Nia, nanti gue kesel terus hukum lu nih!" geram Aisyah sembari mencubit hidung adiknya.
"Ahaha, iya ampun Syah ampun!" kekeh Kania.
Aisyah tak berhenti sampai disitu saja, ia kembali menyerang Kania dengan gelitikan serta cubitan di area pinggangnya sampai membuat Kania tak bisa berhenti tertawa. Keduanya terus bercanda ria disana, sehingga tak sadar jika ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari jarak tak jauh.
"Ehem ehem..."
Sontak Kania serta Aisyah sama-sama terdiam kali ini, mereka kompak menoleh ke asal suara dan langsung terkejut bukan main. Disana sudah berdiri sosok Damar, yang merupakan kakak sepupu mereka. Kedua gadis itu pun berdiri, menemui Damar sambil tersenyum lebar. Damar kini berhenti tepat di hadapan mereka, merangkul keduanya sembari mencubit hidung mereka.
"Ih ih sakit kak! Apaan sih datang-datang main cubit orang aja?" protes Kania.
"Iya ish, emangnya hidung kita ini mainan apa yang bisa sembarangan dicubit kayak gitu? Dasar nyebelin!" sahut Aisyah.
Damar tergelak dibuatnya, "Ahaha, iya iya maaf. Udah yuk kita duduk!" ucapnya.
Kania dan Aisyah mengangguk saja menuruti ucapan sepupu mereka itu, ketiganya pun duduk berdampingan dengan Damar yang berada di tengah-tengah antara Kania serta Aisyah. Pria itu juga terus merangkul adik-adiknya, tampak senyum terpampang di wajahnya menandakan ia sedang bahagia saat ini.
Tentu saja kedua gadis itu merasa bingung, mereka tak mengerti apa yang membuat Damar sampai sebahagia itu. Pasalnya Damar tidak berhenti tersenyum, yang pastinya pria itu tengah bahagia dan memiliki kabar baik untuk mereka. Akhirnya Aisyah pun menatapnya, lalu melontarkan pertanyaan pada kakak sepupunya itu.
"Kak, ada apa sih? Kok daritadi kamu ketawa terus kayak gitu?" tanya Aisyah penasaran.
"Eee ya aku emang lagi bahagia, soalnya tadi kan aku abis kasih hukuman yang setimpal buat si Alex biadab itu. Suruh siapa dia berani main-main sama sepupu kesayangan aku ini?" jawab Damar.
"Hah? Kakak serius? Emang kakak kasih hukuman apa ke Alex, parah gak?" tanya Kania terkejut.
Damar senyum-senyum saja memandangi wajah Kania, membuat gadis itu terus menatap heran dan sangat penasaran menantikan jawaban Damar.
__ADS_1
•
•
Keesokan harinya, Kania yang hendak pergi ke kampus dibuat terkejut dengan kedatangan Daniel di depan rumahnya. Ya pria itu sudah menunggu kehadirannya sedari tadi dan berniat mengantar Kania ke kampus, tentu saja Kania tampak heran plus bingung mengapa Daniel ada disana. Langsung saja Kania mendekatinya, lalu terlihat malu-malu saat berdekatan dengan Daniel.
Melihat Kania keluar dari rumahnya, Daniel pun sontak turun dari motornya untuk menghampiri Kania. Suasana canggung menghiasi keduanya, mengingat momen panas diantara mereka kemarin. Sungguh Daniel juga bingung harus mengatakan apa sebagai kalimat permulaan, karena ia pun khawatir Kania akan membencinya setelah kejadian kemarin.
"Hai Kania, selamat pagi!" Daniel menyapa gadis itu, melambaikan tangannya dan tersenyum berharap Kania mau membalasnya.
"I-i-iya, hai juga! Ada apa kamu kesini? Aku baru aja mau berangkat ke kampus," lirih Kania.
"Eee justru itu Kania, aku mau jemput kamu supaya kita berangkat ke kampus barengan. Kamu mau kan, hm?" ujar Daniel penuh harap.
"Berangkat bareng? Duh, gimana ya? Aku udah mau diantar sama kak Damar soalnya," ucap Kania.
Raut wajah Daniel langsung berubah, kekecewaan terlihat di wajahnya ketika mendengar jawaban dari Kania tadi. Padahal ia sudah bangun lebih cepat demi bisa mengantar Kania ke kampus, tetapi ternyata gadis itu malah akan diantar oleh Damar alias kakak sepupunya.
"Oh gitu ya? Oke deh gapapa," gugup Daniel.
"Yah kamu marah ya? Maaf Niel, aku gak maksud bikin kamu marah!" ucap Kania merasa bersalah.
"Cie cie cie..."
Tiba-tiba saja, Aisyah serta Damar muncul dari dalam sana dan menemui mereka berdua di depan sembari menggodanya. Sontak Kania terkejut, gadis itu berbalik lalu tampak tersipu begitu melihat dua saudaranya datang mendekat.
"Cie Nia, lu udah mulai buka hati ya buat Daniel? Ah bagus deh, gitu dong baru cakep!" goda Aisyah.
"Iya Nia, kakak juga dukung kamu kok!" sahut Damar.
"Eh kenapa gak bisa? Kamu berangkat aja kali bareng sama Daniel!" ucap Damar.
Kania mengernyitkan dahinya, "Loh kok gitu sih kak? Bukannya tadi kakak yang mau anterin aku, ya?" tanyanya terheran-heran.
"Ya emang, itu kan kalau kamu gak ada yang antar. Nah sekarang kan udah ada Daniel, ya kamu bareng aja sama dia sayang!" jawab Damar.
"Ih tapi kak—"
"Udah deh Nia, gausah malu-malu gitu! Lu bareng aja sama Daniel sana, jadinya kak Damar gak perlu bolak-balik nanti buat antar gue sama lu!" sela Aisyah.
"Hadeh, dasar kamu!" cibir Kania.
Aisyah terkekeh mendengarnya, "Yaudah, titip adik gue ya Niel? Awas loh jangan diapa-apain lagi dia!" ucapnya pada Daniel.
"I-i-iya Syah, siap!" ucap Daniel gugup.
Setelahnya, Aisyah pun mengajak Damar untuk segera pergi dari sana. Damar menurut saja, lalu bergegas melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan sana. Ya keduanya langsung pergi kali ini, meninggalkan Kania berdua bersama Daniel disana yang masih tampak saling canggung.
Daniel kini menghampiri Kania, berusaha menguatkan dirinya dari perasaan gugup untuk menetralkan nafasnya. Daniel berharap Kania mau pergi bersamanya, karena kali ini gadis itu tak memiliki pilihan lain. Ya Daniel yakin ia akan bisa mengantarkan Kania, dengan begitu mungkin ia dapat memiliki banyak waktu bersama gadis itu.
Kania yang tersipu akhirnya mengiyakan ajakan pria itu, perlahan ia melangkah bersama Daniel mendekati motornya. Daniel tampak memberikan helm untuk Kania, yang langsung dipakai olehnya. Setelah itu, Daniel dan Kania sama-sama naik ke atas motor bersiap untuk melaju pergi.
__ADS_1
"Pegangan biar gak jatuh!" pinta Daniel yang diangguki oleh Kania sambil tersenyum.
Gadis itu menggerakkan tangannya, memegang ujung pinggang Daniel dan mencengkeramnya tipis sesuai perkataan pria itu tadi. Barulah Daniel mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang, agar tak membuat Kania merasa ketakutan.
"Huft, rasanya gugup banget kalo aku bareng Daniel kayak gini! Apalagi keinget sama kejadian kemarin," gumam Kania di dalam hatinya.
•
•
Sementara itu, Aisyah tiba di kampusnya bersama Damar. Gadis itu langsung pamit pada Damar dan hendak turun dari mobilnya, Damar hanya mengangguk memberi izin serta membiarkan Aisyah turun karena memang mereka sudah sampai. Tanpa basa-basi lagi, kini Aisyah melangkahkan kakinya keluar dari mobil tersebut.
Namun, baru saja ia turun tanpa diduga sosok Marvel justru sudah berdiri di depan kampusnya seolah sengaja menunggu kehadiran gadis itu. Aisyah sontak menghentikan langkahnya, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam sana karena malas bertemu dengan Marvel.
Hal itu sontak membuat Damar yang masih ada di dalam mobil tampak kebingungan, ia heran mengapa Aisyah justru berhenti di dekat mobilnya dan tidak jadi masuk ke kampus. Damar pun menatap sekeliling, lalu menemukan sosok Marvel yang berdiri tak jauh dari sana. Akhirnya Damar memilih turun menemui Aisyah, untuk membantu gadis itu dari orang bernama Marvel.
"Syah, kamu kenapa gak jadi masuk? Takut ya sama orang itu, hm?" tanya Damar sambil mendekati Aisyah dan menyentuh pundaknya.
Aisyah terkejut dibuatnya, "Eh, kak Damar? I-i-iya nih kak, a-aku males banget ketemu dia atau bicara sama dia lagi. Kayaknya aku gak jadi ngampus deh kak, kita foto-foto aja yuk!" ucapnya gugup.
Damar mengernyitkan dahinya bingung dengan permintaan Aisyah, bagaimana bisa ia mengizinkan Aisyah untuk tidak ke kampus dan malah berfoto sebagai model. Selain karena tidak ada jadwal foto, Damar juga tak mau jika Aisyah bolos dari kampus dan malah akan kehilangan pelajaran.
"Enggak enggak, kamu gak boleh bolos sayang! Kamu harus terus kuliah, jangan karena Marvel kamu malah jadi suka bolos begini! Udah ayo aku anterin kamu masuk ya!" ucap Damar tegas.
"Yah kak, aku males banget ketemu dia. Aku pengen foto-foto aja deh daripada ngampus," rengek Aisyah.
"Syah, kamu gausah ngeyel deh! Kamu harus kuliah sampai lulus dan jadi sarjana, ingat kan sama permintaan kakak kamu terakhir kali!" ujar Damar.
"Iya aku ingat, yaudah deh aku mau ke kampus. Kak Damar jangan marah-marah dong!" ucap Aisyah.
Damar tersenyum dan merangkul sepupunya itu, "Gitu dong, ayo aku antar kesana sampai kamu aman!" ucapnya menenangkan.
Aisyah mengangguk setuju, perlahan keduanya mulai melangkah maju masuk ke kampus itu. Aisyah tampak memegang erat lengan Damar dan bersembunyi di balik tubuh pria itu, membuat sang empu terlihat risih tetapi tak mampu melakukan apa-apa karena ia tak ingin Aisyah marah.
Saat keduanya dekat dengan Marvel, tampak Aisyah terus menyembunyikan dirinya berharap agar Marvel tak melihatnya. Namun, entah kebetulan atau apa Marvel justru pas sekali menoleh ke arah mereka dan membuat keberadaan mereka diketahui olehnya. Marvel pun tersenyum lebar, karena ia tahu Aisyah lah yang sedang bersama Damar.
"Aisyah!" langsung saja Marvel menyapa gadis itu, sehingga mau tak mau Aisyah menghentikan langkahnya begitupun dengan Damar.
Kini Marvel mendekat ke arah mereka, lagi-lagi jantung Aisyah berdetak sangat kencang dan rasa takut terus menyelimuti dirinya karena ia tak ingin berdekatan kembali dengan Marvel. Tapi tanpa bisa dihindari, Marvel berhasil berdiri tepat di hadapan Aisyah serta Damar saat ini.
"Hai Syah! Akhirnya kamu datang juga, aku udah tungguin loh daritadi!" sapa Marvel.
"Ngapain lagi sih lu temuin gue? Gue udah bilang, hubungan diantara kita itu gak ada lagi dan semua tentang Kita udah usai. Lagian lu juga dah punya Nazla kan?" sentak Aisyah.
"Tenang Syah, kamu sabar dulu! Aku ini mau minta maaf sama kamu, beneran aku serius Syah! Aku nyesel udah lakuin itu ke kamu," ucap Marvel.
"Cih, gue udah gak perduli lagi lu mau ngomong apa Vel! Sekarang ini hidup gue udah tenang, jadi lu mending jauh-jauh deh dan jangan pernah muncul lagi di hidup gue!" kesal Aisyah.
"Syah, please Syah kasih aku satu kesempatan lagi!" bujuk Marvel.
Damar langsung sigap menghalangi niat Marvel yang ingin mendekati Aisyah, pria itu tak mau jika Marvel terus saja memaksa Aisyah saat ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...