
Damar, Kania dan Aisyah pun tiba di kediaman Kania serta Aisyah. Tanpa banyak berpikir lagi, Aisyah langsung turun dari mobil itu dan melangkah pergi meninggalkan saudaranya dengan cepat. Ya sepertinya Aisyah masih kesal saat ini, karena Damar menghalangi niatnya yang ingin pergi mencari Nazla dan membalaskan dendamnya.
Kania pun tampak kasihan melihat saudaranya pergi dengan perasaan kesal itu, ia juga ikut turun dari mobil dan berniat mengejar Aisyah. Akan tetapi, dengan cepat Damar menahan tangannya lalu melarang gadis itu untuk pergi. Kania tidak bisa apa-apa, karena tenaganya kalah jika dibandingkan dengan Damar yang seorang lelaki.
"Apa sih kak? Kakak jangan halangi aku dong, aku mau bujuk Aisyah biar dia gak marah lagi!" pinta Kania sambil coba berontak.
Damar menggeleng perlahan, "Gak Nia, kamu biarin aja dia sendirian dulu sekarang! Mending kamu ikut aku yuk, ada yang mau aku bicarakan sama kamu Nia!" ucapnya sambil tersenyum.
Kania pun mengernyitkan dahinya, "Hah? Kakak mau bicara apa?" tanyanya penasaran.
"Ada deh, makanya ayo kamu ikut aku! Biarin aja Aisyah tenangin dirinya disini, siapa tahu nanti dia bisa pulih kan!" ajak Damar.
"Tapi kak, aku khawatir sama Aisyah. Kalau dia kenapa-napa disini gimana?" ucap Kania panik.
"Nia, kamu tenang ya! Aku udah minta anak buah aku buat jagain Aisyah disini, jadi kamu gak perlu khawatir lagi sama dia! Lagipun, aku cuma pengen ajak kamu pergi sebentar kok!" bujuk Damar.
"Umm..."
Kania tampak berpikir kali ini, gadis itu terus mengetukkan jarinya ke dagu seperti kebanyakan orang saat sedang memikirkan sesuatu. Namun, Damar yang sudah tidak sabar langsung saja menarik paksa Kania dan membawanya kembali ke dalam mobil untuk diajak pergi.
Tak ada penolakan atau perlawanan dari Kania saat Damar membawanya secara paksa, sebab gadis itu juga sadar kalau dirinya tidak mungkin bisa meladeni kekuatan sang kakak. Kini mereka pun sudah berada di dalam mobil itu kembali, dan Kania terlihat sangat penasaran apa yang hendak Damar lakukan padanya kali ini.
Berkali-kali Kania menanyakan itu pada Damar, namun sepertinya pria itu tak ingin memberitahu apa-apa padanya. Justru kini Damar menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk pergi, sehingga Kania hanya bisa cemberut sembari memalingkan wajahnya. Meski ia tidak senang, tetapi ia hanya bisa pasrah menunggu kemana Damar ingin membawanya pergi.
Disaat Damar hendak melajukan mobilnya, tanpa diduga sebuah motor tiba dan berhenti tepat di depan mobil itu seolah menghalangi niat Damar yang ingin pergi dari sana. Damar sontak menggeram kesal, terlebih ketika sosok pemotor di depan sana membuka helmnya dan turun dari motor yang dia tumpangi sambil menunjukkan wajahnya.
"Alex??" lirih Kania saat mengetahui siapa sosok pria yang menghalangi jalannya itu.
"Sialan tuh anak! Di bebasin bukannya berubah malah mau cari gara-gara lagi, kayaknya dia emang harus dihabisin deh!" geram Damar.
"Kak jangan!" Kania langsung menahan Damar yang hendak turun dan menghabisi Alex.
"Kenapa sayang? Kamu masih perduli sama dia? Lupa kamu kalau dia itu yang udah taruh obat tidur di minuman kamu tempo hari, ha? Hampir aja kamu kehilangan kesucian kamu Nia!" kesal Damar.
Kania terdiam saat ini, memang benar apa yang dikatakan Damar tadi mengenai sosok Alex.
"Udah ya sayang, lepasin tangan aku! Biarin aku turun dan kasih laki-laki gak tahu diri itu pelajaran, karena aku kesel banget sama dia!" ucap Damar.
"Ta-tapi kak..."
Ucapan Kania tak diperdulikan oleh Damar, ya lelaki itu berhasil menyingkirkan tangan Kania dan lalu bergegas turun dari mobilnya untuk segera menemui Alex di luar sana. Kania benar-benar takut saat ini, ia tentu tak mau jika sampai terjadi keributan disana antara Damar dan juga Alex. Apalagi, kedua lelaki itu merupakan sosok yang ia sayangi.
•
•
Damar kini turun menemui Alex dan meminta lelaki itu untuk berhadapan dengannya, ya sepertinya Damar sangat emosi sampai terlihat kedua tangannya sudah mengepal kuat disertai urat pada tubuhnya yang bermunculan. Damar sulit untuk bisa meredakan emosinya, sebab ia ingat kalau Alex adalah orang yang ingin mencelakai adiknya.
Alex sendiri melangkah ke dekat Damar sesuai permintaan pria itu, tampak juga wajahnya begitu serius dan tak ada rasa takut sedikitpun. Alex sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk menemui Kania dan membereskan masalahnya dengan gadis itu, karena ia sangat mencintai Kania dan tidak mau jika harus kehilangannya lagi.
__ADS_1
"Bang, sorry gue gak bermaksud untuk—"
"Halah diem lu! Ayo kita selesaikan semuanya secara jantan sekarang, gue bakal abisin lu pakai tangan gue sendiri!" Damar langsung menyela dan mengajak Alex bertarung dengannya.
Sontak Alex bergegas menggelengkan kepalanya, "Gak bang, bukan itu yang gue mau. Gue ini pengen bicara baik-baik sama Kania, karena gue nyesel udah pernah lakuin itu ke dia. Please bang, bolehin gue buat ketemu Kania!" ucapnya memohon.
"Cih, lu kira gue bodoh apa? Gue gak akan semudah itu buat percaya sama orang kayak lu!" sentak Damar.
"Kali ini gue serius bang, gue benar-benar pengen minta maaf sama Kania sekarang!" bujuk Alex.
Damar terdiam sesaat memikirkan perkataan Alex, ia bingung apakah Alex memang ingin meminta maaf pada Kania atau itu hanya akal-akalan saja agar bisa menemui Kania. Damar juga ragu untuk mempercayai Alex, apalagi ia tahu kalau Alex sudah hampir mencelakai adiknya itu.
"Kak Damar cukup!!"
Suara teriakan dari arah belakang itu berhasil mengejutkan dan menghentikan niat Damar yang ingin menghajar Alex, ya suara itu tentunya berasal dari mulut Kania yang baru saja turun dan berniat melerai kedua pria itu. Kania tak ingin terjadi keributan disana, sebab baik Damar maupun Alex adalah lelaki yang ia sayangi dan ia tidak mau kehilangan salah satu dari mereka.
"Nia, kenapa kamu malah turun? Aku kan udah bilang stay di mobil aja, biar aku yang hadapi laki-laki gak tahu diri ini!" kesal Damar.
Kania langsung menghampiri kakak sepupunya itu dengan wajah memelas, ia memegang lengan Damar dengan erat dan memintanya untuk tidak melakukan hal-hal yang buruk pada Alex. Biar bagaimanapun, Kania tak ingin Damar berbuat itu dan nantinya malah akan membahayakan diri Damar sendiri jikalau Alex kenapa-napa.
"Kak, aku cuma gak mau kakak sampai ribut sama Alex. Udah cukup aku kehilangan kak Morgan, aku gak mau kehilangan kakak juga!" ucap Kania memohon sembari memeluk erat tubuh Damar.
Kini Damar menjadi dilema, ia bingung haruskah ia meneruskan perkelahian itu atau mendengarkan perkataan Kania untuk berhenti. Jujur saja Damar sangat emosi pada Alex atas kelakuannya, namun ia juga tidak mungkin membuat Kania kecewa jika ia tetap berkelahi dengan Alex.
Kania pun semakin erat memeluk kakaknya itu, seolah tak mengizinkan Alex untuk beranjak. Mau tak mau Alex pun tidak memiliki pilihan lain, kini pria itu terpaksa mengiyakan perkataan Kania dan tidak jadi menyerang Alex. Ya meski ada sedikit rasa kesal di dalam hatinya, namun Damar berusaha tenang karena tak ingin menyakiti hati Kania.
"Ya ya ya, aku gak akan serang Alex sekarang. Puas kan kamu Kania?" ucap Damar sembari menatap tajam wajah adiknya.
Setelah itu, Damar mengajak Kania untuk kembali ke dalam mobil dan meneruskan perjalanan mereka. Hanya saja, Alex tak memberi izin bagi keduanya untuk pergi dari sana dan malah mencegah mereka yang hendak kembali. Hal itu sontak memancing amarah Damar, meski lagi-lagi Kania menahannya.
"Mau apa lagi sih lu? Masih untung gue gak jadi hajar lu karena Kania, kenapa sekarang lu malah halangin langkah gue!" sentak Damar.
"Sa-sabar bang! Gue cuma pengen bicara sama Kania, gue mau lurusin semuanya dan untuk itu gue minta waktu sebentar buat ajak Kania ke taman dekat-dekat sini!" ucap Alex lirih.
"Hah? Lo gila apa? Gue gak akan izinin lu buat bawa pergi Kania!" tegas Damar.
"It's okay, kalo gitu gue minta waktu buat bicara sama Kania disini aja. Gue janji cuma sebentar, please bang!" bujuk Alex.
Damar berpikir sejenak seraya menatap wajah Kania di sampingnya, pria itu bertanya pada Kania apakah dia mau berbicara dengan Alex seperti yang diminta olehnya. Kali ini Kania mengangguk, karena ia pun penasaran apa kiranya yang hendak dibicarakan Alex kepadanya saat ini.
Damar akhirnya juga mengizinkan Kania untuk bicara dengan Alex, sebab gadis itu pun menginginkan hal itu. Kini Damar masuk lebih dulu ke dalam mobil, membiarkan Kania menyelesaikan urusannya bersama Alex disana berdua. Ya tapi tetap, Damar akan memantau dari dalam mobilnya.
Alex pun tersenyum lebar setelah mendapatkan izin, ia segera melangkah mendekati Kania dan terlihat sangat menyesal karena apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu. Meski akhirnya semua rencananya gagal, tapi tetap saja Alex masih merasa tidak enak pada Kania karena telah menjebaknya.
"Kania, aku mohon maafin aku! Aku khilaf saat itu, aku benar-benar nyesel!" ucap Alex.
•
•
__ADS_1
Hari berganti, Aisyah kini tampak tengah menunggu kehadiran seseorang di depan sebuah gedung kosong yang sepi dan angker. Aisyah sengaja datang kesana seorang diri, sebab sebelumnya Nazla telah menghubunginya dan memintanya untuk bertemu di tempat aneh tersebut. Tanpa berpikir panjang, Aisyah mengiyakan saja ajakan Nazla itu dan segera berangkat menuju tempat itu sendirian.
Emosinya yang sudah tak terbendung lagi, membuat Aisyah dengan nekat datang menemui Nazla seorang diri. Ia tidak tahu bahwa bahaya sedang mengincarnya saat ini, ya apalagi Nazla memang berniat untuk menghabisinya sebentar lagi. Nazla terlanjur kecewa pada Marvel, karena pria itu lebih memilih Aisyah dibanding dirinya.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu olehnya pun tiba. Ya Nazla datang sendirian dan langsung berdiri tepat di hadapan Aisyah, matanya menatap nyalang ke arah Aisyah dengan dua tangan terkepal. Seakan tak mau kalah, Aisyah kini juga ikut menatap wajah Nazla dan tampak begitu emosi. Keduanya kini sama-sama diselimuti dendam, dan akan saling menghabisi satu sama lain.
"Heh! Akhirnya datang juga lu pengecut, dasar perempuan gak tahu diri! Lu ini kan juga perempuan ya, kenapa coba lu tega edit muka gue di video panas itu dan sebarin ke seluruh sosial media? Mau lu apa?" sentak Aisyah.
Nazla menyeringai dan mulai mendekati Aisyah seraya melipat kedua tangannya di depan, ia tatap wajah Aisyah dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewat sama sekali. Rasanya Nazla seperti tidak sabar ingin segera memberi pelajaran pada Aisyah, dan begitu juga sebaliknya.
"Syukur deh, ternyata lu mau datang kesini dan tepati kata-kata lu!" ejek Nazla.
"Cih, gue mah gak pernah ingkar janji! Lagian gue emang lagi cari lu kok, jadi kebetulan pas banget lu call gue dulu dan ajak gue buat ketemuan disini!" ucap Aisyah dengan ketus.
"Okay, berarti kayaknya kita gak perlu basa-basi lagi ya?" ucap Nazla.
"Yaudah, gue juga udah gak sabar pengen bawa lu ke kantor polisi atas apa yang udah lu lakuin ke gue!" ucap Aisyah.
"Hahaha, silahkan aja kalo bisa! Gue yakin lu gak bakal bisa lakuin itu, karena lu cewek lemah! Lu cuma bisa berlindung dibalik ketiak orang-orang yang sayang sama lu, contohnya Marvel dan si Damar Damar itu!" sentak Nazla.
Aisyah terlihat semakin emosi, matanya menyala hebat disertai rahang yang bergetar dan kedua tangan terkepal. Ingin sekali Aisyah langsung menghajar dan menghabisi Nazla saat itu juga, tapi ia takut kalau hal itu malah akan membuatnya berada dalam masalah.
"Lo jaga kata-kata lu itu ya, atau gue bakal robek mulut lu sekarang juga dan gue bikin lu masuk rumah sakit! Jangan pernah main-main sama gue, Nazla!" ancam Aisyah.
"Terus lu pikir gue takut gitu? Sorry Syah, gue gak pernah takut sama lu!" tantang Nazla.
Kedua wanita itu kini saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat, mereka sudah sama-sama terbawa emosi dan ingin saling menghabisi. Meski begitu, tak ada dari mereka yang menyerang atau sekedar bergerak lebih dulu. Tampaknya, baik Aisyah maupun Nazla masih belum berani untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan saat ini.
Namun, tak lama kemudian sekumpulan pria bertubuh kekar muncul dan berdiri tepat di belakang Nazla sambil tersenyum menatap ke arah Aisyah dengan tangan dilipat. Sontak Nazla menyeringai kali ini, sedangkan Aisyah terlihat panik karena tak menyangka dengan kehadiran orang-orang itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa lu bawa orang lain kayak gini coba?" tanya Aisyah heran sekaligus ketakutan.
"Haha, kenapa Syah? Takut ya lu karena ngeliat mereka semua ada di pihak gue sekarang? Lu gausah takut Aisyah, karena gue cuma akan suruh mereka buat hancurin hidup lu!" ucap Nazla.
"Dasar pengecut! Apa lu gak berani buat satu lawan satu sama gue, ha?" ejek Aisyah.
"Buat apa Syah? Gue males ngotorin tangan gue sendiri, jadi biar mereka aja yang kasih pelajaran ke lu Aisyah!" ucap Nazla.
"Kurang ajar!" umpat Aisyah kesal.
Saat Aisyah hendak melarikan diri, tiba-tiba saja Nazla memerintahkan orang-orang yang dia bawa untuk menangkap dan menahan Aisyah agar tidak bisa pergi kemana-mana. Aisyah pun meronta-ronta, meminta untuk dilepaskan sembari berontak dari cengkraman orang-orang itu.
Akan tetapi, semua usaha yang dilakukan Aisyah sia-sia saja. Tenaganya tidak cukup jika dibanding dengan tiga orang pria kekar yang ada di dekatnya dan mencengkram lengannya dengan kuat, Aisyah pun semakin ketakutan dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Lepasin gue, Nazla! Lo jangan macam-macam, lu bisa makin terkena pasal pidana dan dapat hukuman yang lebih besar dari sebelumnya!" ucap Aisyah dengan tegas.
Bukannya takut dan menurut, Nazla justru tersenyum lebar seraya memberi kode pada ketiga orang suruhannya untuk membawa Aisyah pergi. Ya Nazla sudah merencanakan semuanya dengan baik, sehingga kini ia akan mengeksekusi semua rencana itu dan membuat Aisyah semakin menderita.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...