
Kania tampak menemui Daniel yang hadir di rumahnya malam ini. Kania pun terlihat tersenyum ke arah pria itu sekaligus menunjukkan ekspresi bingungnya, pasalnya sedari tadi Daniel mengatakan kalimat yang menurutnya sangat membingungkan. Ya tak ada satupun kalimat yang dimengerti oleh Kania, karena memang Daniel hanya berbicara asal.
Daniel cukup kesulitan untuk mencari topik kali ini, sebab jawaban dari Kania terlalu dingin dan seolah mematikan topik yang ia berikan. Kini Daniel hanya bisa membahas hal-hal yang tidak masuk akal lagi, lantaran semua topiknya sudah habis saat ia berbicara dengan Kania beberapa menit lalu.
"Daniel, kamu itu sebenarnya ada niat apa sih datang kesini? Daritadi kok bahasnya aneh-aneh terus? Ada yang kodok mati lah, cicak makan kecoak lah. Apa pentingnya coba?" heran Kania.
Daniel terkekeh dibuatnya, "Ahaha, maaf Kania sayangku yang cantik. Abisnya aku bingung mau bahas apa, kamu sih jutek banget!" ujarnya sembari mencolek dagu Kania.
"Ish, gausah colek-colek deh! Kamu ya kalau gak ada kepentingan, mending pulang aja daripada gak jelas disini!" sentak Kania.
Bukannya menurut, Daniel justru beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri membelakangi Kania dan menatap ke langit yang gelap itu sambil melipat kedua tangannya di depan. Kania hanya diam memperhatikan tingkah lelaki itu, ka heran mengapa Daniel malah terdiam dan seolah mengabaikannya.
"Kamu lihat bintang-bintang di atas itu kan, Nia? Mereka semua cantik ya?" seru Daniel.
"Hm, ya. Terus kenapa? Kamu jauh-jauh kesini cuma mau kasih unjuk kecantikan bintang di langit?" tanya Kania dengan wajah heran.
"Gak gitu Kania, ini tuh aku lagi usaha cari topik buat kita bisa ngobrol. Hargain dong!" kesal Daniel.
Kania malah memalingkan wajahnya dan tampak malas meladeni perkataan Daniel barusan, rasanya bahkan ia sudah ingin pergi saja dari sana dan kembali ke rumahnya. Namun, Kania masih memiliki perasaan tidak tega karena bagaimanapun Daniel sudah sering membantunya selama ini dan ada di setiap kali ia membutuhkan pertolongan.
"Niel, aku minta kamu bicara serius deh sekarang! Kamu mau apa ke rumah aku? Bahasnya jangan soal yang lain atau gak penting dong!" ucap Kania kesal.
Daniel tersenyum menatap wajah Kania, kemudian ia kembali duduk di sebelah gadis itu dan terus memandangi wajahnya yang terlihat kesal serta cemberut karena ulahnya. Daniel ingin sekali menyentuh tangan ataupun wajah Kania saat ini, akan tetapi itu semua tak mungkin bisa ia lakukan karena khawatir Kania akan memarahinya.
"Okay, kalau aku bilang sekarang aku datang kesini karena aku mau lamar kamu, apa kamu bakal jawab bersedia?" ucap Daniel sambil tersenyum.
Deg
Betapa terkejutnya Kania saat ini, ia reflek bangkit dari tempat duduknya dan menatap heran ke arah wajah Daniel seolah tak percaya dengan apa yang tadi pria itu ucapkan. Kania tentunya belum ingin menikah dengan siapapun, karena ia masih mau meneruskan pendidikannya dan menggapai cita-cita yang selama ini ia dambakan.
"Kamu jangan bercanda deh, Niel! Aku masih mau lanjut kuliah ya, main lamar aja!" sentak Kania.
"Ahaha, kan cuma ngelamar loh. Nikahnya mah bisa nanti-nanti kalau kamu udah siap, yang penting kamu jadi punya aku dulu!" ucap Daniel.
__ADS_1
Kania terdiam selama beberapa saat, seolah-olah ia tengah memikirkan apa jawaban yang tepat kali ini. Pasalnya, Kania juga bingung dan belum yakin apakah ia mencintai Daniel atau tidak. Dari dulu hingga sekarang, Kania memang hanya menganggap Daniel sebagai sahabatnya.
"Maaf Niel, bisa gak kita bahas yang lain aja? Aku belum mau bicara soal pernikahan atau lamaran, kamu ngerti kan?" pinta Kania.
"It's okay, aku ngerti kok. Terus sekarang kamu mau bicara apa Nia?" ucap Daniel.
"Hah? Kok masa kamu malah tanyain itu ke aku? Ya kamu lah yang cari topik buat bicara sama aku!" ucap Kania.
"Tuh kan, giliran aku cari topik tadi kamu malah ngomel terus ngatain gak jelas. Aku jadi bingung tahu harus gimana," keluh Daniel.
"Yaudah, kamu pulang aja sana!" usir Kania.
Daniel sampai melotot dibuatnya, ia langsung menatap seluruh wajah Kania dan meminta gadis itu untuk tidak mengusirnya. Saat ini Daniel masih ingin berada disana bersama Kania, pasalnya pria itu memang tidak bisa berjauhan dari Kania terlalu lama semenjak kejadian mereka di kost kala itu. Ya meski Daniel tahu, semua itu terjadi karena Kania berada dalam pengaruh obat panas yang diberikan Alex.
"Jangan gitu lah Kania! Masa kamu usir aku sih? Aku kan pengen tetap disini sama kamu, ayolah bantu aku ya buat cari topik!" bujuk Daniel.
Kania mendengus kesal, lalu ia pun beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh. Sontak Daniel merasa kaget melihatnya, pria itu turut bangkit mengejar Kania sekaligus berjaga-jaga jikalau Kania ingin masuk ke dalam rumahnya. Daniel belum ingin pergi dari sana atau berpisah dengan Kania, karena Daniel masih merasa nyaman disana.
"Nia, kamu mau kemana sih? Udah disini aja sama aku, kita ngobrol bareng-bareng ya cantik!" ucap Daniel coba menahan gadisnya.
"Ohh, ya gapapa sih. Aku cuma pengen nikmatin suasana indah disini aja," kekeh Daniel.
Tak ada jawaban dari Kania, gadis itu langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Daniel begitu saja karena ia merasa haus. Daniel pun kembali duduk di tempat itu, menanti Kania disana seorang diri sambil memikirkan topik yang dapat ia jadikan bahan pembicaraan dengan Kania nantinya.
Tak lama kemudian, justru Aisyah lah yang muncul dari dalam dan menemui Daniel kali ini. Gadis itu menegurnya, lalu membuat Daniel terkejut dan menoleh ke arah calon iparnya. Daniel pun bangkit, kemudian tersenyum menyambut kehadiran Aisyah yang berdiri tepat di depannya.
"Iya Aisyah, ada apa? Lu mau tanyain soal Darwin ya? Cie cie, tenang aja si Darwin gak kenapa-napa kok!" goda Daniel.
"Ish, ngomong apaan sih lu? Gue tuh cuma pengen mastiin aja ke lu, beneran lu serius sama adik gue? Lu mau lamar dia gitu? Ya soalnya gue tadi sempat gak sengaja dengar pembicaraan kalian," ujar Aisyah.
"Hm, dasar cewek! Emang sukanya nguping pembicaraan orang lain ya? Gak sopan tahu kayak gitu!" ucap Daniel.
"Hehehe..."
__ADS_1
Aisyah malah terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian Aisyah pun menarik tangan Daniel dan memintanya duduk untuk membahas rencana pria itu yang ingin melamar Kania. Aisyah memang sangat penasaran, sekaligus ia mendukung penuh keputusan Daniel jika memang ingin melamar adik kembarnya itu.
•
•
Disisi lain, Marvel terlihat merenung di pinggir danau seorang diri tanpa ada yang menemani. Sejak ditangkapnya Nazla dan menjalani masa tahanan, kini Marvel pun tinggal sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kedua orangtuanya. Marvel juga sangat menyesal, sebab ia terlalu percaya pada Nazla beberapa waktu lalu dan sampai tega membatalkan pernikahannya dengan Aisyah.
Jika saja hal itu tidak terjadi, maka bukan tidak mungkin sekarang ini Marvel sudah hidup bahagia dengan Aisyah alias wanita yang ia cintai. Setiap malamnya, Marvel selalu saja dihantui dengan masa lalunya yang benar-benar mengerikan dan juga selalu membuatnya menyesal. Kehadiran Nazla di hidupnya, justru malah menghancurkan kebahagiaan yang sebelumnya ia rasakan bersama Aisyah.
"Aku bingung harus apa sekarang, susah banget buat aku lupain kamu Aisyah. Andai aku gak dengerin kata-kata Nazla saat itu, pasti sekarang aku udah hidup bahagia sama kamu sayang!" gumamnya.
Kata-kata itu lah yang terus saja diucapkan Marvel saat ini selama beberapa kali, ia tampaknya sangat menyesal dan masih belum bisa melupakannya. Momen indah yang harusnya terjadi di hidupnya, hancur begitu saja hanya karena kebodohan dirinya yang lebih mempercayai wanita lain dibanding sang kekasih pujaan hatinya.
Dikala ia tengah bergumam seorang diri di tempat duduknya sambil sesekali melempar batu ke danau, tiba-tiba seorang wanita terlihat mendekatinya dan berhenti tepat di sebelahnya. Wanita cantik itu terlihat mendongak ke atas, menatap langit yang cerah dan dipenuhi bintang. Sepertinya wanita itu juga mengalami kesedihan yang sama seperti Marvel, karena wajahnya tampak begitu sembab.
Sontak Marvel merasa penasaran dengan siapa sosok wanita yang ada di sebelahnya itu, ia bangkit dari tempat duduknya dan berniat menghampiri wanita tersebut. Perlahan matanya memandangi tubuh si wanita dari atas sampai bawah, begitu cantiknya sampai-sampai membuat Marvel terperangah dan tidak bisa berkedip.
Wanita itu menyadari ketika Marvel memandanginya secara terus-menerus, ia menoleh dan coba menegur pria itu. Dahinya mengernyit heran, karena ia baru kali ini melihat sosok Marvel di depan matanya. Ia tidak mengenali siapa pria itu, tetapi Marvel justru masih terus menatapnya seolah amat terpesona dengan kecantikan wanita itu.
"Ehem, kamu siapa ya? Kenapa kamu ngeliatin aku terus kayak gitu, ada yang salah?" tegur si wanita.
"Eee haha gapapa kok, gue cuma bingung aja sama lu. Abisnya lu datang-datang langsung kelihatan sedih kayak gitu, gue kan jadi kepo. Lu pasti lagi ada masalah juga ya?" ujar Marvel.
"Apa masalahnya buat kamu? Aku emang biasa kesini kok kalau lagi sedih, ini kan tempat umum dan bukan cuma kamu yang boleh menggalau disini. Gausah sok akrab deh, aku lagi gak pengen diganggu sama siapapun!" sentak si wanita.
"Ahaha, santai aja dong! Gue bisa bantu lu biar gak sedih terus, tapi sebelum itu kenalin nama gue Marvel!" ucap Marvel menyodorkan tangannya.
Wanita itu terlihat kebingungan saat Marvel mengajaknya bersalaman, dengan perlahan ia mengangkat tangannya dan meraih telapak tangan pria itu. Tak lupa tentu si wanita juga mengucapkan namanya, mengenalkan diri di depan Marvel meski tanpa senyum sedikitpun.
"Aku Marsha."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...