
Hari berganti, Aisyah tengah merenung seorang diri di taman dekat lokasi pemotretan sambil memikirkan Marvel yang semalam tanpa sengaja ia temui di restoran. Aisyah sungguh tak mengerti, ia bingung mengapa lagi-lagi dirinya masih dipertemukan dengan Marvel yang jelas-jelas sudah membuat hatinya sakit.
Tanpa sadar gadis itu pun mengeluarkan air mata saat mengingat wajah Marvel di kepalanya, rasanya ia sangat sakit tiap kali mengingat semuanya. Apa yang dilakukan Marvel sungguh menyakitkan, padahal kala itu mereka sudah hampir bersatu dalam suatu ikatan pernikahan. Namun, Marvel justru membatalkan semuanya begitu saja.
Tak lama kemudian, Damar muncul di sebelahnya secara tiba-tiba dan langsung duduk begitu saja. Damar tampak tersenyum memandangi wajah adik sepupunya itu, ia merasa kasihan melihat Aisyah yang masih saja bersedih seperti itu dan tidak bisa berhenti menangisi sosok Marvel. Padahal, Aisyah sudah bertekad untuk melupakan pria tersebut.
"Aisyah, kamu pasti masih mikirin Marvel ya? Ngapain sih sayang, katanya kamu mau lupain dia!" ucap Damar menegur sang adik sembari merangkul pundaknya tanpa aba-aba.
Aisyah sontak terkejut karena sebelumnya ia tak melihat kehadiran Damar disana, tapi sekarang pria itu malah sudah berada di dekatnya. Bahkan, Damar juga merangkulnya serta mendekapnya dengan erat sambil tersenyum lebar. Aisyah menatap penuh heran, gadis itu masih terdiam dan berusaha menyembunyikan air matanya.
"Kalau kamu masih begini terus, itu tandanya kamu belum bisa moveon dong sayang. Berarti kamu masih cinta ya sama Marvel?" ucap Damar.
Aisyah tersentak dan mengernyitkan dahinya, "Ih apa sih kak? Aku udah enggak ada rasa ya sama dia, gausah ngada-ngada deh! Lagian kata siapa aku mikirin Marvel? Sok tahu banget!" ucapnya tegas.
"Hahaha, kamu mau coba bohongin aku? Kalau bukan mikirin Marvel, terus apa hayo?" ujar Damar.
Gadis itu terdiam tak bisa menjawab pertanyaan kakaknya, ia malah memalingkan wajah dan bingung harus mengatakan apa. Damar terkekeh lalu menarik wajah Aisyah kembali ke arahnya, ia cengkram rahang gadis itu sehingga Aisyah tidak bisa berbuat apa-apa saat ini dan coba pasrah mendengarkan perkataan Damar dengan serius.
"Aku tahu kamu pasti sedih dan sakit banget karena kejadian itu, si Marvel yang bejat gak pantas kamu tangisi seperti ini sayang! Kamu harus tegar dan kuat, tunjukkan kalau kamu bisa hidup tanpa dia! Jangan lemah sayang!" ucap Damar tegas.
Aisyah mengangguk perlahan, ia tidak mengatakan apapun karena rasa gugup dan juga takutnya ketika Damar mencengkram rahangnya. Damar kini bergerak menyeka air mata di pipi adiknya, pria itu memang tidak bisa melihat Aisyah bersedih seperti itu apalagi karena memikirkan Marvel. Damar harus bisa menguatkan Aisyah, serta meminta gadis itu benar-benar melupakan Marvel.
"Ayo sekarang kita masuk siap-siap buat foto! Kamu udah didandani malah nangis begini, jadi luntur lagi kan makeupnya!" ucap Damar.
"Ma-maaf kak!" lirih Aisyah.
Damar tersenyum memahami alasan mengapa gadis itu menangis, biar bagaimanapun Damar tahu bahwa Aisyah adalah seorang wanita dan hatinya mudah rapuh. Sekarang Damar kembali memeluk Aisyah sembari mengusapnya lembut, ia berusaha menenangkan gadis itu dan mencoba membuat Aisyah melupakan sosok Marvel dari pikirannya.
Saat itu juga, Aura muncul di dekat mereka dan mengatakan kalau semua proses telah siap. Damar sontak melepaskan pelukannya, menatap wajah Aisyah dan meyakinkan gadis itu untuk lebih kuat serta tidak bersedih kembali. Aisyah mengangguk saja, kemudian bangkit dari duduknya dan ikut bersama Damar pergi menuju lokasi pemotretan.
•
•
"Morning cantik!"
Kania yang baru keluar dari gerbang rumahnya, dibuat terkejut dengan sapaan dari seorang lelaki di belakangnya itu. Sontak ia menoleh, lalu menemukan keberadaan Daniel yang ternyata sudah berada disana. Padahal, tadi saat ia keluar rumah dirinya sama sekali tak melihat siapapun di depan sana dan hanya ada jalanan yang kosong.
__ADS_1
Namun, sepertinya Daniel memang sudah merencanakan itu dan ingin membuat kejutan untuk gadis yang ia cintai. Daniel juga membawa sebuah boneka mini di tangannya saat ini yang ia sodorkan pada Kania, pria itu mengatakan kalau boneka tersebut adalah hadiah untuknya dan Daniel memang sengaja membelikannya.
"Ini boneka buat kamu, Nia. Aku harap kamu suka ya, terus boneka ini bisa jadi teman curhat kamu yang akan selalu ada di sisi kamu!" ucap Daniel.
Kania menatap ke arah boneka itu sembari menyipitkan matanya, ia sungguh bingung apakah ia harus menerima pemberian dari Daniel itu atau tidak saat ini. Ya Kania adalah tipe gadis yang tidak enakan dan sulit untuk menolak pemberian siapapun yang ia kenal, apalagi Daniel sudah banyak membantunya termasuk dalam mengerjakan tugas kuliahnya kemarin.
"Eee ngapain kamu pake repot-repot beliin aku boneka segala sih? Boneka aku itu udah banyak di dalam, kalau nambah lagi nanti malah jadi penuh tahu kasur aku!" ucap Kania.
"Ya gapapa, yang ini jangan ditaruh di kasur! Kamu bawa aja kemanapun kamu pergi, lagian boneka itu kan gak terlalu besar!" ucap Daniel tersenyum.
"Iya sih, tapi...."
Belum sempat Kania menyelesaikan ucapannya, Daniel sudah lebih dulu menggenggam tangan Kania dan menaruh boneka itu di telapak tangannya yang halus dan wangi. Kania tersentak kaget dibuatnya, sungguh ia tak menyangka kalau lelaki itu benar-benar memaksa padanya untuk menerima hadiah pemberian dari Daniel sekarang.
"Kamu pegang aja dulu, boneka ini asyik kok! Dia bisa bicara juga loh sesuai apa yang kita omongin, coba deh kalo gak percaya!" ucap Daniel.
"Hah masa sih? Emang ada ya boneka kayak gitu?" tanya Kania penasaran.
"Coba aja kalo gak percaya, itu udah aku isiin baterai kok tinggal dipencet aja tombol belakangnya!" jawab Daniel sembari menjelaskan caranya.
"I love you." Itulah kalimat yang diucapkan Kania pada si boneka.
Tak lama kemudian, boneka itu juga mengucapkan kalimat yang sama seperti yang Kania ucapkan tadi. Tentu saja Kania terkejut bukan main, ia tampak tersenyum bahagia seolah tak menyangka kalau perkataan Daniel tidak benar. Boneka itu memang bisa berbicara, sehingga Kania tidak akan bosan memainkan boneka tersebut nantinya.
"Wah iya benar yang kamu bilang tadi, boneka ini emang lucu banget! Aku jadi gemes deh, rasanya mau peluk boneka ini terus!" ucap Kania.
"Bagus deh kalau kamu suka, kalo gitu diterima ya boneka pemberian aku ini!" pinta Daniel.
"Hm, iya aku terima kok Daniel. Lagian aku belum punya boneka yang bisa bicara kayak gini, makasih banyak ya!" ucap Kania sambil tersenyum.
"Sama-sama, Kania."
Keduanya pun saling bertatapan sambil tersenyum satu sama lain, Daniel betul-betul bahagia karena akhirnya ia berhasil membuat Kania mau menerima pemberian darinya. Sudah cukup lama Daniel mengharapkan hal itu terjadi, dan kini Daniel baru bisa merasakannya. Akan tetapi, Daniel tentu sangat bahagia dan ingin terus berjuang demi Kania.
•
•
__ADS_1
Marvel tiba di depan kost tempat Marsha berada, pria itu tampak rapih dan menyisir rambutnya dengan bantuan kaca mobil untuk memastikan apakah dirinya sudah pas atau belum agar tak mengecewakan Marsha nanti. Ya Marvel tentu tidak mau terlihat buruk di hadapan Marsha, karena pria itu hendak menarik perhatian Marsha.
Setelah dirasa cukup, Marvel pun bergegas menuju ke depan pintu kamar Marsha dan mengetuknya perlahan. Sebelumnya Marsha memang sudah memberitahu padanya lokasi tempat kost itu sekaligus nomor kamarnya, sehingga Marvel saat ini tidak bingung lagi saat datang kesana.
TOK TOK TOK....
Marvel mengetuk pintu dengan perlahan seraya memanggil nama gadis itu, ia sungguh gugup dan terus menatap sekitar memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya disana. Biar bagaimanapun, ini adalah kali pertama Marvel datang ke tempat tersebut sejak ia bertemu dengan Marsha di danau sebelumnya.
"Iya sebentar." Marsha berteriak dari dalam kamarnya, suara langkah kaki pun terdengar dan membuat Marvel tersenyum senang.
Ceklek
Pintu terbuka, lalu Marsha pun muncul dari dalam sana dan menemui pria tersebut. Marvel begitu terkejut melihat penampilan Marsha saat ini, gadis itu sangat cantik dan berbeda dari biasanya. Marvel sampai tak bisa berkedip dibuatnya, ia sangat terpesona dan terpukau dengan kecantikan gadis di depan matanya itu.
"Hai Marsha! A-aku kaget banget loh, ternyata kamu bisa secantik ini sekarang!" gugup Marvel.
Marsha tersipu dan berusaha menyembunyikan senyumnya, gadis itu benar-benar malu ketika Marvel memujinya seperti tadi. Kedua pipinya pun memerah, baru kali ini ia merasakan hal itu saat bertemu dengan seorang lelaki. Padahal, ini bukan kali pertama Marsha bersama lelaki karena dulu ia juga pernah memiliki kekasih.
"Ka-kamu udah siap belum? Kita pergi sekarang aja yuk, mumpung cuaca masih belum terlalu panas dan enak buat jalan-jalan!" ajak Marvel.
"Ah boleh, aku mah siap kok kapanpun. Tapi, bener ini tampilan aku udah bagus?" tanya Marsha.
"Pake ditanya, ini mah udah lebih dari bagus kali. Kamu cantik banget loh, aku sampai gak bisa berkedip lihat wajah kamu ini!" puji Marvel.
"Hahaha, yaudah kalo gitu aku masuk dulu mau ambil tas! Kamu gak pengen mampir dulu nih? Kalau mau, nanti sekalian aku buatin minum. Barangkali kamu haus kan?" ucap Marsha menawarkan.
"Eee enggak deh gausah, kita minumnya nanti di jalan aja. Soalnya takut gak keburu waktunya, kan kita mau nonton sebentar lagi," ucap Marvel.
"Iya sih, yaudah bentar ya?" pamit Marsha.
Marvel mengangguk saja, lalu Marsha pun masuk kembali ke dalam kamarnya demi mengambil tas miliknya yang tertinggal disana. Sedangkan Marvel tetap menunggu disana dengan perasaan gugup, sungguh pria itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan nanti saat sudah berada di jalan berdua dengan Marsha.
"Huft, kaget banget gue tadi! Kok bisa ya Marsha secantik itu? Apa nanti gue bisa tahan kalau berdua sama dia?" gumam Marvel lirih.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1