Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Dilamar


__ADS_3

Malam yang ditunggu-tunggu oleh Damar akhirnya tiba, pria itu kini datang ke rumah Aura untuk menjemput gadis itu sesuai janjinya siang tadi. Damar sudah tampak rapih dengan pakaian andalannya, seolah tidak sabar untuk segera pergi dinner berdua dengan Aura saat ini. Selain itu, Damar juga telah menyiapkan segala macamnya untuk menyatakan cinta yang selama ini ia pendam kepada Aura alias asisten pria tersebut.


Aura pun muncul dari dalam rumahnya, gadis itu tersenyum lalu menghampiri Damar yang sudah menunggu di depan gerbang. Damar tampak terpesona begitu melihat penampilan asistennya malam ini, Aura sangat cantik dengan gaun yang ia kenakan saat ini. Ya gaun itu memang pemberian Damar, dan tentunya Damar tidak sabar ingin segera menyatakan perasaannya kepada gadis itu nanti.


"Pak, maaf ya saya lama! Ta-tadi saya bingung mau dandan kayak gimana, soalnya saya kan belum pernah diajak makan malam berdua kayak gini sama laki-laki," ucap Aura dengan gugup.


Damar hanya tersenyum melihatnya, ia melangkah ke dekat Aura lalu meraih dua tangan gadis itu untuk digenggam kuat. Damar sangat puas dengan tampilan Aura malam ini, benar-benar sesuai apa yang ia harapkan sedari tadi. Damar semakin tidak sabar untuk melancarkan aksinya, lalu membuat Aura resmi menjadi miliknya nanti.


"Iya gapapa, kamu cantik banget loh Aura! Saya sampai pangling sama kamu tadi," puji Damar.


Aura tampak tersipu dan menundukkan wajahnya, tapi Damar dengan segera menaikkan dagu gadis itu serta mencengkram rahangnya erat. Damar juga mendekap tubuh Aura, mengusap lembut wajahnya dan tak ketinggalan rambutnya. Ia kecup sesekali kening gadis itu yang terasa sangat harum, sampai Aura tidak tahu harus berbuat apa.


"Iya benar, saya memang gak salah pilih kamu untuk jadi pendamping saya Aura. Andai saja kamu mau terima saya jadi suami kamu, pasti saya akan sangat bahagia Aura!" gumam Damar dalam hati.


Setelah merasa puas mengecupi anggota tubuh gadis itu, kini Damar mengajak Aura masuk ke dalam mobilnya untuk segera pergi dari sana. Ya sudah tidak ada kata menunda lagi bagi Damar, sebab pria itu tampak sangat tak sabar seolah ingin segera menikah dengan gadis di sampingnya itu.


Aura yang memang tidak tahu menahu mengenai rencana bosnya, menurut saja dan memasuki mobil itu tanpa memikirkan apapun. Mereka berdua duduk berdampingan di kursi depan saat ini, Damar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali melirik ke arah Aura yang memang begitu mempesona dan sulit untuk diabaikan.


"Umm pak, kita mau makan malam dimana? Gausah ke restoran yang mewah ya pak, saya biasa makan di tempat pinggir jalan aja kok," ucap Aura cemas.


"Hm, saya sudah siapkan semuanya dengan baik kok. Kamu jangan khawatir Aura, saya jamin kamu pasti akan suka dengan apa yang saya berikan nanti ke kamu!" ucap Damar tersenyum lebar.


"Tapi pak, saya—"


Dengan cepat Damar memotongnya, pria itu menempelkan jari telunjuk pada bibir gadisnya dan meminta Aura untuk terdiam. Aura hanya bisa mengangguk perlahan, tidak ada yang dapat ia lakukan selain menuruti perintah bosnya. Biar bagaimanapun, Aura tentu harus patuh pada apa yang dikatakan oleh Damar saat ini.


Mobil terus melaju dengan kecepatan yang semakin bertambah, Damar seperti sudah sulit menahan diri karena kecantikan Aura yang benar-benar membuat dirinya kagum saat ini. Gadis itu sebenarnya dari dulu sudah berhasil menggugah seleranya, tetapi Damar selalu saja tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.




Akhirnya Damar dan Aura tiba di restoran mahal yang sudah disewa oleh pria itu, Aura turun dari mobil dengan bantuan Damar yang kini menggandeng tangannya. Damar juga menarik tubuh Aura agar semakin menempel dengannya, ia tidak mau gadis itu berjauhan darinya atau disentuh oleh pria lain karena ia tidak becus menjaganya.


Mereka pun sama-sama melangkah ke dalam restoran itu, kedua bola mata Aura terbelalak lebar ketika mengetahui bahwa dirinya berada di sebuah restoran yang sangat mewah dan pastinya mahal. Baru kali ini ia menginjakkan kaki disana, apalagi bersama bosnya yang selama ini selalu ia hormati dan patuhi tanpa bisa melawannya.


Dikala Damar menarik kursi untuknya, Aura merasa heran sekaligus tak percaya karena biasanya ialah yang melayani bosnya itu. Mereka berdua langsung terduduk disana, tangan mereka juga masih saling bertaut satu sama lain seolah tak ingin melepasnya. Damar juga membelai rambut asistennya, karena malam ini Aura tampil beda dari biasanya.


"Saya suka banget lihat kamu malam ini, Aura! Selain cantik, kamu juga manis dan gemesin banget deh!" ucap Damar memuji asistennya itu.


"Terimakasih pak atas pujiannya, tapi saya masih bingung kenapa bapak ajak saya makan di tempat mewah ini? Apa ini semua tidak terlalu berlebihan, pak?" ucap Aura.


Damar terkekeh kecil seraya mengecup punggung tangan gadisnya, ia benar-benar gemas melihat ekspresi Aura yang sekarang ini. Rasanya ia ingin segera menyatakan cintanya pada gadis itu saat ini juga, tetapi entah mengapa rasanya ia masih terlalu gugup dan tidak mengerti harus mulai darimana.


"Aura, saya kan sudah bilang tadi. Saya ini mau kasih yang terbaik untuk kamu, karena kamu sudah bikin usaha saya semakin maju dan berkembang. Kamu itu karyawan terbaik saya, Aura!" ucap Damar.


"Iya pak, ini semua berkat kerja keras yang lain juga. Bukan cuma saya loh pak," ucap Aura tersenyum.


"Tapi kamu yang paling berjasa disini, maka dari itu saya mengajak kamu makan malam berdua. Kamu gak masalah kan Aura?" ucap Damar.


Aura mengangguk perlahan, "Saya gak masalah kok pak, tapi saya cuma merasa ini terlalu berlebihan aja. Restoran ini terlalu mewah pak," ucapnya.


"Gapapa, saya sudah biasa makan disini. Kamu pesan aja apa yang kamu mau!" ucap Damar.


Akhirnya Aura tak memiliki pilihan lain, wanita itu terpaksa mengiyakan perintah Damar dan mengatakan pesanannya pada pelayan disana. Damar juga melakukan hal yang sama, lalu mereka menanti pesanan mereka itu datang sambil berbincang santai mengenai pekerjaan mereka.


"Gimana, kamu sudah putus kontrak dengan Alex kan? Saya gak mau ya lihat dia lagi di pemotretan besok," tanya Damar.


"Sudah pak, semuanya sudah saya atur sesuai kemauan bapak!" jawab Aura tegas.


Damar tersenyum senang mendengarnya, ia menghadiahi Aura dengan kecupan singkat di kedua pipinya yang membuat gadis itu merona. Aura tak menyangka akan diperlakukan semanis ini oleh bosnya, sungguh ini merupakan sesuatu yang amat didambakan olehnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang dan dibawakan oleh pelayan. Tanpa banyak berpikir, Damar langsung mengajak Aura untuk menikmati makanan mereka disana. Aura benar-benar bahagia malam ini, karena ia merasa seperti dijadikan ratu oleh bosnya sendiri.




Setelah makanan dan minuman mereka habis, Damar tiba-tiba saja beranjak dari kursinya sembari mengambil sesuatu di kantong bajunya. Aura terlihat penasaran, matanya terbelalak seketika begitu mengetahui Damar membawa kotak cincin di tangannya dan melangkah ke dekatnya. Aura sungguh bingung, hatinya saat ini benar-benar gugup dan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.


Terlebih kini Damar berlutut di hadapannya, meraih satu tangannya dan membuka kotak cincin yang ia bawa tadi. Damar tersenyum lebar seraya mendongakkan wajahnya, membuat Aura makin gugup dan berdebar-debar. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh gadis itu, selain terdiam dan menantikan apa yang akan dikatakan pria itu.


"Aura, kamu mau kan menikah sama saya? Sudah lama saya memendam ini, dan saya sekarang tidak bisa lagi menahannya Aura! Kamu jadi istri saya ya, please!" ucap Damar dengan tegas.


Deg


Betapa terkejutnya Aura mendengar penuturan Damar barusan, ia tak menyangka Damar akan melamarnya malam ini di hadapan banyak orang. Aura juga tidak mempercayai semuanya, karena ia paham akan statusnya yang hanya seorang asisten. Namun, sepertinya Damar sudah benar-benar jatuh cinta dan tak memperdulikan itu.


"Pak, bapak gak lagi bercanda kan? Ini kita lagi di tempat umum loh, saya malu dilihatin sama orang banyak!" ucap Aura tampak canggung.


"Gausah malu Aura, jawab aja pertanyaan saya tadi! Kamu mau atau enggak menikah sama saya? Saya serius nanya loh ini, bukan lagi bercanda atau main-main!" ucap Damar sambil tersenyum.


"Jadi bapak serius? Tapi, kenapa bapak ajak saya nikah? Apa alasannya?" heran Aura.


"Ya karena saya cinta sama kamu, saya mau kamu jadi milik saya seutuhnya! Kamu mau kan Aura?" ucap Damar dengan tegas.


"Hah???" Aura terkejut bukan main.


Gadis itu menatap sekitar, banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mereka saat ini. Aura pun terlihat kebingungan, ia ragu untuk menjawab pertanyaan Damar karena khawatir pria itu hanya ingin menggodanya. Apalagi status Aura adalah asisten yang bekerja untuk Damar, tak mungkin tentu jika Damar benar-benar mau menikah dengannya.


"Sa-saya masih gak ngerti pak, saya bingung sama bapak. Saya juga belum yakin kalau bapak emang mencintai saya," ucap Aura gugup.


"Kenapa Aura? Apa kamu ragu sama saya? Saya benar-benar tulus cinta sama kamu, Aura! Itu sebabnya saya melakukan semua ini," ucap Damar.


Aura tampak menundukkan wajahnya, sedangkan Damar sudah mulai merasa pegal saat ini. Damar pun mengambil cincin itu dari kotaknya, kemudian berniat memasangnya ke dalam jari manis Aura secara langsung. Sontak Aura terkejut dan reflek hendak menarik tangannya, tetapi Damar berhasil menahannya lalu memasukkan cincin itu.


"Apa? Tapi pak, saya kan belum jawab apa-apa loh. Bapak gak bisa main pasang cincin ini begitu aja," ucap Aura terheran-heran.


"Kenapa? Kamu gak suka? Kalau memang iya, yaudah silahkan dilepas! Saya sih berharapnya kamu juga suka ya sama saya, karena saya pasti akan sakit hati kalau kamu tolak saya!" ucap Damar.


"Umm...."


Damar bangkit dari posisinya, ia turut menarik tubuh Aura dan membawanya berdiri tegak menghadap ke arahnya. Damar mengajak Aura untuk berdansa kali ini, pria itu berhasil dengan mudah membawa Aura ke lantai dansa dan diiringi musik yang merdu. Tak ada perlawanan yang dilakukan Aura, justru gadis itu tampak diam memandangi wajah bosnya.


"Saya cinta kamu, Aura Vadella..."




Setelah memastikan Aura mau menikah dengannya, Damar tak membawa Aura pulang ke rumah melainkan menuju hotel terdekat dari restoran tadi. Damar pun menghentikan mobilnya tepat di depan hotel itu, sehingga Aura merasa cemas dan juga ketakutan. Reflek gadis itu menatap wajah Damar dengan bingung, tetapi Damar hanya tersenyum dan malah menggenggam tangannya.


Mereka langsung turun dari mobil dan berniat memasuki hotel tersebut, akan tetapi Aura meminta Damar untuk menghentikan langkahnya sejenak sebelum masuk kesana. Kali ini Damar menuruti kemauan calon istrinya itu, ia berhenti dan membiarkan Aura menyampaikan apa yang ingin dia katakan saat ini.


"Pak, kalau bapak ajak saya nikah cuma karena bapak menginginkan tubuh saya, sa-saya ikhlas kok kasih ke bapak sekarang juga. Bapak gak perlu repot-repot nikahin saya," ucap Aura gugup.


Damar tersentak mendengarnya, pemikiran Aura benar-benar di luar nalar dan tidak pantas diucapkan oleh seorang wanita tentunya. Namun, Damar tidak akan marah dan malah terkekeh kecil sembari memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Aura merasa kebingungan, ia tak mengerti apanya yang lucu sampai bosnya tertawa seperti itu.


"Ya Aura, saya memang akan mengeksekusi kamu di hotel ini sebentar lagi. Tapi, setelah itu ya saya juga akan menikahi kamu Aura cantik. Kamu gak perlu khawatir, karena saya gak akan menyakiti kamu!" ucap Damar sambil mencubit gemas pipi Aura.


"Berarti benar dong bapak bawa saya kesini karena pengen melakukan itu sama saya?" kaget Aura.


"Sssttt, panggilnya jangan bapak lagi dong! Kita ini kan sebentar lagi mau nikah, jadi kamu panggil aja saya mas ya!" pinta Damar.

__ADS_1


Aura mengangguk perlahan, "Iya mas, tapi saya belum siap buat melakukan itu," ucapnya.


"Loh, tadi katanya kamu ikhlas mau kasih tubuh kamu ke saya. Kenapa sekarang kamu malah bilang belum siap?" ujar Damar keheranan.


"Eee itu....."


Aura tampak kebingungan dan memikirkan alasan yang tepat untuk menghindari kencan satu malamnya dengan Damar saat ini, sebab entah kenapa ia tiba-tiba merasa gugup dan ragu jika harus melakukan itu dengan bosnya sekarang. Apalagi, Aura memang sudah terpesona pada Damar sejak waktu yang lama.


"Sudah Aura, ayo kita masuk dan bicara di dalam aja!" ajak Damar.


Tak ada pilihan lain bagi Aura saat ini selain menurut dengan perintah Damar dan tidak membantah, ya karena Aura pun memang menyukai Damar yang merupakan bosnya itu. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam hotel itu, lalu Damar bergegas memesan satu kamar untuk mereka dan membawa gadis itu menuju kamar yang sudah dipesan.


Sesampainya di kamar, Damar langsung mengunci pintu rapat-rapat agar tak ada yang bisa menggangu momen cinta satu malam mereka kali ini. Meski Damar juga berniat akan menikahi Aura, tetapi tak seharusnya lelaki itu melakukan ini sekarang. Namun, hasrat liar yang tertanam di tubuh Damar membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.


"Sayang, kamu siap kan? Aku akan bikin kamu puas malam ini dan terbang ke awang-awang, aku yakin kamu pasti ketagihan!" goda Damar.


Aura hanya bisa diam seraya menundukkan wajahnya, jujur Aura sangat malu dan merasa belum siap untuk menyerahkan kesuciannya pada lelaki itu saat ini. Akan tetapi, Aura juga tidak bisa menolak kemauan bosnya. Gadis itu pun mengangguk pasrah, membiarkan Damar yang mulai membelai wajahnya lalu mendorongnya menuju ranjang.


"Sudah pernah melakukan ini sebelumnya, hm?" tanya Damar sembari mengecup leher gadisnya.


Aura menggeleng cepat, tentu saja ia masih suci dan belum pernah ada yang menyentuh bagian tubuhnya selain Damar seorang. Tanpa basa-basi lagi, Damar langsung menyerang bibir Aura dan melahapnya tanpa ampun. Aura yang terkejut tidak bisa berbuat apa-apa, karena serangan Damar memang amat cepat dan menggairahkan.




Disisi lain, Kania tampak menemui Daniel yang hadir di rumahnya malam ini. Kania pun terlihat tersenyum ke arah pria itu sekaligus menunjukkan ekspresi bingungnya, pasalnya sedari tadi Daniel mengatakan kalimat yang menurutnya sangat membingungkan. Ya tak ada satupun kalimat yang dimengerti oleh Kania, karena memang Daniel hanya berbicara asal.


Daniel cukup kesulitan untuk mencari topik kali ini, sebab jawaban dari Kania terlalu dingin dan seolah mematikan topik yang ia berikan. Kini Daniel hanya bisa membahas hal-hal yang tidak masuk akal lagi, lantaran semua topiknya sudah habis saat ia berbicara dengan Kania beberapa menit lalu.


"Daniel, kamu itu sebenarnya ada niat apa sih datang kesini? Daritadi kok bahasnya aneh-aneh terus? Ada yang kodok mati lah, cicak makan kecoak lah. Apa pentingnya coba?" heran Kania.


Daniel terkekeh dibuatnya, "Ahaha, maaf Kania sayangku yang cantik. Abisnya aku bingung mau bahas apa, kamu sih jutek banget!" ujarnya sembari mencolek dagu Kania.


"Ish, gausah colek-colek deh! Kamu ya kalau gak ada kepentingan, mending pulang aja daripada gak jelas disini!" sentak Kania.


Bukannya menurut, Daniel justru beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri membelakangi Kania dan menatap ke langit yang gelap itu sambil melipat kedua tangannya di depan. Kania hanya diam memperhatikan tingkah lelaki itu, ka heran mengapa Daniel malah terdiam dan seolah mengabaikannya.


"Kamu lihat bintang-bintang di atas itu kan, Nia? Mereka semua cantik ya?" seru Daniel.


"Hm, ya. Terus kenapa? Kamu jauh-jauh kesini cuma mau kasih unjuk kecantikan bintang di langit?" tanya Kania dengan wajah heran.


"Gak gitu Kania, ini tuh aku lagi usaha cari topik buat kita bisa ngobrol. Hargain dong!" kesal Daniel.


Kania malah memalingkan wajahnya dan tampak malas meladeni perkataan Daniel barusan, rasanya bahkan ia sudah ingin pergi saja dari sana dan kembali ke rumahnya. Namun, Kania masih memiliki perasaan tidak tega karena bagaimanapun Daniel sudah sering membantunya selama ini dan ada di setiap kali ia membutuhkan pertolongan.


"Niel, aku minta kamu bicara serius deh sekarang! Kamu mau apa ke rumah aku? Bahasnya jangan soal yang lain atau gak penting dong!" ucap Kania kesal.


Daniel tersenyum menatap wajah Kania, kemudian ia kembali duduk di sebelah gadis itu dan terus memandangi wajahnya yang terlihat kesal serta cemberut karena ulahnya. Daniel ingin sekali menyentuh tangan ataupun wajah Kania saat ini, akan tetapi itu semua tak mungkin bisa ia lakukan karena khawatir Kania akan memarahinya.


"Okay, kalau aku bilang sekarang aku datang kesini karena aku mau lamar kamu, apa kamu bakal jawab bersedia?" ucap Daniel sambil tersenyum.


Deg


Betapa terkejutnya Kania saat ini, ia reflek bangkit dari tempat duduknya dan menatap heran ke arah wajah Daniel seolah tak percaya dengan apa yang tadi pria itu ucapkan. Kania tentunya belum ingin menikah dengan siapapun, karena ia masih mau meneruskan pendidikannya dan menggapai cita-cita yang selama ini ia dambakan.


"Kamu jangan bercanda deh, Niel! Aku masih mau lanjut kuliah ya, main lamar aja!" sentak Kania.


"Ahaha, kan cuma ngelamar loh. Nikahnya mah bisa nanti-nanti kalau kamu udah siap, yang penting kamu jadi punya aku dulu!" ucap Daniel.


Kania terdiam selama beberapa saat, seolah-olah ia tengah memikirkan apa jawaban yang tepat kali ini. Pasalnya, Kania juga bingung dan belum yakin apakah ia mencintai Daniel atau tidak. Dari dulu hingga sekarang, Kania memang hanya menganggap Daniel sebagai sahabatnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2