
...♥️♥️♥️♥️♥️...
Kania POV
Saat ini aku berada di salah satu restoran bersama Darwin, ya tadi pria itu mengajakku makan siang berdua sesaat setelah aku pulang dari kampus. Karena tak ada pilihan lain dan juga paksaan dari Aisyah, aku pun terpaksa menerima tawaran Darwin dan pergi bersamanya dengan menyamar sebagai Aisyah karena itulah yang diketahui oleh Darwin.
Dengan sengaja Darwin langsung menggandeng tanganku saat turun dari motor, dia pun membawaku ke dalam restoran tersebut lalu kami duduk bersama-sama disana. Aku sangat gugup dibuatnya, terlebih ketika Darwin menatapku dan tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya. Aku tak tahu harus bagaimana, sebab aku masih belum bisa untuk memahami sikap Aisyah yang sebenarnya.
"Syah, kamu kenapa diam mulu sih? Gak biasanya loh kamu bertingkah kayak gini, udah hampir mirip sama Kania malah. Atau malah kamu ini udah keracunan sikap Kania ya?" tegur Darwin.
"Hah? Lo ngomong apa sih?" aku pun tersentak dan menarik tanganku lepas dari genggamannya.
"Aisyah, kenapa pake dilepas sih? Tangan aku ini udah nyaman loh genggam kamu, please Syah izinin aku buat pegang lagi ya!" ucap Darwin membujukku.
Aku dengan cepat menggeleng dan mengatakan jika aku tidak ingin bersentuhan tangan dengan pria itu, ya aku memang tak terbiasa menyentuh atau bersentuhan dengan laki-laki, sejauh ini hanya kak Morgan dan Alex yang pernah aku sentuh. Aku pun juga tak mau menjadi wanita murahan, meski saat ini aku sedang menyamar sebagai Aisyah.
"It's okay, kalau kamu emang gak nyaman ya gapapa kok. Kamu udah mau terima tawaran aku aja, aku udah senang banget loh. Makasih banyak ya Aisyah?" ucap Darwin dengan senyum lebarnya.
"Iya sama-sama, mendingan kita sekarang cepat makan supaya gue bisa cepat juga pulangnya! Jujur, gue males lama-lama di luar kayak gini," pintaku.
Darwin tersenyum saja menatapku, dan tak lama pesanan kami pun tiba diantar oleh pelayan. Aku tak ingin berlama-lama lagi berada disana berdua dengan Darwin, ya karena aku khawatir jika pria itu nantinya malah curiga padaku. Selain itu, aku juga memang selalu gugup setiap kali berada di dekat laki-laki selain kak Morgan dan Alex.
"Uhuk uhuk uhuk..."
Sangking buru-buru nya, aku malah tersedak oleh makananku sendiri. Akibatnya, hampir saja aku memuntahkan semua makanan yang sedang aku kunyah saat ini. Untungnya aku masih bisa menahan diri, tetapi Darwin yang panik langsung mendekat ke arahku sembari menyodorkan minuman untukku agar aku bisa lebih baik.
"Aisyah, kamu gak kenapa-napa kan? Nih diminum dulu biar enakan, lain kali kamu makannya pelan-pelan aja Aisyah!" ucap Darwin panik.
Aku mengangguk dan menerima minuman dari Darwin itu, lalu meminumnya sampai sisa setengah. Akhirnya aku pun merasa lebih baik dibanding sebelumnya, kutatap wajah Darwin dan ku ucapkan terimakasih padanya karena dia sudah perduli padaku sampai memberikan aku minuman. Darwin hanya membalas dengan senyum tipisnya, dan kembali duduk di tempatnya saat ini.
__ADS_1
"Gue buru-buru soalnya gue pengen cepat-cepat balik, gue takut ada yang ngenalin gue disini terus bully gue lagi!" ucapku dengan gugup.
"Oh jadi karena itu kamu gak mau lama-lama disini? Tenang aja Aisyah, kamu jangan panik gitu! Disini kan ada aku, aku bakal lindungi dan belain kamu kalau ada yang berani macam-macam ke kamu nanti!" usap Darwin tegas.
Aku pun tanpa sadar tersenyum, sepertinya aku memang terlalu mudah terbawa perasaan oleh perkataan laki-laki. Itulah yang membuatku dulu juga sempat terjebak dengan cinta palsu Alex, namun sekarang ini aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi percaya pada setiap perkataan pria yang hanya sekedar omong kosong itu.
•
•
Aisyah POV
Saat Kania pergi bersama Darwin untuk makan siang bersama, aku yang kesepian pun memutuskan duduk santai saja di ruang tamu sembari menonton tv dan menikmati cemilan milikku. Aku tak tahu kapan mereka akan pulang, yang pasti kini aku ingin bersantai terlebih dahulu setelah seharian penuh ini aku harus berakting sebagai Kania di depan orang banyak dan tentunya bukan suatu hal yang mudah.
Namun dikala aku sedang asyik bersantai dan menikmati cemilan, tiba-tiba saja kak Damar alias sepupuku itu datang menemui ku dan duduk secara tiba-tiba di sebelahku. Tentu saja aku terkejut dengan kedatangan kak Damar itu, apalagi sebelumnya dia tak pernah bilang ingin datang. Tapi, memang seperti itulah kebiasaan dari kak Damar.
Aku pun langsung memasang wajah cemberut ke arahnya, "Apa sih kak? Gausah ngeledek deh, apa kakak lupa kalau aku ini lagi dibully sama satu Indonesia sekarang?" ucapku kesal.
"Iya iya aku tahu, tapi kenapa kamu sendirian sekarang? Kania mana, kok gak kelihatan?" kak Damar kembali bertanya padaku.
"Ohh, tadi Kania lagi pergi sama Darwin. Ya biasalah kak namanya juga anak muda, kakak pasti kan sering begitu," ucapku menggodanya.
"Ah bisa aja kamu! Tapi, bukannya Darwin itu sukanya sama kamu ya? Kenapa dia sekarang jadi deketin Kania?" tanyanya keheranan.
"Eee itu...."
Aku benar-benar bingung saat ini, apakah aku harus menjelaskan semuanya pada kak Damar kalau sekarang aku dan Kania sedang bertukar peran? Jujur saja aku tak ingin kak Damar tahu, karena pasti dia tidak setuju dengan rencana Kania ini dan dia akan memaksa kami untuk menyudahi semuanya lalu kembali menjadi diri masing-masing.
"Kamu pasti masih bertukar peran kan sama adik kembar kamu itu?" tiba-tiba, kak Damar menyela ucapanku dan menebak seperti itu.
__ADS_1
Tentu saja aku terkejut mendengarnya, "Darimana kakak tahu kalau aku dan Kania bertukar peran?" tanyaku padanya.
"Hahaha, kamu gausah kaget gitu Aisyah. Kania udah ceritain semuanya ke aku dari lama, jadi ya aku pasti tahu dong apa yang terjadi sama kalian berdua," ucapnya disertai kekehan kecil.
"Tapi kak, kenapa kakak gak larang Kania kalau kakak udah tahu soal itu?" tanyaku heran.
Kulihat kak Damar tersenyum menatapku, lalu dia beranjak dari kursi dan menghampiriku yang masih bersandar kali ini. Dia tepat berada di dekatku, satu tanganku bahkan sudah digenggam olehnya dan diusap dengan lembut. Aku tak mengerti, apa sebenarnya yang dimaksud oleh kakak sepupuku ini dan mengapa dia malah begini padaku?
"Kakak ngapain sih?" langsung saja aku bertanya padanya, ya tentu karena aku penasaran.
"Kamu itu gimana sih, Syah? Kania bilang ke aku kalau dia ngelakuin ini demi kebaikan kamu, jadi ya aku mana bisa larang dia?" ucapnya santai.
"Ya seenggaknya kan kakak bisa nasehatin dia, biar dia gak ngelakuin itu," ucapku.
"Itu sudah keputusan dia, Aisyah. Aku bisa apa? Lagipula, kamu sendiri kenapa setuju dengan usul Kania?" ujarnya membalikkan pertanyaanku.
"Umm i-itu..."
"Udah, kita gausah bahas soal itu dulu! Aku kesini itu mau bicara sesuatu sama kamu, ini tentang karir kamu sebagai model iklan di management aku," ucap kak Damar menyela.
"Hah? Karir aku? Bukannya karir aku udah selesai ya kak sejak aku dibully se-Indonesia?" tanyaku heran.
"Itu memang benar, tapi sekarang kamu kan udah jadi Kania, bukan Aisyah. Jadi, kamu masih tetap ada di management aku," jawabnya.
Deg
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1