
Seketika aku terdiam, apa yang diucapkan kak Damar memang benar. Aku ini adalah saudara yang bodoh dan egois, seharusnya aku tidak mengorbankan adikku sendiri demi untuk kesenangan ku semata. Aku juga malah tidak rela jika nama Kania dikenal orang-orang, saudara macam apa aku ini?
Air mata pun tiba-tiba menetes membasahi wajahku, aku menyesal telah berbicara seperti tadi di hadapan kak Damar. Sebagai seorang kakak, harusnya aku tak perlu cemburu seperti itu pada Kania. Lagipula, Kania sekarang sudah dengan sesuka hatinya mau membantuku untuk menghindar dari bully-an orang-orang yang mengetahui video skandal ku itu.
"I-i-iya kak, aku minta maaf kalau tadi aku salah bicara. Kamu benar, harusnya aku gak perlu ngerasa iri kalau Kania jadi terkenal karena kerja keras aku. Justru ini harus aku jadikan sebagai balas budi ke dia yang selalu tolong aku," ucapku mantap.
"Nah itu benar Aisyah, pemikiran kamu tuh harus begini supaya aku percaya kalau kamu memang kakaknya Kania!" ucap kak Damar.
Aku mengangguk-angguk paham, "Iya kak, kalo gitu aku mau deh terima tawaran kakak. Aku akan jadi model dengan memakai nama Kania, tapi kiranya kapan itu akan dimulai kak?" ucapku lirih.
"Nanti aku akan kabari lebih lanjut, dan satu lagi yang ingin aku beritahu ke kamu. Aku sudah dapat pasangan untuk kamu, jadi nanti kamu akan foto berdua dengan dia," ucap kak Damar.
"Hah? Siapa kak orangnya? Laki-laki ya?" tanyaku sangat penasaran.
"Iya dong, kan pasangan. Nanti begitu ada pihak yang ingin memakai jasa kalian, aku pasti kabari kamu dengan cepat Aisyah!" jawab kak Damar.
"Oke deh, aku manut aja sama kakak. Eh ya omong-omong, kakak mau minum apa?" ucapku.
Dia menggeleng kali ini, "Gausah, udah terlambat juga kamu tawarin nya. Daritadi malah kamu diam aja, sekarang mah aku udah mau pulang," ucapnya disertai tawa kecil.
"Yah maaf ya kak? Lagian kenapa buru-buru sih? Kania juga belum pulang kan," ucapku.
"Gapapa, aku kan maunya ketemu kamu aja. Nanti kapan-kapan baru deh aku kesini lagi, terus kita bisa ngobrol bertiga," ucapnya sambil tersenyum.
"Okay." aku mengangguk saja dibuatnya.
__ADS_1
Lalu setelah itu, kak Damar pun beranjak dari sofa dan berniat pergi. Aku juga memutuskan ikut mengantar kakak sepupuku itu sampai ke depan, meski saat ini aku sedang bersantai menikmati cemilan dan tontonan ku. Ya kami berdua melangkah menuju pintu, tapi tanpa diduga Marvel malah berada disana kali ini begitu aku membuka pintu bersama kak Damar.
"Marvel??" lirihku. Aku benar-benar tak menyangka, untuk apa Marvel datang ke rumahku?
Bahkan bukan hanya diriku, melainkan juga kak Damar yang ikut terkejut saat melihat keberadaan Marvel disana. Dia pun tampak tak menyukai kehadiran Marvel, karena yang dia tahu Marvel sudah sangat menyakiti perasaanku. Apalagi pernikahan kami sudah di depan mata, namun tiba-tiba saja Marvel membatalkan semuanya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku yang amat hancur.
"Mau apa lagi kamu datang kesini? Belum cukup semua yang udah kamu lakuin ke aku, ha? Kamu udah nyakitin aku, Marvel!" ucapku dengan ketus.
"Syah, dengerin aku dulu! Aku kesini gak ada niatan untuk nyakitin kamu lagi kok," ucap Marvel.
"Cukup ya Marvel, apapun itu alasan kamu tetap aja aku gak mau lihat muka kamu lagi di depan aku!" ucapku tegas.
Marvel terdiam, sedangkan tanpa diduga kak Damar justru melangkah maju mendekati Marvel kali ini. Aku pun tampak kebingungan melihat tatapan kak Damar yang menjurus ke arah Marvel, entah kenapa perasaanku kini merasa was-was dan khawatir kalau kak Damar akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Marvel.
"Maksudnya apa ya? Gue gak mau cari ribut disini, jadi tolong jangan begitu!" ucap Marvel.
"Tch, emang dasar cowok aneh! Lo udah bikin Aisyah sakit hati, terus sekarang lu seenaknya datang kesini dan bicara begitu. Gue heran sama lu, mau lu apa sih?" umpat kak Damar.
"Kak, udah kak jangan ribut! Mungkin aja Marvel mau bicara sesuatu, kita dengerin aja dia dulu ya kak!" ucapku menyela.
"Tapi Syah, orang kayak dia itu gak pantas kamu baikin! Dia udah nyakitin kamu, dan dia harus menerima balasannya!" ucap kak Damar yang sepertinya sangat emosi.
"Iya kak, aku ngerti. Tapi, kakak harus tahan emosi!" ucapku memohon.
Kak Damar pun tampak terus menatap ke arah Marvel dengan emosinya, aku sedikit khawatir dan cemas jika kak Damar tidak dapat menahan dirinya lalu malah terjadi keributan disana diantara mereka berdua. Langsung saja aku berdiri di hadapan kakak sepupuku itu, mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tak kuinginkan.
__ADS_1
"Eee udah udah kak, jangan emosi okay! Aku yakin Marvel gak akan berani cari gara-gara disini, aku percaya sama dia!" ucapku.
"Iya itu benar, gue kesini baik-baik kok. Gue cuma mau ngobrol berdua sama Aisyah, ini menyangkut masalah yang terjadi diantara kita berdua," ucap Marvel tampak serius.
"Apa lagi sih yang mau lu obrolin, ha? Gue rasa semuanya udah jelas, lu itu gak percaya sama gue dan lebih percaya sama video itu. Padahal kita udah kenal lama loh Vel, tapi lu masih aja ragu sama kesetiaan gue!" ucapku dengan tegas.
"Justru itu Syah, aku nyesel banget udah batalin pernikahan kita. Sampai sekarang aku gak bisa ngelupain kamu, maka dari itu aku kesini mau minta maaf sama kamu Aisyah!" ucap Marvel.
Aku membelalakkan mata, benarkah barusan yang dikatakan oleh Marvel padaku itu? Aku masih tak percaya mendengarnya, karena kala itu Marvel sangat emosi dan sampai tidak mau mendengar penjelasan dariku. Namun, saat ini tanpa aku duga sebelumnya Marvel malah datang lalu meminta maaf padaku dan menyesal telah membatalkan pernikahan kami kala itu.
"Maaf? Segitu gampang lu mau minta maaf sama gue, setelah apa yang lu lakuin ke gue waktu itu?" ucapku tak terima.
"Aku tahu kesalahan aku itu besar banget ke kamu, tapi aku mohon sama kamu tolong maafin aku! Aku janji akan tebus kesalahan aku semuanya, kamu bilang aja aku harus apa sekarang!" ucap Marvel.
"Lo gak perlu ngelakuin apa-apa, Vel. Lo cukup pergi aja dari sini, karena gue udah males ngeliat muka lu!" ucapku ketus.
"Ta-tapi Syah..."
"Marvel cukup! Lo tolong jangan maksa-maksa gue, mending lu cepet pergi atau gue panggil security buat usir lu!" ucapku menyelanya.
Terlihat Marvel langsung terdiam kali ini, dia juga menundukkan kepalanya karena bingung. Jujur sebetulnya aku pun agak kasihan melihatnya, aku juga tidak tega karena aku masih belum bisa sepenuhnya melupakan dia. Namun, rasa sakit yang dia tanam di hatiku lebih besar dari semuanya dan aku tak ingin semua itu terjadi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1