Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Bukan Kania


__ADS_3

Kak Damar pun tampak terus menatap ke arah Marvel dengan emosinya, aku sedikit khawatir dan cemas jika kak Damar tidak dapat menahan dirinya lalu malah terjadi keributan disana diantara mereka berdua. Langsung saja aku berdiri di hadapan kakak sepupuku itu, mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tak kuinginkan.


Ya meskipun aku juga tidak senang dengan kehadiran Marvel, namun aku tetap tak ingin jika kak Damar dan Marvel terlibat perkelahian kali ini. Apalagi jika perkelahian itu terjadi di depan rumahku, pastinya orang-orang nanti akan datang dan berkerumun disini. Pastinya juga, mereka mungkin bisa mengenali siapa aku yang sebenarnya.


"Eee udah udah kak, jangan emosi okay! Aku yakin Marvel gak akan berani cari gara-gara disini, aku percaya sama dia!" ucapku.


"Iya itu benar, gue kesini baik-baik kok. Gue cuma mau ngobrol berdua sama Aisyah, ini menyangkut masalah yang terjadi diantara kita berdua," ucap Marvel tampak serius.


"Apa lagi sih yang mau lu obrolin, ha? Gue rasa semuanya udah jelas, lu itu gak percaya sama gue dan lebih percaya sama video itu. Padahal kita udah kenal lama loh Vel, tapi lu masih aja ragu sama kesetiaan gue!" ucapku dengan tegas.


"Justru itu Syah, aku nyesel banget udah batalin pernikahan kita. Sampai sekarang aku gak bisa ngelupain kamu, maka dari itu aku kesini mau minta maaf sama kamu Aisyah!" ucap Marvel.


Aku membelalakkan mata, benarkah barusan yang dikatakan oleh Marvel padaku itu? Aku masih tak percaya mendengarnya, karena kala itu Marvel sangat emosi dan sampai tidak mau mendengar penjelasan dariku. Namun, saat ini tanpa aku duga sebelumnya Marvel malah datang lalu meminta maaf padaku dan menyesal telah membatalkan pernikahan kami kala itu.


"Maaf? Segitu gampang lu mau minta maaf sama gue, setelah apa yang lu lakuin ke gue waktu itu?" ucapku tak terima.


"Aku tahu kesalahan aku itu besar banget ke kamu, tapi aku mohon sama kamu tolong maafin aku! Aku janji akan tebus kesalahan aku semuanya, kamu bilang aja aku harus apa sekarang!" ucap Marvel.


"Lo gak perlu ngelakuin apa-apa, Vel. Lo cukup pergi aja dari sini, karena gue udah males ngeliat muka lu!" ucapku ketus.


"Ta-tapi Syah..."


"Marvel cukup! Lo tolong jangan maksa-maksa gue, mending lu cepet pergi atau gue panggil security buat usir lu!" ucapku menyelanya.


Terlihat Marvel langsung terdiam kali ini, dia juga menundukkan kepalanya karena bingung. Jujur sebetulnya aku pun agak kasihan melihatnya, aku juga tidak tega karena aku masih belum bisa sepenuhnya melupakan dia. Namun, rasa sakit yang dia tanam di hatiku lebih besar dari semuanya dan aku tak ingin semua itu terjadi.


"Okay, aku bakal nurut dan pergi dari sini sesuai permintaan kamu. Tapi kamu ingat ini baik-baik Aisyah, aku gak akan pernah menyerah untuk datang kesini dan minta maaf dari kamu!" ucap Marvel.


Aku terkejut mendengarnya, untuk apa dia sampai berkata seperti itu padaku? Bukankah dia sudah benci padaku setelah peristiwa kala itu, lantas kenapa dia malah sekarang tiba-tiba datang dan ingin meminta maaf dariku? Sungguh aku tak mengerti, tetapi aku juga hanya mengiyakan saja ucapan Marvel barusan tanpa memikirkannya.


Setelah itu, Marvel pun pergi dengan perasaan kesal karena telah gagal mendapat maaf dariku. Kulihat dia masih melirik ke arahku sekilas, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang. Aku dan kak Damar merasa lega, sebab Marvel tidak berbuat ulah kali ini dan mau menuruti permintaan ku.


Aisyah POV end




Hari berganti, Kania yang masih menyamar sebagai Aisyah itu kini berniat pergi ke kampusnya seperti biasa. Akan tetapi, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dimana ban mobil yang ia tumpangi itu harus kempes dan tidak bisa digunakan. Tentu saja Kania tampak panik, ia menanyakan pada sang supir apakah ini akan memakan waktu lama atau tidak.


Rupanya sang supir mengatakan jika ia membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk mengganti ban mobil tersebut, ya Kania pun merasa jika itu terlalu lama dan tidak mungkin ia terus menunggu disana. Bisa saja nantinya ia terlambat datang ke kampus dan mengikuti kelasnya, tentu Kania tidak mau membuat nama kakaknya jelek.


"Duh pak, kayaknya saya mau pesan ojek online aja deh. Soalnya saya harus cepat-cepat sampai kampus," ucap Kania panik.


"Oh iya non, itu emang ide yang bagus!" ucap supirnya itu.


"Yaudah, bapak tolong benerin aja mobilnya ya! Saya turun duluan, saya udah gak bisa tunggu lama lagi," ucap Kania yang kemudian diangguki supirnya.

__ADS_1


Setelahnya, Kania pun turun dari mobil sembari berusaha memesan ojek melalui ponselnya. Akan tetapi, baru saja beberapa menit sudah ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Sontak Kania terkejut, apalagi si pengemudi turun dari mobilnya dan menghampiri Kania disana sambil tersenyum. Betapa kagetnya Kania, ketika menyadari orang yang datang mendekatinya adalah Alex.


"Hai Kania! Gak nyangka kita ketemu lagi disini, aku kangen banget tau sama kamu! Kamu apa kabar Kania, baik-baik aja kan?" ucap Alex menyapanya.


Kania terdiam, gadis itu bingung apakah ia harus mengaku sebagai Aisyah atau tetap pada dirinya. Jujur Kania sangat malas bertemu dengan Alex apalagi harus berbicara padanya, ya sejak saat ini Kania memang masih sakit hati atas apa yang dilakukan Alex disaat mereka menjalin hubungan beberapa waktu lalu.


"Gue bukan Kania, gue Aisyah. Kalau lu mau ketemu Kania, sana gih ke rumah!" ucap Kania berbohong.


Alex menggeleng sambil tersenyum, "Enggak, kamu gak bisa bohongin aku, Kania. Aku tahu ini kamu, jangan kira aku gak tahu seperti apa kamu ya!" ucapnya dengan tegas.


"Lo ngeyel banget ya? Udah dibilang gue ini Aisyah, bukan Kania. Kenapa lu gak percaya?" ujar Kania.


"Kamu boleh ubah gaya bicara kamu, tapi aku tetap bisa kenal sama kamu Kania. Aku tahu kamu bukan Aisyah, ayolah jangan mengelak!" ucap Alex.


"Lex cukup, gue lagi buru-buru sekarang! Kalau lu cuma mau ganggu gue, mending lu pergi deh!" sentak Kania.


"Kania, kamu tuh kenapa sih? Kenapa kamu jadi kayak gini sama aku?" tanya Alex keheranan.


Kali ini Kania tak menjawab, ia sudah malas harus berdebat dengan Alex yang terus saja tidak percaya padanya. Mungkin saja pria itu memang mengenali dirinya, sampai-sampai dia tidak semudah itu dibohongi olehnya. Kania pun berusaha menjauh dan menghindar dari Alex, tetapi pria itu tak membiarkan Kania pergi begitu saja dari sana.


"Mau kemana kamu Kania? Okay, aku gak akan paksa kamu lagi. Tapi, biarin aku antar kamu ke kampus ya sayang!" bujuk Alex.


Kania langsung menghentak tangannya lepas dari genggaman pria itu, sontak Alex terkejut dan tak menyangka jika Kania dapat bertindak sekasar itu padanya. Namun, Alex masih tetap yakin kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah Kania. Ya biar bagaimanapun, Alex tahu betul perbedaan antara Kania dengan Aisyah karena dia sudah cukup lama mengenal Kania selama ini.


"Gue gak mau diantar sama lu, lagian gue bisa kok pergi sendiri. Gue juga bukan Kania, dan harusnya lu ngerti soal itu dong Alex. Masa lu gak bisa bedain mana gue dan mana Kania?" ucap Kania.


"Terserah lu aja deh, yaudah kalau emang lu mau anterin gue ayo aja gue mau! Lumayan juga dapat tumpangan gratis," ucap Kania tersenyum lebar.


"Okay, thanks ya Kania!" ucap Alex.


Kania menggeleng saja seraya memutar bola matanya, lalu Alex langsung meraih satu tangan gadis itu dan mengajaknya menuju mobil si pria yang terparkir tak jauh dari sana. Tak ada penolakan dari Kania, sebab ia ingin semuanya cepat selesai dan tidak perlu lagi ada perdebatan diantara mereka.




Singkat cerita, mereka telah sampai di tempat Kania melaksanakan kuliah. Namun, Alex merasa heran lantaran kampus yang mereka tuju saat ini bukanlah kampus yang sesuai dengan tempat Kania berkuliah. Tentu saja Alex menatap wajah Kania dengan bingung, ia tak mengerti mengapa Kania malah mengajaknya datang ke kampus harapan jaya. Ya padahal yang Alex tahu, Kania kuliah di kampus pelita bangsa dan bukan di harapan jaya.


"Eh Kania, ini kenapa kita ke harapan jaya? Kampus kamu itu kan di pelita bangsa, harusnya kita kesana dong sayang. Ah atau kamu lupa ya sama kampus kamu sendiri?" tanya Alex terheran-heran.


Kania menggeleng dengan pelan, "Hadeh, harus berapa kali sih gue bilang? Gue ini Aisyah, bukan Kania. Gue ya emang kuliah di harapan jaya, udah deh lu jangan ngomong yang aneh-aneh lagi!" ucapnya kesal.


"Kamu masih aja ngelak ya sayang, aku ini gak bisa kamu bohongi loh!" ucap Alex.


"Lex, gue mau kuliah dan gue ada kelas sebentar lagi. Udah ya gue pengen turun, thanks udah anterin gue kesini!" ucap Kania ketus.


"I-i-iya Kania, tapi sebentar aku masih mau ngobrol sama kamu!" pinta Alex.

__ADS_1


"Tapi gue gak mau, lagian gue udah bilang kalau gue harus ikut kelas dan gue ini bukan Kania. Terserah lu mau percaya atau enggak, intinya gue bakal turun dari mobil lu sekarang!" tegas Kania.


"Kania..."


Gadis itu tak menuruti permintaan Alex, ia malah memaksa keluar dan turun dari mobil tersebut untuk bergegas pergi. Alex yang tak terima turut menyusul Kania turun dan berusaha mengejarnya, ya Alex masih ingin berbincang banyak dengan gadis itu dan ia tidak akan bisa membiarkan Kania pergi begitu saja dari sana dengan mudah.


"Kania, tunggu! Aku mohon sama kamu, tolong jangan pergi! Aku masih pengen bicara berdua sama kamu, please!" ucap Alex memohon.


Kania terpaksa menghentikan langkahnya, menatap wajah Alex dengan mata tajam sembari berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan pria tersebut. Tak lama kemudian, Kania terbelalak ketika segerombolan mahasiswi di kampus itu mendekat ke arah mereka dan kembali mencibirnya. Ya para mahasiswi itu mengatakan jika Kania yang mereka kira Aisyah adalah memang wanita murahan, itu karena kedekatannya dengan Alex saat ini.


Tentu saja Kania merasa jengkel mendengarnya, semua hujatan itu ditujukan padanya tetapi karena mereka semua mengira dirinya adalah Aisyah. Itulah sebabnya Kania tampak kesal, ingin rasanya ia membalas dan memukul mereka semua yang sudah menghujat Aisyah seperti itu. Namun, ia tidak mau membuat citra nama Aisyah buruk di kampusnya dan lebih memilih sabar untuk sekarang ini.


"Tuh lu dengar sendiri kan mereka bilang apa? Ini semua gara-gara lu, gue sekarang jadi dihujat lagi sama mereka. Hidup gue tuh udah hancur Lex, tapi sekarang lu nambahin lagi beban di hidup gue ini!" geram Kania disertai isakan tangisnya.


"Kania, aku minta maaf. Aku gak bermaksud untuk—"


"Kania Kania Kania, itu terus yang lu bilang. Capek gue rasanya kasih tahu lu, kalau gue ini bukan Kania!" sela Kania dengan tegas.


Alex terdiam mendengarnya, belum pernah Kania bersikap seperti itu padanya sebelumnya. Akhirnya Alex terpaksa melepaskan tangan gadis itu, lalu membiarkan Kania pergi begitu saja memasuki area kampus tanpa mengejarnya lagi. Meski begitu, Alex masih yakin jika wanita yang tadi ia temui itu adalah Kania dan bukan Aisyah.


"Woi Alex!" tiba-tiba saja, suara seseorang datang menyapa dan membuat fokus Alex teralihkan ke sosok pria tersebut.


"Hah Darwin?" Alex benar-benar kaget melihat keberadaan Darwin disana, ya terlebih ketika pria itu mendekat ke arahnya lalu menatap dengan heran.


"Lu ngapain disini Lex? Emangnya sekarang lu kuliah disini juga?" tanya Darwin kebingungan.


"Eee enggak, gue tadi abis nganterin Kania. Lu sendiri ngapain disini, kuliah?" ucap Alex menjawab apa adanya.


"Iya gue kuliah, tapi bentar deh gue bingung. Kok bisa lu anterin Kania kesini? Setahu gue, yang kuliah disini itu Aisyah bukan Kania. Oh atau lu salah sebut ya?" ucap Darwin.


Alex menggeleng, "Gak Win, beneran gue anterin Kania. Ya walaupun dia ngaku sebagai Aisyah, tapi gue yakin kok kalau itu Kania!" ucapnya kekeuh.


"Hahaha, ngaco banget lu Lex! Itu tuh beneran si Aisyah, mana ada Kania kuliah di kampus kayak gini. Kania mah kuliahnya di kampus terkenal yang bagus, sembarangan lu kalo ngomong!" kekeh Darwin.


"Yah terserah lu deh, yaudah gue mau cabut dulu. Sampaikan salam gue ke Kania, ya!" ucap Alex.


"Hadeh, masih aja lu ngarep itu Kania. Iya deh terserah lu aja, kalo gitu gue juga pengen ke dalam," ucap Darwin.


"Oke." Alex mengangguk perlahan.


Setelahnya, Alex pun kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan area kampus. Sedangkan Darwin tampak melangkah lebih dulu, dan tanpa sengaja Darwin malah bertemu dengan Kania yang tengah terduduk di pinggir lorong kampus sambil bermain handphone. Melihat gadis itu sendirian disana, sontak Darwin bergegas menghampirinya.


"Ehem ehem, Aisyah!" Darwin langsung memanggil gadis yang ia kira sebagai Aisyah itu.


"Hah Darwin??" Kania terkejut, lalu spontan beranjak dari kursinya dan berdiri menatap Darwin dengan wajah bingung.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2