
Damar muncul di kantornya menemui Aura yang masih setia bekerja mengurus semuanya disana. Damar pun masuk ke dalam ruangan gadis itu, lalu mengunci pintu dan memastikan semua aman-aman saja. Setelahnya, Damar bergegas menghampiri Aura dan menggodanya dengan cara membelai wajah serta rambut wanita itu.
Aura yang tengah fokus mengutak-atik laptopnya dibuat terkejut dengan kehadiran sang bos disana, sontak ia menoleh ke arahnya lalu terlihat heran karena Damar malah mendekatinya. Kini Damar berada tepat di dekatnya, meletakkan satu tangannya untuk mengurung wanita itu dan mengecup wajahnya dari posisi bungkuk.
"Hai sayang! Kamu malam-malam begini kok masih kerja aja sih? Kita pulang yuk ke apartemen aku, kebetulan aku ada sesuatu yang mau dikasih lihat ke kamu!" ucap Damar membujuknya.
"Umm, iya mas soalnya ini nanggung kok. Aku harus selesaikan semuanya sebelum besok," ucap Aura.
"Sssttt, kamu gausah mikirin itu! Kamu kan calon istri aku sayang, jadi kamu sebentar lagi juga bakal jadi bos disini!" ucap Damar.
"Ta-tapi mas—"
Belum sempat Aura selesai bicara, Damar sudah lebih dulu merangkulnya dan mematikan laptop milik wanita itu serta memintanya berdiri lalu ikut bersamanya. Aura tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah, apalagi tubuhnya didekap erat saat ini oleh lelaki itu sehingga tidak ada yang bisa Aura lakukan karena tindakan Damar.
"Mas, sebentar mas! Aku harus beresin barang-barang aku dulu sebelum pulang, kamu tunggu aja di luar ya!" pinta Aura.
"Gak perlu keluar, saya tunggu disini deh. Lagian saya kangen banget sama kamu, saya gak bisa jauh-jauh dari kamu! Saya pengen selalu ada di dekat kamu," ucap Damar menggodanya.
Aura tersipu dan memalingkan wajahnya, ia sungguh gugup setiap kali Damar memujinya atau berusaha merayunya. Aura pun mengambil tas serta merapihkan barang-barangnya yang tertinggal di atas meja, termasuk ponsel miliknya. Sedangkan Damar setia menunggu di dekatnya dan terus memandangi wajah wanita itu, sepertinya Damar memang sangat mengagumi calon istrinya.
"Udah beres kan? Ayo sayang kita pulang, aku udah gak sabar nih!" ucap Damar.
Aura menoleh ke arah kekasihnya dan mengangguk kecil sebagai jawaban, ia lalu menghampiri Damar disana dan bersiap untuk pulang. Tanpa berpikir panjang lagi, Damar langsung merangkul serta melangkah bersama keluar dari ruangan itu. Pria itu sudah tidak sabar ingin berdua bersama Aura di apartemennya nanti dan mengulang malam itu.
Singkat cerita, mereka telah berada di dalam mobil dan tengah menuju apartemen milik Damar yang sudah menjadi tempat tinggal keduanya. Namun, tiba-tiba saja Damar menghentikan mobilnya di sebuah jalan yang gelap dan sepi. Sontak Aura merasa terkejut, apalagi di sekitar sana sama sekali tidak ada kendaraan atau siapapun.
"Mas, kenapa kita berhenti disini? A-aku takut mas, kalau ada begal atau orang jahat yang lain gimana?" tanya Aura gugup.
"Tenang sayang, aku udah gak tahan nih! Kita main cepat dulu ya disini!" jawab Damar.
"Apa??" Aura tersentak mendengarnya, ia tampak bingung dan tak tahu harus apa begitu Damar melepas pakaiannya dan meraih tangannya.
Tubuh Aura pun diletakkan di atas pangkuan lelaki itu, mereka lalu saling melahap bibir satu sama lain dengan penuh gairah. Kedua tangan Damar bergerak melepas pakaian milik wanitanya, sampai Aura benar-benar polos tanpa tertutupi apapun. Tidak ada yang bisa dilakukan Aura saat ini, karena Damar tak mengizinkan dirinya bergerak terlalu banyak.
"Ma-mas, tahan dulu! Kamu yakin mau main disini? Kenapa enggak di apart aja?" ucap Aura.
"Yakin, pake banget malah!" jawab Damar santai.
Akhirnya tanpa basa-basi lagi, Damar langsung menyerang tubuh polos Aura dengan berbagai kecupan serta cumbuan yang meninggalkan jejak disana. Aura pun hanya bisa diam dan melenguh menikmati sentuhan itu, karena ia juga tak mungkin melakukan perlawanan.
•
•
Hari berganti, Kania yang telah bersiap untuk pergi ke kampus dikejutkan dengan kemunculan Alex yang tidak diduga sama sekali olehnya sebelum ini. Ya Alex tampak datang menggunakan motornya seperti biasa, lalu pria itu berhenti dan tersenyum ke arahnya dengan lambaian tangan yang tentu membuat Kania sedikit kagok.
Kania benar-benar malas harus bertemu dengan Alex kembali, apalagi setelah apa yang pria itu lakukan padanya sebelum ini. Jelas Kania masih mengingat betul kejadian tersebut, dimana Alex memberikan obat tidur kepadanya. Untung saja ada Daniel yang masih bisa menyelamatkannya, jika tidak maka pasti Alex sudah melakukan hal-hal yang di luar nalar kepada gadis itu.
"Mau apa lagi sih kamu kesini Lex? Gak cukup ya kamu udah sakitin aku waktu itu?" ucap Kania dengan nada ketusnya.
__ADS_1
Alex berusaha tetap tenang meski Kania jelas sekali tidak menginginkan kehadirannya disana, Alex memang bukan tipe lelaki yang mudah menyerah dan ia akan terus berjuang demi bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk salah satunya adalah memiliki Kania kembali, karena hanya Kania lah yang Alex cintai.
"Tenang Kania, aku kesini cuma pengen jemput kamu kok! Kamu pasti mau berangkat ke kampus kan? Pas banget aku datang, jadinya aku bisa antar kamu kesana deh!" ucap Alex tersenyum.
"Dih, siapa juga yang mau diantar sama kamu? Gausah ngarep deh jadi orang!" tolak Kania.
"Kania, ayolah sekali ini aja kok! Kamu gak kangen apa jalan-jalan naik motor berdua sama aku? Buat mengobati rasa rindu kamu aja," bujuk Alex.
"Hah? Ge'er banget sih kamu, ngapain aku kangen momen gak jelas kayak gitu?" elak Kania.
Alex mulai kebingungan harus bagaimana lagi untuk bisa membujuk Kania ikut dengannya, karena sepertinya Kania memang sulit dibujuk dan membuat Alex harus putar otak supaya bisa mengajak Kania ke kampus bersamanya. Apalagi, Kania sampai sekarang masih saja membenci pria itu dan tidak akan mudah untuk memaafkannya.
"Kamu yakin gak mau pergi naik motor berdua sama aku ke kampusnya? Enak loh Nia, jadi lebih cepat juga nanti sampai disana nya," bujuk Alex.
"Hm, kamu ngerti bahasa kan? Aku bilang enggak ya enggak, harusnya kamu paham dong soal itu! Udah ah sana kamu pergi, aku gak mau ngeliat muka orang jahat kayak kamu!" sentak Kania.
Betapa sakitnya hati Alex saat mendengar ucapan Kania barusan, apa yang dilontarkan Kania memang benar adanya dan Alex pun sadar akan itu. Namun, saat ini Alex sudah berubah dan ingin menjadi pria yang lebih baik untuk Kania. Ia sadar semua itu sudah terlambat, karena sekarang Kania sudah bukan lagi kekasihnya.
"A-aku mungkin udah jahat sama kamu dan bikin kamu bersedih waktu itu, tapi aku benar-benar nyesel Kania. Aku mau minta maaf sama kamu, tolong maafkan aku!" ucap Alex memelas.
"Udah terlambat Alex, daripada kamu ngemis ngemis kayak gitu di depan aku mending kamu cari aja wanita lain yang kamu mau!" suruh Kania.
"Gak akan ada yang bisa gantiin kamu Kania, cuma kamu yang aku mau. Aku ini jatuh cinta sama kamu, percayalah kalau tidak ada perempuan lain selain kamu di hati aku!" tegas Alex.
Kania terdiam selama beberapa saat, lalu ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan memilih pergi begitu saja melewati Alex. Gadis itu menemui sopirnya yang sudah bersiap dengan mobil di depan pagar itu, setelahnya Kania pun masuk ke dalam mobil itu tanpa berbicara apapun dengan Alex yang masih terdiam disana.
•
•
Melihat adik kembarnya terus melamun seperti itu, sontak Aisyah pun merasa bingung dan coba menegur Kania untuk menyadarkannya. Perlahan Aisyah meletakkan telapak tangannya di pundak sang adik, yang tentu membuat Kania terkejut. Saat Kania menoleh ke arahnya, Aisyah langsung tersenyum dan bertanya padanya.
"Nia, kamu lagi mikirin apa sih? Daniel ya?" tanya Aisyah pada adiknya itu.
Kania mengernyit tanda tak mengerti dengan apa yang ditanyakan Aisyah tadi, spontan ia menggeleng dan mengelak dari apa yang dikatakan Aisyah. Kania memang sedang bukan memikirkan Daniel, melainkan Alex yang tadi datang ke rumahnya. Namun, Kania sendiri tidak mau mengatakan itu kepada Aisyah karena takut digoda.
"Ih apa sih? Ya bukan lah Syah, ngapain juga aku mikirin Daniel? Aku tuh cuma lagi bingung aja, kenapa ya Alex terus aja datang ke rumah aku kayak tadi?" ucap Kania merengut.
"Hah? Emang Alex tadi ada di rumah ya? Kok aku gak ngeliat sih?" kaget Aisyah.
"Dih, mata kamu itu kemana sih Aisyah? Cowok segede itu masa gak lihat? Dasar aneh kamu!" cibir Kania.
Aisyah terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia memang tak melihat keberadaan Alex di rumahnya tadi karena mungkin ia terlalu fokus dengan ponselnya. Namun, ia sendiri juga bingung mengapa Alex terus saja datang kesana. Jika memang Alex masih mencintai Kania, lantas mengapa mereka putus saat itu?
"Ohh, berarti kamu itu daritadi mikirin Alex ya? Apa kamu juga masih cinta sama si Alex itu, hm?" tanya Aisyah dengan senyum lebarnya.
"Ish, kata siapa aku masih cinta sama dia? Enggak ya, aku udah seratus persen moveon. Emangnya kamu tuh yang masih mikirin kak Marvel terus, gamon!" ucap Kania.
Aisyah mendengus kesal dengan apa yang dikatakan Kania barusan, ia terlihat emosi dan langsung memukul lengan adiknya itu. Sedangkan Kania malah tertawa puas melihat reaksi sang kakak, sepertinya Kania memang senang menggoda Aisyah yang mudah terpancing itu dan selalu membuatnya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ah udah ah, jangan bahas-bahas Marvel terus! Kalau kamu masih kayak gitu, aku nanti temuin Daniel loh terus bilang ke dia supaya cepat-cepat lamar kamu!" ucap Aisyah cemberut.
"Ih kenapa jadi ke Daniel? Kamu aja tuh yang dilamar duluan sama Darwin!" ucap Kania terkekeh.
"Emang nyebelin ya kamu! Dasar ih!" kesal Aisyah.
Kania tertawa puas melihat reaksi Aisyah saat ini, keduanya pun terus saling bercanda di dalam mobil sepanjang perjalanan. Kebersamaan inilah yang memang harus dijaga oleh mereka, karena sampai kapanpun mereka tetaplah saudara. Baik Kania maupun Aisyah, tentu sama-sama harus saling menjaga dan tidak boleh terus berselisih paham.
"Aku senang deh bisa bercanda lagi sama kamu kayak gini, Syah. Setelah hampir berbulan-bulan kamu mengurung diri terus, akhirnya sekarang kamu bisa bahagia juga dan melupakan semua masalah kamu itu," gumam Kania dalam hatinya.
•
•
Baru saja turun dari mobilnya, Kania sudah langsung bertemu dengan Daniel di depan sana dan membuat gadis itu begitu terkejut melihatnya. Kania sampai terdiam beberapa saat, apalagi tatapan lelaki itu ke arahnya sangat menjurus tajam dan seolah hendak mengatakan sesuatu padanya. Kania pun tidak tahu harus apa, terlebih saat Daniel mendekatinya.
Kini bahkan Daniel mulai bergerak semakin mendekat ke arah gadis itu, membuat Kania tidak bisa kemana-mana selain hanya diam di posisinya memandangi tubuh pria itu. Tanpa diduga, Daniel sudah berada tepat di hadapannya dan tersenyum menatapnya. Pria itu terlihat begitu senang karena dapat bertemu dengan Kania disana, apalagi dia memang mencintai Kania sedari dulu.
"Niel, misi ya aku mau lewat?" Kania sedikit membungkuk dan berusaha melangkah melewati Daniel disana dengan perlahan.
Akan tetapi, Daniel mencegahnya dengan menggerakkan tangannya menahan tubuh Kania. Tentu saja Daniel tidak akan membiarkan gadis itu pergi begitu saja dari sana, karena sebenarnya Daniel ingin Kania berbincang bersamanya. Selain itu, Daniel juga menginginkan Kania mau menerima cintanya atau sekedar menganggapnya ada.
"Aku mohon Kania, dengerin kata-kata aku dulu sekarang! Aku mau bicara sama kamu, ini hal penting buat aku. Kalau kamu ada waktu, tolong diam dulu disini ya!" pinta Daniel.
"Apa lagi yang mau kamu omongin ke aku, Niel? Apa soal perasaan kamu itu?" tanya Kania.
"Iya tentu, baguslah kalau kamu sudah tahu. Aku emang pengen bahas tentang rasa cinta aku ke kamu," jawab Daniel tegas.
"Kalo gitu maaf Niel, jawaban aku akan tetap sama seperti sebelumnya!" ujar Kania.
Daniel terdiam menunduk, memang sulit untuk bisa meyakinkan Kania bahwa cintanya pada gadis itu benar-benar tulus dan tidak akan bisa dirubah atau dihilangkan. Daniel juga tahu kalau Kania sulit sekali menerima cintanya, tetapi Daniel tak akan berhenti untuk bisa membujuk Kania dan mau menerimanya sebagai seorang kekasih.
"Apa kamu gak mau mikir dulu gitu Kania? Aku ini serius loh sama kamu," ucap Daniel penuh harap.
Kania menghela nafasnya, "Huft, aku minta maaf Daniel. Aku emang beneran gak bisa terima cinta kamu, karena aku gak cinta sama kamu. Tolong ya kamu ngerti dong!" ucapnya kekeuh.
"Ya tapi aku—"
Ucapan Daniel terpotong saat tiba-tiba Alex datang dengan motornya dan berhenti tepat di dekat mereka berdua, ya tentu saja keduanya kompak menoleh ke arah si lelaki yang baru hadir itu dan benar-benar kebingungan. Pasalnya, sekarang ini mereka sedang berada di kampus dan tanpa diduga Alex justru nekat menyusul Kania sampai disana.
"Eh Daniel, udah deh lu jangan maksa-maksa Kania buat terima cinta lu dan jadi pasangan lu!" ucap Alex yang ditujukan kepada Daniel, sembari berjalan ke arah mereka berdua disana.
Daniel mendengus kesal mendengar kata-kata Alex barusan, rasanya ia ingin saja memukul wajah Alex disana dengan tangan kosongnya. Sedangkan Kania masih terdiam kebingungan sambil memandang ke arah dua pria itu secara bergantian, Kania kini tak tahu harus berbicara apa disaat ada dua orang lelaki yang tengah memperebutkannya saat ini.
"Gue sayang sama Kania dan gue berhak untuk miliki dia sebagai kekasih!" tegas Daniel.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...Bingung bingung...