Bahagia Setelah Menderita

Bahagia Setelah Menderita
Pelan saja


__ADS_3

Kania telah sampai di rumahnya, namun entah kenapa gadis itu masih saja memikirkan mengenai kejadian saat di jalan tadi dimana ia bertemu dengan seorang lelaki taman bernama Pasya. Jujur saja, Kania sangat terpesona pada sosok lelaki itu dan ia begitu penasaran ingin mengenal lebih dekat sosok Pasya itu.


Jika saja sikapnya tak terlalu takut seperti tadi saat sedang berdua dengan lelaki, maka pasti Kania akan mengiyakan ajakan Pasya untuk mengantarnya. Ya Kania memang belum bisa menghilangkan rasa gugupnya ketika bersama dengan pria asing, itu sebabnya ia sulit sekali mendapat pengganti Alex di dalam hidupnya.


"Kania!!" suara panggilan itu mengejutkan Kania, ia pun reflek menoleh dan melihat Aisyah yang keluar dari rumahnya dengan wajah bingung.


Dengan cepat Kania mengusap wajahnya yang tadi sempat terlihat cemas, ia tidak ingin membuat Aisyah banyak bertanya mengenai apa yang menimpa dirinya. Kania pun melangkah ke dekat kakaknya itu, lalu tersenyum lebar agar Aisyah tidak curiga padanya.


"Hai Syah!" sapa Kania sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis.


"Hm, lu darimana aja sih Nia? Bukannya harusnya lu udah pulang daritadi ya, ini kok jam segini baru pulang? Sumpah gue cemas banget loh, gue takut lu diapa-apain lagi sama Alex!" ujar Aisyah.


"Maaf Syah, aku gak maksud bikin kamu cemas! Aku tadi mampir ke minimarket dulu beli minum, terus.." Kania tak sanggup menyelesaikan kata-katanya.


"Terus apa?" sela Aisyah bertanya penasaran.


"I-itu, aku tuh gak sengaja ketemu sama Nazla tadi pas di minimarket. Terus dia ngira aku itu kamu, yaudah deh kita debat disana," jelas Kania.


"Hah? Duh Nia, lu ngapain masih ngaku-ngaku jadi gue sih? Dengar ya, gue gak mau lu kenapa-napa gara-gara gue tahu! Udah deh cukup, lain kali lu jangan ngelakuin itu lagi!" sentak Aisyah.


"Ish, tapi kan aku cuma pengen bantu kamu. Aku yakin kalau Nazla pelakunya!" tegas Kania.


"Kenapa lu bisa yakin banget kayak gitu, emang lu punya bukti kalau Nazla pelakunya?" tanya Aisyah dengan serius.


Kania pun menundukkan wajahnya saat itu juga, ia berpikir keras dan tak tahu harus menjawab apa. Hingga kini memang ia masih belum mendapat bukti apa-apa mengenai keterlibatan Nazla dalam video viral itu, namun entah mengapa ia yakin sekali Nazla lah pelaku utamanya.


"Gak ada kan, Nia? Lu itu gak bisa asal tuduh tanpa bukti, jadi lain kali lu mending stop deh nyamar begitu!" ucap Aisyah kesal.


"I-i-iya Syah, aku minta maaf banget sama kamu!" ucap Kania gugup.


Baru saja Aisyah hendak bicara kembali, tiba-tiba ponselnya lebih dulu berbunyi dan membuat Aisyah mengurungkan niatnya. Ia mengambil ponselnya, melihat nama Damar terlampir di layar ponsel itu dan langsung terlihat cemas.

__ADS_1


📞"Halo kak Damar! Gimana kak, ada perkembangan apa?" tanya Aisyah melalui telpon.


📞"Ah iya Syah, ini aku udah berhasil ringkus si Ivar sama teman-temannya di tempat persembunyian mereka. Aku mau bawa dia ke markas, kamu datang ya sayang!" jawab Damar.


📞"Apa? Kak Damar serius kan? Beneran si Ivar itu udah ketangkap sekarang, kak? Kamu gak lagi bohongin aku kan?" tanya Aisyah tampak ragu.


📞"Serius sayang, udah kamu datang aja buruan deh dan lihat langsung wajah si Ivar ini pakai mata kamu! Aku sama Aura bergerak sekarang, kamu tunggu ya Aisyah!" ucap Damar dengan tegas.


📞"I-i-iya kak, oke aku berangkat sekarang. Makasih banyak ya kak atas infonya!" ucap Aisyah antusias.


📞"Ya ya ya..."


Setelah itu, telpon terputus dan Aisyah pun tampak meloncat kegirangan karena Damar berhasil menangkap pelaku yang sudah mengedit videonya. Kini Aisyah sudah tidak sabar lagi untuk menemui orang itu dan bertanya padanya siapa yang menyuruh pria itu melakukannya, pastinya ia akan memberi pelajaran kepada orang itu.


"Syah, kamu kenapa? Apa kata kak Damar tadi, kok kelihatannya kamu bahagia banget?" tanya Kania tampak keheranan.


"Iya Nia, ini katanya kak Damar udah berhasil tangkap pelakunya yang udah edit dan sebarin video aku ke media sosial. Makanya aku senang banget, jadi aku mau pergi temuin dia!" jawab Aisyah.


Aisyah mengangguk antusias, "Iya, ayo kita berangkat pake mobil aku!" ucapnya mengajak Kania untuk pergi ke mobil.


Akhirnya kedua gadis itu pergi bersama-sama dengan mobil yang dikendarai sang supir, Aisyah tampak sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Ivar dan mencari tahu siapa yang menyuruh pria itu sebenarnya. Begitu juga dengan Kania, gadis itu masih yakin kalau Nazla lah pelaku utamanya.


•


•


Damar bersama Aura akhirnya berhasil tiba di markas tempat lelaki itu akan membawa Ivar untuk diinterogasi, hari ini juga Damar ingin menyelesaikan masalah yang terjadi kepada Aisyah dan ia mau memberi lelaki itu pelajaran yang setimpal. Damar tentunya tak akan membiarkan Ivar hidup bebas, karena sampai kapanpun ia harus membalas tindakan yang dilakukan Ivar kepada adiknya.


Melihat kondisi Damar yang begitu emosi, Aura yang duduk tepat di sebelah pria itu pun coba untuk menenangkannya. Perlahan gadis itu menoleh ke arahnya, menatap dengan lembut sembari berusaha menghibur bosnya itu agar tidak terlalu emosi akibat kelakuan Ivar tadi. Jujur saja Aura juga khawatir dengan kondisi wajah Damar saat ini yang terluka, ya sebab sebelah Damar sempat berkelahi.


"Pak, tenang ya pak! Sekarang kan Ivar udah berhasil ditangkap dan dibawa ke markas, jadi bapak gak perlu cemas lagi!" ucap Aura lirih.

__ADS_1


Damar menoleh dengan perlahan, lalu tanpa diduga menarik tangan Aura begitu saja ke dekatnya. Ya pria itu menggenggam tangan asistennya dengan erat, bahkan sampai mendekap tubuh Aura dan membuat sang empu melongok keheranan. Namun, Aura hanya bisa pasrah tanpa mampu melakukan perlawanan atau apapun itu.


"Hmm, cuma kamu yang bisa bikin saya tenang. Jadi, biarin saya peluk kamu ya? Lagian Ivar juga gak mungkin bisa ditangkap tanpa kerja keras kamu, makasih banyak loh Aura!" ucap Damar.


"I-i-iya pak, sama-sama. Semuanya kan saya lakukan sesuai pekerjaan saya, jadi bapak gak perlu bilang terimakasih ke saya!" ucap Aura gugup.


"Okay," singkat Damar.


Aura benar-benar bingung saat ini, ia tak tahu harus bagaimana untuk bisa melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu. Sepertinya Damar enggan untuk melepaskannya, membuat Aura tidak bisa bergerak banyak sekarang ini. Gadis itu merasa cemas, apalagi di depan ada Zidan yang merupakan supir sekaligus pengawal pribadi Damar.


"Pak bos, sebaiknya bapak jangan kayak gini deh! Saya gak enak sama pak Zidan di depan, takutnya beliau salah paham!" pinta Aura.


"Gapapa Aura, kamu gak perlu mikirin si Zidan! Dia juga gak kenapa-napa kok, ya kan Zidan?" ucap Damar dengan santai.


"Ah, i-i-iya benar pak. Saya mah cuma mau fokus nyetir aja kok," ucap Zidan gugup.


"Tuh, kamu dengar kan? Zidan itu pekerja profesional, dia gak mungkin berani ikut campur urusan bosnya," ucap Damar.


"I-i-iya pak..."


Aura memalingkan wajahnya, ia sudah tidak bisa menahan rasa malunya lagi untuk saat ini. Jujur ia memang menyukai saat Damar menyentuhnya, tetapi entah kenapa rasanya sulit sekali bagi dirinya untuk mengakui itu. Memang sudah lama juga Aura memendam rasa pada bosnya itu, namun ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.


"Zidan, jalannya pelan-pelan aja ya! Saya masih mau menikmati momen peluk tubuh Aura disini, soalnya gak tahu kenapa dia hari ini lagi enak banget buat dipeluk!" pinta Damar pada supirnya.


"Baik pak!" Zidan mengangguk saja menuruti perintah bosnya dan memelankan mobilnya.


Akhirnya mereka melaju dengan kecepatan yang lebih pelan dibanding sebelumnya, karena terlihat kini Damar begitu menikmati tubuh Aura yang ada di dalam pelukannya. Damar tak ingin berhenti memeluk gadis itu, bahkan tindakannya semakin berani dengan menempelkan wajahnya pada leher sang asisten.


"Duh, kalau kayak gini rasanya aku jadi semakin bingung deh. Pak Damar tuh kenapa ya?" gumam Aura dalam hatinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2