
"Ting--tong"
"Iya tunggu sebentar"
"Kriet"
Luby yang sudah di depan pintu langsung mempercepat langkah kakinya, sambil berlari kecil Luby pergi tanpa mengucap sepatah kata pun kepada Lusy, menuju lantai dua di mana letak kamar nya berada,
"Lah kaya di kejar se**Tan pulang-pulang langsung main nyelonong aja,"
Lusy kembali menutup pintu utama, namun tak berapa lama bel pintu kembali berbunyi sehingga memaksanya untuk segera kembali ke ruang depan.
"Aduh siapa lagi sih ini, baru aja mau baringan eh bel nya udah bunyi aja"
"Kriet"
Di depan pintu tampak Gavin dan Maya tangah berdiri sambil berpegangan tangan,
"Eh tuan, nyonya?"
"Hay, apa kabar Lusy? udah lama kita gak jumpa,"
"Baik nyonya. Nyonya tambah cantik deh"
"Hehe, kamu bisa aja Lusy"
"akhirnya rumah ini kembali kepada sang pemilik aslinya, untung aja nyonya cepat pulang"
"Iya karena ini rumah kami, jadi kapan pun kami bisa pulang ke sini"
"Iya nyonya benar"
" Ayo sayang kita segera masuk, aku pingin ajak kamu ke kamar kita secepatnya"
Dengan agresif Gavin langsung mengangkat tubuh sang istri dengan mesra.
"Huft--- andai yang aku yang jadi nyonya rumah ini, pasti mas Gavin menggendong aku kaya gitu"
Lusy hanya dapat melihat kemesraan kedua majikannya, namun ia masih terus berusaha untuk mendapatkan tempat di sisi Gavin sang majikan kesayangan.
Ia pun membawa Maya menuju lantai atas, sesampai di lantai dua, Gavin mengehentikan langkahnya, ia berhenti tepat di depan pintu kamar milik Luby sang istri kedua,
"Luby aku tahu kamu di dalam, cepat buka pintunya"
"Sayang, kenapa kita harus berhenti di sini? terus ngapain juga kamu panggil perempuan itu ke sini"
"Udah kamu anteng aja di gendongan mas yang, mas mau nunjukin ke gadis itu kalau kamu segala-galanya buat mas"
Dengan sengaja Gavin langsung menc**umbu bibir sang istri di depan pintu kamar Luby, dan tak berapa lama pintu kamar Luby pun mulai terbuka,
"Ceklek"
Luby berdiri tepat di depan kedua pasang kekasih yang tengah ber**cumbu itu,
"Muachhhh" Gavin sengaja memperlama cumbuan nya kepada Maya, bahkan Gavin melakukannya dengan sangat agresif.
Luby yang merasa risih melihat kedua pasangan itu pun memilih untuk memalingkan wajahnya ke belakang, ia tetap berdiri di sana sambil menatap dinding kamarnya.
"H--- dia gak cemburu lihat aku cium Maya di depannya"
Gavin yang melihat sikap Luby yang masa bodo akan sikapnya ke pada Maya, kembali terbakar amarah, ia pun menghentikan aksi gilanya bersama Maya,
"Hey, kamu tu gak sopan ya, membelakangi tuan rumah kaya gitu"
"Eh, maaf "
__ADS_1
"Kamu sudah tahu siapa wanita cantik yang tengah aku gendong ini"
"Iya, aku tahu istri kamu kan?"
Lagi-lagi Luby masih bersikap santai melihat madunya tengah berada di pelukan sang suami, dah hal itu kembali membuat Gavin seakan kebakaran jenggot.
"Iya, ini istri aku, Anggun dan dia sangat terhormat"
"Ehem." Luby langsung mengambangkan sebuah senyuman di bibirnya, "Hay, nama saya Luby, maaf karena saya masuk di antara kalian. Tapi saya tidak akan merebut posisi kamu di rumah ini, atau pun di hati Gavin,"
Dengan menguatkan hatinya, Luby memilih kata yang tepat untuk menyapa sang tuan rumah yang sebenarnya.
Maya yang mendengar keramahan dari sang rival seketika merasa tersentuh, ia juga dapat melihat ketulusan dari semua ucapan Luby, apalagi Gavin sudah menceritakan semuanya tentang latar belakang Luby yang bukan dari keluarga sembarangan jadi iya yakin kalau Luby tidak akan mengharapkan harta ataupun cinta sang suami,
"Hay, perkenalkan kan aku Maya, istri Gavin"
Maya pun mulai turun dari gendongan Gavin yang tampak kecewa dengan respon kedua istri nya itu.
Dengan intens Maya mulai melihat secara jelas sosok istri kedua suaminya, dari ujung kaki hingga kepala Luby terlihat begitu sempurna, di tambah dengan posisi keluarganya pasti banyak pria yang menginginkannya.
Namun dengan kepercayaan diri yang tinggi Maya menganggap dirinya lebih cantik dari sang istri kedua, walau kedudukan keluarganya tak sejajar dengan Luby namun ia lebih dari segi fisik, sehingga ia yakin jika sang suami tak akan pernah jatuh cinta kepada wanita lain selain dirinya.
"Ya udah kita masuk kamar aja yok yang, mas udah gak sabar untuk untuk memakan kamu,"
Gavin kembali memanas-manasi Luby yang masih terlihat cuek terhadap dirinya.
"Ih, mas genit deh, maaf ya Luby, mas Gavin tu memang manja gini dari dulu, padahal kami udah sering melakukannya, tapi dia selalu nagih terus. Maklum mas Gavin tu dari dulu cinta mati sama aku jadi ya kaya gini jadinya. Kalau gitu kami ke kamar dulu ya"
"Iya silakan"
"SATU LAGI KAMU JANGAN PERGI KELUYURAN MALAM INI. KARENA AKU GAK MAU REPUTASI KU HANCUR JIKA ORANG-ORANG MELIHAT KAMU JALAN SAMA LAKI-LAKI LAIN DI LUAR SANA"
Gavin menekan setiap ucapannya kepada Luby. ia merasa meradang dan marah kepada Luby, ketika mengetahui kelakuan Luby dari Lusy, selama ia meninggalkan rumah.
Gavin dan Maya akhirnya pergi meninggalkan kamar Luby menuju kamar utama milik mereka.
"Dia ngomong ke aku atau untuk dirinya sendiri sih? hmm--, sudah lah"
Luby memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya kembali.
***
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Luby telah bangun dari tidurnya, rencananya pagi ini ia ingin mampir sebentar ke mansion sang mama, selain merindukan kedua orang tuanya, Luby juga berencana untuk bertanya langsung tentang perjanjian yang sang papa buat bersama orang tua Gavin.
Luby yang tidak ingin berlama-lama menjadi bulan-bulanan Gavin memilih untuk secepatnya berpisah dengan sang suami yang tak menganggapnya itu. Setelah saham yang di janjikan sang papa sah menjadi milik keluarga Gavin, maka secepatnya Luby akan meminta segera lepas dari Gavin.
Dengan memakai sebuah fashion santai andalan nya Luby kembali melihat tampilan dirinya melalui kaca yang terpasang di dalam kamarnya.
Setelah di rasa cukup, Luby langsung mengambil hp dan tas kuliahnya di atas meja,
"Good luck Luby. Udah gak sabar rasanya untuk ketemu sama papa dan mama, moga aja pagi ini papa belum berangkat ke kantor"
Dengan perasaan yang sudah tidak sabar Windu langsung melangkahkan kakinya menuju tangga, satu demi satu anak tangga mulai ia lalui.
"Ehem--- " Seketika Luby mengehentikan langkahnya saat mendengar suara dari seseorang yang tak ia harap temui pagi ini.
"Mau kemana pagi buta begini?" Gavin yang tengah membawa secangkir kopi ditangannya, tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapan Luby.
"Hmm-- aku mau kuliah, tapi sebelumnya mau mampir ke mansion dulu"
"Aku gak izinin"
"Lho! kok gak boleh, apa urusannya?"
__ADS_1
"Nanti siang klien aku ada yang undang kita untuk makan siang di hotel xxx jadi aku minta kamu izin kuliah hari ini"
"Kenapa harus aku? bukannya kamu bisa ajak Maya datang ke sana"
"Aku gak mau dengar apa-apa dari kamu, pokoknya siang ini kamu harus udah siap-siap di rumah, karena nanti sore supir aksi yang akan jemput kamu di rumah!"
"Tapi Gav----"
Gavin yang mendengar penolakan dari bibir Luby langsung mencengkram mulut Luby dengan tangan kanannya,
"Ingat Luby, kartu As kamu ada di tangan aku, sekali saja aku mendengar penolakan dari mulut kamu maka semua video kamu akan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dan BUMMM----Apa kamu gak kasihan sama papa Brian dan mama Luna kamu yang tersayang?"
"Kamu pria bre**ngsek Gavin! kamu sendiri yang bilang kalau kita punya jalan masing-masing dan tidak boleh mencampuri urusan salah satu di antara kita! tapi apa sekarang? kamu bertindak seperti ban** yang bisa nya hanya mengancam!"
Gavin semakin kuat mencengkram mulut Luby, sehingga membuat Luby meringis kesakitan,
"Ingat Luby, aku bukan ban** seperti yang kamu bilang. Dan suatu saat aku akan buktikan kepada kamu siapa Gavin sebenarnya."
Gavin langsung melepaskan cengkraman nya dan mendorong tubuh Luby hingga ke dinding,
"Ingat Luby, semua perkataan yang pernah aku ucapkan bisa berubah sesuai keinginan hati aku"
Sambil tertawa Gavin mulai melangkah menjauhi Luby yang masih menahan rasa sakit pada kedua pipinya yang telah memerah.
"Kapan kamu akan melepaskan aku Gavin, kapan kamu akan berhenti mengancam aku!"
Dengan amarah yang menggebu-gebu Luby berteriak dengan kuat hingga terdengar jelas di telinga Gavin,
"Kalau keluarga aku sudah mendapatkan keinginannya maka aku juga akan melepaskan kamu Luby!"
"H--- dasar keluarga matre, " dengan sisa tenaga nya Luby tersenyum sembari mengejek Gavin yang tiba-tiba mengehentikan langkahnya.
"Apa kamu bilang!" Dengan api amarah yang kembali menyala di dadanya, Gavin langsung melangkah kan kakinya mendekati Luby, dan dengan kasar ia menjambak rambut Luby cukup kuat.
Tak segan Gavin menyeret tubuh Luby hingga masuk ke dalam kamar mandi tamu yang terletak di sebelah dapur, lantai bawah.
"Lepasin aku Gavin, lepasin!"
Dengan satu tarikan yang kuat Gavin langsung menarik lengan baju Luby hingga robek, ia pun mencebur kan separuh tubuh Luby ke dalam bak mandi yang terisi air,
"Uhuk---uhuk--"
Luby yang sudah hampir kehabisan nafas hanya bisa pasrah mendapatkan perlakukan kasar dari Gavin.
Setelah melihat Luby yang tampak tak berdaya Zaky langsung menghentikan aksinya,
"Ingat Luby, kamu yang meminta aku untuk berbuat kasar sama kamu! sekali lagi kamu menjelek-jelekan keluarga aku, maka jangan harap aku akan melepaskan kamu"
Dengan tampilan yang aut-autan Luby langsung terduduk di pinggir bak, sambil memegang kepalanya yang tadi sempat terbentur dengan pinggiran bak air di dalam kamar mandi itu.
"Ka---mu ke--jam Gavin!"
Luby akhirnya tak dapat lagi menahan keseimbangan tubuhnya, iapun akhirnya terjatuh ke lantai yang dingin itu.
"Luby, bangun. Jangan pura-pura pingsan! Luby-- Luby---" Melihat bibir Luby yang sudah membiru seketika membuat Gavin panik, dengan terpaksa ia langsung membawa Luby kembali masuk kedalam kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan? gak mungkin aku manggil Maya ke sini. Kalau Lusy? tapi dia belum pulang dari pasar. apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Gavin tampak gusar melihat tampilan Luby yang sudah sangat pucat. Dengan takut-takut Gavin langsung memeriksa denyut nadi Luby,
"H--- untung dia masih hidup"
"Lebih baik aku ganti dulu bajunya, yang penting dia tidak basah"
Dengan perlahan Gavin kembali mendekati ranjang Luby, dengan ragu-ragu ia mulai membuka satu persatu pakaian yang Luby kenakan, tampak jelas semua pakaian Luby sudah sangat basah, dan robek pada bagian lengannya sehingga terlihat hampir sebagian dadanya terekspos.
__ADS_1
Beberapa kali Gavin terlihat menelan ludahnya saat melihat kemolekan tubuh sang istri muda.
"SH**it kenapa junior aku bereaksi saat melihat tu**buh nya?" Keringat dingin mulai keluar dari setiap pori-pori kulit Gavin.