
Sudah beberapa hari ini Gavin tak pernah memperlihatkan batang hidungnya di rumah, namun Luby tak pernah sama sekali meninggalkan kediaman suaminya itu, karena sejak kepulangan Maya Gavin lebih betah hidup di hotel bersama Maya, ia juga tidak ingin membuat kesalah pahaman antara ia dan Maya karena Luby.
Sedangkan Luby masih sibuk dengan rutinitasnya, sebagai mahasiswi. Sejak kejadian kelam yang di latar belakangi oleh salah seorang sahabat dekatnya, membuat Luby tidak lagi mudah mempercayai orang di sekitar nya. Dia menjadi sosok yang sangat tertutup, dan hanya kepada sang mama lah satu-satunya orang yang nyaman dia ajak cerita saat ini.
Saat tengah duduk di sebuah bangku di depan kelasnya sembari menunggu mata kuliah keduanya hari ini tiba-tiba,
"Dirt--dirt---"
Beberapa kali terdengar suara hp Luby berdering di dalam tas nya,
Dr. Aryan's calling
"Halo dok"
"Halo-- Luby, bisa kita ketemuan?"
"Bisa dok, maaf tapi ada masalah apa ya dok?"
"Apa kamu lupa, kalau hari ini jadwal kamu terapi?"
"Astaga, maaf dok, saya lupa saya kira masih besok saya terapinya."
"Hehe, gak papa Luby, maaf kalau saya telepon ke hp kamu langsung, "
"Iya dok gak papa, malah saya yang berterimakasih sama dokter, karena udah mau repot-repot mengingat kan saya"
"Saya tidak merasa di repotkan, kalau gitu jam berapa kamu datang ke klinik?"
"Mungkin jam 1 an dok, karena pagi ini saya masih ada kelas dok"
"Ok, see u"
"see you to dokter"
Obrolan itu pun akhirnya terputus, Dalam diam sebenarnya Arian sudah menaruh hati kepada pasien nya itu, entah kenapa wajah Luby mengingatkan ia akan cinta pertamanya. Namun takdir menyuratkan ia tidak bisa menggapai seorang Luby.
Tapi bagi Arian bisa membuat Luby pulih seperti sediakala adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Walau hanya dapat melihat dari jauh dan tanpa menyentuh namun Arian merasa bahagia saat melihat Luby bahagia.
***
Di tempat berlainan, saat ini Gavin juga tengah mengangkat telpon dari sang istri tercinta,
"Sayang, ingat jangan lupa dengan janji nya, nanti aku udah siap kamu nya telat jemput lagi"
"Iya yang, mas ingat kok. Mana mungkin mas lupa janji makan siang sama kamu, pokonya setelah rapat usai mas akan langsung jemput kamu untuk makan siang bareng"
"Ok, aku tutup teleponnya ya mas"
"I Love You"
"I Love you to mas"
Dengan penuh semangat Gavin mulai membaca kembali semua proposal yang akan di pakai untuk rapat nanti bersama salah satu rekan bisnisnya, begitu besar rasa cinta yang kini ia miliki untuk Maya, membuat ia selalu bersemangat untuk kembali melihat wajah sang istri.
Di sebuah kampus ternama di kota itu, tampak Luby berdiri di dekat gerbang kampus, siang ini ia berencana segera pergi ke klinik dokter Arian, Ia pun langsung memesan sebuah mobil online untuk mengantarkan dirinya ke klinik milik dokter Arian. Karena Saat ini Luby memang sedang tidak membawa kendaraannya sendiri. Beberapa kali tampak Luby terus melihat jam tangan yang ia kenakan,
"Huft--- kayanya aku udah lumayan telat datang ke sana, mana mobilnya lama lagi"
Dan penantian Luby siang itu berakhir setelah mobil online yang ia pesan akhirnya tiba, dengan langkah lebar ia langsung masuk ke dalam mobil online yang cukup mewah itu.
Sesungguhnya Luby bukan type orang yang tidak bisa menepati janji namun karena ada beberapa tugas kelompok yang harus ia kerjakan tadi membuat ia akhirnya harus datang sedikit terlambat siang ini.
Tak berapa lama akhirnya mobil online yang Luby naiki sampai di RS tempat dokter Arian praktek, setelah membayar jasa online Luby langsung mempercepat langkah nya menuju ruangan sang dokter.
__ADS_1
"Permisi mbak dokter Arian nya ada?"
"Owh, mbak Luby, dokter Arian sudah dari tadi menunggu, silakan"
"Terimakasih ya mbak"
"Sama-sama mbk Luby"
"Kriet"
"Selamat siang dokter,"
Bak mendapatkan air hujan di tengah gurun, Arian menyambut Luby dengan perasaan senang.
"Selamat siang Luby, akhirnya kamu datang juga"
"Maaf dok, saya datang agak telat, karena ada beberapa hal yang harus saya kerjakan,"
Arian pun mulai melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, " Hmmm---- apa kamu sudah makan?"
Sambil menahan rasa malu Luby tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
" Bagaimana kalau kita konsultasi sambil makan siang, kebetulan saya mau ngajak kamu ke suatu tempat, apa kamu keberatan?"
"Hmm-- suatu tempat?"
"Saya gak akan ajak kamu ke tempat yang macam-macam, cuma ke taman kota biar kamu bisa lebih rileks mengeluarkan unek-unek kamu . Dan dengan bantuan view taman saya berharap kamu akan lebih tenang nantinya."
"OOO, tentu saya tidak keberatan dok, "
"Syukur deh, ya udah yuk kita jalan, karena perut saya sudah lapar dari tadi"
Akhirnya Luby dan Arian mulai berjalan menuju parkiran yang di peruntukan khusus dokter.
"Hahaha--- aduh dok, cukup perut saya sudah sakit mendengar cerita dokter." Sambil memegang perutnya Luby seakan tak ada hentinya untuk terus tertawa,
"Hehe--- padahal ada cerita yang lebih lucu lagi dari itu, tapi kaya nya besok deh saya sambung, karena kita sudah sampai"
"Hehehe, aduh air mata saya sampai keluar sendiri dok,"
"I love, when seeing ur smile"
"Pokoknya kamu akan terus sakit perut kalau jumpa dengan saya"
"Kaya nya dulu-dulu dokter jaim deh, tapi sekarang ternyata dokter tu humoris banget"
"It's me, real me"
"Really?"
"Yupz".
Dokter Arian langsung membukakan pintu untuk Luby, bak sepasang kekasih mereka mulai masuk menuju sebuah restoran mewah yang ada di kota itu. Terlihat beberapa pengunjung mulai menatap paras cantik Luby yang tampak natural. Dan sesampai nya di sebuah meja yang Arian pilih dokter muda itu pun langsung berinisiatif menarik sebuah kursi untuk sang pasien yang tak bisa ia miliki itu.
"Makasih dok"
Sebuah senyuman termanis seketika muncul di bibir sang dokter muda. Tak berapa lamaseorang waiters datang menghampiri mereka, Dokter Arian kembali membantu Luby memesan makan siang mereka, Sambil menunggu makanan mereka datang, Arian kembali mengajak Luby mengobrol.
Tak di sangka restoran yang Gavin datangi juga tempat yang sama dengan restoran yang Luby dan Arian kunjungi, dari kejauhan Gavin yang sudah terlebih dahulu sampai di restoran itu bersama Maya dapat melihat interaksi yang terjadi antara Luby dan Arian,
"Breng**sek ternyata diam-diam dia memiliki kekasih, dasar wanita munafik, terlihat lugu di luar tapi ternyata ja**lang"
Tanpa di sadari Gavin yang sedikit cemburu langsung membengkokkan garpu yang tengah ia pegang, entah kenapa ia merasa tidak senang saat melihat Luby selalu tersenyum bahkan tertawa lepas dengan seorang pria asing di hadapannya, ia juga tidak menyukai saat beberapa orang pria terlihat tak lepas melihati Luby karena kecantikan nya.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa? kok muka nya tiba-tiba merah?"
"Gak papa yang, mas mau permisi ke belakang sebentar,"
Melihat gerak gerik sang suami yang tiba-tiba tampak marah, membuat Maya tanda tanya di dalam hatinya.
Ia pun akhirnya mulai melihat ke arah sekitarnya, namun ia tidak menemukan keanehan apapun, karena Luby saat ini tengah berada di posisi duduk membelakanginya.
Di dalam sebuah toilet Gavin mulai mencari nomor telepon Lusy dan langsung menghubungi nya.
"Halo tuan kok sudah lama gak pulang tuan"
"Jangan banyak basa basi, saya mau tahu apa wanita itu sering keluar rumah?"
"Maksud tuan, perempuan genit itu?"
"Sudah kamu jawab saja pertanyaan saya! jangan balik tanya"
"Iya tuan maaf, ia memang mbak Luby setiap hari keluar rumah tuan"
"Apa dia sering pulang malam?"
"Iya tuan, setiap hari kerja nya keluyuran terus, dan pulang nya selalu malam, bahkan pernah sampai gak pulang-pulang tuan"
"Apa?" Lusy yang sudah lama menyukai sang majikan berusaha terus berbohong untuk membuat Gavin tambah membenci Luby,
"Iya tuan, saya gak bohong! kan tuan tahu mana berani saya bohong sama tuan"
"Satu lagi, apa dia pernah membawa seorang pria ke rumah?"
"Hmm---anu tuan, saya gak enak ngomongnya tuan, tapi dia sering membawa pria lebih s
dari satu ke rumah tuan, mending tuan cerai in aja dia tuan, saya siap-----"
Gavin pun langsung mematikan panggilan nya secara sepihak.
"Kurang ajar, perempuan itu harus di ajar kan lebih keras tentang siapa dirinya saat ini"
Dengan cekatan tangan Gavin langsung bergerak menulis sesuatu dari ponselnya.
Dan tak berapa lama sebuah pesan langsung masuk ke nomor Luby,
Betapa kagetnya ia saat melihat pesan dari Gavin yang mengirim video dirinya yang sedang mengalami pelecehan.
Air mata langsung mengalir di pelupuk matanya, ia tahu saat ini Gavin tengah mengancam dirinya, walaupun ia tidak tahu menahu tentang kesalahan apa yang telah ia buat, namun gambar potongan video itu mampu membawa ia kembali ke memori masa kelam itu.
"Kamu kenapa Luby? apa ada yang salah?"
Arian merasa terkejut dengan reaksi dari Luby yang tiba-tiba. Dan Luby hanya dapat menggelengkan kepalanya,
Tiba-tiba sebuah pesan kembali berbunyi dari dalam hp nya, terlihat sebuah pesan dari Gavin di sana.
"Segera pulang karena aku akan pulang ke rumah bersama Maya, kalau kamu telat pulang, maka jangan harap saya akan berbuat baik lagi sama kamu"
Membaca ancaman dari Gavin membuat Luby gusar, dengan tergesa-gesa ia berdiri dari kursinya, dan langsung berpamitan kepada sang dokter.
"Luby kamu kenapa? tolong cerita sama saya Luby"
Dokter Arian tak hentinya berteriak memanggil nama Luby, namun Luby sama sekali tak mengindahkannya akhirnya ia memesan ojol untuk membawanya lebih cepat kembali ke kediamannya.
Apa yang akan terjadi kepada Luby setelah ini?
jangan lupa untuk terus mendukung "Istri cadangan" ya readers, like,positif coment dan vote sangat saya harapkan, terimaksih 🙏
__ADS_1
Bersambung....🤗🤗