
Sesampai nya di rumah Luby langsung masuk kedalam kamar nya tanpa bicara satu katapun kepada Gavin.
"Bark" Luby langsung membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
"Dasar Gavin brengse**" Luby langsung masuk kedalam kamar mandi dan membasuh bibirnya dengan cukup keras ia pun kembali mengeluarkan amarah nya saat mengingat kembali kejadian yang baru saja ia alami di dalam mobil bersama Gavin.
*
*
*
"Ingat Luby, saya sudah bilang sama kamu sebelumnya untuk tidak dekat dengan pria mana pun, tapi kenapa kamu malah melanggarnya?"
"Saya tidak pernah mendekati pria mana pun, dr Aryan itu anaknya Tante Farah, jadi wajar Tante Farah mengenal kan dia ke aku. Lagian dokter Aryan juga dokter yang membantu penyembuhan penyakit aku selama ini"
"H--- alasan, bilang aja kalau kamu itu kegatelan sama dokter muda itu. Pasti kamu tertarikkan untuk menjadi kan dia suami kamu, "
"Kalau ia memangnya kenapa? masalah buat kamu? lagian setelah saham papa aku jadi milik kamu maka kita pun akan segera berpisah"
Dengan lugas Luby menantang semua perkataan Gavin, walau faktanya ia telah berjanji di dalam hati, bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi setelah bercerai dari Gavin. Hal itu ia lakukan agar kedepannya masa kelamnya tidak menjadi masalah untuk masa depannya.
Sesaat setelah mendengar semua ucapan Luby terlihat jelas raut amarah dari wajah Gavin,
"Apa kamu bilang!" Dengan tangan kanannya Gavin mencengkram kedua pipi Luby dengan cukup kuat,
"Ingat Luby! aku pastikan ke kamu kalau sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku akan membuat kamu tersiksa seumur hidup kamu Luby! " Kedua mata tajam Gavin menatap Luby bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.
"Kenapa kamu tidak bisa melihat aku Luby! kenapa harus pria sial**an itu yang ada di hati kamu"
Tanpa sadar hati Gavin pun berkata lain, saat ini yang ia inginkan adalah perhatian dan cinta Luby seutuhnya.
Gavin langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Luby,
"chup"
Ia pun langsung mencium paksa bibir sang istri dengan rakus,
"Hmmmppp-----Lepaskan Gavin,"
"Plak"
Sebuah tamparan yang cukup keras Luby berikan pada bagian pipi kanan Gavin,
"Dasar bre***sek kamu Gavin! kamu itu iblis berwujud manusia!"
"Ha----ha--ha"
*
__ADS_1
*
*
"AAAA! aku benci kamu Gavindra !!! Luby berteriak kuat dari dalam kamar mandi nya.
Di sisi lain saat ini Gavin tengah membujuk sang istri siri yang sedang merajuk akibat selalu tidak di ikut sertakan dalam kegiatan perusahaan milik Gavin.
"Yang, jangan diamin mas kaya gini dong, kamu kan udah tahu alasannya kenapa mas gak pernah bawa kamu ke acara kantor. Memang kamu mau nanti di temui mami kaya dulu"
"Ya kan kamu bilang kalau mami udah setuju sama aku mas, terus apa masalahnya kalau mami nemuin aku?"
"Sayang, mami itu memang udah setuju, tapi dia belum mau untuk ketemu sama kamu saat ini. Dia baru mau ketemu kamu kalau saham orang tua Luby udah jadi milik aku"
"Lho kok gitu sih mas? kenapa harus tunggu Luby terus"
"Kamu tahu kan yang, mas gak bisa ngebantah mami. Kalau mami udah bilang kaya gitu maka mas akan ikuti keinginan mami"
"Kalau gitu suruh Luby secepat nya untuk menyerahkan saham itu mas, jadi kita bisa bebas kemana aja berdua, kaya suami istri lainnya"
"Ya gak semudah itu juga yang, Luby juga gak bisa maksa papanya secepat itu. Karena bisa-bisa papa Luby akan curiga. kalau ketahuan sama papa Luby bahwa keluarga aku hanya mau saham mereka maka bisa-bisa papa Luby bisa membatalkan perjanjian itu. Bahkan dengan kekuatannya dan sikap kejam yang ia miliki, Bryan Subrata bisa saja menjatuhkan perusahaan aku, bahkan perusahaan papa aku. buat dirinya menghancurkan sebuah perusahaan itu sama seperti membalik telapak tangan"
Maya begitu terpaku saat mendengar Gavin membahas begitu luar biasanya keluarga sang madu.
"Sehebat itu kah keluarga Luby mas? terus kalau dia memberikan saham itu beberapa tahun lagi gimana nasib rumah tangga kita mas?"
Sejatinya Gavin sama sekali tidak begitu mengharapkan kekayaan dari keluarga Luby, namun ambisi dari kedua orangtuanya yang dulu pernah bangkrut membuat Gavin pasrah mengikuti keinginan kedua orang tuanya.
"Iya mas, aku bakal bantu kamu kok! tapi gimana caranya mas?"
"Tetap berada di samping aku May"
Maya merasa terharu akan ucapan sang suami ia pun langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Gavin,
"I love you mas Gavin"
"I love you to my wife"
Dan di malam itu kedua pasang suami istri itupun menghabiskan malam di atas ranjang panas mereka.
Saat tengah malam menjelang Gavin tersentak dari tidurnya, beberapa kali ia berusaha untuk kembali memejamkan matanya sambil terus memperbaiki posisi tidurnya, namun hal itu tidak pernah berhasil.
Akhirnya malam itu pun ia memilih untuk keluar kamar dan duduk di meja bar yang berhadapan dengan bagian dapur sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.
Sesaat asik menghisap rokok, tiba-tiba dari atas tangga ia melihat Luby sedang berjalan menuju dapur yang terletak di lantai bawah.
Tak putus mata Gavin terus memperhatikan setiap gerak gerik yang Luby lakukan.
Luby yang lupa membawa air putih ke kamarnya terpaksa mengambil air putih di tengah malam untuk mengurangi rasa dahaga yang ia rasakan.
__ADS_1
Saat tengah meminum air putih dari dalam gelasnya tiba-tiba suara Gavin menggema memanggil namanya,
"Hey, tolong buatin saya kopi!"
Tak ayal akibat perbuatan Gavin yang tiba-tiba memanggil dirinya membuat Luby begitu terkejut dan tanpa sadar ia pun menumpahkan air putih yang ia pegang. Hampir seluruh baju dan celana tidur yang Luby pakai basah akibat air putih yang tak sengaja ia tumpahkan.
"Kamu ngomong bisa pelan dikit gak. Kenapa harus teriak!"
" Siapa yang teriak! aku cuma minta tolong doang"
"Minta tolong itu yang sopan dong"
Luby yang sedikit parno akan kegelapan begitu kesal melihat perbuatan Gavin yang terlihat sengaja ingin menakuti dirinya
"Boleh buatin saya kopi?"
Gavin mengulang perkataanya lebih jelas kepada Luby,
Luby yang tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya memutuskan membuat segelas kopi untuk Gavin, karena malam itu ia berencana ingin segera kembali ke kamarnya untuk mengganti baju tidurnya yang sudah basah.
Setelah selesai membuat kopi ia langung meletakan kopi di atas meja bar tempat di mana Gavin tengah duduk sambil menghisap rokoknya.
"Apa aku salah jika harus mengikuti keinginan orang tua aku?"
"Ha---" Luby merasa heran mendengar pertanyaan Gavin yang entah kepada siapa ditujukan.
"Iya apa aku salah jika mengikuti keinginan orang tua aku?"
"Kamu tanya sama aku?"
"Jawab by?"
"What "By" kaya nya Gavin sedang salah minum obat deh" Luby berkata di dalam hati,
"Ingat jangan mengata-ngatai aku di dalam hati, dan satu hal aku gak salah minum obat"
Gavin yang seakan tahu isi otak dan hati Luby langsung menyangkal bisikan hati Luby.
"Hmmm---menurut aku semua orang tua itu sangat menyayangi anak-anak mereka bahkan apapun akan mereka lakukan untuk kebahagian anak nya, jadi menurut aku tidak salah jika seorang anak menuruti keinginan orang tua nya untuk membalas jasa-jasa mereka dari mengandung, hingga membesar kan"
"Jadi aku gak salah kan kalau harus menikah karena keinginan orang tua aku, jujur aku sama sekali gak pernah mengharapkan belas kasih dari manapun, bahkan aku sama sekali tidak tertarik dengan saham yang papa kamu miliki.
Namu aku melakukan ini semua karena keinginan orang tua aku semata"
Luby merasa kaget atas ucapan Gavin, malam ini ia dapat melihat sisi lain dari seorang Gavin. Sejak ia menikah dengan sang laki-laki kejam itu sama sekali Gavin tidak pernah berucap manis kepada dirinya, namun malam ini Gavin terlihat berbeda, dan lebih manis.
"Mau kah kamu berteman dengan saya By?"
Bersambung.....✍️✍️
__ADS_1