Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Hadiah untuk Gavin


__ADS_3

Seketika ruang rawat inap kakak ipar Luby kini menjadi terasa lebih dingin dan menakutkan, persaingan antara Gavin dan Aryan begitu sangat terlihat jelas. Beberapa kali Gavin terlihat begitu jengkel saat melihat tingkah Aryan yang terlihat di buat-buat untuk mencari perhatian istrinya.


"Apa kamu masih sering pusing By? atau masih ada perasaan yang tidak enak ?" beberapa kali Aryan bertanya pertanyaan yang hampir sama kepada Luby, yang membuat Gavin merasa panas.


"Hmm--- sekarang sudah mulai jarang dok, "


Luby tersenyum masam saat melihat Gavin yang terlihat tidak senang atas pertanyaan dokter Aryan yang sedari tadi terus bertanya akan kondisi penyakitnya saat ini.


"Eh, dok maaf sebelumnya, di sini sekarang yang sakit itu kakak ipar istri saya, jadi saya harap dokter gak usah tanya-tanya tentang kondisi kesehatan istri saya, karena sudah ada saya suaminya kalau terjadi apa-apa dengan istri saya"


"What? tahu tentang kondisi istri? kenapa kaya betulan aja, padahal cuma akting doang. Lagian kenapa sih nih cowo aktingnya kaya suami yang cemburuan gini. Lagian kenapa juga dia bisa sampai nyasar ke RS tempat kak Bian di rawat" Luby berbicara di dalam hati


"Hmm--, maaf pak Gavin. Saya tidak bermaksud


membuat pak Gavin tidak senang, tapi saya hanya sedikit khawatir akan kondisi Luby yang terkadang masih sering kambuh"


Dari atas kasur nya Bianca hanya dapat tersenyum melihat kedua lelaki yang tengah berada di hadapannya, ia merasa lucu saat melihat kedua orang pria mapan dan tampan itu terlihat saling merebut perhatian adik ipar nya itu.


"Gak usah khawatirin kondisi istri saya dok, karena istri saya baik-baik aja. Saya harap mulai hari ini tolong jangan terlalu dekat dengan istri saya" Gavin kembali merapatkan pegangan tangannya di pinggang sang istri.


Luby yang mulai tidak nyaman akan keributan yang terjadi diruangan sang kakak langsung langsung melepaskan tangan Gavin dari pinggangnya,


"Maaf sebelumnya tapi kaya nya jam besuk nya udah habis, sekarang kak Bianca harus tidur siang, jadi sebaiknya mas Gavin dan pak dokter bisa kembali besok"


Gavin merasa sangat marah saat mendengar Luby mengusir nya secara halus, sedangkan dokter Aryan merasa bersyukur karena saat ini bukan hanya dirinya yang di suruh keluar namun Gavin ternyata juga diperlakukan sama dengan dirinya.


"Sudah By, kasihan loh suami kamu dan pak dokter, kalau disuruh pulang! aku udah mulai baikan kok, dan juga belum mengantuk"


Luby yang melihat kelakuan sang kakak ipar hanya membalas dengan sebuah senyuman sembari meminta maaf,


"Maaf ya kak, Luby juga gak tahu kenapa Gav --- mas Gavin bisa sampai di sini juga"


Dengan perasaan bersalah Luby memandang ke arah Bianca yang terlihat masih tersenyum memandang ke arahnya.


"Lho kok karena mas sih yang? ini semua karena dokter ini, udah tahu kamu sudah punya suami tapi dia tetap aja cari perhatian sama kamu"


"Saya yang salah By, maaf semuanya saya rasa saat ini memang saat nya harus kembali ke RS,"


"Bagus kalau dokter Aryan paham!" celetuk Gavin.


"Kamu juga harus kembali ke kantor kan mas? "


"Tidak, hati apa pun saya bebas, toh kantor itu milik saya, jadi saya bisa datang kapan pun saya mau" Untuk pertama kalinya Gavin menjawab pertanyaan Luby dengan lugas, dan mengesampingkan urusan kantornya.


"Ternyata aku salah, suami Luby memang benar sangat mencintai dirinya aku bisa lihat kejujuran dari matanya saat menatap luby, mungkin hanya perasaan aku saja yang mengatakan bahwa Luby tidak bahagia. mulai detik ini aku harus menetapkan hati aku untuk tidak lagi mengejar cinta Luby"


Setelah berpamitan dengan Luby dan Bianca, Aryan pun memutuskan untuk undur dari ruang rawat inap kakak ipar Luby itu.


Sebelum keluar Aryan pun menyalami tangan Gavin dan merapat kan sedikit badannya kepada Gavin sembari berbisik di telinga Gavin.


"Saya minta maaf kalau telah membuat pak Gavin salah sangka terhadap saya. Saya harap pak Gavin dan Luby akan terus bahagia selamanya, tolong terus jaga dia karena selama ini ia sudah sangat menderita dengan masa lalunya, saya harap penyakit sikis Luby tidak lagi kambuh, sehingga kami tidak perlu lagi bertemu"


Gavin merasa tercekat akan ucapan sang dokter muda itu, walau ia merasa marah namun ia sedikit tersentuh dengan perkataan sang dokter yang seakan mengingatkan dia akan kebenaran yang saat ini Luby alami.


"Baik saya akan menjaga Luby sepenuh hati saya,"


Setelah berhasil mengatakan harapannya kepada Gavin, Aryan pun pergi meninggalkan ruangan rawat inap tersebut.

__ADS_1


*


*


Sore ini setelah seharian menjaga sang kakak ipar Luby pun kembali kediamannya bersama Gavin, sungguh ini yang pertama kali baginya di temani oleh Gavin sepanjang waktu.


Sesaat di dalam mobil milik Gavin Luby hanya bisa diam seribu bahasa, jujur Luby merasa canggung untuk berbicara duluan kepada Gavin setelah seharian menjadi seorang istri sungguhan untuk Gavin.


"Ehem--- ehem--- apa kamu lapar?"


"Hmm--, sedikit" sebenarnya Ia sudah merasa sangat lapar karena saat makan siang tadi ia hanya makan sedikit karena harus berbagi bekal bersama Gavin. Namun saat ini tiba-tiba mulut nya seakan tak bisa berucap jujur saat berada di dekat Gavin.


"Tapi aku sangat lapar, gimana kalau kita makan malam sebentar ?"


Luby pun mengganggukkan kepalanya tanda setuju, dan mobil sport berwarna merah itu pun akhirnya berbelok ke sebuah restoran yang cukup mewah di kota P.


Mereka pun turun dari dalam mobil secara bersamaan, tak lupa Gavin membawa sebuah amplop yang cukup besar ditangannya,


Sesampainya di sebuah meja yang terlihat masih kosong Gavin langsung menarik sebuah kursi untuk Luby duduki,


"Terimakasih,"


Gavin menganggukan kepalanya dan ia pun mulai duduk di kursi yang bersebrangan dengan tempat duduk Luby.


Tak berapa lama seorang witer pun datang ke meja mereka, setelah memesan beberapa makanan Luby pun menunggu sambil membuka gawai dari dalam tas nya.


"Hmm--, ini surat perjanjian yang kemarin aku janjikan sama kamu"


Gavin meletakan amplop yang tadi ia bawa tepat di depan meja Luby.


Luby yang baru membuka isi pesan di dalam ponselnya kembali meletakan ponselnya di atas meja, ia pun mulai mengambil amplop besar itu dan mulai membuka isinya.


"Huft---- ini soft copy video kamu, aku udah gak punya cadangannya lagi, jadi kamu jangan khawatir"


Luby menyunggingkan sedikit senyuman ke arah Gavin yang terlihat sangat serius.


Setelah berhasil mengeluarkan selembar surat perjanjian itu dengan fokus Luby mulai membaca setiap kalimat yang tertulis di dalamnya.


"Memang kenapa sih kamu memilih untuk berteman sama aku? bukannya dulu kamu benci ya sama aku?"


"Ya karena saya gak mau di anggap pria yang kejam, dan saya mau nunjukin sama kamu bahwa saya bukan seorang ba*ci yang suka ngancam perempuan"


"Masuk akal sih"


"Yupz"


Akhirnya Luby kembali fokus membaca isi surat perjanjian yang Gavin buat


"Maaf dari kelima poin ini kenapa kita harus ada satu kamarnya ? saya keberatan dengan perjanjian ini, terus kenapa aku gak boleh dekat sama laki-laki lain lebih dari satu meter? aku juga gak setuju,"


"Kenapa kamu gak setuju bukannya kamu itu istri saya? lagian kamu jangan ge er, di sini saya buat kita tidur satu kamar itu kalau kita sedang berada di rumah orang tua aku atau orang tua kamu. Dan untuk poin yang ke empat itu saya tidak mau kalau kamu punya pacar saat masih menjadi istri saya, karena saya tidak mau ada berita miring tentang saya karena ulah kamu"


"Oke kalau untuk poin yang ketiga aku setuju, tapi tolong di tambah di sini agar jangan sampai ada kontak fisik."


Luby menuju poin ketiga yang tertera jelas di surat kontrak yang Gavin buat.


"H--- memang siapa yang mau nyentuh kamu? tolong jangan ge er"

__ADS_1


"Huft--- kalau aja sampai dia tahu bahwa saya yang sudah merenggut miliknya, bisa-bisa saya di amuk sama ni cewek"


Tanpa sadar Gavin mengelus dadanya beberapa kali.


"Bagus kalau gitu, dan untuk poin yang ke empat ini aku gak akan pernah ada hubungan apa-apa dengan laki-laki manapun jadi kamu tenang aja! tapi aku gak mau harus sampai sedetil itu, gak mungkin kan aku mau meluk papa aku sendiri aja gak bisa, atau kalau ada mata kuliah dengan dosen cowok terus aku harus duduk di sudut! jadi aku mau kamu hapus poin yang ini"


"Aku gak mau hapus, tapi aku bakal ganti pakai kata kecuali untuk papa kamu gimana?"


"Katanya tulus mau minta maaf tapi tetap aja egois, padahal aku gak ada ngelarang kamu untuk berjarak 1 meter dari wanita manapun, bahkan kamu selalu sama Maya pun aku gak melarang kan? "


"Tolong jangan sebut nama Maya di sini, karena saya tidak suka kalau Maya di libatkan. Saya tidak mau kamu membuat aturan tentang saya dan Maya, karena Maya dan saya tidak akan pernah bisa dipisah kan"


"Lah kok jadi nyolot sih, aku kan cuma mau kamu untuk hapus poin yang ini, kalau kamu mau ngapain sama Maya aku gak peduli kok, pokonya aku mau kamu jangan egois mikirin diri kamu sendiri "


"Okeh aku bakal hapus poinnya, tapi kamu harus pastikan tidak ada kontak fisik dengan pria mana pun!"


"Heheh---lucu ya, kamu tahu? kata-kata kamu itu udah kaya suami yang cemburuan"


"H--- saya tidak perduli yang penting saya tidak mau reputasi saya hancur karena ulah kamu"


"Jangan khawatir, selama aku masih menjadi istri kamu aku akan menjaga jarak dari laki-laki manapun,"


"Oke deal"


Dan kedua pasang suami istri itu pun mulai menandatangani kontrak yang telah Gavin buat, dan soft copy itu pun di serahkan ke tangan Luby.


Dan setelah menyelesaikan makan malamnya Gavin dan Luby memutuskan untuk segera kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan pulang,


Mobil sport merah tersebut mulai berjalan kembali menuju kediaman Gavin, saat hampir sampai dengan kediamannya tiba-tiba tanpa sengaja Gavin menghentikan mobilnya di tengah jalan saat melihat seekor kucing yang melintas tepat di depan mobilnya,


"Chitttttt"


"BUGH"


"Awawwwww"


Terdengar suara hentakan yang cukup keras antara kepala Gavin dan stir kemudinya yang menyebabkan kening Gavin sedikit memar, sedangkan Luby yang sudah memakai safety belt sama sekali tidak cedera sama sekali.


"Ya ampun Gav? kepala kamu, sakit gak?"


"Memang kamu buta apa? udah kaya gini pake tanya lagi" Gavin mengelus benjol pada dahi nya yang hampir sebesar bola pingpong.


Luby yang melihat cedera yang Gavin alami langsung berinisiatif untuk memberikan pertolongan pertama pada kepala Gavin yang terlihat sudah memar dan bengkak,


Ia pun mulai menarik sebagian rambut nya yang menjuntai panjang, dan mulai meniupnya pelan, setelah itu ia pun meletakan rambut nya ke dahi Gavin, dengan lembut ia mulai menggosok pelan bengkak pada kepala Gavin dengan ujung rambutnya.


Hal ini menjadi yang pertama untuk Gavin, tapi entah kenapa saat ini ia merasa sangat senang melihat tindakan yang Luby lakukan terhadap dirinya.


Dari jarak yang sangat dekat Gavin dapat melihat wajah Luby yang begitu cantik, bahkan ia dapat mencium aroma parfum yang Luby pakai,


Tak berapa lama Luby pun melihat wajah Gavin yang sudah berada tepat di depan matanya, ia merasa terhipnotis akan ketampanan sang suami yang tampak lumayan dewasa dari pada dirinya.


Dengan perlahan Gavin yang seakan lupa daratan langsung mengambil kesempatan dalam kesempitan, ia pun memanfaatkan kedekatan mereka saat itu dengan langsung menerkam bibir berwarna Cherry milik Luby,


Dan malam itu akhirnya secara sadar Gavin mendapatkan hadiah terindah untuk dirinya.


Bersambung.....✍️✍️

__ADS_1


Jangan lupa untuk terus dukung cerita Gavin dan Luby, agar ibun semangat nulisnya readers...🙏🥰🥰


__ADS_2