
Saat sampai di dalam mobil milik Luby, Gavin hanya dapat terdiam sambil mengusap wajah nya yang lebam akibat perbuatan Danis, sahabat Luby.
"Siap lagi pria tadi? pacar gelap?"
Luby yang tengah mengendarai kemudinya sama sekali tidak memberikan jawaban apapun atas pertanyaan suaminya itu.
"Dasar perempuan! kalau sok cantik suka nya jadi play girl, semua laki-laki di jadikan kekasih"
"Harus nya kamu itu punya harga diri sebagai perempuan yang sudah punya suami"
tiba-tiba Luby langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan saat mendengar semua ucapan dari mulut Zaky yang ia rasa sudah sangat keterlaluan.
"Kamu sebaiknya keluar dari mobil aku!"
"He--? apa kamu nyuruh saya keluar? tidak saya tidak akan keluar!"
"Keluar"
Gavin yang masih ngotot ingin berada di dalam mobil Luby memilih untuk bertahan di mobil itu.
"Kalau tidak mau turun, sebaiknya jaga omongan kamu, kalau mulut kamu masih tidak bisa diam, jangan salah kan aku, kalau aku akan maksa kamu keluar dari mobil aku. Ingat Gavin saya bukan seperti perempuan yang kamu bilang"
Tiba-tiba Gavin merasa terhipnotis saat melihat ke arah bibir Luby yang tengah mengomeli dirinya,
Bibir merah muda itu tak ada berhenti terus berucap kasar terhadap dirinya, yang membuat Zaky semakin tidak tahan untuk me******* nya.
Dan benar saja dengan tiba-tiba Gavin langsung menerkam bibir berwarna merah muda itu, sambil menekan kepala Luby ke arahnya Gavin pun mulai memperdalam ciumannya,
Luby yang tidak bisa menggerakkan kepalnya akibat kuncian tangan Gavin hanya bisa menerima serangan tiba-tiba dari suami nya itu.
Namun tak berapa lama Luby yang seakan tersadar, langsung mendorong tubuh Zaky cukup kencang yang membuat Zaky terdorong kebelakang dan kepalanya pun membentur jendela mobil yang ada di belakangnya.
"Aww, kenapa harus di dorong!!"
"Sebaiknya kamu keluar dari mobil aku sekarang juga!"
"Keluar Gavin!"
"Kamu yang tadi nyuruh saya untuk diam, dan saya hanya bisa diam kalau kaya tadi"
"Keluar Gavinnnnnn! " Luby yang sudah sangat marah dengan sikap genit yang Gavin lakukan kepada dirinya, membuat ia tak dapat lagi mentolerir tindakan Gavin yang sudah mengambil kesempatan tehadap dirinya sebanyak dua kali.
Gavin merasa kaget melihat amarah Luby yang semakin menjadi-jadi, ia pun akhirnya berniat untuk segera turun dari dalam mobil Luby, namun saat tangan nya yang tengah mengusap bagian kepalanya dilepaskan, tiba-tiba darah segar pun tampak mengalir di sela leher Gavin dan membasahi sebagian jas dan kemejanya.
"Gavin! kamu berdarah?" Luby merasa kaget saat melihat ke tangan Gavin saat ini yang sudah berubah merah.
Sedangkan Gavin yang tidak merasakan apa-apa hanya bisa terdiam, dan phobia nya terhadap cairan berwarna merah itu membuat nyali nya seketika menciut, dan tak berapa lama Gavin pun mulai hilang kesadaran akibat shok yang berlebihan.
"Oh my God? Gavin---Gavin, bangun Gav!"
__ADS_1
Beberapa kali Luby menepuk lembut pipi Gavin sembari menggoyang-goyangkan tubuh suaminya itu, namun Gavin masih tidak sadar dari pingsannya.
Dan Luby pun langsung menyalakan kembali mesin mobilnya, dan segera membawa Gavin ke RS terdekat.
Sesampainya di sebuah RS Luby pun langsung mengendarai mobilnya menuju IGD RS, dan sampai di sana Luby segera meminta seorang satpam yang berjaga untuk membantu dirinya membawa Gavin masuk ke dalam.
Selang berapa detik, terlihat dua orang perawat datang dengan membawa banker ke arah Luby yang tengah berteriak meminta pertolongan.
Dan tak berapa lama Gavin yang sudah berada di dalam UGD langsung mendapatkan penanganan serius dari tim medis.
"Maaf apa anda keluarga dari bapak yang di dalam?" Seorang dokter muda yang baru keluar dari ruang pemeriksaan Gavin langsung menyapa Luby yang masih terlihat panik.
" Iya dok, bagaiman keadaan Gavin dok? "
Cukup lama sang dokter muda itu memandang ke arah Luby, ia terlihat ingin memastikan hubungan antara Luby dan Gavin.
"Apa anda ponakannya? atau adik nya?"
"Sa---ya, a-dik nya dok" Dengan ragu Luby terpaksa mengaku sebagai adik dari Gavin.
"Baiklah abang anda baik-baik saja, namun benturan dikepalanya mengakibatkan sedikit robekan yang harus mendapatkan jahitan paling tidak 3 jahitan, "
"Apa? di jahit dok, gak bisa pakai cara lain dok?"
"Maaf, tapi jika tidak dilakukan jahitan kami khawatir penyembuhan akan berjalan lama dan bisa infeksi jika tidak mendapatkan penanganan yang sesuai. Selain itu robekan yang terjadi juga lumayan lebar dan dalam"
Setelah mendapatkan persetujuan dari Luby dokter itupun langsung melakukan tindakan lebih lanjut terhadap luka yang Gavin dapatkan.
Gadis kecil itu tampak tidak tenang saat mengetahui keadaan Gavin yang cukup parah, Ia tak berhenti mondar mandir di sepanjang koridor RS tersebut, perasaan cemas dan was-was seketika menggelayut di dalam fikirannya.
"Maafkan aku Gavin tolong maafkan aku, sungguh kecelakaan itu terjadi begitu saja, sama sekali aku tidak berniat untuk mencelakai kamu. Lagian kenapa kamu selalu mengambil kesempatan terhadap aku" tak hentinya Luby menggerutu.
Dan tak berapa lama dokter yang tengah menangani Gavin pun mulai keluar dari dalam ruang pemeriksaan.
Melihat hal itu Luby pun segera mendekati sang dokter,
"Gimana keadaan Gavin dok?"
"Syukur lah luka pada kepala Abang anda sudah selsai di jahit, dan saat ini beliau pun sudah sadar dan ia meminta anda untuk segera menemui dirinya dalam"
"Syukur lah, saya ucapkan terimakasih banyak dok"
Dokter muda itu pun membalas dengan mengganggukkan kepalanya sembari pergi meninggalkan Luby dengan diikuti oleh seorang perawat di sampingnya.
"Tok---tok"
"Masuk!"
Luby pun mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tindakan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa harus mengetuk! langsung saja masuk"
Dengan ketus Gavin berteriak kepada Luby,
"Hmm--- maaf"
"Ha--- maaf? kamu hanya bilang maaf?"
Luby yang masih merasa sangat bersalah hanya dapat memanyunkan bibirnya sambil menatap ke arah Gavin yang masih terlihat marah.
"Aku tahu aku salah karena mendorong tubuh kamu agak kuat, ta-pi itu semua kan juga karena salah kamu" Luby berbicara sangat pelan hingga samar-samar dapat di tangkap oleh Gavin.
"Aku janji akan merawat kamu dengan sepenuh hati sampai sembuh, sebagai tanda maaf dari lubuk hati aku yang paling dalam"
Dengan pelan Luby kembali berbicara kepada Gavin. Dan tak di sangka Gavin langsung merespon baik perkataan Luby,
"Baik, saya akan menerima maaf dari kamu. Tapi ingat saat kamu merawat luka saya sampai sembuh, kamu harus mengikuti semua permintaan saya tanpa syarat"
"Apa? tanpa syarat?"
"Kenapa? keberatan?"
"Ti-dak, aku gak keberatan kok, tapi----"
"Ingat Luby tanpa syarat, jadi saya gak mau ada kata tapi di belakangnya, atau kamu mau saya laporkan hal ini ke pihak berwajib?"
"Ha---? pihak berwajib, kok tega banget sih Gav? kita kan suami istri, dan lagi kan kita udah sahabatan, masa mau pakai lapor segala"
Luby berbicara sambil mengiba di hadapan suaminya itu.
Namun Gavin sama sekali tak memberikan tanggapan apapun terhadap pertanyaan Luby, pertanda ia tidak ingin Luby membantah semua perkataanya,
Tak berapa lama hp genggam milik Gavin pun berbunyi tanda masuk nya sebuah pesan. Dengan cekatan pria dingin itu pun mulai mengambil hp dari saku celananya dan membaca isi pesan yang ternyata dari Maya sang istri siri.
"Mas, maaf tapi aku buru-buru berangkat ke kota M untuk pengobatan Andrea, jadi aku kasih kabar nya cuma melalui pesan karena ini sudah di dalam pesawat, 3 hari lagi aku baru pulang, sampai di sana aku akan langsung telepon mas, I love U 💋"
Bak mendapatkan jekpot sebuah senyuman pun seketika terbit di bibir Gavin saat menerima pesan dari Maya,
"Kaya nya waktu tengah berpihak kepada saya, walau kepala saya harus bocor tapi ini sebuah anugrah yang tidak bisa sia-sia kan"
Gavin tersenyum smirk ke arah Luby yang tengah menatap ngeri ke arah Gavin.
Sedangkan di sisi lain Maya yang sudah berada di dalam pesawat tengah tersenyum penuh kemenangan, karena ia sengaja ikut serta dalam pengobatan sang sepupu yang juga asisten pribadinya, karena ia berharap Gavin akan segera menyusulnya ke kota M untuk liburan dadakan.
Hal ini ia lakukan karena ia tahu akan sifat sang suami yang tidak bisa hidup tanpa dirinya, jika ia sedang tidak dalam hal pekerjaan biasanya Gavin akan langsung menyusul dirinya saat tengah berada di luar kota.
Sambil mematikan ponselnya Maya pun mulai memikirkan tempat-tempat menarik yang nantinya akan ia kunjungi bersama Gavin selama di kota M.
Bersambung....✍️✍️
__ADS_1