Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Akting atau kebenaran?


__ADS_3

"Jadi Luby pasien kamu yang diam-diam kamu suk---"


Dengan cepat Aryan langsung membungkam mulut sang mama yang terkadang tidak bisa di rem, dengan pelan Aryan membawa mama nya sedikit menjauh dari posisi di mana Luby berada.


"Mama, tolong suaranya di pelankan"


"Ary, jadi benar kalau Luby adalah pasien kamu itu?"


Aryan langsung menganggukan kepalanya, terlihat guratan kekecewaan di wajah sang dokter tampan itu,


"Ternyata pilihan mama dan kamu itu sama, namun kita gak bisa melawan takdir nak," Tante Farah juga ikut kecewa karena telat mengetahui wanita incaran sang anak, andai dulu Aryan tidak menolak saat ingin di jodohkan dengan Luby mungkin saat ini Luby tengah berbahagia bersama sang putra,


"Benar ma, takdir Luby bukan lah Aryan"


"Ya sudah setidaknya kamu bisa menjadi seorang kakak untuk Luby, bantu ia sembuh dari penyakit nya nak" Mama Aryan pun menepuk pundak sang putra dengan lembut,


"Iya ma, itu yang saat ini Aryan lakukan untuk Luby"


"Ya sudah mama mau ke papa dulu, lebih baik kamu temani Luby kembali, karena mama lihat suaminya tengah sibuk dengan teman-temannya, jangan biarkan dia sendiri Ary"


"Iya ma, kalau gitu Aryan mau kembali ke tempat Luby"


Aryan langsung duduk kembali di kursi tepat berhadapan dengan Luby,


"Mana Tante Farah dok?"


"Mama sedang berada di sana Nemani papa"Aryan menunjuk arah di mana keberadaan sang mama saat ini,


"Wah saya gak nyangka ternyata dokter ini adalah anak Tante Farah?"


"Iya By, saya juga gak nyangka ternyata mama kamu teman mama saya"


"Andai waktu itu saya memilih untuk pulang lebih awal mungkin aku yang menikah dengan kamu By, namun semua sudah terlanjur" Aryan berbisik di dalam hatinya,


"Iya ya kok bisa gak tahu dok?"


"Mungkin karena saya kelamaan di luar ! karena sejak sekolah tingkat pertama, saya sudah menuntut ilmu di luar negri, tinggal sama Oma dan opa saya dan saya di sana. Selain itu saya juga cukup lama bekerja di salah satu RS terbesar di sana,tapi sejak Oma dan opa saya meninggal maka mama menyuruh saya untuk pulang dan menetap di negara I. Ya kalau di hitung baru 1 tahun saya pulang ke sini.

__ADS_1


"Owh begitu, dokter pasti sangat menyayangi oma dan opa dokter ya?"


"Benar By, sangking sayang nya saya sangat merasa kehilangan mereka waktu itu"


Dari jarak yang cukup jauh tak hentinya Gavin terus memperhatikan gerak gerik Luby yang terlihat tengah mengobrol bersama Aryan,


"Siapa pria itu? kenapa Luby terlihat sangat akrab sekali berbicara dengan pria itu! Apa kah pria itu tidak tahu kalau Luby sudah punya suami"


Sedari tadi Gavin sudah memasang wajah tak senang terhadap pria yang berani mendekati istri nya itu, Bahkan beberapa kali Gavin terlihat gelisah dan mulai menghentikan obrolannya bersama rekan sesama pebisnis yang juga di undang oleh pengusaha besar dalam bidang properti itu.


"Maaf semua nya saya mau permisi dulu"


Semua rekannya pun memberikan izin kepada Gavin untuk undur diri. Setelah berpamitan dengan langkah lebar pria dengan tuxedo hitam itu pergi menuju meja di mana Luby dan Aryan berada saat ini.


ia pun berjalan sambil melewati beberapa orang yang yang juga menghadiri pesta malam itu,


Setelah sampai di tempat yang ia tuju, dengan arogannya Gavin langung menarik tangan sang istri yang tengah duduk berhadapan dengan Aryan, dengan satu kali tarikan Luby pun telah masuk ke dalam pelukan Gavin.


"Sayang kamu kemana aja ? mas cariin kamu ke mana-mana ternyata kamu malah duduk di sini"


"Mas?? sejak kapan coba aku manggil dia dengan sebutan mas?"


Gavin yang melihat Luby tak merespon perkataanya langsung mengecup pipi Luby sembari berbisik pelan,


"Tolong main kan peran kamu semaksimal mungkin Luby"


"Bre**sek beraninya dia curi kesempatan dalam kesempitan", Luby secara spontan ingin mengelap pipinya yang sempat di cium Gavin namun ia masih melihat Aryan masih duduk di hadapannya,


"Iya m--as, tadi aku jumpa dokter Aryan jadi aku ngobrol di sini"


"Dokter Aryan????bukannya pria ini adalah pria yang sama yang makan siang bersama Luby beberapa waktu yang lalu! sebenarnya ada hubungan apa antara Luby dan dokter bre*** ini"


Gavin pun dengan percaya diri langsung mengangkat tangan nya untuk berkenalan dengan orang yang yang tanpa ia sadari telah berhasil membuat ia cemburu.


"Gavin, suaminya Luby"


"Senang berkenalan dengan anda, nama saya Aryan"

__ADS_1


Dengan intens Gavin pun mulai menatap mata Luby, ia menginginkan penjelasan lebih akan hubungan yang terjalin di antara keduanya,


Luby yang seakan tahu akan pandangan Gavin langsung menjelaskan kenapa ia bisa bertemu Aryan di sini,


"Dokter Aryan ini anak tunggal dari Tante Farah dan om Devan"


"Owh seperti itu, kenapa kamu gak bilang sebelumnya sayang, kan aku gak harus cemburu lihat kamu waktu itu"


Dengan sengaja Gavin menunjukkan ketidak sukaan nya terhadap dokter Aryan,


"Uhuk---uhuk--" Luby langsung terbatuk saat mendengar ucapan bohong Gavin yang terdengar berlebihan,


"Kamu gak papa By?"


Gavin pun langsung mengambil air putih yang tersedia di meja Luby, dengan penuh perhatian ia pun membuka tutup botol minuman itu dan mencoba membantu Luby untuk minum.


"Apa dia panggil apa tadi? "By" sok dekat banget dengan bini orang jangan harap Lo bisa dekatin istri gue" Gavin terus bermonolog di dalam hati,


"Makasih, aku udah gak papa"


Dengan mesra Gavin memeluk pinggang ramping sang istri, dan ia pun kembali mengecup dahi Luby di hadapan Aryan,


"Puft--- kaya nya Gavin sangat mencintai Luby, sebaiknya aku tidak lagi berharap untuk bisa mendapatkan Luby"


Aryan menatap nanar kedua pasangan suami istri di hadapannya itu, terlihat gurat kecemburuan di wajah dokter tampan itu.


"Sayang sebaiknya kita pulang saja, karena mas merasa kurang enak badan, mas mau kamu pijitin sesampainya di rumah"


Gavin sengaja memperbesar volume suaranya agar dapat terdengar di telinga sang rival,


Luby yang tak tahu harus berbuat apa akhirnya memilih untuk menyetujui permintaan Gavin, sungguh situasi saat ini membuat ia canggung, jauh di dalam lubuk hatinya Luby merasa tidak enak kepada Aryan atas tindakan Gavin kepada dirinya.


"Baiklah dokter Aryan, saya dan istri saya tercinta mau pamit dulu, saya harap kedepannya kita tahu akan posisi kita masing-masing, karena tidak baik jika kita mengganggu milik orang lain"


Gavin pun pergi meninggalkan pesta dengan menggandeng Luby di sampingnya.


Bersambung....✍️✍️

__ADS_1


__ADS_2