Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Kebahagian Luby adalah segalanya


__ADS_3

Malam itu setelah menemani Luby hingga tertidur Gavin memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di dalam kamar nya yang terkonekting dengan kamar milk Liby, namun baru saja ia menelentangkan tubuh nya di atas kasur tiba-tiba hp nya berbunyi,


"Ya ada apa?"


Dari seberang telepon tampak sang asisten pribadinya memberitahu kan sebuah informasi bahwa ia telah mendapatkan sepasang mata pengganti yang cocok untuk Luby,


"Terimakasih untuk informasi yang paling mahal ini, saya akan mengirimkan bonus besar untuk kamu-- dan atur semua persiapannya, berikan lah harga yang setimpal untuk orang yang akan mendonorkan mata nya untuk istri ku"


Di wajah lelah nya akhirnya terbit lah sebuah senyuman kebahagian, sungguh Gavin sudah tidak sabar untuk melihat sang istri bisa melihat dunia kembali, walau nantinya Luby tak bisa menerima kehadirannya Gavin tetap akan terima.


"Kamu akan bisa segera melihat lagi sayang, besok saat kita menemui Darren di rumah papa Brian, aku akan memberitahukan berita baiknya ini kepada mereka"


Senyum sumringah dari bibir Gavin akhirnya mulai memudar tak kala kantuk datang menghampirinya, rasa lelah pada tubuhnya membawa pria itu masuk kedalam tidur yang lebih dalam.


***


Pagi ini sambil membawa sebuah tas besar di lengan kirinya dengan hati-hati Gavin membimbing Luby berjalan di sebelah lengan kanannya, kedua insan itu berjalan sangat perlahan menuju rumah papa Brian, tak ada seorang pun yang menyambut kedatangan mereka hanya dua orang satpam yang sempat menyapa mereka, dan berniat ingin membantu Gavin, namun ia tolak dengan sebuah lambaian tangan.


Brian dan Luna sama sekali tidak mengetahui hal ini di karenakan Gavin sama sekali tidak memberitahukan akan kedatangan mereka hari ini.


Saat di perjalanan tadi Gavin dapat mengingat sepanjang perjalanan ada begitu banyak pertanyaan Luby yang tak bisa Gavin jawab,


"Suster kenapa kau hanya diam? dan kenapa papa dan mama tega membiarkan aku hanya tinggal sendiri di apartement ku? kenapa mereka tidak membiarkan aku tinggal bersama mereka?"


Mulut wanita itu tak pernah diam, seakan ada begitu banyak kegundahan di dalam hatinya.


"Dan kenapa aku harus tinggal berpisah dari Darren? kau tahu bukan suster bahwa Darren itu putra ku"

__ADS_1


Sejujur Gavin merasa amat bersalah mendengar semua pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya itu, namun semua ia lakukan untuk Luby, ia ingin merawat Luby sendiri tanpa campur tangan orang lain maupun mertuanya sediri, bahkan rencananya setiap beberapa hari keluarga Luby akan mendatangi rumah Gavin untuk menemui Luby,namun sebelum keluarga Luby datang ke rumah mereka Gavin yang berniat datang sendiri untuk memberikan kejutan sembari memberikan kabar gembira tentang donor mata yang cocok untuk Luby.


"Maaf kan aku By, saat tadi aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang engkau tanyakan, yang jelas ini semua aku lakukan karena aku begitu mencintai mu"


Beberapa kali Gavin mencoba mengelap tetes keringat yang jatuh ke dahinya, dengan udara yang cukup panas di siang itu membuat Gavin beberapa kali mengelap keringatnya,


"Huft, kayanya parfum murahan ini melebur deh dengan keringat gue!"


" Sial"


Seketika rasa percaya diri Gavin mulai memudar saat hidungnya menangkap bau apek dari baju dan parfum yang ia pakai saat ini, seketika Gavin perlahan mulai sedikit menjarak dari tubuh Luby,


"Ada apa dengan suster ini, kenapa dia seperti gelisah ya kok kayanya semakin lama semakin menjauh gini"


Luby yang takut terjatuh memilih untuk menarik kembali lengan Gavin dan memegang nya lebih erat.


"Aduh Luby kok narik gini sih! jangan sampai aroma ini membuat dia jadi gak nyaman!! aduh nyesal aku pakai parfum nyengat kaya gini, tapi kalau pakai parfum dan deodoran yang biasa aku pakai bisa-bisa Luby curiga lagi"


Tak berapa lama Luby dan Gavin sampai di dalam rumah milik papa Brian, di sana mereka di sambut hangat dengan penuh suka cita.


***


"Sungguh Kau sudah mendapatkan donor yang tepat Gavin?" Rona kebahagian tampak jelas di wajah sang papa saat Gavin menceritakan kepada sang mertua akan pendonor mata untuk Luby di ruangan kerjanya.


Secepatnya Brian langsung menghubungi sahabat yang berada di negara L untuk mempersiapkan operasi pencangkokan mata untuk Luby,


"Akhirnya kau berhasil membuktikan nya kepada Ki Gavin"

__ADS_1


Brian menepuk ringan pundak Gavin atas pencapaiannya,


"Terimakasih pa-- akan saya lakukan apapun untuk menebus semua kesalahan saya kepada Luby pa"


Namun raut wajah Brian kembali murung saat mengingat rasa benci yang Luby rasakan terhadap Gavin saat ini.


"Tapi bagaimana jika Luby tidak bisa menerima kamu lagi Gavin!!" Dengan tatapan tajam Brian memandang sang menantu,


Gavin yang tidak siap kehilangan Luby hanya dapat terdiam,


"Ji-ka Luby ti-dak menerima saya, ma-ka saya akan ---- "


"Saya akan berbesar hati untuk pergi dari kehidupan Luby selamanya pa".


"Apa kau yakin setelah semua pengorbanan yang telah kau lakukan kepada nya Gavin?"


"Iya pa, saya 100 persen yakin, karena kebahagian Luby dan Darren adalah segalanya untuk saya saat ini"


Gavin kembali mengingat wajah Luby dan Darren, bagaimana ibu dan anak itu tadi bertemu kembali saat setelah 1 bulan lebih tidak saling bertemu,


"Apa kau yakin tetap tidak akan memperkenalkan dirimu kepada Darren saat ini?"


Brian kembali mengacaukan lamunan Gavin saat melihat menatunya itu tersenyum sendiri.


"Eum-- iya pa, saya tidak ingin membuat Luby marah jika Darren tahu saya adalah papanya, jika Luby tidak mengizinkannya ma-ka saya bersedia akan tetap menjadi orang asing bagi Darren"


Setelah mendengar semua ucapan dari mulut Gavin Brian hanya dapat terdiam, saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak ingin kembali menyakiti hati sang putri dengan kehendaknya sendiri.

__ADS_1


"Semoga ada keajaiban Gavin, aku berdoa semoga kau menemukan kebahagian mu jika bersama Luby ataupun tidak bersama Luby"


Bersambung....🤗🤗


__ADS_2