
"Pergi dari sini Gavin! aku tidak mau melihat kamu lagi!!"
Amarah yang berapi-api dari mulut Luby membuat Gavin memutuskan untuk segera pergi dari kamar rawat inap Luby dimana beberapa hari ini menjadi tempat nya rehat.
Papa Brian dan Luna sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, karena sebelum perban mata Luby tadi di buka papa Brian sudah mengatakan kepada Luby bahwa ada seseorang yang telah lama menunggu kesembuhan Luby, namun papa Brian sama sekali tidak memberi tahukan siapa orang yang di maksud, hingga kedua perban itu telah di sana lah Luby kaget karena saat ia melihat satu persatu keluarganya, tiba-tiba pandangannya terhenti kepada pria yang sama sekali tidak ingin ia lihat keberadaannya.
Walau rasa dan rindu itu masih sering hinggap di hatinya, namun otak nya berusaha untuk terus menolak keberadaan Gavin saat ini.
"Kenapa papa dan mama membiarkan pria kejam itu berada di sekitar ku! apa kalian sudah lupa bagiamana dia dulu menyakiti aku pa! dan aku yakin musibah ini semua terjadi karena dia "
"Sudah By, cukup!"
"Mama? kenapa mama malah memarahi Luby ma? apa yang pria itu telah lakukan sehingga papa dan mama terlihat begitu membelanya"
"Maaf kan mama sayang, mama sama sekali tidak membela Gavin, hanya saja kamu baru saja sembuh jadi mama harap kamu jangan terpancing, karena emosi berlebihan seperti ini malah akan mengakibatkan ketidakstabilan ritme jantung kamu sayang"
"Maafkan Luby ma, sungguh Luby tidak bisa mengontrol perasaan Luby saat melihat dia di sini ma, tapi Luby saat ini sudah lebih tenang ma"
"Luby harap dia tidak lagi datang ke sini"
"Sayang andai kamu tahu pengorbanan Gavin untuk kamu selama ini nak, kamu pasti menyesal saat mengetahui nya Bi, bahkan dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi saat ini"
"Sabar sayang pasti kamu sudah tidak sabar untuk menceritakan semua kebenarannya, tapi aku harap sampai Luby benar-benar sembuh barulah kita menceritakan segalanya sayang"
Dengan tatapan mengiba Brian terus berusaha menyampaikan apa kata hatinya saat ini, semua ia lakukan untuk menjaga perasaan Luby karena ia masih dalam tahap penyembuhan penyakit sikis nya selama ini.
Seakan tahu isyarat yang diberikan sang suami, membuat Luna menghentikan niatnya untuk memberi tahukan Luby akan kebenaran yang sebenarnya.
"Ma, rasanya Luby ingin bertemu dengan perawat yang selama ini selalu merawat Luby, kenapa saat Luby membuka mata dia tidak ada? besok bawalah Luby untuk menemuinya ma"
"Degh"
Brian dan Luna saling berpandangan, dan Luna hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan Luby.
"Mungkin ini saat nya kamu tahu nak"
***
Tak terasa seminggu sudah Luby mendapatkan perawatan lanjutan atas operasi penglihatannya di negara L, dan hari ini merupakan hari terakhir Luby di observasi pasca operasi, dan semua hasilnya pun menunjukan peningkatan yang luar biasa, dan sang dokter pun akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan Luby untuk kembali pulang ke rumahnya.
Namun saat ini Luby masih harus control dua Minggu ke depan, sehingga ia harus urungkan niatnya untuk segera mungkin bertemu dengan sang buah hati di negara I.
"Sayang kenapa kamu terus melamun? apa sudah sangat merindukan Darren?"
Luna yang melihat wajah gelisah sang putri akhirnya membuka suara.
"Hmm--, iya ma Luby sudah sangat merindukan Darren"
__ADS_1
Sesungguhnya Luby tidak seratus persen memikirkan tentang Darren, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya yang sampai saat ini tidak bisa ia jabarkan.
"Kenapa saat ini aku merasa hampa, seperti ada sesuatu penting yang aku lupakan"untuk
Di sisi lain saat ini Gavin masih terus senantiasa berada di sisi Luby, pria malang itu masih terus menjaga Luby dari jarak jauh, dan saat diam-diam dirinya membuntuti mobil yang membawa Luby dan kedua orang tuanya kembali ke penginapan nya di negara L.
"Sayang akhirnya kau bisa pulih sayang, maaf kan aku By"
Dengan tampilan yang menyedihkan mata Gavin kembali merah dan berkaca-kaca, pria itu hanya mampu melihat sang pujaan hati dari kejauhan, berat untuk nya harus rela melepaskan sosok Luby dari sisinya namun ia sadar bahwa mencintai tak harus memiliki.
"Mungkin ini waktunya aku benar-benar pergi"
"Ingin rasanya aku egois By, aku tidak ingin melepaskan kamu, aku akan mengurung mu di dalam pelukanku,"
Gavin yang tak sanggup lagi menahan kesedihannya mulai menentukan air matanya.
"Tapi apa bedanya aku yang sekarang dengan aku yang dulu"
Sambil terisak Gavin menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya,
"Selamat tinggal sayang, temukan kan lah kebahagiaan mu, aku titip kan Darren kepadamu, andai kau tahu sayang aku tak akan berhenti untuk mencintai mu"
"SELAMANYA"
Setelah memastikan Luby baik-baik saja akhirnya mobil yang Gavin kendarai mulai berbelok, untuk berbalik arah.
Dari sisi lain Luby akhirnya memalingkan pandangan nya ke arah mobil yang berada tidak terlalu jauh dari posisi nya berdiri saat ini.
S'lamat jalan, Kekasih
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu
Aku cinta padamu
Aku masih menyayangimu
Walau hanya di hati saja
S'lamat jalan, Kekasih
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu
Ah, aku cinta padamu
__ADS_1
Aku masih menyayangimu
Walau hanya di hati saja
Akhir nya memang cinta dapat membuat orang gila namun cinta pun bisa membuat orang terpaksa ikhlas saat melepaskan.
***
"Apa ma? jadi selama ini Gavin yang telah merawat Luby?"
Bak di sambar petir, Luby merasa kaget saat mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Luna .
"Iya sayang, maaf kan mama nak karena telah menyembunyikan dari kamu, tapi kesungguhan dan niat tulus dari Gavin membuat papa dan mama iba kepadanya"
"Ti-Dak" Akhirnya tubuh Luby lunglai ke lantai wanita muda itu merasa tidak percaya akan semua perkataan mamanya.
Dan dari dalam sebuah ruangan papa Brian pun datang dengan membawa dua lembar map yang berukuran cukup tebal di tangannya,
"Ini By untuk kamu dan Darren"
Brian pun memberikan kan kedua map tersebut tepat dihadapan Luby yang terduduk sembari menangis.
Dengan perlahan Luby akhirnya membuka kedua map coklat yang di berikan papa Brian.
"Tid--ak, hiks--"
"Kenapa papa dan jahat kepada ku!!"
"Katakan ini tidak benar akan? Pa?--ma?"
Luby memandang dengan dalam kedua netra papa dan mamanya, dan ia tidak menemukan kebohongan di sana.
"Hiks---"
Seakan memorinya berputar kembali pada saat ia pertama kali masuk ke RS, sosok hangat yang selalu ada di sisinya adalah orang yang selama ini sejujur nya tidak ingin ia lihat lagi di hidupnya, sosok yang paling ia benci dan paling ingin lupakan.
"Kenapa takdir ini kejam pa--ma"
"Saat ini ia tidak memiliki apa-apa lagi. pria bodoh itu kenapa menjadi sebodoh ini pa"
Luby akhirnya memilih segera beranjak dari lantai dan langsung menyambar sebuah switer di atas meja, tanpa menunggu ia pun pergi keluar dengan menggunakan mobil milik Brian.
"Luby tunggu!!"
Brian langsung memberikan sebuah alamat hotel dan no hp milik Gavin kepada Luby.
"Pergi lah nak, kejar lah cinta mu"
__ADS_1
Luby memalingkan matanya ke arah Luna dan menganggukan kepalanya sembari tersenyum tipis.
Bersambung....🤗🤗