
Setelah cukup lama merasakan kehangatan dari bibir sang suami, akhirnya Luby kembali dalam mode sadar, Dengan kasar secara spontan Luby langsung mendorong tubuh Gavin menjauh dari dirinya.
"Ah--- kamu kenapa sih?"
"Hmmm, ini? salah gak seharusnya kita melakukan hal tadi"
"Salah? bukankah kita sudah menikah? dan pernikahan kita itu sah di mata hukum dan agama, tapi kenapa kamu bilang salah?"
"Karena! karena pernikahan kita terjadi bukan karena cinta, dan hanya sementara"
"Semua bisa berubah kalau kita mau merubahnya"
Sambil menatap mata Luby dengan penuh keyakinan, Gavin mencoba untuk mulai mendekati Luby
"Ha.. semua tidak bisa berubah Gav! karena aku dan kamu ---kita terlahir dengan jalan yang berbeda, kamu sudah memiliki Maya sedangkan aku akan terus hidup untuk diriku sendiri,"
Luby langsung membuka pintu mobil Gavin dan beranjak keluar dari dalam mobil, tampak jalanan itu masih lumayan rame dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Luby memutuskan untuk menenangkan dirinya malam ini, ia tidak mau dengan kebersamaan bersama Gavin membuat ia lemah dan kembali mengulang kejadian yang sama. Ia yakin perkataan yang tadi sempat terucap dari bibir Gavin hanyalah guyonan belaka, dan bersifat sementara.
Seperti debu yang akan mudah di tiup angin, ia yakin ucapan Gavin sama seperti angin, jika Maya yang saat ini berada di hadapannya pasti Gavin tidak akan memandang kerah dirinya yang hanya sebutir debu.
Setelah berhasil menyetop sebuah taksi Luby memutuskan untuk pulang sendiri tanpa Gavin. Sedangkan Gavin masih setia di posisinya, seperti terhipnotis dia hanya diam melihat Luby yang sudah masuk kedalam sebuah taksi.
Gavin merasa frustasi melihat respon Luby yang sama sekali terlihat tidak tertarik dengan dirinya, dengan mengepalkan tangannya secara membabi buta Gavin mulai memukul-mukul stir mobilnya.
"SH***it ---- kamu lihat saja Luby! saya akan buat kamu bertekuk lutut di depan kaki saya! shi**t sampai saat ini tidak ada satu wanita pun berani menolak saya! "
Gavin berteriak sambil terus memaki-maki Luby, dan aksinya terhenti ketika ia mulai mendengar klakson mobil mulai riuh di belakang miliknya mobilnya.
"Bre**sek, mereka gak tahu siapa saya!"
Gavin langsung membuka jendela mobilnya dan mengeluarkan sebagian badannya,
"DIAM SEMUA saya akan jalan!"
Sembari berteriak dengan kuat Gavin pun memilih untuk kembali menjalankan mobilnya, tak lupa pria pemarah itu mengacungkan jari tengahnya kepada setiap kendaraan yang berada di belakangnya.
Terdengar sorakan dari beberapa pengguna jalan yang merasa di rugikan dengan tindakan Gavin yang mendadak berhenti di tengah jalan.
*
*
Bila akhirnya kau tinggalkanku
Tak tertahan luka ini
Ku menangis tak kuasa
__ADS_1
Tuk menahan pedihnya hatiku
Tanpa ada kata kau meninggalkanku
Menyisakan luka di hatiku
Betapa sakitnya relung bathinku
Merasakan hilangnya cintamu
Malam ini tak seperti
Malam kemarin saat kau peluk aku
Malam ini tak seperti
Malam kemarin saat kau bersamaku
Malam ini tak seindah
Malam kemarin
Sebuah lagu merdu dari the Bagindas mengiringi Luby yang kini masih berada di dalam taksi,
Malam ini Gavin berhasil mengacaukan pikirannya, padahal dari awal pernikahan mereka, Luby telah memutuskan untuk menutup pintu hatinya dari pria manapun termasuk Gavin, yang sejak awal telah menunjukkan ketidak suka an terhadap dirinya.
Di dalam hati Luby tak hentinya berbicara kepada dirinya sendiri.
Dan saat jam menunjukan pukul 22:25 malam taksi yang Luby tumpangi telah sampai ke kediaman Gavin, setelah membayar ongkos taksi Luby memutuskan untuk segara masuk kedalam kamarnya.
Dan tak berapa lama mobil yang Gavin kendarai pun telah sampai di kediamannya.
Dengan langkah lebar Gavin yang telah keluar dari dalam mobilnya terlihat tergesa-gesa untuk masuk kerumah untuk mencari keberadaan Luby,
Saat ia berjalan menuju kamar milik Luby ia pun di kejutkan dengan kedatangan Lusy yang tiba-tiba
"Tuan? mau kemana?"
"Hmm-- itu anu saya mau ke kamar! kamu ngapain jam segini masih di sini."
"Saya dari tadi tungguin tuan, karena nyonya Maya barusan terburu-buru pergi ke RS, karena nona Andrea terjatuh dari tangga, sehingga dia gak bisa tungguin tuan. Tadi nyonya udah coba menghubungi nomor tuan, tapi katanya nomor tuan gak bisa di hubungi"
"Ok, terimakasih kebetulan hp saya mati karena habis batre. Ya sudah kamu sebaiknya kembali"
"Hmm--, apa ada yang bisa saya bantu tuan? atau tuan mau siapkan air hangat untuk mandi? atau---" Dengan genit Lusy bertanya kepada sang majikan yang diam-diam ia sukai itu.
"Tidak--tidak perlu, saya bisa menyiapkan nya sendiri, sebaiknya kamu kembali ke kamar kamu"
Lusy yang mendapatkan perintah untuk kembali ke kamarnya masih mematung di hadapan sang majikan, dan tentu saja hal ini menyulitkan Gavin untuk masuk ke kamar milik Luby, karena ia tak mau tindakan nya ini akan di
__ADS_1
ketahui oleh Maya melalui Lusy sang pembantu.
Setelah melangkah kan kaki menuju kamar miliknya baru lah Lusy turut menjauh dari kamar sang majikan, melihat hal itu seakan tak ingin membuang kesempatan Gavin pun berbalik arah jalan kembali menuju kamar milik Luby.
Saat sampai di depan pintu kamar Luby, Gavin mencoba untuk mengetuk pintu kamar tersebut, namun beberapa kali Gavin mencoba memanggil sama sekali tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar.
Hal ini semakin membuat Gavin kalap, ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju lemari gantung yang ada didalam kamar nya, dan mengambil kunci cadangan yang sengaja ia simpan untuk hal mendadak seperti saat ini.
Dengan setengah berlari Gavin akhirnya telah sampai kembali di depan pintu kamar milik Luby, dengan penuh keyakinan Gavin memutar kunci kamar itu dan setelah dua kali putaran akhirnya ia berhasil membuka pintu kamar milik Luby,
Saat pintu itu berhasil di buka, Gavin langsung mencari keberadaan Luby, tak lupa ia pun kembali mengunci pintu kamar itu dari dalam agar lebih aman.
"Luby? kamu di mana?" saat Gavin mulai mengitari sekitar kamar tersebut akhirnya ia memutuskan untuk berhenti tepat di depan kamar mandi. Dari sana ia mendengar suara deburan air dan sebuah alunan musik K-Pop terdengar dari dalam kamar mandi.
"Pantasan, dari tadi di panggil gak ada yang nyut! rupanya dia lagi dengarin musik dengan volume yang keras sampai kaya gini"
Mengetahui Luby yang sedang membersihkan diri, Gavin pun memilih untuk duduk di sebuah sofa yang tersedia di kamar itu.
Dengan menselonjorkan kakinya Gavin mencari pw untuk ia bersantai sembari menunggu Luby yang siap dengan mandinya.
Setelah hampir lebih 25 menit menunggu akhirnya Luby pun telah siap dengan ritual mandinya.
Luby yang tak menyadari kehadiran Gavin di sana sama sekali tidak risih dengan penampilannya saat ini, yang hanya berbalut sebuah handuk tipis dengan gambar bibir pada bagian punggungnya.
"Look so good yeah look so sweet
Baby you deserve a treat
Sambil merapalkan sebuah lagu black pink favoritnya Luby berjalan menuju lemari pakaian miliknya,
Diamonds on my wrist so he call me ice cream
You can double dip cause I know you like me
Tanpa sadar Luby melepaskan handuk yang ia pakai dan mulai mengeringkan tubuhnya dengan kain handuk tersebut.
Ice cream chillin' chillin'
Ice cream chillin'
Ice cream chillin' chillin'
Ice cream chillin'
Dari atas sofa terlihat beberapa kali Gavin mencoba untuk menelan ludahnya, ia tak menyangka akan di suguhkan dengan pemandangan indah seperti ini.
Andai ia masuk dengan cara normal mungkin Luby tidak akan mengizinkan ia untuk melihat hal ini. Namun karena ia masuk dengan cara yang tidak normal akhirnya pemandangan nan indah ini dapat ia nikmati sendiri.
Bersambung....😅😅
__ADS_1