
Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya mobil milik Gavin sampai di tempat tujuan mereka, sambil memeluk pinggang Luby mesra, Gavin berjalan menuju meja yang telah ia pesan sebelumnya.
Dan tak berapa lama rekan bisnis yang mereka tunggu pun datang, dua pasang suami istri yang telah berumur itu mulai berjalan mendekati meja mereka, terlihat istri dari salah satu sahabat Brian itu tampak anggun dan cantik di usianya yang tak lagi muda.
"Kamu cantik sekali sayang--- akhirnya hari ini saya bisa juga berjumpa dengan kamu nak"
Bu Farah istri dari Devan salah seorang sahabat Brian yang pernah menjadi musuh bebuyutannya, akibat perselingkuhan yang di lakukan Loni dan Devan waktu itu berhasil mengungkap kebohongan yang sebenarnya. Dan saat ini Brian dan Devan pun telah berbaikan kembali.
"Saya juga senang bisa berkenalan dengan nyonya Devan"
"Panggil saya Tante nak. Karena saya dan om Devan bersahabat dengan orang tua kamu"
"Owh--- benarkah Tante, saya senang bisa berkenalan dengan Tante dan om Devan"
"Iya sayang, sebenarnya Tante dan om menyesal terlambat pulang ke negara I, kalau enggak mungkin saat ini kamu udah jadi anak kami juga" Bu Farah tersenyum sumringah sambil memeluk erat tubuh istri Gavin itu.
Luby yang tengah berpelukan dengan sahabat sang mama masih bingung dengan ucapan Bu Farah, namun ia tidak ingin bertanya lebih jauh tentang hal itu.
Sedangkan Gavin merasa kurang senang karena kedua pasang suami istri itu lebih intens mengobrol dengan Luby daripada dengan dirinya.
"Ehem--- "
"Owh iya maaf pak Gavin, saya lupa dengan tujuan awal kami datang kesini"
"Gak papa pak Devan, saya malah senang akhirnya ibu dan bapak bisa bertemu dengan istri saya"
Tampak raut wajah ketidak sukaan dari Bu Farah saat Gavin menyebut kan kata istri di sana,
"Ya sudah pa, sebaiknya mama dan Luby ngobrol nya di meja sana aja biar papa ngobrolnya lebih nyaman"
Pak Devan hanya menganggukan kepalanya sembari, mengecup kening sang istri.
Hampir 2 jam makan malam itu berlangsung di selingi canda dan tawa dari meja milik Luby dan Bu Farah, Selian itu malam itu pun menjadi malam yang membahagiakan untuk Gavin karena pak Devan mau menandatangani kerja sama antara perusahaanya dan perusahaan milik Gavin.
"Terimakasih atas kepercayaan pak Devan terhadap perusahaan kami, semoga ke depannya kedua perusahaan lebih berkembang dari sebelumnya, sehingga mencapai keuntungan yang besar di kemudian hari "
"Sama - sama pak Gavin, dan saya juga berharap pak Gavin dan istri selalu hidup harmonis, dan secepatnya dapat momongan"
"Hehe-- terimaksih pak untuk doanya"
Sebuah senyuman palsu pun kembali terbit di bibir Gavin, setelah berpamitan akhirnya malam itu Gavin dan Luby menggentarkan pak Devan dan istri menuju pelataran restoran, tampak kekecewaan dari wajah Bu Farah yang ternyata sudah sangat lama menyukai sosok Luby yang ia kenal sejak bayi, namun karena pekerjaan sang suami yang sangat sibuk membuat ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar negri di banding di negara I.
" Kapan-kapan kita jumpa lagi ya Luby, Tante belum puas ngobrol sama kamu, nanti sekalian jumpanya sama anak Tante juga"
__ADS_1
"Mama Luby Luby dan Gavin juga sudah mau pulang, sebaiknya kita masuk ke mobil secepatnya,"
"Tapi pa?"
"Ma?"
Luby hanya bisa tersenyum melihat tingkah Tante Farah yang terlihat sangat aktif, dia merasa terhibur saat mendengar semua cerita-cerita Tante Farah tentang masa kecilnya,
Bu Farah pun mengikuti keinginan sang suami, Dan mobil mewah milik Pak Devan pun mulai berjalan menjauh.
Setelah kepergian Tante Farah Luby mulai berjalan mengikuti langkah kaki Gavin dari belakang,
"Stop di sini, kamu bisa pulang pakai mobil yang lain, karena malam ini Maya sudah Kembali ke negara I, jadi malam ini kami akan menginap di hotel"
Luby sudah terbiasa dengan sikap ketus dan arogan dari Gavin, sehingga ia pun telah mempersiapkan diri jika suatu waktu Gavin akan kembali kepada istri nya yang sebenarnya.
Tanpa bicara lebih banyak, Luby pun memilih untuk berjalan menuju mobil yang Gavin maksud, dan meniggalkan Gavin yang masih berdiri di sana.
"Heheh---- gadis pintar"
Gavin pun mulai masuk ke dalam mobilnya dan mulai meninggalkan parkiran.
***
"Ceklek"
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka dan memperlihatkan, sosok Gavin yang baru masuk kedalam kamar mewah dengan ukuran 8x8 m itu,
"Darling" Gavin langsung berjalan menuju ke tempat maya berada ia pun langsung memeluk erat tubuh sang istri tercinta,
"Lepasin,"
"Kamu kenapa sayang, maaf kalau aku agak terlambat datangnya. Aku janji ini yang terakhir aku telat pulang sayang"
"H--- janji? aku gak percaya sama janji kamu mas!"
"Kamu lagi PMS ya? kok ketus gitu sama suami" Gavin pun mulai merayu sang istri dan tangannya pun tak berhenti menjalar di seluruh tubuh Maya.
"Lepasin aku penghianat! kamu pembohong mas, aku benci sama kamu"
"Ingat Maya aku tidak pernah menghianati kamu! atas dasar apa kamu bicara seperti itu sama aku"
"Ini apa!" Maya langsung memperlihat kan isi ponselnya kepada Gavin,
__ADS_1
"Hmm--, "
"Gak bisa ngomong kan kamu! dasar buaya darat kamu mas"
"Enggak aku bisa jelasin semuanya itu-- bukan seperti yang kamu lihat May, itu semua mas lakukan untuk kita,"
"Untuk kita? apa maksud kamu mas? aku paling benci penghiantan, tapi sekarang saat kamu menikah lagi kamu bilang untuk kita!"
"Iya sayang, aku menikahi gadis itu karena terpaksa, semua karena keinginan papi dan mami aku. Dan untuk mendapatkan restu dari mami makanya aku setuju"
Gavin memang sangat mencintai sosok sang mami. Akibat masa kelamnya membuat ia sangat mengagumi perjuangan sang mami dalam membesarkannya, walau terlihat keras dan tegas namun sang mami banyak berjuang untuk dirinya dan sang papi, karena jasa sang mami lah perusahaan sang papi yang sempat koleps dapat hidup kembali.
Saat ia masih kecil Gavin mengingat dengan jelas bagaimana sang mami pernah di permalukan di depan orang banyak saat ingin meminta bantuan kepada salah seorang kerabatnya, dan masa-masa itu terekam jelas di otaknya sampai sekarang.
Namun karena latar belakang itu pula membuat sang papi dan mami nya sangat berambisi untuk mendapatkan menantu dari kalangan orang hebat, agar ia bisa balas dendam dengan kerabatnya di masa lalu.
"Aku gak peduli mas. Sekarang aku minta kamu pilih dia atau aku?"
"Aku pasti pilih kamu sayang. Gak ada yang lain, tapi saat ini aku gak bisa ceraikan dia"
"Kalau gitu ceraikan aku mas"
"Maya sayang dengarin penjelasan mas dulu. Setelah mas jelasin kamu tidak setuju dengan pikiran mas, maka mas akan meninggalkan dia, namun konsekuensinya kamu akan tetap jadi istri mas selamanya tapi hanya istri siri sayang"
Akhirnya Maya pun mulai mendengar kan penjelasan Gavin,
Panjang lebar Gavin akhirnya memberikan penjelasan kepada sang istri, ia pun berusaha meyakinkan istrinya itu, hingga Maya pun terpaksa mengikuti keputusan sang suami demi menjadi istri resmi dari Gavin.
"Makasih sayang akhirnya kamu mau menerima penjelasan mas, mas janji tidak akan pernah menyentuhnya, apalagi sampai jatuh cinta sama gadis itu"
"Mas bisa pegang kan kata-kata mas?"
"Iya sayang, mas akan bersumpah demi calon anak kita kelak,"
"Mas, please jangan bilang kata anak lagi, karena sampai kapan pun aku tetap dengan keputusan aku. No anak!"
"Hmmm, tapi kalau proses pembuatannya gak no kan yang?"
"Kalau proses nya I love it sayang"
Gavin pun langsung menyerang bibir ranum sang istri, dan malam itu akhirnya kedua insan itu habiskan di atas ranjang ukuran king size.
Bersambung....😁😁
__ADS_1