Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
My Luby


__ADS_3

Sesampai di dalam kamarnya Luby pun memilih untuk segera membaringkan tubuhnya yang terasa letih,


"Kenapa badan aku jadi nyeri semua kaya gini. Apa sebaiknya aku cek ke RS ya? Tapi masa aku harus memperlihat kan nya,! lebih baik aku berendam di air hangat untuk mengurangi rasa perihnya, mungkin aku lagi mau halangan jadi ngerasa sakit kaya gini"


Di benak Luby sama sekali ia tidak berfikir yang aneh-aneh tentang keadaanya saat ini, karena memang ia akan merasakan nyeri apabila sudah mulai memasuki masa datang bulannya, bahkan Luby kerap merasa kan pegal pada setiap sendi tubuhnya.


Sesaat kemudian Luby pun mulai menghidupkan keran air panas di kamarnya, setelah di rasa cukup Luby pun mematikan keran air panas itu dan menggantinya dengan keran air dingin, stelah semua di rasa cukup Luby memulai meneteskan beberapa tetes minyak essential pada bathub nya.


Setelah mengecek suhu air tersebut Luby yang sudah polos pun memilih untuk segera masuk kedalam bathub yang sudah terisi dengan air hangat.


*


*


*


Di sisi lain Gavin yang sudah berada di dalam kamarnya masih asik termenung sembari memandang ke arah leptop nya yang tak bergerak sama sekali, dan sejak sampai di rumah sama sekali Gavin belum menyapa Maya sang istri yang tengah asik mengedit beberapa gambar dirinya yang tengah membuat kue,


"Sayang, kamu mandangi apa sih? kok gak kasih aku kiss?"


Gavin yang masih memikirkan kejadian dirinya bersama Luby tadi siang sama sekali tidak mengindahkan panggilan sang istri.


"Mas! are you ok?" Maya langsung memeluk punggung Zaky dari belakang,


"Eh--- sayang, "


"kamu kenapa mas? dari tadi aku panggil kok kamu gak nyaut?apa ada masalah di kantor?"


"Sorry yang, aku tadi lagi baca proposal untuk meeting besok"


"Proposal? yang kamu maksud layar hitam ini mas?"


"Emm, ini kayanya baru nge-off sendiri"


"Off? mas kamu kelihatan aneh deh" Maya langsung menyentuh kening Gavin dan mengecek suhu sang suami saat itu


"Normal, kamu gak panas. Jujur deh mas kamu sedang mikirin apa?"


Gavin terlihat kalang kabut saat mendengar pertanyaan Maya, ia tidak ingin membuat Maya curiga tentang perselingkuhan yang telah ia lakukan kepada Luby,


"Hmm-- sebenarnya mas lagi mikirin pernikahan kita yang. Sampai saat ini mama dan papa belum menyetujui aku untuk menikahi kamu secara resmi"


"Owh, iya kamu harus sabar mas. Dengan orang tua kamu yang mengizinkan pernikahan siri kita aja aku udah senang mas"


"Gimana kalau kita mempunyai anak? aku yakin orang tua aku akan tergerak untuk menyetujui pernikahan resmi kita, paling tidak mereka akan mulai menerima kehadiran kamu yang"


"Maaf mas, aku tidak setuju" Maya langsung melepaskan pelukannya dari punggung Gavin dan berdiri di hadapan Gavin sambil kedua tangannya memegang pinggangnya. Terlihat raut ketidaksukaan di wajah Maya, atas permintaan Gavin tersebut.


"Mas gak akan maksa kamu, kalau kamu belum mau mempunyai anak sekarang yang"


"Udah mas aku bosan di minta itu terus, lebih baik sekarang kamu mandi dulu, nanti aku bakal masakin makan malam istimewa untuk kamu"


" Sesuai permintaan yang mulia ratu, hamba akan segera mandi," Zaky langsung beranjak dari kursi yang ia duduki, dan ia pun berjalan menuju ke kamar mandi, tak lupa sebuah kecupan ia berikan didahi sang istri yang kini berdiri di hadapannya.


Didalam lubuk hati nya Gavin merasa lega karena Maya akhirnya percaya akan kegalauan nya barusan, iya tahu Maya tidak akan pernah setuju untuk memiliki anak sekarang makanya Gavin mengalihkan perhatian Maya dengan mencari alasan yang bisa membuat Maya tidak menyudutkan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak.

__ADS_1


"Kamu sedang memikirkan apa sih mas, kok aku merasa ada sesuatu yang sengaja kamu tutupi dari aku" Maya menatap punggung Gavin dengan penuh kecurigaan,


*


*


*


Keesokan paginya Luby telah bersiap untuk pergi ke toko buku, setelah berendam air hangat tadi malam, pagi ini ia merasakan tubuhnya sudah berasa lebih baik, dan bagian bawahnya pun sudah tidak perih seperti tadi malam.


Dengan gaya kasual Luby telah siap berangkat menuju sebuah toko buku terbesar di kotanya.



Dengan memakai sebuah kemeja putih berlengan panjang, di mix celana jeans robek berwarna biru Luby terlihat cantik dengan tubuh idealnya.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Gavin yang tengah menikmati sarapannya bersama Maya langsung menegur Luby yang terlihat tidak mengindahkan kehadirannya di sana.


"Bukan urusan kamu"


"Berhenti! saya tanya sekali lagi, kamu mau kemana?"


"Aku mau ke toko buku, sekarang udah boleh pergi kan?"


"Ke toko buku tapi gaya nya terlalu berlebihan, apa dia ingin menarik pria di luar sana"


Dengan masam Gavin menatap wajah Luby dengan intens,namun sama sekali ia tidak memberikan jawaban kepada Luby, ia malah terlihat melanjutkan kembali menyantap sarapan paginya. Setelah melihat raut muka Maya yang terlihat kaget melihat kehadiran Luby pagi ini dan ia tidak ingin Maya kembali curiga terhadap dirinya.


Dengan segera Luby kembali melangkahkan kaki nya menuju mobil miliknya.


"Tadi malam non, kan dia pulang naik mobil tuan Gavin. Kaya nya sengaja tu pingin di jemput tuan baru mau pulang"


"Diam kamu Lusy, kalau tidak di tanya jangan asal ngomong,"


"Uupss, maaf tuan"


"Jadi memang semalam kamu jemput dia untuk pulang mas?"


"Iya yang,maaf mas gak ngomong semalam, karena mama sama papa yang minta mas untuk jemput Luby---- kamu gak marah kan?"


"Enggak kok mas, aku percaya kok sama kamu, cinta kamu hanya untuk aku kan mas" Maya menatap wajah Gavin dengan seksama, ia ingin melihat kejujuran dari mulut Gavin.


"Pasti dong! mana mungkin ada wanita lain yang bisa menggantikan kamu di hati mas"


Gavin pun menggenggam tangan Maya dengan erat. Namun entah kenapa ia merasa tidak yakin dengan ucapan nya sendiri, karena sejak kejadian kemarin bersama Luby, hingga pagi ini wajah wanita cantik itu tidak dapat hilang dari kepalanya,


*


*


*


Saat tengah asik memilih buku-buku yang ia butuhkan tiba-tiba Luby kembali merasakan pusing pada bagian kepalanya, hingga ia pun mulai tak sadar kan diri.


Melihat hal itu beberapa orang yang sedang berada di sana langsung membopong tubuh Luby dan membawanya kesebuah sofa panjang yang tersedia di toko buku itu, dan tak berapa lama hp Luby pun berdering beberapa kali, sehingga memaksa salah satu pelayan toko pun memberanikan diri untuk mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Aryan.

__ADS_1


Dan dari sana Aryan yang mendapatkan kabar tentang pingsannya Luby di sebuah toko buku langsung bergerak pergi menuju toko buku tersebut.


Dalam waktu 30 menit mengendarai mobil sportnya dengan kecapatan tinggi akhirnya Aryan telah sampai di tempat yang di maksud, ia pun langsung beralari masuk ke dalam toko buka dan mencari keberadaan Luby saat ini.


"Luby--- Luby kamu baik-baik saja"


Luby yang baru sadar dari pingsannya sedikit terkejut saat mendengar seseorang yang memanggil-manggil nama nya.


"Dokter! dokter kenapa bisa sampai di sini"


"Kamu tidak papa? apa yang sakit? ayo kita ke RS segera by" Aryan yang merasa sangat khawatir tanpa sadar langsung mengangkat tubuh Luby, dengan mimik muka yang terlihat panik Aryan langsung menekan tombol lift menuju lantai dasar.


"Dokter turunkan saya. Saya sudah merasa lebih baik dok"


"Hmm-- maaf sa---ya tidak sadar atas tindakan saya,"


Aryan langsung menurunkan Luby dari gendongannya, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, sungguh ia merasa sedikit malu atas tindakannya barusan.


"Iya gak papa dok, terimaksih karena dokter sudah mau repot-repot mendatangai saya sampai ke sini"


"Itu-- itu sudah kewajiban saya sebagi dokter kamu By, tapi kenapa kamu sampai pingsan di toko buku By, apa kamu kembali merasakan pusing seperti dulu?"


Dengan terbata Aryan menjawab pertanyaan Luby, sejatinya tidak ada seorang dokter yang sukarela akan datang langsung untuk bertemu dengan sang pasien di luar tanpa ada maksud dan tujuan yang jelas seperti tindakan nya saat ini.


Dan ia juga tidak ingin ketahuan diam-diam telah mencintai Luby, karena ia yakin jika Luby tahu akan isi hatinya, maka bisa dipastikan Luby tidak ingin lagi bertemu dirinya.


Luby langsung menganggukan kepalanya ke arah Aryan.


"Apa kamu siap untuk kembali terapi By jujur aku gak tega lihat kamu seperti ini, kalau terus di biarin penyakit kamu akan tambah parah By, kamu harus bisa rileks, jangan mengingat masa lalu By?"


"Iya dok, tapi terkadang permasalahan lain pun mulai membuat saya mudah kembali pusing dok, apa penyakit saya semakin parah dok?"


"Tentu saya tidak bisa pastikan secara langsung By, namun kita memerlukan alat untuk melihat kondisi kamu terkini,"


Beberapa saat Luby terdiam setelah mendengar jawaban dari dr Aryan, ia ingin sekali bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu yang masih sering menghantuinya saat ini, ia yakin penyakit nya bertambah parah karena di sebabkan kehadiran Gavin yang senantiasa selalu mengancam dirinya dengan video jahat itu.


"Baik dok, kalau gitu saya mau kembali melanjutkan pengobatan saya dok"


"Bagus Luby, saya harap kamu harus terus semangat agar penyakit kamu bisa cepat sembuh"


"Iya dok, saya akan terus bersemangat agar cepat sembuh dari bayang-bayang itu"


"Ya udah kita naik mobil saya, nanti saya akan minta tolong salah satu satpam RS yang lepas dinas untuk mengambil mobil kamu disini"


"Hmm-- apa tidak papa dok?"


"Sure, gak ada masalah By,"


Akhirnya Luby dan dokter Aryan masuk ke dalam mobil menuju RS tempat Aryan praktek,


"Sepertinya pernikahan kamu sedang tidak baik-baik aja By, "


Antara senang dan sedih sebuah senyuman pun terbit di bibir sang dokter tampan itu.


Bersambung....✍️✍️

__ADS_1


__ADS_2