Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
berpisah


__ADS_3

"Lepaskan aku Gavin kamu salah orang, aku bukan Maya! lepaskan!"


"Maya, aku menginginkan kamu sayang, aku butuh kamu malam ini sayang!"


"Phak" Sebuah tamparan pun mulai mendarat di sebelah pipi Gavin,


"Kenapa kamu tampar aku sayang! apa salah aku sayang!" Dengan sedikit memaksa akhirnya Gavin berhasil menjatuhkan Luby yang saat ini telah terbaring di atas sebuah kasur yang sudah disiapkan untuk mereka berdua,


Kedua orang tua Gavin sengaja memasang perangkap untuk anak semata wayang nya itu, semua itu mereka lakukan karena syarat yang telah Brian ajukan kepada keluarga Gavin sebelumnya. Dan syarat itu sama sekali tidak di ketahui oleh Gavin hingga saat ini.


Untuk memastikan kebahagian sang putri maka Brian memutuskan akan memberikan sebagian saham nya jika sang putri telah memiliki anak dengan Gavin dan kelak anak itu yang akan menjadi ahli waris dari saham tersebut, namun sebelum sang anak dewasa maka Gavin secara penuh memiliki hak atas semua saham nya kelak, dan pemberian saham akan di lakukan jika Luby telah di nyatakan positif hamil.


Untuk memuluskan rencananya, orang tua Gavin sengaja mengundang Gavin dan Luby untuk menginap di salah satu hotel milik mereka setelah acara peresmian mall milik Gavin berakhir.


Dan saat mereka tengah menikmati makan malamnya sang mami memanfaatkan waktu ketika Gavin lengah ia sengaja memasukan 2 tetes obat pera** ke dalam minuman milik Gavin tanpa sepengetahuan kedua anak dan mantunya itu.


Hingga akhirnya saat di dalam kamar mereka Gavin tak dapat menahan hasra** nya yang telah menggebu-gebu. Namun di dalam banyangkan saat ini adalah Maya dan bukan Luby,


"Mas, mau kamu sayang, mas udah gak tahan ingin menyentuh kamu dan segera memasuki kamu Maya"


Dengan posesif Gavin mulai mencumbu Luby dengan agresif bahkan sama sekali Gavin tak membiarkan Luby menjauh dari dirinya.


Dia cukup lama mengecap bibir milik Luby hingga meniggalkan jejak bengkak dan berwarna sedikit keunguan,


"Bre**ngsek lepasin aku Gavin! jangan lakukan ini Gavin! ku mohon sadar lah Gavin aku ini Luby bukan Maya"


Namun Gavin yang tengah di bawah pengaruh obat tidak dapat menerima ucapan Luby dengan nalarnya, ia tetap melakukan aksinya, seperti seekor kucing yang mendapatkan ikan segar Gavin yang sudah kelaparan ingin segera menyantap makanannya.


"Kamu kurang ajar Gavin! jangan salah kan aku harus berbuat kasar sama kamu!"


Dan "Dugh" Sebuah tendangan maut pun langsung mendarat di area terlarang milik Gavin,


"AAAAAAAAWWWWWWWWW"


*


*


Gavin langsung terjatuh dari kasur dan melingkarkan tubuhnya menahan sakit pada benda keramat kesayangannya,


Dasar baji**Ngan aku gak akan pernah melupakan perbuatan kamu hari ini ke aku Gavin, aku benci kamu, Sangat benci kamu Gavindra sinting------

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Luby beranjak dari kasur dan berlari keluar kamar hotel sembari memperbaiki bajunya yang aut-autan.


Tanpa ada uang ditangannya Luby akhir nya memutuskan untuk memanggil taksi yang tengah parkir menunggu penumpang di sekitar hotel. berencana akan membayar nya setelah0 sampai ke rumah gavin.


Dengan menaiki sebuah taksi Luby pergi meninggalkan hotel dan pulang menuju kediaman Gavin. Rencananya ia ingin mengambil semua barang-barangnya dan memilih pergi meninggalkan kediaman Gavin selamanya.


Tak berapa lama setelah sampai di rumah Gavin, Luby langsung membuka pintu rumah yang tak terkunci, ia langsung masuk ke dalam kamar nya dan mengepak beberapa barang-barang nya yang akan ia bawa malam itu juga.


"Hey, non lu mau kemana bawa koper segala?"


Lusy langsung mengehentikan jalan Luby yang terlihat tergesa-gesa, "Bukan urusan kamu. Saya cuma mau minta tolong sama kamu sampaikan ke Maya kalau saya pergi, dan tak akan kembali"


"H----? benarkah kah?" Seketika wajah Lusy tampak sumringah saat mendengar ucapan istri muda majikannya itu.


"Akhirnya saingan gue berkurang satu, heheh bye Luby ... pergi jauh sono"


Dengan setengah berlari Luby kembali masuk ke dalam taksi yang tadi masih menunggunya,


"Selamat tinggal Gavin, mungkin memang kita tidak berjodoh! aku berharap suatu saat kamu bisa mentalak aku. Maafkan Luby pa, ma, tapi untuk saat ini Luby ingin menenangkan diri dulu, nanti Luby akan kembali"


Taksi itu pun mulai berjalan meninggalkan kediaman Gavin menuju salah satu hotel di pinggir kota.


***


"Alah, sabar dulu. Ini gue juga pelan-pelan. lagian kenapa benda keramat lu bisa memar kaya gini? untung aja kagak koit, kalau kagak tamat Lo"


"Udah jangan banyak ngomong deh! sembuhin dulu junior gue"


"Iye, ini udah gue kasih salep, 3-4 hari lagi deh bakal ilang nih memar nya, tapi Lo belum bisa nyelam untuk 1 bulan kedepan, kalau Lo gak mau senjata lu jadi linu"


"What? 1 bulan,"


"Iya, 1 bulan, telinga lu masih ok kan"


"Huft, siapa yang udah ngasih gue obat perang**sang! dan gue juga gak sadar siapa cewek yang ada di kamar gue selain Luby"


"Uhuk---uhuk--, Luby maksud lo?, lu mau niduri Luby? -----wah gila lu!"


"Gila? Lo yang gila! Dia itu masih istri gue, jadi gak ada yang salah kan kalau gue sama dia tidur bareng? bahkan---"


"Stop! gak usah lu lanjutin gue juga udah tahu! tapi gue yakin pastinya bukan dia yang kasih obat ke elu!"

__ADS_1


"Dari mana lu tahu? emang lo lihat?"


"Ya iya lah gue yakin! Gue yakin bro, kalau dia gak suka sama Lo"


"BUGH" sebuah bantal kursi melayang


menimpa kepala sang dokter Casanova itu,


"SH**it"


"Breng**sek Lo--- dari mana Lo tahu Luby gak suka sama gue?"Tanpa sadar Gavin mulai terpancing atas perkataan Javier, emosinya langsung memuncak saat itu juga.


"Lah kenapa Lo sensi kalau Luby gak suka sama elo, santai bro! atau jangan-jangan----"


"Apa? gak usah ngadi-ngadi deh Lo" Gavin langsung menutupi kegugupannya, ia pun mulai membaringkan tubuh nya di kasur RS kembali.


"Ya udah, gue dokter yang sibuk, dan masih banyak pasien yang butuh gue. Gue pergi dulu, ingat jangan ada rasa sama cewek incaran gue"


"Asem Lo. Lo yang jangan macem-macem sama bini orang!"


Javier langsung mengangkat jari tengah nya dan mengarahkan nya kepada Gavin sebelum ia meninggalkan kamar rawat inap milik Gavin.


Setelah kepergian Javier, Gavin kembali membaringkan tubuhnya, sambil menatap langit-langit, ia kembali mengingat apa yang telah terjadi kepada dirinya sebelum kejadian naas itu menimpa nya.


"Kalau sampai gue tahu elo yang udah nendang junior gue, maka Lo akan merasakan balasan yang sebenarnya Luby! Seringai menakutkan muncul di sudut bibir milik sang pria arogan itu.


***


Di suatu tempat di pinggir kota, saat ini Luby tengah menatap langit malam dari balik jendela kamar yang ia sewa untuk 1 bulan kedepan.


Luby tengah merenungkan apa yang akan ia lakukan untuk hari-hari berikutnya.


"Hmm--, maafkan Luby ma, pa-- tapi Luby gak bisa jika tetap bertahan dengan pria dingin dan mesum seperti Gavin, kaya nya hidup tanpa seorang pria adalah keputusan yang baik untuk Luby ."


Gadis cantik itu, masih terus meratapi nasibnya yang penuh dengan kesedihan, ia berharap setelah hari ini, akan ada pelangi yang membawa warna baru dalam kehidupannya.


Tiba-tiba gawainya pun mulia berdering dan tertera nama seseorang yang saat ini diam-diam juga tengah menaruh hati kepada dirinya.


dr, Ariyan's calling....


Bersambung....🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2