Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Tak menyangka


__ADS_3

Setelah pemeriksaan yang dilakukan Aryan lebih lanjut maka diagnosanya saat ini Windu tengah dalam penyakit psikosomatik yang cukup parah, akibat tekanan dan stress yang cukup berat membuat ia selalu merasakan sakit pada bagian organ tubuh nya seperti pusing yang cukup parah sehingga mengakibatkan ia bisa hilang kesadaran.


"Jadi apa yang harus saya lakukan untuk meredakan depresi saya ini dok?"


"Kamu harus menjauhkan sumber depresi kamu By, dan buat diri kamu nyaman senyaman mungkin"


"Tapi bagaimana dok! saya sama sekali tidak bisa menjauhinya bahkan dia selalu mengancam saya dok!"


"Mengancam? siapa yang berani mengancam kamu By?"


Luby akhirnya tersadar ia baru saja membuat suatu kesalahan dengan mengatakan permasalahan rumah tangga nya kepada Aryan,


"Eh, tidak dok, jangan di ambil hati. Saya hanya asal ceplos dok"


"Luby coba kamu perhatikan mata saya, tolong jujur By! saya janji akan membantu kamu untuk keluar dari masalah kamu. bahkan kalau kamu mau saya untuk tutup mulut, maka saya akan tutup mulut By"


"Enggak dok, saya sama sekali tidak ada masalah dok" Luby pun mulai beranjak dari kursinya dan memilih untuk segera keluar dari dalam ruangan sang dokter.


"Luby, Luby jangan pergi---"


Aryan sama sekali tidak bisa menghentikan langkah Luby yang begitu cepat meninggalkan ruangannya.


"Kenapa kamu gak bisa mempercayai aku By, padahal aku siap untuk membantu kamu keluar dari permasalahan kamu"


Aryan mulai beranjak dari kursinya dan menatap ke arah parkiran yang terletak di lantai dasar,


"Aku berharap suatu saat kamu bisa menganggap aku sebagai sahabat kamu yang sebenarnya By" Dari dalam ruangannya Aryan dapat melihat Luby yang jalan tergesa-gesa mulai memasuki pintu mobilnya.


*


*


*


"Huft--- hampir saja aku keceplosan, maafkan aku dok, tapi aku gak bisa menceritakan permasalahan aku yang sebenarnya dok, aku gak mau kamu terkait dalam permasalahan ini"


Luby pun mulai menghidupkan mesin mobilnya dan memilih untuk segera pergi meninggalkan parkiran rumah sakit tersebut.


Tak berapa lama dering hp nya pun berbunyi, Luby melihat di layar hp nya tertera nama Gavin sedang melakukan panggilan kepada dirinya saat ini.


Gavin calling...


"Kenapa harus dia sih yang telpon"


Dengan malas-malasan akhirnya setelah panggilan yang ketiga kalinya barulah Luby mulai mengangkat panggilan dari Gavin


"Kenapa lama ngangkatnya? sudah tiga kali aku hubungi kamu tapi tidak di angkat"


"Sorry aku lagi nyetir, "


"Ingat Luby aku gak mau kalau kamu meremeh kan aku! aku bisa aja melakukan apapun untuk membuat kamu menderita !"


"Cukup Gavin! bukannya ini aku udah angkat telepon kamu, kenapa harus harus ribet"


"Ini yang terakhir kalinya aku dengar kamu membantah aku Luby, karena besok kalau kamu masih kaya gini, maka jangan salah kan aku kalau aku berbuat kejam sama kamu"


"Iya" Dengan terpaksa Luby memilih untuk mengiyakan perkataan Gavin, karena saat ini ia sedang tidak ingin untuk berdebat apapun, karena apa bila dia memperpanjang masalah ini bisa dipastikan kalau hal itu akan memperburuk penyakit sikis nya kembali


"Luby, aku mau nanti malam kamu bersiap untuk menghadiri anniversary pernikahan istri pak Devan"

__ADS_1


"Apa kita akan ke rumah Tante Farah ?"


"Iya, siapa lagi memangnya istri nya! aku gak mau terlambat dan karena semua orang akan hadir di acara itu aku mau kamu berpenampilan terbaik nanti malam, aku akan meminta asisten aku untuk mengantarkan baju untuk kamu"


"Gak perlu, karena aku masih punya banyak baju yang bisa aku pakai"


"Jangan berani membantah Luby, kamu harus pakai baju yang sudah aku pilih! karena baju kamu nanti akan match dengan warna tuxedo yang aku pakai nanti malam"


"Baik, aku akan memakainya! apa ada yang mau kamu katakan lagi? jika tidak maka aku harus mematikan teleponnya karena aku sedang nyetir"


"H--- ingat jangan terlambat"


Dan sambungan telpon itu pun terputus.


"Dasar istri gak tahu diri, beraninya dia mematikan telepon dari aku !" rutuk Gavin di dalam ruangannya,


"Kenapa kamu hanya bisa terus mengancam aku gavin! kenapa? bukannya dulu di awal pernikahan kamu janji tidak mau ganggu aku, tapi sekarang apa? kamu selalu memanfaatkan aku bahkan kamu selalu mengancam aku breng**sek"


"Setidaknya nanti malam aku bisa kembali bertemu dengan Tante Farah, " sebuah senyuman pun terbit dari bibirnya, terbayang sudah kekocakan yang selalu Tante Farah lakukan saat mengobrol dengan dirinya.


Dan akhirnya Luby memilih untuk secepatnya kembali ke rumahnya karena tiba-tiba saja ia kembali merasakan pusing pada bagian kepalanya.


*


*


*


Malam ini Luby telah siap dengan dandanannya sebuah gaun se*xy berwarna hitam telah melekat indah di tubuh sintalnya.



"Hay--- Luby cantik banget kamu mau kemana?"


Maya yang baru saja turun dari mobilnya langsung menegur Luby yang tengah duduk di kursi yang terletak di teras rumah mereka.


"Gavin minta aku untuk ikut di acara anniversary pernikahan Tante Farah"


Seketika wajah Maya terlihat masam saat setelah mendengar ucapan Luby,


"Owh, kenapa Gavin gak bilang sama aku ya! biasanya dia selalu bilang dulu kalau mau ajak Luby pergi untuk urusan bisnis nya"


"Owh, ya udah kalau gitu aku masuk dulu, semoga bisnisnya Gavin bisa tambah baik!"


Maya pun mulai melangkahkan kembali kakinya masuk ke dalam rumah, namun sedetik kemudian ia kembali berhenti


"Btw, kamu jangan pernah baper ya Luby, kalau Gavin itu sering bawa kamu ke acara bisnisnya karena aku takut kalau kedepannya kamu akan kecewa dengan kenyataan, karena jatuh itu sakit lho"


Maya kembali melangkah dan meninggalkan Luby sendirian di sana.


"Huft--- tenang aja May, aku juga gak pernah berfikir untuk baper, aku gak peduli dengan apapun yang berkaitan sama Gavin. Kalau aja dia gak ngancem aku dengan rekaman itu aku bodo amat sama masalah bisnisnya"


Luby bermonolog sendiri di dalam hati. Tak berapa lama mobil yang Gavin kendarai pun mulai memasuki halaman rumah nya.


"Shi**t kenapa dia selalu terlihat cantik," Dari dalam mobilnya tak henti mata Gavin terus memandangi Luby yang tengah berjalan ke arahnya.


"Klak" Luby pun mulai masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Gavin,


"Ehem, sudah siap"

__ADS_1


"Yupz," Luby menatap ke arah depan dengan fokus, sama sekali ia tidak menatap ke arah Gavin yang sedari tadi diam-diam tak henti menatap ke arahnya.


"SH**it baru kali ini ada wanita yang cuekin laki-laki tampan kaya gue. Kenapa gue gak bisa lupain malam kejadian itu, bahkan semakin ke sini gue malah ingin terus mengulangi kejadian malam itu"


Gavin tampak sangat frustasi dengan dirinya sendiri, ia merasa menjadi pria paling tidak beruntung malam itu, punya istri cantik tapi tak bisa di sentuh.


Kurang lebih 35 menit mengendarai mobilnya akhirnya Gavin dan Luby pun telah sampai di kediaman milik keluarga Devan,sebuah rumah mewah nan elegan dengan cat serba putih.


Terlihat telah banyak mobil terparkir di sepanjang jalan perumahan mewah itu,


"Ingat Luby sesampai di sana nanti saya tidak mau kamu jauh dari pandangan saya, karena saya tidak ingin ada orang yang curiga dengan hubungan palsu di antara kita"


"Siap, aku pastikan tidak akan jauh dari kamu, tapi kalau aku ngobrol sama Tante Farah boleh kan?"


"Tentu, tapi jangan pernah menghilang dari pandangan aku"


"Ok"


Gavin pun mulai turun dari mobil nya dan di ikuti oleh Luby dari belakangnya,


Saat mereka mulai berjalan sambil bergandengan tangan tampak beberapa undangan merasa takjub dengan kedua pasangan yang cantik dan tampan itu, Luby dan Gavin terlihat begitu serasi dengan baju yang berwarna senada,


"A-- sayang kamu sudah sampai" Tante Farah yang sedari tadi sudah menunggu Luby langsung menyambut kedatangan anak dari sahabatnya itu,


"Iya Tante, selamat ya Tante untuk ulang tahu pernikahannya semoga Tante dan om Devan terus langgeng sampai maut memisahkan"


"Makasih sayang, Tante senang kamu akhirnya datang ke sini"


"Owh iya Tante ini ada hadiah kecil untuk Tante dari aku dan Gavin"


Luby pun memberikan sebuah hadiah yang telah di siapkan Gavin sebelumnya.


"Makasih sayang, kenapa harus repot-repot, kamu datang aja Tante udah senang kok"


"Saya dan Luby tidak merasa di repotkan nyonya Devan, bahkan secara khusus hadiah ini Luby sendiri yang memilihnya"


"Benarkah?" Tante Farah kembali memeluk tubuh Luby dengan penuh kasih sayang, namun ia memasang senyum masam saat melihat ke arah Gavin.


"Huft--- memang best akting nya"


"Ya sudah ayo kita masuk, ada yang mau Tante kenalin sama kamu Luby"


Luby pun mulai menatap ke arah Gavin untuk meminta persetujuan dari Gavin sesuai permintaannya tadi.


Dengan berat hati Gavin pun menganggukan kepalanya tanda setuju atas permintaan Tante Farah, yang dari awal terlihat tidak menyukai dirinya.


"Ary sayang--- Ar, " sambil menarik tangan Luby lembut Tante Farah menggiring Windu menuju sang putra kesayangan,


Saat sesampai di sebuah meja makan Aryan hanya dapat termangu saat melihat seseorang yang tengah di gandeng oleh sang mama,


"What Luby? jadi dia wanita yang mama ingin kenalkan ke aku! dan wanita yang mama pilih kan untuk aku waktu itu apa kah itu kamu By?"


Dan ternyata memang banar bahwa wanita yang dari dulu ingin di jodohkan oleh sang mama ternyata adalah wanita yang sama yang saat ini diam-diam ia cintai.


"Dokter Aryan?"


"Luby, kamu?"


....

__ADS_1


Bersambung....✍️✍️


__ADS_2