
Gemerlap lampu jalanan kota H membuat suasana malam itu tampak terlihat indah, di tambah dengan alunan merdu suara biola dari beberapa pengamen jalanan membuat malam itu begitu menenangkan untuk setiap orang yang melihatnya.
Dengan mengendarai sebuah mobil Minny Cooper kesayangannya, Luby terlihat sangat gelisah saat sebagian pikiran nya melayang memikirkan akan keadaan sang buah hati yang tadi melepas kepergian diri nya dengan sedikit drama tangisan.
Darren bocah tampan itu seakan kekurangan waktu untuk bisa berjumpa dengan sang mama semenjak tingginya pesanan di butik milik Luby membuat sikap Darren sedikit berubah bocah 2 tahun itu terkadang sangat mudah emosi dan sedikit lebih murung dari biasanya.
"Kenapa akhir-akhir ini aku merasa bersalah kepada Darren, apa besok aku bawa dia ke butik aja kali ya.. tapi bagaimana kalau dia merasa bosan?"
"Tapi aku tidak mau Darren berubah menjadi anak yang labil, apa sebaiknya dia mulai aku masukin sekolah aja? atau aku harus ambil cuti dan bawa Darren liburan?"
Seketika semua pikiran tentang Darren memenuhi otak Luby, masih teringat jelas sebelum ia berangkat tadi sang buah hati meminta nya untuk tidak pergi, namun Luby tidak bisa mengingkari janji dengan sang mama.
Sedangkan ia pun tidak bisa membawa serta sang putra malam ini hal itu karena jam sudah hampir menunjukan waktu tidurnya.
Sedari tadi pun sang mama dan Azka sang kakak secara bergantian terus menghubungi dirinya yang membuat pikiran Luby menjadi bercabang.
Tak berapa lama akhirnya Luby pun telah sampai di parkiran.
Setelah merapikan sedikit tampilan rambutnya yang acak, Luby pun mulai keluar dari dalam mobil tak lupa ia menyambar tas kecil yang senada dengan warna flat shoes yang ia pakai.
Dengan sedikit berlari wanita muda itu segera masuk ke dalam restoran yang cukup mewah yang telah di pesan oleh Azka sebelumnya.
"Luby--luby..."
Dari sebuah arah terdengar suara yang mamanggil-manggil namanya, setelah Luby menoleh ke arah suara, di sana ia dapat melihat sang mama melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum.
__ADS_1
Luby pun berjalan mendekati meja di mana sang mama dan yang lainnya berada.
"Huh-huh"
"Kok lama sih By? dari tadi loh kami nunggu kamu sayang"
"Maaf ma, tadi Luby harus menemani Darren sebentar jadi Luby tidak bisa datang tepat waktu" Luby berucap dengan penuh rasa bersalah sambil menetralisir nafasnya yang masih memburu.
"Kenapa Darren gak sekalian di bawa By? kan uncle nya juga rindu sama si jagoan tampan"
Azka yang tengah mengunyah makanannya ikut menimpali perkataan sang mama sambil menerima pelukan hangat dari sang adik bungsunya.
"Maaf kak tadinya aku mau bawa Azka ikut, tapi ini udah hampir dekat jam tidurnya, jadi kalau aku bawa nanti dia pasti akan rewel, dan meminta untuk segera pulang"
"Ya tapi kita juga udah rindu dengan si cowok satu-satunya di percucuan keluarga Subrata"
Sang kakak ipar pun ikut berbicara dengan logat bulenya kepada Luby.
"Heh-- kalau gitu uncle dan aunty wajib datang ke rumah Darren, ya kan ma?"
Tampak Luna yang sudah mulai makan menganggukan kepalanya.
"Iya pasti dong kami datang ke rumah kamu, lagian tujuan kami ke sini kan memang untuk mengunjungi kamu By dan----"
"Hay By"
__ADS_1
Luby pun menoleh ke asal suara yang memanggil namanya.
"Dr Aryan??"
Luby sedikit terperanjak saat melihat kedatangan dokter Aryan yang datang dari arah toilet di dalam restoran itu
Akhirnya setelah pertemuan kembali dengan sang dokter membuat malam itu menjadi malam reunian antara Luby dan Aryan karena hampir tiga tahun sudah mereka tidak saling berjumpa.
Saat mendengar cerita dari Azka sebelumnya terkuak beberapa fakta baru tentang pernikahan Luby saat ini yang membuat Aryan yang masih betah melajang bersemangat kembali untuk mendapatkan cinta sang bidadari tak bersayap nya itu.
***
"Pak, kami sudah menemukan kabar tentang nyonya Luby saat ini da--n"
"Dan?? Dan apa Bims?"
"Ada sebuah kabar yang saya dengar bahwa saat ini nyonya tel--ah memiliki seo-rang pu--tra"
"PRANG"
Sebuah botol minuman yang tengah ia pegang pun melayang dari tangannya dan pecah tepat di hadapan Bims.
Dengan pandangan mata yang tajam dan merah Gavin yang sudah hampir mabuk seketika merasa sakit hati dan kecewa saat mendengar kabar yang Bims sampaikan tentang Luby.
Bersambung...😁😁
__ADS_1