
Dan setelah cukup lama Gavin bermain-main terhadap tubuh Luby akhirnya, Gavin pun tak menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut, dengan senjata yang sudah siap tempur akhirnya saat itu juga Gavin mulai mengarahkan nuklir nya tepat di depan pintu gua yang pernah ia bobol sebelumnya.
"Tok--tok, tuan--- tuan Gavin, apa anda berada di dalam?"
Tiba-tiba dari luar pintu kamarnya Gavin mendengar suara Lusy sang art tengah memanggil-manggil namanya,
"Tuan---tuan Gavin? apa anda di dalam? ini ada telpon dari nyonya Maya, katanya hp tuan kenapa tidak aktif"
"Apa? Maya, mati saya "
Gavin yang belum sempat mengkokang senjata nya akhirnya memilih untuk angkat senjata, dan memilih untuk mundur dari Medan pertempuran, sedangkan Luby yang sudah terlanjur basah, akhirnya mulai tersadar dari kebodohannya, ia merasa sangat malu dan kecewa akan tindakan yang tengah dilakukan oleh Gavin terhadap dirinya.
Dengan langkah seribu Luby langsung bangkit dari ranjang milik Gavin sambil menyambar pakainnya yang sudah berserakan di lantai,
"Saya ada di dalam Lusy, biar saya menghubungi Maya dari hp saya, kamu bisa kembali ke dapur"
Dari dalam kamarnya Gavin berteriak cukup keras, agar dapat di dengar oleh Lusy.
"Baik tuan" Lusy pun mulai berlalu dari depan kamar Gavin.
"Sial! hampir saja tadi saya berhasil melakukannya kembali. Padahal hp sengaja saya matikan, tapi malah Maya menelpon melalui telpon rumah!"
"Shi**ttttt!!"
Sedangkan Luby saat ini tengah menangis di dalam kamar mandi, sambil melihat wujud nya yang penuh dengan tanda merah,
"Hiks--- kamu bodoh Luby, bodoh!! kenapa kamu bisa berbuat seperti tadi bersama Gavin! seharusnya itu tidak boleh terjadi"
Sambil menggosok bagian tubuhnya yang memerah, Luby akhirnya sangat menyesal akan tindakan yang telah ia lakukan bersama Gavin.
*
*
Setelah berusaha untuk memejamkan matanya, akhir nya malam itu Luby pun baru bisa tidur saat jarum jam menunjuk pukul 02:00 pagi.
"Jangaannn!! jangan lakukan ... tidakkkkk!!!!"
"Huh---Huh" Dengan nafas yang tersengal-sengal Luby terbangun dari tidurnya, tampak baju nya sudah basah oleh keringat yang mengucur deras di setiap inci bagian tubuhnya.
"Aku harus segera bertemu dengan dokter Aryan, kenapa bayangan itu muncul kembali? padahal aku sudah lama tidak pernah memikirkan hal itu lagi"
Luby pun mulai melihat jam yang tergantung di dalam kamarnya, saat itu jam telah menunjukan pukul 06:00 pagi.
Dengan tergesa-gesa Luby pun mulai beranjak dari kasurnya dan pergi menuju kamar mandi.
"Tok--tok"
"Luby!!Luby cepat buka pintunya!"
__ADS_1
Dengan hati yang berbunga-bunga beberapa kali Gavin mengetuk pintu kamar Luby dari luar,
"Luby apa kamu lupa kalau pagi ini kamu harus membantu saya bersiap-siap?"
Gavin sengaja berteriak untuk memanggil Luby dari luar kamarnya, karena ia sudah tidak sabar untuk mengulang kembali kejadian yang hampir terjadi di antara mereka.
"Luby! jangan berpura-pura tidur! cepat keluar!"
Beberapa kali pria dingin itu berteriak di depan pintu kamar Luby,
"Kriet"
"Ka-mu ngapain Ga-vin? kenapa harus berteriak di depan kamar aku?" Dengan terbata, Luby yang masih malu akan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Gavin semalam hanya menyembulkan sebagiannya kepalanya dari dalam kamarnya.
"Apa kamu lupa kewajiban kamu?"
"Kewajiban? kewajiban apa Gavin?"
Dengan jantung yang berdetak tak beraturan kepala Luby mulai menayangkan kembali rekaman demi rekaman yang terjadi antara dirinya dan Gavin kemarin.
"Anu!! itu," Sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal Gavin kembali terpukau saat melihat ke arah Luby dengan bibir mungil berwarna merahuda dan pipi nya yang memerah.
"Kamu lihat ini?" Gavin langsung menunjuk bagian kepalanya yang masih terbalut perban,
"Owh, iya. Maaf aku lupa, tapi----? apa kah boleh kalau mulai hari ini kamu minta bantuan Lusy? nanti aku akan memberi uang bonus untuknya sebagai imbalan"
"Heh, apa kamu kira saya tidak mampu membayar Lusy? " Dengan sombong Gavin memegang kedua pinggangnya dihadapan Luby yang terlihat biasa saja dengan omongannya.
"Siapa juga yang mau mengulang kejadian semalam? sa---ya, juga ogah melakukannya lagi sama kamu!"
"Kenapa kamu terlihat jijik dengan kejadian semalam Luby? apa sedikit pun kamu tidak memiliki perasaan lain kepada saya?"
Gavin berucap tidak sesuai dengan isi hatinya, sebenarnya ia sangat kecewa akan kalimat yang Luby ucapkan terhadap dirinya, sehingga ia pun berakting seolah-olah tidak menginginkan hal itu terjadi di antara dirinya dan Luby.
"Bagus kalau begitu, jadi aku yakin kamu juga setuju kalau aku tidak menepati perjanjian kita bukan?"
"Tidak, bukan itu maksud saya, walau bagaimana pun kamu harus tetap merawat saya sampai saya sembuh, karena Lusy saat ini sedang tidak ada di sini, dia-- sedang pulang kampung, jadi kamu harus tetap menjalankan tugas kamu!"
"Tapi Gav----? "
"Saya yakin kamu sudah tahu jawabnya Luby"
Dengan lemah Gavin berjalan ke kamarnya meninggalkan Luby sendiri di depan kamarnya.
"Kenapa kamu menyiksa aku seperti ini Gav! tidak seharusnya aku melakukan ini, andai ada Maya, pasti semua tidak akan terjadi.
Sadar lah Luby, dia hanya suami pura-pura, jadi jangan pernah terbawa arus lagi!!"
Luby pun memutuskan masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih tertutup untuk menutupi jejak merah yang sempat Gavin tinggalkan kemarin di setiap inci tubuhnya.
__ADS_1
Di sisi lain, saat ini Gavin tengah menelpon Lusy yang sedang berbelanja di pasar, ia meminta Lusy untuk pergi liburan selama 2 hari kedepan, ia pun memfasilitasi Lusy dengan mentransfer uang yang lumayan fantastis untuk Lusy membeli baju dan perlengkapan lainnya yang Lusy perlukan, sebelumnya ia pun sudah membungkam rapat mulut pembantunya itu.
"Tok--tok"
"Gavin?"
Gavin yang merasa kaget dengan suara Luby langsung mematikan hp nya secara sepihak, dan menyimpannya di dalam saku celananya,
"Masuk" Gavin pun segera membaringkan tubuhnya di ranjang king size miliknya.
"Kriet"
Setelah berhasil membuka pintu, Luby hanya berdiri di depan kamar milik Gavin sambil memasukkan satu tangannya di dalam kantung jaketnya.
"Kenapa hanya berdiri di situ!!"
"Owh, maaf-- "
Luby pun mulai melangkah masuk ke dalam kamar Gavin tanpa menutup pintu kamar Gavin kembali,
Di sisi lain Gavin yang masih terbaring di atas kasur nya merasa shok saat melihat tampilan Luby yang tidak seperti biasanya, beberapa kali ia melihat dari atas hingga bawah penampilan istri mudanya dengan baju yang super tertutup.
"Ngapain kamu berpakaian seperti itu?"
"Hehe, ini---hmmm, ak--u " Sambil tertawa nyengir Luby pun mulai memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan suami dinginnya itu.
"Aku kedinginan jadi pakai baju ini" Sambil menggosok-gosok kan jarinya Luby memaksakan senyuman di bibir nya.
"Dingin?? masa?" Secara reflek Gavin langsung mengambil remot AC yang ada di atas nakas dan mematikan AC yang masih menyala di kamarnya,
"Mampus, kenapa Gavin pakai acara matiin AC nya lagi! bisa kepanasan nih seharian di sini"
"Sudah saya matikan, tidak dingin lagi kan?"
"Hehehe, iya sudah tidak begitu dingin, tapi masih dingin"
"Hah? kamu yakin ini masih dingin?"
Gavin merentangkan sebelah tangan nya ke atas sambil merasakan udara yang terasa di dalam ruangannya.
"Iya, yakin ini masih dingin banget Gav, jadi gak papa aku pakai ini aja"
Sambil mempertahankan senyumannya Luby tetap berdiri cukup jauh dari jangkauan Gavin.
"Ya sudah, terserah kamu, "
Seperti tak perduli dengan alasan yang Luby berikan, Gavin pun langsung berdiri dari ranjang nya lalu menyambar tangan Luby dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Gav??"
Bersambung...😣😣