
Sesampainya di kamar mandi Gavin langsung meminta Luby untuk membantunya membuka pakaiannya, namun gadis kecil itu sama sekali tidak mengindahkan permintaan Gavin yang di anggapnya sedikit berlebihan.
"Luby kamu dengar saya bicara?"
"Iya aku dengan Gav, tapi sebaiknya aku membantu kamu di luar saja, gak perlu di dalam kamar mandi kaya gini, lagian sesuai perjanjian aku hanya membantu kamu berganti baju, tidak dengan mandi!"
"Argh!! perjanjian-perjanjian, kenapa di dalam kepala kamu hanya ada perjanjian! tidak kah kamu bisa melakukannya dengan keikhlasan sebagai seorang istri sesungguhnya?"
Luby hanya mendengar kan kalimat yang Gavin ucapkan tanpa bertindak apapun.
"Luby! saya minta sama kamu tolong, mulai saat ini jadi lah istri yang sesungguhnya, tolong posisikan diri kamu seperti seorang istri sah untuk saya"
Dengan mengiba Gavin pun mulai berlutut di dalam kamar mandi tepat di hadapan sang istri muda,
"Gav! apa yang kamu lakukan ? tolong jangan seperti ini Gavin"
Luby yang merasa bersalah akan tindakan yang Gavin lakukan terhadap dirinya memilih untuk membantu sang suami berdiri saat itu juga.
"Tidak By, saya akan tetap berada di sini jika kamu masih menganggap saya seperti orang lain di hati kamu"
Luby merasa shok saat mendengar semua perkataan sang suami yang terdengar tulus dari dalam lubuk hatinya.
"Percuma saja saya menjadi seorang suami jika saya tidak bisa menjadi seorang yang berarti buat kamu! jika memang saya tidak pantas mendapatkan kepercayaan dari kamu, lebih baik kamu pergi saja, dan tinggalkan saya sendiri di sini"
Luby masih berdiri dengan posisi yang sama, sejujurnya ia merasa kaget akan semua ucapan Gavin pagi itu, ia tidak pernah menyangka jika suami dinginnya itu menginginkan hal lebih dari diri nya yang selama ini hanya sebagi seorang istri cadangan.
"Benarkah semua perkataan Gavin saat ini? apakah aku harus percaya?"
"Kenapa kamu masih berdiri di sana Luby? pergi lah, dari kebahagiaan kamu di luar sana, dan biarkan saya mengurus diri saya sendiri!"
Gavin masih terduduk di lantai kamar mandi, sambil menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya.
"Gav, maaf. Sejujurnya aku sama sekali tidak ingin mengecewakan kamu, tapi kamu saat ini kamu sudah memiliki Maya, sedangkan aku hanya seseorang yang terpaksa kamu nikahi"
"Bukan kah kamu tahu bahwa a-ku hanya wanita kotor yang yang terpaksa kamu nikahi?"
Gavin merasa kaget saat mendengar semua ucapan istri kecilnya itu, ia sama sekali tidak menyangka Luby bisa berfikir jelek terhadap dirinya sendiri,
"Maaf kan saya, maaf kan semua ucapakan dan perbuatan buruk saya selama ini terhadap kamu"
"Seandainya kamu tahu By, kamu itu masih suci dan aku lah sebenarnya orang yang telah merenggut hal berharga milik kamu"
"Tapi kalau kamu tidak bisa memaafkan saya, kamu bisa pergi Luby. Saya tidak akan mengehentikan kamu lagi"
Dengan lemah Gavin berucap kepada istri kecilnya itu, terdengar penyesalan yang begitu dalam dari setiap kalimat yang Gavin katakan kepada Luby.
Di sisi lain Luby yang merasa terkejut akan kejujuran yang Gavin ucapkan memilih untuk berjalan mendekati Gavin, dengan pelan gadis mungil itu mulai merapatkan tubuhnya ke tubuh Gavin dengan kedua tangannya melingkar di leher sang suami.
"Hiks--- a-ku, sudah memaafkan kamu Gav, dan terimakasih sudah menerima aku yang kot---"
__ADS_1
Sebelum Luby menyelesaikan ucapannya Gavin langsung menyambar bibir Luby, dia mencium bibir merah itu dengan begitu lembut.
"Jangan pernah lagi mengucapkan kata itu, karena kamu itu bukan lah wanita seperti itu By"
Sambil tersenyum Gavin kembali mengecup bibir sang istri dan melakukannya lebih dalam dari sebelumnya, sedangkan Luby dengan perasaan yang berbunga-bunga hanya mampu menerima perlakuan suaminya itu dengan senang hati.
"Arhhh" Luby yang sudah hampir kehabisan nafas pun langsung reflek mendorong tubuh Gavin.
"H-h aku gak bisa nafas Gav"
"Hahahaha, maafkan saya By, saya lupa kalau kamu kehabisan nafas"
"Hmmm, kamu jahat!"
"BUGH" Luby menepuk pundak Gavin sambil menyemburkan tawa di bibirnya,
"Hahahaha" Dan akhirnya sepasang suami istri itu tertawa bersama, dengan posisi terduduk di lantai sambil menselonjorkan kaki mereka.
Tak berapa lama akhirnya Gavin pun telah selesai mandi, setelah di bantu oleh istri kecil nya itu.
"Besok aku gak mau lagi membatu kamu mandi!" Sambil memeras jaket yang tadi ia pakai Luby berucap cukup keras ke pada Gavin yang terlihat santai.
"Lho, kok gitu?"
"Ya ia lah, kamu lihat gak semua pakaian aku basah semua?"
"Lagian, kenapa harus memakai pakaian setebal itu di sini! pakai bilang kedinginan segala, padahal kamu itu sengaja kan menutupi bagian tubuh kamu semalam?"
"BUGH" Luby yang merasa malu reflek memukul pelan pundak Gavin yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Aww, sakit by."
"Biarin! abisnya kamu itu mulut nya gak bisa di rem"
"Nanti kalau mau bantuin saya mandi jangan pakai baju seperti itu, dan jangan tutup mata kamu seperti tadi! jadikan gak perlu basah kaya gitu"
"Gaviinnnn!!!! bisa gak mulutnya itu gak sembarang ngomong! "
Dengan malu-malu Luby pun berlari meninggalkan Gavin sendiri di kamar,
"Hey, By kamu mau kemana? Kamu belum menyelesaikan pekerjaan kamu!"
Sambil berteriak Gavin mencoba menghentikan langkah sang istri yang telah menghilang di hadapannya.
"Ok, pagi ini saya akan memaafkan kamu By, kalau saya tidak ada meeting penting pagi ini, pasti saya tidak akan melepaskan kamu"
Dengan sigap Gavin pun mulai bersiap sendiri, tanpa bantuan Luby pagi itu.
*
__ADS_1
*
Luby yang tengah bersiap di dalam kamarnya, tampak tersenyum-senyum sendiri saat mengingat kembali semua ucapan Gavin pagi ini.
"AAA---- kenapa aku gak bisa melupakan perlakuan Gavin tadi? " Dengan pipi yang sudah memerah Luby memilih untuk segara bersiap ke dapur, karena pagi ini sebelum berangkat ke kampus ia ingin menyiapkan sarapan untuk Gavin,
Setelah sampai di dapur dengan cekatan tangan Luby mulai meracik bahan-bahan nasi goreng sederhana untuk Gavin pagi itu.
Bunyi Kuali yang saling beradu dengan spatula memenuhi dapur saat itu, dan setelah 15 menit akhirnya nasi goreng hijau dengan telur mata sapi di atasnya telah selesai, dan tak lupa segelas susu hangat sebagai pelengkap.
Dengan telaten Luby menyusun sarapan mereka pagi itu,
*
*
Gavin yang terlihat terburu-buru setengah berlari mulai menapaki setiap anak tangga yang ada di rumah mereka,
"Aroma wangi apa ini? bukannya Lusy tidak ada di rumah?"
Gavin yang sudah hampir terlambat ke kantor sama sekali tidak berniat untuk sarapan saat itu, walau perutnya terasa begitu lapar saat mencium aroma nasi goreng yang memikat hidungnya.
"Gav! Gavin !!"
Dari meja makan Luby memanggil Gavin yang terlihat hanya melewati ruang makan.
Gavin pun berbalik saat mendengar teriakan Luby,
"Apa kamu tidak sarapan?"
"Sarapan? apa ada sarapan? bukankah Lusy---?"
Luby yang seakan tahu pikiran Gavin langsung menarik tangan Gavin dan menggiringnya ke dapur,
"Silakan duduk"
Terlihat di hadapannya sudah tersedia sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat yang menggiurkan lidahnya.
"Kamu yang buat?"
Dengan ragu-ragu Luby menganggukan kepalnya,
Dan tanpa berkata lagi Gavin pun mulai menyantap sarapannya yang terasa begitu nikmat pagi itu.
Keduanya saling duduk berhadapan sambil memakan nasi goreng yang telah Luby siapkan.
"Terimakasih By, karena kamu mau menerima saya"
Bersambung.....😁😁
__ADS_1