
Apa Gavin menyakiti kamu sayang??" Tiba-tiba Brian sang papa pun muncul dari balik pintu, ia begitu terlihat murka saat mendengar ucapan sang istri kepada putri kesayangannya itu.
"Pa-pa??" Luby yang kaget bercampur rindu yang mendalam akan sosok sang ayah langsung beralih memeluk tubuh tua Bryan.
Saat ini hanya pelukan kedua kesayangannya inilah yang dapat menenangkan hatinya untuk sejenak.
"Luby putri papa, apa benar ucapan mama? apa Gavin telah berbuat sesuatu kepada kamu sayang?" Brian mengusap kepala putri bungsu nya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar ucapan sang papa sungguh membuat hati Luby sedikit nyeri, ingin rasanya ia mengatakan semua isi hatinya saat ini, namun ia sadar bahwa permasalahan rumah tangganya bersama Gavin saat ini dapat membuat kesedihan mendalam untuk kedua orang tuanya yang terlihat sudah tidak muda lagi.
"Tidak pa, hubungan Luby dan Gavin hingga saat ini baik-baik saja, bahkan saat ini kami lebih sering pergi bersama"
Luby pun mulai menggelengkan kepalanya sambil memasang sebuah senyuman palsu di bibirnya, dan ia pun seketika menghentikan tangisnya, karena ia sama sekali tidak ingin membuat Luna dan Brian curiga akan kebohongannya saat ini.
"Bagus lah nak, papa senang mendengar kebahagian kamu dengan Gavin, karena dari awal papa sudah yakin bahwa Gavin adalah sosok pria yang baik"
"Iya By, mama senang kalau putri mama bisa bahagia dengan pasangnnya"
"Bagaimana kalau malam ini kamu ajak Gavin untuk makan malam di sini, dan ajak pula dia untuk bermalam di mansion"
"HH?? apa tapi pa---"
"Benar yang di bilang papa sayang, bukan kah kita sudah lama tidak berkumpul, nanti mama akan menelpon Azka dan istrinya untuk bermalam di sini juga"
__ADS_1
"Ide yang bagus, sayang " Brian pun mencium dahi Luby dan Luna sang istri sebelum meninggalkan tempat itu.
Malam hari pun telah tiba, Luby saat ini masih harap-harap cemas akan kedatangan suami pura-pura nya itu, dia sudah mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Gavin sebelumnya, namun pria dingin itu sama sekali tidak membalas pesannya dan hanya membacanya saja.
Hingga di saat jam menunjukan pukul 19:15 keluarga Brian beserta menantu perempuannya telah berada di meja makan, sedangkan Gavin sang menantu lainnya masih belum juga memperlihatkan batang hidungnya.
"Ehem---By apa Gavin tidak jadi datang?"
Luby yang tengah melamun tiba-tiba salah tingkah sesaat setelah mendengar suara sang papa yang terlihat sedikit kecewa.
"Hmmmm-- Gav-vin sepertinya tidak jadi dat----"
"Selamat malam--" Tiba-tiba perkataan Luby terhenti saat ia melihat kehadiran sosok pria yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya.
Gavin pun langsung duduk di bangku tepat di sebelah sang istri berada.
"Maaf saya terlambat, tadi ada meeting mendadak, dan saat pulang saya juga terkena macet yang lumayan panjang" Gavin berucap sambil menggenggam erat tangan sang istri dengan tangan kanannya.
Luby yang sedikit canggung dengan perlakuan yang Gavin lakukan kepadanya hanya dapat menganggukan kepalanya.
***
Usai makan malam akhirnya kedua pasang suami istri itu telah masuk ke dalam kamarnya, tepat nya kamar milik Luby. Luby yang baru beberapa kali sekamar dengan Gavin membaut dirinya merasa canggung saat harus berada sekamar lagi bersama Gavin, terlebih lagi hampir dua Minggu ini Luby dan Gavin sama sekali tidak saling bertegur sapa saat malam panas itu terjadi.
__ADS_1
"Terimaksih" Luby berucap kepada Gavin yang saat ini terlihat tengah membuka kemeja kantornya.
"Ini memang sudah kewajiban saya sebagai seorang suami dan menantu di keluarga ini"
Setelah mendengar perkataan Gavin seketika membuat jantung Luby berdetak lebih kencang, ada secercah kebahagian yang ia rasakan saat ini,
"By, saya masih berharap kamu masih mempertimbangkan permintaan saya waktu itu"
Dan seketika kebahagian yang singkat itu berubah menjadi kesedihan kembali saat mendengar perkataan Gavin yang mengingat kan dirinya akan wanita lain di hati Gavin.
"Aku ngantuk sebaiknya kita segera tidur" Tanpa menjawab pertanyaan Gavin Luby pun memilih untuk tidur di sofa yang terdapat di dalam kamar nya.
"Kenapa By? apakah susah untuk menjadi seseorang yang tidak egois? di dalam agama saja poligami itu tidak dilarang selagi adil, tapi kenapa kamu malah seperti jijik dengan kata poligami?"
Luby masih tidak menanggapi perkataan Gavin,
dan mulai menidurkan badannya membelakangi Gavin.
"HaaaH!! memang susah kalau memilki istri yang tidak mau menurut dengan suaminya! saya sudah mencoba untuk berubah demi kamu, tapi kamu sama sekali tidak pernah mengindahkan saya. Kalau tahu seperti ini lebih baik sepertinya memang kita harus saling introspeksi dulu"
Dengan amarah yang menjadi-jadi Gavin pun mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Luby tanpa mengindahkan istri kecilnya yang memilih untuk tidur terpisah dengan dirinya.
Bersambung....✍️✍️
__ADS_1