Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Sweet love


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Luby pun segera beranjak dari kursinya. Tak lupa gadis kecil itu merapikan kembali sisa makanan di meja makan serta membawa mangkok kotor bekas dirinya dan Gavin kembali dapur.


Dari belakang tak lepas mata Gavin terus melihat setiap kegiatan yang tengah Luby lakukan.


"Kenapa gadis kecil itu terlihat sangat manis saat mencuci piring?"


Setelah menyelesaikan perkejaan nya Luby memilih untuk sesegera mungkin berangkat ke RS untuk mengunjungi kakak iparnya, ia juga telah menyiapkan dua cup soto yang akan ia bawa untuk Bianca dan Azka yang semalam telah kembali ke negara I.


"Apa kah kedua soto itu untuk Bianca?"


"Aha, ini memang untuk kak Bian"


Seketika Gavin kembali cemburu, ia merasa janggal dengan dua cup soto yang tengah Luby siapkan,


"Bukan kah Luby sudah sarapan, terus satu cup lagi untuk siapa? apa dokter muda itu datang kembali! Tidak bisa, sebaiknya saya harus mengantarkan nya sampai ke RS"


Gavin kembali melihat jam yang ada di tangannya "saya masih ada waktu sebelum meeting jam 10 nanti"


Luby yang telah siap dengan segala perbekalannya terlihat sudah siap untuk berangkat, gadis kecil itu pun mulai mengambil tas nya yang telah ia letakan di atas sebuah kursi yang terletak di dapur.


"Aku duluan Gav, bye"


"Tunggu, aku akan mengantar kamu"


"Owh, gak perlu aku bisa bawa mobil sendiri, lagian aku gak mau ngerepotin kamu" Luby berjalan melewati Gavin sambil tersenyum.


"Tidak, saya sama sekali tidak merasa di repotkan, lagian sa-ya, saya juga ada keperluan di RS" Dengan keceplosan Gavin terpaksa harus berbohong untuk menutupi rasa cemburu yang ia rasakan terhadap Luby.


"H---? kamu sakit? apakah itu parah?"


Seketika raut wajah Luby tampak begitu penasaran akan kondisi yang kini tengah Gavin rasakan.


"Hmmm, bisa di bilang begitu. Makanya saya harus segera ke RS"


Dengan wajah yang cukup serius Luby memperhatikan semua bagian tubuh Gavin yang terlihat baik-baik saja.


"Aw-aw-aw.." "Untuk membuat Luby percaya akan perkataannya. Gavin pun mulai berakting di hadapan sang istri kecil.


"AAA-- Gav, kamu baik-baik aja? mana yang sakit?" Luby yang telah berada di samping Gavin dengan ragu-ragu mencoba untuk menyentuh lengan Gavin,


"Bukan itu yang sakit By, tapi perut saya. Sakit sekali"

__ADS_1


"Sebaiknya kamu berbaring dulu di sofa biar aku bantu"


Gavin mulai mengikuti perkataan Luby, dengan berpura-pura tertatih Gavin berjalan menuju sofa yang terdapat di ruang tengah.


Sesaat setelah sampai di sebuah sofa yang panjang, Gavin pun mulai membaringkan tubuh nya di sana, sambil terus merintih kesakitan di hadapan Luby.


Dengan reflek akhirnya Luby mulai menyentuh perut datar milik Gavin. Tanpa canggung gadis kecil itu mulai mengusap pelan perut Gavin yang tadi sempat ia keluhkan.


"Apa kah di sini yang sakit?"


"Bukan turun lagi ke bawah?"


Mendengar ucapan Gavin, Luby kembali menurun kan tangannya sedikit lebih kebawah,


dan kembali memberikan pijitan ringan di sana.


"Kenapa urutan nya kuat banget, tangannya kelihatan lembut tapi tenaganya kuat kaya kuda"


Gavin mencoba menahan rasa sakit pada perutnya akibat urutan yang Luby berikan.


"Bukan di sana yang sakit By, tapi ke bawah lagi"


Mendengar kan perkataan Gavin Luby kembali menurunkan sedikit tangannya kembali kebawah dan tanpa ia sadari posisi jari nya kini hampir menyentuh benda keramat milik Gavin.


Melihat hal yang tidak biasa bagi dirinya, membuat Luby langsung menghentikan kegiatannya, dan seketika tubuhnya mulai meremang, dan ia merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya.


"Maaf, aku tidak sengaja. Memang sebaiknya kamu harus segera ke RS, "


Dengan wajah ya tampak memerah seperti tomat, Luby pun memilih untuk segera beranjak dari posisinya tadi, ia pun mencoba menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai, untuk menutupi rasa gugup yang tengah ia rasakan.


"Hmmm, iya kalau gitu saya ambil kunci mobil dulu"


"SH**it, tadi hampir saja saya lepas kendali. Andai waktu memihak kepada saya, mungkin saya bisa kembali bisa merasakan hal yang sama seperti malam itu"


Dengan senyuman licik Gavin mencoba mencari ide untuk bisa terus mengerjai Luby seperti tadi.


"Kebersamaan kita masih panjang, sungguh aku tidak sabar untuk terus mengerjai kamu seperti tadi. Aku pastikan bisa membuat hati kamu luluh dan bisa menerima aku Luby"


Setelah berhasil mengambil kunci mobilnya Gavin dan Luby pun berjalan menuju mobil dan segera masuk ke dalam mobil sport kesayangan Gavin.


Saat di tengah perjalanan Luby sama sekali tidak melihat hal aneh pada diri Gavin, padahal seingat nya, saat di rumah Gavin terlihat begitu sakit pada bagian perutnya.

__ADS_1


"Hmm---, apakah perut kamu sudah sembuh?"


"A, itu..Sedikit, itu semua berkat urutan kamu tadi, sehingga sakitnya sudah lumayan hilang. Dan saat ini saya masih bisa menahan sakitnya"


"Benar kah?" Luby terlihat berbinar saat mendengar kalimat Gavin yang terlihat puas dengan urutannya.


"Padahal hal itu adalah yang pertama untuk aku, karena sebelumnya aku juga pernah ngurut kepala papa, tapi papa bilang urutan aku enggak enak, malah kepala papa jadi tambah sakit, jadi sejak saat itu aku udah gak pernah ngurut siapa pun"


"Hehe, enak kok" Dengan tersenyum masam Gavin pun berbohong kepada Luby akan apa yang tadi ia rasakan saat mendapat kan urutan dari Luby yang sebenarnya.


"Memang benar yang di bilang papa kamu By, pijitan kamu memang gak enak, bahkan sekarang perut aku masih nyeri kaya abis minum susu basi, sakit perut nya melilit sampai ke hati" Gavin pun bermonolog di dalam hati sambil terus menyetir mobil nya menuju RS di mana Bianca di rawat.


Tak berapa lama hp milik Gavin pun mulai berbunyi, dan dari samping Luby dapat melihat Gavin sama sekali tidak mengangkat hp nya tersebut.


Hingga panggilan itu kembali berbunyi untuk yang ketiga kalinya, Gavin tampak masih mengacuhkannya.


"Kok gak di angkat? kaya nya penting soalnya bunyi terus"


"Biar saja, nanti sampai di RS, baru saya hubungi kembali. Saat ini saya sedang menyetir jadi tidak enak kalau nyetir sambil teleponan, bisa bahaya"


Seketika Luby merasa terpana akan sikap dewasa yang Gavin miliki, banyak orang yang ia lihat selama ini sama sekali tidak mengindahkan keselamatannya, saat berkendara namun Gavin ternyata memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ia lihat sebelumnya.


Dan tak berapa lama akhirnya mobil yang Gavin kendarai pun mulai memasuki gerbang RS yang mereka tuju, tampak dari kejauhan parkiran RS tersebut sudah sangat penuh dengan mobil yang berjejer. Bahkan terlihat beberapa mobil yang sangat sulit untuk memarkirkan kendaraan mereka.


Namun hal itu tidak sulit untuk Gavin dengan keahlian mengemudi yang ia miliki tak sampai 5 menit mobil sport itu pun telah terprkir sempurna di lahan yang tidak begitu luas.


Dengan cekatan Gavin yang telah keluar dari dalam kemudinya duluan langsung berpindah untuk membuka kan pintu bagi Luby.


"Terimakasih "


"It's ok" Dan saat mereka mulai berjalan bersamaan tiba-tiba hp milik Gavin kembali berbunyi yang membuat ia langsung menghentikan langkahnya.


Dan melihat nama orang yang tengah menelpon dirinya, tertera nama Maya di sana.


"By, sebaiknya kamu masuk duluan, saya mau mengangkat telepon dulu"


"Ehem" Luby menganggukan kepalanya, dan pergi meninggalkan Gavin sendiri di sana.


"Halo sayang?"


"Mas lagi di mana? kenapa tidak angkat telpon aku? apa mas udah gak cinta sama aku?"

__ADS_1


Terdengar Maya sangat marah, sambil berteriak Maya terus memburu Gavin dengan pertanyaan-pertnyaan yang membuat Gavin akhirnya memutuskan untuk sesegera mungkin pergi menemui istri siri nya itu.


Bersambung...✍️✍️


__ADS_2