Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Rasa yang berbeda


__ADS_3

Setelah siap dengan seragam kerja kebanggaannya Gavin pun mulai keluar dari dalam kamar mandi, seketika ia merasa takjub akan perkejaan sang art yang ia rasa tidak pernah mengecewakannya.


Kamar yang tadi nya berantakan seperti kapal perang telah kembali rapi seperti semula, bahkan letak semua peralataan makeup milik Maya terlihat telah tertata rapi seperti sediakala.



Dengan percaya diri akhirnya pria dengan stelan jas lengkap itu pun mulai melihat dirinya di depan sebuah cermin yang ada di dalam kamar nya sebelum melangkahkan kaki menuju ruang makan.


Setelah di rasa sempurna, Gavin mulai melangkah keluar kamar menuju tangga yang mengarah ke lantai bawah.


Satu persatu anak tangga mulai Gavin tapaki hingga di tangga terakhir betapa kagetnya Gavin saat melihat Luby yang tengah sibuk di dapur dengan sebuah celemek yang terpasang di badannya.


Sembari melihat aktifitas yang Luby lakukan Gavin memilih untuk segera pergi ke kantor nya, ia yang sedari awal berniat ingin menikmati sarapan paginya, lebih memilih untuk menjauh dari meja makan.


Gavin masih merasa kesal dan marah kepada Luby akibat penamparan yang telah Luby lakukan semalam.


Gavin pun mulai berjalan menuju pintu keluar sambil membawa sebuah koper kecil di tangannya.


"Hmm-- tunggu!" Sampai di ruang tengah tiba-tiba Luby menghentikan langkah kaki Gavin yang terlihat tergesa-gesa meninggalkan rumah.


Dengan membawa semangkuk makanan di tangannya Luby berjalan mendekati Gavin yang hanya mematung di posisinya tanpa berbalik menghadap dirinya.


Cukup lama gadis kecil itu berdiri di belakang Gavin, terlihat dari raut wajah nya ia tengah memikirkan kata yang tepat untuk di ucapkan kepada Gavin yang terlihat masih memendam amarah.


"Apa kamu masih ada waktu?"


"Tidak"


Dengan lantang dan tegas Gavin hanya mengucapkan satu kata kepada Luby.


"Ooh-- baiklah, aku cuma mau bilang "maaf". Hmm--- good luck" Luby pun kembali berbalik sambil membawa mangkok di tangannya.


Saat ini Gavin merasa terkejut atas ucapan permintaan maaf yang keluar dari mulut Luby, ia pun mencoba berbalik dan melihat ke arah sang istri yang terlihat kecewa.


"Tunggu itu apa?"


Luby yang mendengar pertanyaan dari Gavin kembali menolah sembari memperlihatkan makanan yang tengah ia bawa.


"Owh aku buat ini untuk kamu"



"Itu SOP untuk saya" Seketika wajah Gavin berubah cerah dari sebelumnya, ia tak menyangka Luby menyiapkan makanan istimewa kesukaannya.


"Ehmm, ini soto bukan SOP"


"S-o-t-o?"


"Iya soto, apa kamu belum pernah makan ini sebelumnya?"

__ADS_1


Gavin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,


kerena memang ini yang pertama kali untuk dirinya,


"Apa itu sama dengan bakso?"


"Hampir, tapi buat aku ini lebih enak dari bakso"


Luby yang sedari kecil sudah sangat menyukai soto buatan sang mama, tak bisa berpaling dari kelezatan kuah dengan campuran rempah-rempah asli yang terkandung di dalam semangkok soto.


"Benarkah? "


Gavin merasa senang karena di pagi buta Luby mau susah-susah mempersiapkan makanan spesial untuk dirinya.


"Ya, tapi aku gak tahu ini selera kamu apa enggak, " Luby merasa sedikit tidak percaya diri dengan makanan yang ia buat, kerena ini adalah kali pertama dirinya membuat makanan untuk orang lain selain kelurga intinya.


Melihat Luby yang terlihat murung Gavin pun langsung mengambil makanan tersebut dari tangan Luby,


"Aww-- panas!!"


"Sini biar aku yang bawa" dan mangkok soto itu pun langsung berpindah tangan kembali ke tangan Luby, ia pun berjalan menuju meja makan dan dengan segara menghidangkan makanan tersebut di kursi tempat biasanya Gavin duduk,


Sedangkan Gavin berjalan di belakang mengikuti langkah Luby sambil meniup-niup jarinya yang terkena mangkok panas.


Saat sampai di meja makan, terlihat dua mangkok soto telah terhidang, namun Luby hanya berdiri melihat kedua mangkok soto yang di letak berdekatan.


"Ha--- kamu gak ikut makan? mana bisa saya ngabisi dua mangkok sekali Gus"


"Tidak aku akan sarapan di RS bersama kak Bian"


"Terus ini untuk siapa?"


"Owh, itu untuk istri kamu---maksud aku untuk Maya"


"Ayo kita makan bersama, bukan kah kamu juga istri saya? dan karena ini untuk istri, berati ini juga untuk kamu. Jadi ayo temani saya makan"


Gavin pun menarik kursi yang ada di samping untuk Luby duduki,


"Ayo duduk sini" Gavin menepuk pelan meja yang ada di segalanya.


"Ti--tidak, aku sudah mempersiapkan bekal untuk makan bersama kak Bian di RS, jadi sebaiknya kamu makan berdua Maya saja"


Luby pun berbalik dan berniat untuk kembali masuk kedalam kamarnya kembali. Tapi langkahnya terhenti saat Gavin menarik lengannya dari belakang.


"Apakah sesulit ini untuk bisa makan dengan seorang teman?"


"Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau menemani saya makan?"


"Baiklah, aku akan ikut makan. Tapi aku ambil dulu makanan nya"

__ADS_1


Dengan sedikit memaksa Gavin tidak melepaskan pegangannya terhadap Luby, ia malah membawa Luby duduk di sampingnya.


"Maya sedang tidak berada di rumah, jadi soto ini untuk kamu"


Seketika Luby merasa terpaku saat telah duduk tepat di samping Gavin. Sangking dekatnya mereka duduk membuat lengan Gavin dapat menyentuh bagian lengan kiri Luby.


"Ehem, kamu yakin aku duduk di sini??"


"Tentu, bukannya kamu istri saya? apa ada yang salah jika saya duduk dengan istri saya sendiri?"


"Uhuk---uhuk-- ti-dak, cuma?"


"Saya sudah lapar, apa kamu masih ingin berbicara sesuatu? atau bisakah kita mulai makan?"


"Owh, tidak aku sudah selesai bicara, ayo kita makan"


Luby begitu gugup saat makan berdampingan bersama Gavin, ia juga merasa salah tingkah saat mendengar ucapan Gavin yang beberapa kali mengatakan kata istri terhadap dirinya.


Awalnya ia begitu membenci sosok Gavin yang dulu terlihat hanya memanfaatkan dirinya, dan tidak pernah menganggap nya ada, namun beberapa hari ini ia melihat sisi lain dari Gavin yang tanpa sadar telah menciptakan perasaan lain di dalam hatinya.


Sosok Gavin yang tampan dan pintar membuat setiap wanita akan mudah untuk jatuh hati kepada nya. Dengan kedewasaan ia miliki membaut wanita merasa nyaman dan aman saat ada di sampingnya sehingga bukan hal yang sulit untuk Luby jatuh hati kepada Gavin.


"Gak, enggak Luby. Jangan ada perasaan lain, dia memang tampan dan mandiri, tapi dia itu pria yang moodyan. Dan yang paling penting dia udah ada Maya. Jadi jangan pernah ada rasa lain terhadap pria ini"


Di dalam hatinya, Luby tetap memberikan sekat pembatas antara dirinya dan Gavin, ia tidak mau menyimpan perasaan lain yang akhirnya tidak akan pernah saling bertaut dan malah akan menyakiti dirinya sendiri.


Dan di sisi lain Gavin merasa senang saat Luby tidak menolak saat di ajak untuk menemani dirinya makan. Bahkan tanpa Luby sadari Gavin sengaja menarik kursi di sebelahnya lebih dekat dengan kursi yang ia duduki sehingga dengan jarak yang dekat ini Gavin telah membayangkan dirinya bisa merasakan sentuhan dari kulit Luby yang semalam sempat ia lihat tanpa bisa ia sentuh.


"Ehmm, apa soto nya enak?"


Untuk menghilangkan rasa canggung di antara dirinya dan Gavin akhirnya Luby pun membuka suara duluan.


"Sangat enak, kalau tidak keberatan saya ingin menikmati nya lagi besok pagi"


"Owh, benarkah? baiklah akan aku usahain untuk membuatnya kembali"


"Benarkah? apa kamu tidak keberatan?"


"Tidak, bukankah teman harus saling membantu?"


"Teman?" sejujurnya Gavin merasa sedikit kecewa dengan tanggapan Luby yang masih menganggap dirinya hanya sebagai teman.


"Harusnya bukan teman, Luby tapi istri. Karena kamu itu istri saya"


"Ya, teman memang harus saling membantu"


Dengan lemah Gavin mengulang kembali perkataan yang tadi Luby ucapkan.


Bersambung.....✍️✍️

__ADS_1


__ADS_2