Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Kekasih di dalam hati


__ADS_3

Maya yang tengah berada di RS lain tempat di mana Andrea tengah di rawat masih asyik memainkan ponsel kesayangannyaa, walau tadi sempat pura-pura marah kepada Gavin tapi iya yakin Gavin akan tetap menempatkan dirinya menjadi yang pertama di hati sang suami.


Tak berapa lama Gavin akhirnya sampai di RS yang di maksud, dengan tergesa-gesa Gavin melangkahkan kakinya masuk ke lobby RS di mana Maya tengah menunggu nya.


Dari kejauhan Maya yang melihat sosok sang suami telah sampai memilih untuk segera menyimpan smartphone yang ia pegang ke dalam tas.


"Sayang, mas gak lama kan?"


"Iya, tapi tetap aja aku kesal karena mas gak angkat telepon dari aku. 3 kali lho mas aku telepon nomor kamu"


Sambil mengerunyutkan bibirnya Maya kembali berpura-pura marah terhadap Gavin.


"Sorry, tadi mas lagi nyetir, dan malas berhenti. Mas janji besok-besok gak akan ngabaikan telpon dari kamu lagi"


"Janji ya mas? kalau enggak aku ngambek lagi nih"


"Mas janji, jangan ngambek lagi dong"


Seketika Gavin memberi pelukan ringan kepada Maya, sambil membisikan kata I Love U di telinga Maya, yang membuat Maya tak bisa lagi berkata-kata dan langsung menarik lengan Gavin untuk segera masuk kedalam mobilnya mereka.


"Kenapa di kepala saya hanya ada wajah gadis kecil itu, padahal saat ini yang ada di hadapan saya adalah Maya, istri yang paling sangat saya cintai"


Gavin terus berbicara di dalam hati, sejujurnya ia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Luby di RS tadi, padahal ia kesana untuk mengawasi Luby dengan dokter muda yang tak lain adalah dokter Aryan sang rival, namun karena Maya yang merajuk dapat merubah segalanya.


*


*


Di sisi lain dari balik sebuah jendela kamar RS sakit Luby masih melihat ke arah parkiran, tadi ia dapat melihat jelas Gavin yang terlihat tergesa-gesa pergi mengendarai mobilnya sesaat setelah mengangkat smartphonenya.


Luby sangat yakin yang tadi menelpon Gavin pasti adalah Maya sang madu, namun yang membuat Luby kesal pada diri nya sendiri saat ini ialah timbulnya perasaan sedih dan kecewa saat Gavin pergi meninggalkan nya tanpa sepatah kata pun.


Jujur ia tidak suka dengan perasaannya saat ini, dulu saat Gavin sering mengacuhkan nya dan terlihat lebih sering memanfaatkannya, Luby sama sekali tidak pernah merasa sakit hati ataupun marah kepada Gavin.

__ADS_1


Tapi sejak kata sahabat ada di antara mereka, Luby merasa ada perasaan asing yang ia anggap tidak wajar hinggap di dalam hatinya.


walau berkali-kali Luby mencoba untuk menyingkirkan perasaan asing itu, namun rasa itu tetap hinggap di hatinya yang terkadang menimbulkan rasa senang dan sakit yang tak pernah bisa ia ungkapkan dengan sebuah kata.


"Hey, Luby sayang kenapa dari tadi kamu hanya mengahadap ke jendela, apakah kamu tidak merindukan kakak mu ini?"


Azka yang sedang duduk di sebuah sofa merasa sedikit kecewa karena di abaikan oleh sang adik bungsu kesayangannya.


Luby yang di kejutkan oleh sang kakak akhirnya tersadar dari lamunannya,


"Hmmm, maaf kak Az, Luby tidak bermaksud melupakan kak Azka"


gadis kecil itupun beralih mendekati sang kakak, dengan manja Luby duduk di atas satu sofa yang sama dengan Azka sembari memeluk tubuh sang kakak dengan manja.


"Kakak sudah terlanjur kecewa di anggurin sama kamu hampir 30 menit lamanya"


"Maaf kak, please jangan ngambek sama aku dong, tadi Luby cuma---"


"Apa ada masalah antara kamu dan Gavin? apa dia menyakiti kamu?"


Secara gamblang Azka langsung memburu Luby dengan semua pertanyaan yang tiba-tiba menyudutkan Luby.


"Ti--tidak kak, kok kak Azka mikir jauh kaya gitu sih, aku cuma lagi ----"


"Lagi apa? coba jujur sama kakak By, coba kamu lihat mata kak Azka dan bicara yang sejujurnya sekarang juga"


Azka yang telah berdiri di samping Luby menatap Luby dengan tajam, ia ingin melihat kejujuran dari setiap ucapan Luby.


"Ih, kak Azka apaan sih! suwer deh, aku tuh baik-baik aja. Bahkan tadi tu aku ke sini di antar sama Gavin,"


"Terus kenapa Gavin gak ikut masuk?"


"Gavin sedang ada meeting kak, makanya dia langsung berangkat ke kantor. Kemarin aja aku disini jaga kak Bian di temani Gavin kok! ya kan kak?" Luby masih berusaha untuk menutupi permasalahan rumah tangga dirinya dan Gavin yang sebenarnya.

__ADS_1


"Iya, darl-- bahkan mereka menjaga aku sampai malam"


"Syukur lah kalau rumah tangga kamu dan Gavin baik-baik saja. Tapi kalau sampai Gavin berani nyakiti kamu, maka dia akan berhadapan dengan kakak, kakak akan buat dia hancur sehancur-hancurnya!"


Azka memberikan penekanan terhadap setiap ucapannya.


Seketika Luby menelan ludahnya, ia sangat hapal akan sikap sang kakak sulungnya itu, sifat Azka sangat mirip dengan sifat sang papa yang sangat mencintai keluarganya. Bahkan mereka berdua bisa melakukan apapun untuk membuat orang yang mempunyai niat jahat terhadap kelurga mereka hancur tanpa sisa.


"Kak Azka jangan khawatir, lagian siapa sih yang berani dengan Luby Subrata. Kan ada papa dan kak Azka yang selalu ada untuk melindungi aku"


Dengan manja Luby bergelayut di lengan kekar Azka, bibir nya tersenyum namun mata nya tak bisa berbohong dengan mata yang berkaca-kaca Luby tak berani menatap mata sang kakak.


Azka seakan tahu apa yang tengah Luby rasakan, begitu besar harapan Luby terhadap sang papa dan dirinya dalam melindungi adik kandungnya itu, namun satu kali mereka kecolongan yang berakibat fatal untuk kehidupan Luby hingga seumur hidupnya.


"Maafkan kak Azka dan papa karena tidak bisa menjaga kamu waktu itu. Andai waktu bisa di putar, mungkin kak Azka akan menyediakan beberapa bodyguard yang handal untuk menjaga keamanan kamu"


"Gak papa kak, semua sudah berlalu, toh semua penjahat itu juga sudah tiada, aku akan anggap semua nya tidak pernah terjadi kak"


Luby memeluk erat tubuh Azka.Dan pelukan itu pun di balas hangat oleh Azka.


"Kalau kamu ada masalah apapun tolong cerita sama kakak By, jangan pernah memendamnya sendiri. Waktu itu kakak dan papa sudah mencari calon suami yang terbaik dari yang paling baik, dan memang dari semua nya yang bagus dalam hal sikap, karakter serta kecerdasan yang unggul itu Gavin.


"Bahkan kak Azka sendiri yang turun tangan langsung untuk melihat bagaimana kehidupan Gavin secara realita, dengan bantuan beberapa detektif yang kakak bayar, mereka tidak pernah menemukan hal yang mencurigakan dari suami kamu itu"


"Bahkan informasi dari beberapa orang terdekat nya pun juga mengatakan Gavin tidak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun selain seorang wanita dari masa lalunya, namun karena kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka, maka Gavin menyudahi hubungan itu"


"Jadi kalau kakak lihat Gavin itu baik untuk kamu, namun yang tahu dia seutuhnya saat ini hanya lah kamu. Jadi kalau memang dia tidak baik, kamu bilang sama kakak. Tapi kalau kamu bilang dia baik maka kakak bersyukur berarti pilihan kakak dan papa tidak salah"


"Dia memang pria yang baik kak, tapi baik untuk istrinya namun bukan untuk Luby"


Luby tersenyum sambil menganggukan kepalanya ke arah Azka, bibir tersenyum namun hati menangis, sungguh miris kehidupan yang kini tengah ia jalani.


Bersambung.....💅💅

__ADS_1


__ADS_2