
Berada di atas satu meja makan yang sama membuat Luby merasa canggung dengan keadaanya saat ini. Luby merasa bingung bagaimana harus bersikap saat berada di hadapan sang suami. Suami dalam arti semu tentunya, karena dari awal memang Gavin sudah tidak menganggap kehadirannya.
Gavin yang telah menyelesaikan makan malam nya berniat ingin segera masuk kedalam kamarnya, karena malam ini ia berencana untuk segera menghubungi Maya, istri yang sudah sangat ia rindukan. Namun langkah nya terhenti saat Luby memanggil namanya.
" Gavin! tunggu! malam ini aku mau pulang ke mansion"
"Apa? kamu yakin?"
Sambil memicing kan matanya Gavin menatap Luby dengan penuh tanda tanya,
"Aku cuma mau ambil beberapa pakaian aku, besok aku balik lagi"
"Terserah"
Gavin langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya naik menuju kamar utama, kamar milik dirinya dan Maya.
"Huft--- sabar Luby, ini semua demi mama dan papa. Kamu harus bersyukur Luby, setidaknya kamu tidak akan repot untuk jatuh cinta kepadanya."
Sejak kejadian beberapa waktu silam membuat Luby memutuskan untuk tidak ingin berhubungan dengan laki-laki, karena sampai saat ini trauma yang ia alami masih sering menhantui pikirannya.
Dengan langkah lebar Luby pun langsung meninggalkan meja makan menuju mobilnya yang terparkir di luar,
"Hehe emang enak di anggurin, pokoknya gue gak boleh kasih kesempatan cewek sok cantik itu buat dekatin tuan Gavin, lagian kok bisa-bisanya tuan Gavin nikah sama tu cewek. apa jangan-jangan dia yang bakal ngandung anak untuk tuan Gavin? amit-amit, jangan sampai!"
Sembari memukul-mukul kepalanya Lusy mulai merapikan meja makan yang masih berantakan.
Di dalam kamar Gavin tampak uring-uringan memikirkan keputusannya yang mengajak Luby tinggal di rumahnya. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk tinggal satu atap bersama Luby, apa lagi rumah ini telah ia persembahkan untuk sang istri pertama.
"Argh-- SH**IT gak seharusnya aku tahan dia buat tinggal di sini! tapi aku gak mungkin bisa ingkari janji aku sama papi dan mami, kalau aku ketahuan sampai menyia-nyiakan Luby pasti papi sama mami gak akan pernah menyetujui pernikahan aku sama Maya"
Gavin langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur miliknya, hingga deringan hp mulai mengganggu fokusnya.
My love calling...
Sebuah senyuman langsung terukir di bibir pria tampan itu, dengan rasa rindu yang menggebu-gebu Gavin langsung mengakat panggilan dari istri yang sangat ia cintai.
Luby sengaja memarkirkan mobilnya tepat di samping pos satpam, yang letak nya cukup jauh dari mansion nya, hal ini ia lakukan agar kedua orang tuanya tidak mengetahui keberadaannya saat ini. Dengan setengah berlari Luby mulai memasuki pintu mansion nya, dengan menggunakan kunci cadangan yang ia miliki.
Sesampainya di dalam mansion Luby berjalan pelan sambil mengintai setiap sudut. Beruntungnya ia malam ini karena tidak menemui sang mama dan papa, karena ia belum siap untuk menjawab semua pertanyaan yang tertuju kepadanya tentang keberadaan Gavin.
__ADS_1
Pintu kamar nya mulai ia buka secara perlahan, dan saat berhasil masuk ke dalam kamar nya Luby langsung menjatuhkan tubuh lelah nya di atas kasur empuk yang sudah sangat ia rindukan seharian.Tak berapa lama terdengar deringan hp dari dalam saku celananya, saat ia mengambil hape nya, tertera nama mama di sana, dengan ragu-ragu akhirnya Luby mulai mengangkat panggilan dari Luna,
"I--ya ma?"
"Halo sayang, kamu di mana? kok gak ada kasih kabar? apa kamu tidur di rumah Gavin sayang?"
"Hmmm---- Iya ma, Luby ti--dur di rumah Gavin"
"Owh syukur lah sayang, mama khawatir karena kamu gak ada kasih kabar, ya udah mama gak mau ganggu pengantin baru. buatin mama cucu yang sayang"
"Hmmm---- iya ma"
Sebelum panggilan itu di tutup oleh Luby masih terdengar dari dalam hand phone suara sang papa yang juga ingin ikut berbicara dengan Luby,hal itu membuat Luby mengurungkan niat nya untuk memutuskan panggilan itu duluan.
Namun dari balik hp terdengar sang mama berusaha menghalangi permintaan Brian karena ia tidak ingin Brian menggangu Luby dan Gavin, ia sudah tahu karakter sang suami yang tidak akan menyetujui sang putri bungsu untuk meninggalkan mansion milik mereka. Dan bisa di pastikan percakapan malam ini akan menjadi cerita yang panjang.
"Ya udah sayang kamu selamat istirahat ya, dan salam dari mama untuk Gavin"
"Iya ma, besok pagi-pagi sekali Luby pulang ma, karena Luby mau sarapan di masakin mama"
"Benarkah? mama senang Luby masih mau ke sini, mama akan masak makanan kesukaan Luby, "
"Ya udah sayang mama matikan teleponnya, maklum ini papa gak bisa diam dari tadi.Bye sayang I love u"
"I love you to ma"
Dan panggilan itu pun akhirnya terputus, Luby merasa sangat bersalah karena harus berbohong kepada sang mama, namun ia berpikir ia akan lebih merasa bersalah jika membuat sang mama kembali bersedih karena memikirkan permasalahan yang bertubi-tubi selalu menimpa dirinya.
Setelah merasa tenang Luby mutuskan untuk segera mandi sambil mendengar kan musik K-Pop kesukaannya,
Meomchun shigan sok
Jamdeun neoreul chajaga
Amuri magado
Gyeolguk neoye gyeochin geol
Gilgo gin yeohaengeul kkeutnae
__ADS_1
Ijen doraga
Neoraneun jibeuro
Jigeum dashi
Way back home
Sesekali suara merdunya mengiri lagu K-Pop kesukaannya, sebuah lagu yang di populerkan oleh Shaun yang berjudul " way back home" menjadi lagu andalannya di saat lelah melanda.
Hampir 1 jam Luby menghabiskan waktunya berendam di dalam air hangat sambil di iringi musik kesukaannya. Dan hal itu membuat fikiran nya kini kembali fresh. Luby merasa saat ini pikirannya kembali tenang dan rileks.
Akhirnya ia pun menutup malam ini dengan tidur yang nyenyak di atas kasur milik nya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pindah ke rumah Gavin esok hari, Luby berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini, dan seterusnya.
05:00
Pagi-pagi buta Gavin sudah memutar mobilnya menuju kediaman Luby, dengan kecepatan yang lumayan tinggi Gavin berharap bisa datang tepat waktu ke mansion Luby. Saat hampir tengah malam ia di kejutkan dengan panggilan telepon dari sang papi yang berencana akan menghadiri undangan sarapan di kediaman sang besan.
Malam itu juga Gavin yang sudah kalut berniat untuk segera menyusul Luby ke mansion nya, namun tak berapa lama setelah sang papi menghubunginya, Maya sang istri kembali menelponnya dengan alasan masih merindukan sang suami sehingga malam itu Gavin menemani Maya melalui video call hingga terlelap.
Dan pagi ini dengan tergesa-gesa akhirnya Gavin terpaksa mengendarai mobil nya di pagi buta menuju kediaman Subrata sebelum kedua orang tuanya tiba.
Dengan keadaan jalan yang masih sepi dan kecepatan mobil yang lumayan tinggi hanya dalam waktu 15 menit Gavin akhirnya sudah berada tepat di depan pintu gerbang mansion Luby, tampak beberapa orang satpam tampak kaget akan kehadiran menantu dari bos nya yang datang di pagi buta.
Setalah membuka pintu gerbang Gavin langsung memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Luby, ia pun mulai berjalan menuju kediaman keluarga Subrata,
Dengan bantuan salah satu satpam Gavin pun bisa masuk ke dalam mansion besar milik Brian melalui pintu samping.
Dengan langkah pelan dan keringat yang mulai keluar dari setiap pori-pori tubuhnya, Gavin mulai mencari letak kamar Luby sebelumnya.
Cukup lama ia berjalan mengitari setiap kamar yang berada di lantai dua itu, hingga ia pun mulai menemukan kamar yang ia rasa milik sang istri. Dengan perlahan ia pun mulai membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci itu.
Dengan perlahan Gavin kembali menutup pintu kamar Luby, dan perlahan ia pun mulai berjalan mendekat ke arah kasur di mana Luby berada. Dan betapa kagetnya ia saat melihat tampilan Luby saat ini. Luby yang tertidur dengan hanya menggunakan pakaian yang sangat minim dan berbahan tipis, bahkan hampir semua Bagain tubuh Luby dapat terlihat dari tempatnya berdiri saat ini.
"Gila! ngapain ni cewek pakai pakaian kaya gini! apa dia berniat menggoda aku!"
Sambil mengusap-usap wajahnya Gavin pun langsung memalingkan mukanya dan memilih membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar Luby.
Bersambung.....✍️✍️
__ADS_1