
Setelah berhasil membaringkan Luby di kasurnya, dengan intens Gavin terus memandangi bibir Luby yang dulu sempat ia lu** saat di bawah pengaruh obat perang** .
Perasaan itu kembali merasuki dirinya, rasa ingin mencium, meraba setiap inci tubuh sang istri semakin menjadi-jadi menyerang sampai ke ubun-ubun. Dan bayangan Luby selalu menghantui pikirannya, saat ini sama sekali tidak ada Maya di dalam fikirannya.
Gavin pun kembali mendekat ke arah Luby, ia mulai mengecup ringan bibir merah delima milik sang istri cadangan. Istri cadangan yang diam-diam telah melekat di dalam hatinya, namun Gavin terus berusaha untuk membohongi dirinya sendiri dengan berkata tidak memiliki sedikit pun rasa cinta kepada Luby.
"Anjir--- manis banget sih bibir nya! " Gavin kembali mengecup ringan bibir Luby,
"Gak Vin, Lo gak boleh bodoh hanya karena nafsu belaka, ingat! dia itu Luby! "
Gavin kembali menjauhkan tubuh nya dari Luby, sambil terus mengusap bibir nya yang tadi sempat beberapa kali mengecup bibir Luby,
Namun beberapa kali ia berpindah posisi duduk sama sekali bayangan Luby tidak bisa hilang dari fikirannya.
Ia pun memilih untuk masuk kedalam kamar mandi untuk menjernihkan fikirannya kembali, namun bayang-bayang Luby masih terus mengikutinya, bahkan sang junior yang sudah tertidur hampir 1 bulan lamanya sama sekali tidak ingin tertidur kembali.
"****--- apa yang harus gue lakuin njir--- Jo, Lo harus ngertiin gue, dia itu bukan Maya, tapi Luby istri cadangan doang! Lo jangan ngelunjak mau dia dong Jo!" Gavin terus berbicara kepada juniornya yang terlihat sudah menyembul sedari tadi.
Gavin kembali melakukan gerakan-gerakan ringan di dalam kamar penginapan milik Luby, bahkan ia pun mulai melakukan push up dan bergantian dengan sit up.
Namun semua hal yang Gavin lakukan untuk mengatasi sang junior tidak ada sedikit pun mempengaruhi miliknya itu untuk tertidur,
"Jo, kita ke sini untuk jemput dia pulang. Kalau enggak Lo tahu kan bokap sama nyokap gue bakal ngamuk Jo! jadi please jangan minta yang lain dong!"
Gavin pun kembali masuk ke dalam kamar Luby, ia melihat tubuh Luby yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Sebaiknya gue harus telepon dokter buat periksa dia! Tapi kayanya dia pingsan hanya karena ketakutan, gak ada yang parah juga!"
Dengan senyuman yang menyeringai akhirnya Gavin kembali mendekatkan dirinya kepada Windu ia duduk tepat di sebelah Windu terbaring. Matanya tak henti memandang Luby dari ujung kaki hingga kepala, kulit Luby yang putih dan mulus serta kecantikan natural yang Luby miliki tidak akan mampu membuat alasan setiap laki-laki untuk menolak menjadi kekasihnya.
"Tapi gue kan gak salah kalau mau menikmati tubuh dia! lagian dia itu kan istri gue. Lagian dia juga udah gak virgin jadi dia gak bakal tahu kalau gue udah niduri dia"
Gavin mulai menyentuh bibir Luby kembali, bahkan tangan nya tak berhenti untuk berselancar ria di atas tubuh mulus nan indah itu. Gavin yang sudah di atas awang-awang tak dapat lagi menahan has***rat nya yang telah berge***.
Dengan tak sabar ia mulai membuka semua penghalang yang ada di tubuh sang istri, dan ia pun juga membuka semua atribut yang ada di tubuhnya.
Saat sama-sama polos Gavin yang sudah tidak sabar langsung menerobos gua milik Luby yang sudah sangat menggoda dirinya sedari tadi.
"Ugh--ugh-- Kenapa sulit ya!" Beberapa kali Gavin terus mencoba untuk menerobos pertahanan milik Luby, namun ia selalu gagal.
Setelah memperbaiki posisinya Gavin kembali mencoba untuk masuk ke gua tersebut, dengan kekuatan penuh akhirnya Gavin berhasil menerobos masuk ke dalam, dan cairan hangat berwarna merah langsung menyembur di antara senjata miliknya.
__ADS_1
"Shi** ini apaan? atau jangan-jangan dia masih Ori??"
Cukup lama Gavin memperhatikan cairan kental berwarna merah itu ada sedikit penyesalan di dalam fikirannya saat ini, namun karena has** yang sudah tak tertahankan akhirnya Gavin melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat terhenti.
"Gila, memang benar kata Jev, kalau ori itu gak ada duanya, sempit banget"
Beberapa kali Gavin terus memompa ban mobil milik Windu. Hingga hampir 1 jam lamanya Gavin pun terpaksa menghentikan kegiatannya di sana ia melihat Luby yang sudah mulai tampak gelisah.
Ia terpaksa berhenti agar tidak ketahuan oleh Luby bahwa ia telah meniduri sang istri yang terpaksa ia nikahi itu.
"Huft--- sebenarnya gue belum puas, tapi bisa gawat kalau sampai dia bangun dan tahu semua perbuatan gue! bisa gengsi gue, dan pasti dia bakal marah besar kalau tahu gue yang udah ngejebol gawang nya"
Dengan cekatan Gavin pun mulai memakai pakainnya kembali, dan ia berusaha secepat mungkin dengan lembut membasuh benda Kramat milik Luby, dengan sebuah kain basah yang ia siapkan sebelumnya.
Dan hanya butuh waktu 15 menit Luby pun telah kembali memakai pakainya kembali, dan ia pun mulai membopong tubuh mungil Luby masuk kedalam lift penginapan tersebut, sebelumnya ia juga telah memperlihatkan identitas dirinya serta surat nikah yang ia bawa kepada pihak penginapan, karena ia khawatir pihak keamanan penginapan mewah itu akan mengehentikan niatnya untuk membawa sang istri kembali ke rumahnya dengan cara ini.
Sesaat sampai di dalam mobil miliknya Gavin langung menghubungi nomor asisten pribadinya di kantor dan menyuruh nya untuk membawa semua barang-barang milik Luby kembali ke rumahnya. Tak lupa ia mengirimkan alamat lengkap tempat Luby menginap.
*
*
*
Terlebih yang paling ia sesali saat ini adalah tanpa di sadari ia telah mengkhianati cinta Maya sang istri siri.
"Bugh---bugh" beberapa kali Gavin mulai memukul stir mobilnya,
"Bodoh---bodoh--- Lo bodoh Gavin!"
Luby yang mendengar keributan akhirnya mulai membuka kedua matanya,
"Kamu mau aku kemana? tolong berhenti Gavin! aku mau pulang ke mansion"
"Sudah diam! jangan berisik, aku sedang fokus nyetir"
"AWww, "
Tiba-tiba Luby yang memperbaiki posisi duduknya merasakan perih pada Bagain kema*** nya,
"Kamu kenapa? kamu baik-baik aja kan?" Gavin yang mendengar rintihan Luby secara otomatis langsung menghentikan mobilnya ia terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan istri keduanya itu.
__ADS_1
"Aku enggak apa, cuma pusing aja" Luby merasa malu jika harus berkata jujur kepada Gavin, walau ia dan Gavin sudah menikah namun mereka bukan lah pasangan suami istri sungguhan, jadi baginya sangat memalukan apabila Gavin mengetahui jika bagian intinya terasa sakit.
"Kamu yakin gak kenapa-napa? "
"Iya-- aku baik-baik aja, cuma pusing sedikit"
Luby memilih untuk menahan rasa sakitnya, namun ia merasa kaget melihat respon Gavin yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Ya udah kalau kamu ngerasa sesuatu, kamu bilang sama aku" Gavin kembali menjalankan mobil nya,
"Ehem" Luby hanya mengangguk-anggukan kepalanya, namun untuk pertama kalinya Luby merasa bingung dengan sikap Gavin yang 18O derajat berubah dari sebelumnya.
"Paling dia perhatian kaya gini agar aku mau pulang kembali ke rumahnya, dan semua itu pasti karena harta Luby, semua itu sebatas saham papa kamu Luby" bisikan hati Luby meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu terpengaruh dengan kebohongan yang saat ini tengah Gavin mainkan.
Tak berapa lama mobil yang Gavin kendarai pun mulai memasuki gerbang rumahnya, dan saat mobil telah terparkir rapi Gavin mulai mematikan mesin mobilnya.
"Ayo turun"
"Aku akan turun, tapi aku mau kita buat sebuah surat perjanjian sebelumnya"
"Surat perjanjian? untuk apa?"
"Aku mau kita berdua menandatangani surat pernyataan yang berisi bahwa selama pernikahan tidak ada kontak fisik di antara kita, karena aku tidak mau kejadian tempo lalu terjadi lagi"
Gavin yang mendengar ucapan Luby hanya mampu menelan salivanya, karena tanpa Luby sadari, sebenarnya Gavin telah melakukan kejahatan yang luar biasa kepada Luby saat pingsan tadi.
"Ehem--- apa itu perlu? bukankah wajar kalau kita bersentuhan? bukankah kita sudah sah menurut hukum?"
"Hahah---- kamu itu amnesia atau pura-pura lupa ! bukanya kamu sendiri yang bilang tidak menganggap aku sebagai istri? dan bukanya kamu jijik sama perempuan seperti aku!"
"Hmm--- itu aku, minta maaf kalau sudah berkata yang tidak baik sama kamu sebelumnya "
"Haha--- sudahlah Gavin gak usah akting lagi, aku gak akan bilang ke papa tentang semua kebohongan yang kamu lakuin, dan masalah saham, aku pastiin keluarga kami pasti akan mendapatkannya."
"H--- dasar wanita sombong! jangan sok kaya di depan aku Luby, karena aku bisa melakukan apa pun untuk membungkam kesombongan kamu! ingat lupakan omongan aku yang sok baik tadi. Dan terserah kamu jika ingin membuat surat kontrak dengan senang hati aku akan menandatanganinya"
Gavin pun memilih untuk keluar duluan dari dalam mobil, dan meninggalkan Luby sendiri,
"Dasar laki-laki munafik, sok-sok gak tertarik sama harta, tapi apa?"
Luby pun akhirnya turun dari dalam mobil, namun saat ia mulai melangkah kan kakinya tiba-tiba rasa nyeri itu kembali hadir, bahkan terasa lebih perih saat di bawa berjalan.
__ADS_1
"Aawwwwww"
Bersambung....💅✍️